SUV hitam itu melaju stabil di jalanan malam yang lengang, membelah kegelapan tanpa ada yang berani memulai percakapan.
Mesin berdengung rendah, konstan—satu-satunya suara yang mengisi ruang sempit di antara mereka, seolah menjadi dinding pembatas yang tak terlihat.
Lampu-lampu kota berderet seperti garis putus-putus, memantul di kaca depan dan menghilang satu per satu di belakang mereka, persis seperti kewarasan yang perlahan ditinggalkan Salsa malam ini.
Salsa duduk tegak di kursi penumpang. Kedua tangannya terlipat kaku di atas pangkuan. Napasnya sudah kembali normal, tapi tubuhnya belum sepenuhnya pulang.
Ada sisa panas yang menempel di kulitnya, diingatkan oleh kain gamis yang kini terasa berbeda—lebih berat, lembap, seolah menyimpan rahasia kotor di setiap lipatannya.
Aroma musk Anton dan wangi tubuhnya sendiri bercampur dalam sirkulasi AC yang dingin, menciptakan atmosfer yang memabukkan sekaligus mencekik.
Anton menyetir dengan satu tangan. Wajahnya menghadap lurus ke depan. Rahangnya mengeras, lalu mengendur secara berkala. Tidak ada senyum kemenangan, tidak ada komentar ringan untuk mencairkan suasana.
Keheningan itu bukan keheningan kosong. Ia penuh, padat, dan menekan—seperti udara berat sebelum hujan badai. Keheningan itu terasa disengaja—bukan canggung, melainkan ditahan.
Salsa merasa setiap detik di dalam mobil ini sedang direkam oleh tubuhnya. Cara jok kulit menempel di paha. Cara sabuk pengaman menekan d**a yang masih sensitif. Cara ruang sempit ini masih menyimpan jejak desah napas dan sentuhan yang barusan terjadi.
Salsa ingin mengatakan sesuatu—apa saja—sekadar untuk menurunkan intensitas yang menyiksa ini. Tapi kata-kata terasa terlalu berbahaya.
Setiap kalimat yang keluar bisa berubah menjadi pengakuan dosa, atau lebih parah lagi: sebuah permintaan untuk mengulanginya.
Maka, Salsa memilih diam. Karena diam adalah satu-satunya bentuk kendali yang masih ia miliki saat ini.
Salsa sempat melirik ke arah pria itu, lalu segera menarik pandangannya kembali ke luar jendela. Dia takut jika Anton bertanya, dan ia harus menjawab jujur tentang apa yang ia rasakan.
Di tengah keheningan itu, sebuah bunyi dan getar singkat memotong udara.
Drrt.
Notifikasi WA.
Salsa refleks menoleh, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Ponsel Anton yang tergeletak di konsol tengah menyala sebentar. Cahaya layar menyapu kabin, menerangi inisial pengirim yang tak sempat terbaca, lalu padam lagi.
Anton tidak mengalihkan pandangan—tidak melirik, apalagi berniat membuka pesan itu. Tangannya tetap kokoh di kemudi.
Hanya ada perubahan kecil—nyaris tak terlihat—di wajahnya. Rahangnya mengencang sepersekian detik, lalu kembali datar.
Entah kenapa, bunyi itu terus bergema di kepala Salsa meski layar ponsel sudah kembali gelap. Ada rasa nyeri yang asing menusuk dadanya. Siapa itu? Wanita lain? Kehidupan lain yang Salsa tidak tahu?
Ada bagian dalam diri Salsa yang ingin meyakinkan diri bahwa itu tidak penting—urusan kerja, teman lama, siapa saja.
Tapi bagian lain, yang lebih jujur dan lebih rapuh, berbisik pelan: Anton punya dunia lain di mana kamu tidak ada di dalamnya. Kamu hanya selingan di kursi penumpang.
Salsa melirik Anton sekilas, lalu kembali melihat ke luar jendela.
Tidak ada penjelasan. Tidak ada gerakan lanjutan. Seolah bunyi itu tidak pernah ada.
Mobil terus melaju, membawa Salsa kembali lebih dekat pada keluarga yang dia sebut rumah.
Beberapa menit kemudian, mereka memasuki kompleks perumahan Salsa. Jalanan menyempit. Lampu-lampu rumah berjarak, sebagian sudah padam, menyisakan gonggongan anjing di kejauhan.
Anton memperlambat laju kendaraan, berbelok dengan mulus, lalu berhenti tepat di depan pagar rumah Salsa.
Salsa menatap ke arah rumah—dan dadanya menegang hebat.
Di bawah nyala lampu teras yang temaram, Joko duduk di kursi kayu berwarna putih.
Punggungnya bersandar lelah di bahu kursi. Kaos oblongnya rapi. Satu tangannya bertumpu pada meja bundar, tangan lainnya memegang rokok yang menyala, mengepulkan asap tipis ke udara malam.
Tidak ada wajah marah. Tidak ada gestur mencurigai. Hanya … kehadiran. Kehadiran yang statis dan aman.
Salsa terdiam beberapa detik. Ada perasaan hangat yang aneh menjalar di dadanya—cepat, hampir memalukan. Mas Joko nungguin aku.
Ini yang benar, pikir Salsa. Pulang. Ke rumah. Ke suami. Ke peran yang sudah lama dia kenal dan pahami.
Apa pun yang terjadi tadi hanyalah gangguan—kesalahan kecil karena tubuhnya sedang lengah dan pikirannya sedang lelah. Sebuah glitch dalam sistem kehidupannya yang sempurna.
Salsa tidak merasa memilih apa pun malam ini. Dia hanya terbawa suasana. Dan itu bukanlah dosa yang harus dipertanggungjawabkan sepenuhnya.
Setidaknya, itulah narasi penyelamat yang sedang dia bangun mati-matian untuk dirinya sendiri.
Anton mematikan mesin. Kabin langsung terasa lebih sunyi, sepi, dan dingin.
“Udah sampai, Bu,” ucap Anton pelan. Netral. Tidak ada penekanan, seolah ia baru saja mengantar teman biasa.
Salsa mengangguk kaku. Jari-jarinya bergerak gelisah merapikan tas kecilnya. Gerakan yang tidak perlu, hanya untuk memberi jeda sebelum kembali ke dunianya. “Terima kasih.” Suaranya lebih rendah dari biasanya, serak.
Anton menoleh sebentar. Tatapan mereka bertemu singkat di bawah remang lampu jalan—cukup lama untuk menyimpan sesuatu yang belum diberi nama, terlalu singkat untuk mengungkap apa pun. “Hati-hati.”
Salsa tidak menjawab. Dia membuka pintu mobil. Udara malam menyergap kulitnya, membawa bau tanah basah dan bunga kamboja dari halaman tetangga—bau yang biasa dia hirup.
Saat Salsa melangkah turun, Anton tetap di tempatnya. Tidak ikut keluar. Tidak menahan. Tidak memanggil. Dia tahu batasnya, atau mungkin dia memang tidak peduli.
Pintu mobil tertutup dengan bunyi klik yang bersih dan final.
Salsa berjalan menuju teras. Setiap langkah terasa lebih berat dari yang seharusnya, kakinya masih terasa goyah sisa kenikmatan tadi.
Salsa mendekat ke arah Joko, mencium bau asap rokok bercampur sabun mandi yang familiar. Bau rumah. Bau kenyataan.
Joko mendongak, lalu tersenyum tipis. “Kok cepat?” tanya Joko. Nadanya biasa. Tidak menyelidik.
“Filmnya kurang seru, Mas,” bohong Salsa dengan lancar, lalu membalas senyum kecil itu, otomatis.
Joko mengangguk, mematikan rokoknya di asbak. “Benar kan kata Mas?”
Joko menerima jawaban itu tanpa bertanya lebih jauh. Tanpa ingin tahu. Tanpa menggali.
Tidak seperti Anton, yang selalu menunggu satu detik lebih lama sebelum berbicara—seolah memberi ruang bagi Salsa untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Joko tidak pernah melihat sedalam itu.
Perbandingan itu muncul begitu saja di kepala Salsa, cepat dan tanpa diundang—Salsa langsung merasa bersalah karenanya.
Kaca mobil Anton perlahan turun.
Salsa dan Joko menoleh ke arah mobil itu secara bersamaan.
“Saya pamit dulu, Pak, Bu,” kata Anton sambil melambaikan tangan. Wajahnya tenang. Matanya sempat menyapu sosok Joko sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan, seperti campuran antara rasa hormat palsu dan kasihan.
“Iya. Hati-hati,” jawab Joko ramah, sama sekali tidak menyadari dinamika yang terjadi di depannya.
Salsa hanya tersenyum kaku, jantungnya berdegup menyakitkan melihat dua lelaki itu dalam satu bingkai pandang.
Mobil itu bergerak lurus sebentar, lalu menghilang di tikungan—kembali ke jalan raya, membawa serta apa pun yang terjadi malam ini. Apa pun nama dan sebutannya.
“Itu murid adek yang mana ya?” tanya Joko sambil berdiri, meregangkan otot punggungnya dengan nada yang tidak curiga.
“Itu ... Anton, Mas.”
Joko mengernyitkan dahi, mencoba menggali memori. “Anton ... Anton yang mana?”
Salsa tak menjawab segera. Lidahnya terasa kelu menyebut nama itu di depan suaminya.
Joko memerhatikan wajah istrinya, mencari jawaban. “Anton Mahesa?”
Salsa mengangguk lemah.
“Hah? Dulu dia kan ... kok beda banget sekarang?” komentar Joko takjub.
“Masuk yuk, Mas,” potong Salsa cepat, tidak sanggup membahasnya lebih lama.
“Sebentar. Mas kunci pagar dulu.”
Joko berjalan santai menuju pagar, menggemboknya dengan bunyi klang besi yang nyaring.
Salsa menunggu suaminya, berdiri di dekat pintu, menarik napas panjang.
Untuk sesaat, Salsa membiarkan dirinya percaya bahwa semuanya masih bisa baik-baik saja. Bahwa ini hanya malam yang aneh. Bahwa perhatian kecil Joko yang menunggunya di teras adalah tanda bahwa dia masih dicintai. Bahwa dia masih berada di jalur yang benar.
Salsa melangkah masuk, diikuti Joko.
Pintu tertutup di belakangnya. Bunyi kunci berputar dua kali.
Di dalam, segalanya tampak seperti biasa.
Foto pernikahan masih terpajang di lemari, tersenyum membeku dalam bingkai kaca. Jam dinding berdetak tenang, tanpa pernah terlambat sedetik pun. Sofa ruang keluarga tetap di tempatnya, menunggu tubuh-tubuh yang sudah lama jarang benar-benar hadir.
Salsa menerima ketenangan itu tanpa perlawanan, membiarkannya menutupi sisa rasa gelisah yang masih mengendap di dadanya.