"Udah makan, belum?" tanya Joko.
Pertanyaan itu datang ringan, nyaris sepele, ketika langkah kaki mereka memasuki ruang keluarga.
Joko menyangkutkan kunci pagar di paku yang menancap di dinding, menguap kecil sambil menggaruk tengkuknya, lalu menoleh ke arah Salsa.
Tidak ada kecurigaan di wajah pria itu. Tidak ada ketegangan. Hanya rutinitas yang berjalan seperti biasa, seolah dunia Salsa tidak baru saja bergeser porosnya satu jam yang lalu.
"Udah sih sebelum nonton," jawab Salsa, tangannya refleks mengusap perut, sebuah gestur gugup yang dia samarkan. "Tapi ... kayak laper lagi."
"Mas bikin mie instan aja ya," tawar Joko. "Soto mi, mau?" Kalimat itu menancap lebih dalam dari yang seharusnya.
Ada rasa hangat yang datang cepat, menjalar di d**a Salsa, namun rasa bersalah menyusul di belakangnya seperti bayangan hitam yang pekat. Kebaikan kecil itu terasa seperti tamparan.
Salsa mengangguk, lidahnya terlalu kelu untuk berkata terima kasih.
Joko tersenyum, mata lelahnya menyipit ramah. "Adek tunggu di sini aja. Mas bikinin dulu."
Salsa melihat punggung suaminya yang berjalan santai menuju dapur.
Setelah bayangan Joko menghilang di balik tembok, Salsa duduk lemas di sofa. Tangannya bergerak lambat membuka khimarnya, meletakkannya di sandaran kursi.
Rambutnya yang agak lembap karena keringat dibiarkan tergerai.
Perhatian kecil Joko barusan terasa seperti pengingat keras bahwa dirinya dan Joko masih menjadi "kita". Bahwa perannya sebagai istri masih ada. Bahwa dirinya seharusnya berada di sini—utuh, tak terbagi oleh kenangan sentuhan pria lain.
Salsa memandangi ruang keluarga yang nyaris tak berubah sejak mereka menikah sembilan tahun lalu.
Rak buku dengan koleksi novel lama yang berdebu. Jam dinding yang berdetak monoton. Foto-foto pernikahan yang warnanya mulai memudar namun tetap tergantung di sana.
Tidak ada yang runtuh. Tidak ada yang retak secara kasat mata. Dan justru keutuhan itulah yang membuat dadanya sesak.
Salsa menyadari betapa mudahnya seseorang bersembunyi di dalam sesuatu yang stabil.
Betapa pengkhianatan tidak selalu datang dalam bentuk ledakan pertengkaran, melainkan dalam keheningan yang dibiarkan berlarut-larut dan senyum palsu di meja makan.
Salsa menelan ludah yang terasa pahit.
Jika rumah ini masih berdiri utuh—batinnya mencoba bernegosiasi—maka kesalahan tadi hanyalah noda kecil. Sesuatu yang bisa dibersihkan jika aku berusaha cukup keras.
Bau bumbu mie instan yang khas mulai tercium—aroma gurih dan jeruk nipis buatan yang mengundang selera, aroma "rumah" bagi jutaan keluarga.
Beberapa menit kemudian, Joko kembali ke ruangan itu membawakan semangkuk mie berasap, meletakkannya di meja tamu.
"Adek takut nggak habis. Kita makan bareng, ya?" pinta Salsa, nadanya sedikit memohon. Dia butuh kedekatan ini.
Joko diam sejenak, lalu mengangguk. "Mas ambil sendok dulu."
Tak lama kemudian, mereka duduk bersebelahan, berbagi dari mangkuk yang sama.
Salsa memperhatikan cara Joko makan—tenang, tanpa tergesa. Cara yang sama sejak dulu.
Salsa ikut menyesuaikan ritme, mengunyah perlahan. Seolah dengan menyamakan gerakan mulut dan kunyahan, dia bisa kembali menyelaraskan frekuensi jiwanya yang tadi sempat melenceng.
Rasa asin dan pedas kuah mie memenuhi lidahnya, mengingatkannya pada hal-hal sederhana: malam-malam biasa, kenyang tanpa euforia, aman tanpa getaran yang berbahaya.
Beginilah seharusnya, pikir Salsa, mendoktrin dirinya sendiri.
Tubuhnya mungkin menginginkan hal lain—sentuhan yang menuntut dan tatapan yang memuja—tapi hidup tidak harus selalu mengikuti keinginan tubuh.
Terkadang, kedewasaan berarti mengekang diri demi menjaga apa yang sudah dibangun.
Selesai makan, ketika Joko meletakkan sendok di mangkuk yang sudah kosong itu dan hendak mengangkatnya, Salsa mendekatkan wajahnya. Tanpa peringatan, dia mencium bibir suaminya.
Joko tampak sedikit terkejut, namun tidak menolak.
Keputusan itu datang bukan karena dorongan spontan atau nafsu yang tak tertahankan, melainkan karena kebutuhan mendesak untuk memperbaiki keadaan.
Salsa tahu persis apa yang sedang dia lakukan. Dia tidak sedang mabuk asmara. Tidak pula terbawa suasana romantis.
Dia memilih.
Memilih untuk kembali menempatkan dirinya di posisi yang benar. Memilih untuk mengingatkan tubuhnya bahwa ini—pria di hadapannya, rumah ini, rutinitas ini—adalah satu-satunya hal yang sah untuk disentuh.
Jika ada sesuatu yang harus ditebus malam ini, maka dia akan menebusnya dengan pelayanan dan kesadaran penuh.
Ciuman itu singkat, namun Salsa menarik tangan Joko menuju kamar tidur.
Di atas ranjang yang seprainya baru diganti minggu lalu, Salsa merasakan dirinya bergerak dengan intensi yang jelas—lebih tegas dan agresif dari biasanya.
Ada sesuatu yang ingin dia buktikan, entah kepada Joko atau kepada sentuhan Anton yang masih menempel di kulitnya.
Tangannya memandu, menusukkan milik Joko ke dalam tubuhnya, lalu mengambil alih ritme. Seolah dengan memegang kendali, dia bisa menebus kesilapan yang tidak berani dia ucapkan.
Joko mengikutinya tanpa banyak tanya. Seperti biasa. Pasif, menerima, menikmati apa yang disuguhkan.
Salsa memejamkan mata, berusaha keras menikmati gesekan itu.
Dia menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. Bukan hanya o*****e—melainkan rasa disambut. Sebuah jeda kecil yang intim. Sentuhan tangan yang berkata aku melihatmu, aku menginginkanmu.
Tapi, yang ada hanya gerakan tubuh Joko yang mekanis dan napas yang memburu cepat. Joko menikmati fisiknya, tapi tidak menyentuh jiwanya.
Di situlah Salsa sadar: usaha ini memang sungguh-sungguh, tapi tidak cukup. Dia bisa memberi, mengatur, memimpin—namun dia tetap sendirian dalam aktivitas berdua ini.
Ketika semuanya berakhir—terlalu cepat bagi tubuh Salsa yang sedang "lapar"—Salsa merasakan jeda yang ganjil. Hening yang tidak mengandung kelegaan, melainkan kekecewaan yang familiar.
Setelah bertahan di posisi itu selama beberapa saat, berharap ada pelukan penutup, Salsa akhirnya menyerah dan menjatuhkan tubuhnya di samping Joko.
Untuk pertama kalinya malam itu, di samping suaminya yang masih mengatur napas, Salsa memahami perbedaan menyakitkan antara berusaha mencintai dan dicintai kembali dengan cara yang sama.
Joko menarik napas panjang, bergeser memperbaiki bantal, lalu berbalik memunggungi Salsa tanpa kata.
Tidak ada sentuhan lanjutan. Tidak ada pertanyaan "kamu sudah?". Tidak ada upaya menyamakan napas.
Lampu tidur dimatikan. Kasur berderit pelan saat Joko mencari posisi nyaman. Lima menit kemudian, dengkuran halus terdengar.
Joko tertidur pulas, sementara Salsa tetap terjaga, matanya nyalang menatap langit-langit kamar yang samar. Gairahnya belum usai. Tubuhnya masih berdenyut menanti kelanjutan.
Salsa menelan napasnya sendiri, memaksa ritme jantungnya kembali tenang meski darahnya bergolak.
Tidak apa-apa, bisiknya dalam hati, sebuah mantra penenang yang mulai kehilangan tuahnya. Aku bisa mengerti. Mas Joko capek kerja. Aku bisa sabar.
Salsa merapikan selimut, menggeser tubuhnya sedikit ke pinggir kasur agar tidak menyentuh punggung Joko yang hangat namun terasa asing.
Keputusan untuk memaklumi itu terasa seperti disiplin kecil yang perlu dijaga mati-matian. Seperti pelajaran moral lama yang dia hafal di luar kepala: bahwa menjadi istri yang baik berarti menahan diri dan melayani suami.
Salsa memejamkan mata. Membiarkan alasan-alasan logis itu menutup celah yang menganga di hatinya.
Di dalam gelap, dia memilih percaya bahwa usaha barusan sudah cukup untuk menebus dosanya. Bahwa kelelahan Joko adalah alasan yang wajar. Bahwa besok pagi, saat mentari terbit, segalanya akan kembali normal dan rasa lapar ini akan hilang.
Dengan keyakinan yang dipaksa rapi itu, Salsa akhirnya menyeret dirinya menuju tidur yang gelisah.