Pagi datang seperti biasa, menyelinap masuk melalui celah gorden dengan cahaya abu-abu yang dingin. Burung gereja berkicau di atap tetangga. Tukang sayur lewat menjajakan dagangan. Tidak ada yang istimewa sama sekali.
Salsa berdiri di depan cermin kamar mandi yang berembun sedikit. Tangannya memegang jarum pentul, menyematkan kain khimar di bawah dagu dengan gerakan yang presisi. Tusuk, rapikan, kunci.
Lipatan kain jatuh rapi di lengan, simetris. Tidak ada helai rambut yang keluar. Tidak ada yang melenceng. Tidak ada yang tampak salah.
Wajah yang menatap balik dari cermin itu tenang, nyaris dingin—wajah yang sudah dia bangun dan pelihara bertahun-tahun sebagai wajah "Bu Guru Salsa". Wajah yang dihormati murid dan disegani rekan sejawat.
Dia menatap pantulan itu beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Tidak ada bekas apa pun dari malam sebelumnya. Tidak ada jejak bahwa di balik pakaian ini ada tubuh yang sempat menginginkan sentuhan pria lain.
Yang tersisa hanya rasa berat yang tak terlihat, mengendap di d**a seperti debu halus yang tak bisa disapu.
Salsa keluar dari kamar mandi, langkahnya tidak berbunyi.
Di kamar, Joko sudah berganti kemeja kerja berwarna biru muda. Lengan bajunya digulung setengah hingga siku, menampilkan lengan yang biasa saja—bukan lengan kekar yang mencekik napas Salsa seperti semalam.
Ponsel Joko tergeletak di meja dengan layar email yang masih terbuka; dunianya penuh dengan angka dan laporan.
Salsa menyapa dengan senyum kecil.
Joko membalasnya singkat, lalu kembali pada urusannya. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada pembahasan apa pun tentang tadi malam. Dan itu, entah kenapa, terasa melegakan sekaligus menyakitkan.
Salsa mengambil tas kerjanya, lalu melangkah ke luar.
Dia menyalakan motor matic-nya, lalu menyatu dengan arus kendaraan pagi yang belum terlalu padat. Dunia berjalan sebagaimana mestinya.
***
Gerbang sekolah sudah terbuka lebar. Satpam menyapa dengan hormat saat motor Salsa melintas.
Salsa mengangguk, mengarahkan motornya ke area parkir guru.
Udara halaman sekolah berbau tanah lembap sisa hujan tadi subuh dan aroma dedaunan yang dipangkas rapi.
Saat berjalan menuju ruang guru, langkah Salsa melambat tanpa dia sadari.
Di dekat aula, spanduk baru terbentang lebar. Tulisan besar berwarna merah menyala mencolok di antara dinding sekolah yang kusam: MEMBANGUN GENERASI BERKARAKTER: INTEGRITAS, TANGGUNG JAWAB, DAN AKHLAK MULIA.
Salsa tidak berhenti, tapi matanya sempat tertahan pada satu kata.
Integritas.
Ada rasa tidak nyaman yang tipis—nyaris bisa diabaikan—menyentuh d**a Salsa. Seperti kerikil kecil di dalam sepatu: tidak cukup sakit untuk berhenti berjalan, tapi cukup mengganggu untuk diabaikan.
Salsa mengalihkan pandangan, melanjutkan langkahnya.
Ini hanya spanduk, katanya pada diri sendiri.
Tidak ada yang perlu dipikirkan lebih jauh.
***
Di ruang guru, suasana pagi selalu sama. Aroma kopi instan, suara kertas dibalik, dan pendingin ruangan yang mulai berdengung.
Beberapa rekan sudah duduk di meja masing-masing. Percakapan ringan mengalir: anggaran kegiatan, murid yang sudah tiga hari membolos, administrasi sertifikasi yang belum selesai.
Salsa menaruh tasnya di meja, menyapa "Assalamualaikum" seperlunya, lalu duduk di kursi kerjanya. Semuanya berjalan normal.
Kepala sekolah lewat, berhenti sejenak di ambang pintu dengan senyum bapak-bapak yang khas. "Pagi, Bu Salsa," sapanya ramah, spesifik menyapa Salsa di antara guru lainnya.
"Pagi, Pak," jawab Salsa cepat, refleks sopan santun yang sudah tertanam di sumsum tulangnya.
“Kelas tiga IPA satu, aman?” tanya beliau.
"Aman, Pak. Sudah sesuai kurikulum," jawab Salsa tanpa ragu.
Kepala sekolah mengangguk puas. "Bagus. Saya percaya sama Bu Salsa.”
Dipercaya.
Kepala sekolah berlalu.
Salsa menarik napas pelan. Tangannya meraih buku catatan, membukanya, menatap halaman kosong beberapa detik sebelum menutupnya kembali.
Di sudut ruangan, dua guru senior sedang berbincang pelan sambil memeriksa tugas. Salsa tidak berniat mendengarkan, tapi telinganya menangkap sebuah nama.
"Mawar itu ... sekarang jadi arsitek ya?" ujar salah satu guru wanita. "Aku lihat profil LinkedIn-nya kemarin. Proyeknya bagus-bagus sampai ke luar negeri."
"Iya," sahut guru yang lain. "Dulu Bu Salsa kan wali kelasnya? Pantes. Anak itu lurus, nggak pernah aneh-aneh. Dari dulu kelihatan bibit unggulnya."
Salsa menegang sepersekian detik. Pulpen di tangannya berhenti berputar.
Mawar.
Alumni enam tahun lalu—teman sekelas Anton. Cerdas, santun, lurus. Disebut seperti fakta yang tak terbantahkan. Seperti monumen keberhasilan pendidikan karakter yang diagung-agungkan sekolah ini.
“Iya,” kata guru itu lagi, seolah menegaskan. “Reputasinya bagus. Nggak ada cerita aneh-aneh.”
Tidak ada yang menoleh ke arah Salsa. Tidak ada yang menunggu responsnya. Percakapan itu selesai begitu saja, berpindah ke topik lain.
***
Salsa berdiri ketika bel masuk berbunyi.
Di kelas, dia mengajar seperti biasa. Suaranya stabil. Penjelasannya runtut. Murid-murid mendengarkan. Dia menulis di papan tulis dengan huruf yang rapi.
Hari itu, materinya tentang pilihan hidup. Tentang konsekuensi. Tentang bagaimana satu keputusan kecil bisa mengubah arah hidup seseorang.
Dia menjelaskan, memberi contoh, mengajukan pertanyaan. Murid-murid menjawab dengan antusias. Beberapa tertawa kecil. Beberapa mencatat.
Salah satu murid mengangkat tangan, bertanya apa yang harus dilakukan jika kita bingung di antara dua pilihan.
Salsa terdiam beberapa detik. “Ikuti kata hati,” jawab Salsa. Dia mendengar suaranya sendiri seolah dari jarak jauh.
Beberapa murid mengangguk. Salsa sendiri menurunkan pandangannya.
Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang curiga. Dan justru itu yang membuat tengkuk Salsa terasa dingin.
Di sela jam pelajaran, Salsa berdiri di depan jendela kelas, memandangi lapangan. Murid-murid berlarian. Teriakan mereka riuh, jujur, tanpa beban. Salsa menelan ludah.
Dia sadar betul tidak ada yang memaksanya melakukan apa pun. Tidak ada yang menyeretnya ke titik ini. Semua yang terjadi adalah hasil dari diam-diam membiarkan sesuatu berlangsung.
***
Sore hari, Salsa pulang dengan langkah yang sama seperti pagi tadi—tegak, terkontrol. Tapi kepalanya terasa lebih penuh. Seolah setiap hal kecil hari ini menambah satu lapis beban yang tak terlihat.
Di rumah, suasana tenang. Tidak ada kejadian khusus. Tidak ada percakapan penting.
Saat malam datang, Salsa duduk sendirian di kamar. Ponselnya tergeletak di meja. Layar mati. Tidak ada notifikasi.
Wajah Anton sempat muncul sesaat—segera Salsa tepis sebelum bayangan itu berubah menjadi dorongan untuk mengirimi pria yang bukan suaminya itu pesan.
Salsa menatap ponsel itu lebih lama dari yang dia akui pada dirinya sendiri.
Lalu, dia mengambil ponsel itu, meletakkannya dengan layar menghadap meja, seolah posisi itu cukup untuk menjaga jarak antara niat dan tindakan.
Kemudian, Salsa mematikan lampu. Berbaring dalam gelap di samping Joko yang sudah tidur terlebih dulu.
Salsa merasakan tubuhnya ingin disentuh—kembali dia tekan agar tidak mengganggu siapa pun.