Namaku rea, tepatnya rheana utami. Aku hidup sebatang kara dan tinggal dikos - kosan sebelum aku bertemu suamiku. Hidupku bisa dibilang lurus lurus saja dan jauh dari masalah. Hingga aku menikah dengan pria yang menjadi suamiku kini.
Perkenalan kami cukup singkat, dan aku tipe orang yang jujur dengan siapapun yang mendekatiku. Mas Bimo adalah nama suamiku, seorang pekerja kantoran yang hanya karyawan biasa.
Sebelum menikah aku sudah menjelaskan pada mas Bimo jika aku adalah seorang gadis tak bernasab, aku tidak tahu siapa dan dimana orangtuaku. Mereka meninggalkanku diteras depan panti asuhan tanpa apapun, hanya sebuah kardus bahkan pakaian pun tak ada. Mas Bimo tak mempermasalahkannya bagiku itu sudah cukup.
Kami menikah di KUA setempat dan aku resmi menjadi istrinya, pernikahan kami sangat sederhana dan tanpa resepsi. Orang tua mas Bimo tak bisa hadir karena katanya tinggal jauh dikampung kelahirannya. Bagiku tak apa asal ia menerimaku itu sudah cukup.
Hari-hari setelah pernikahan kami sungguh merupakan sebuah mimpi bagiku. Aku yang dulu bekerja di sebuah cafe disuruh resign oleh mas Bimo, katanya aku cukup menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga yang baik. Ya ibu yang baik, entah bisa atau tidak karena aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki sosok ibu, aku hanya bisa berharap kepada Tuhan agar terus membimbingku. Kami juga memutuskan untuk free child terlebih dahulu, agar bisa saling mengenal lebih jauh.
Aku menuruti keinginan mas Bimo untuk tidak bekerja lagi sebagaimana biasanya. Tapi setelah sepeninggalnya bekerja aku mulai melaksanakan rutinitas ku walau hanya dari rumah. Sebenarnya aku merasa bersalah tidak jujur kepadanya siapa dan apa pekerjaan ku sebenarnya. Aku memang sebatang kara, tapi bukan berarti hidup ku serba kekurangan. Tuhan menganugerahkan sebuah kelebihan padaku, aku bisa meniru suara siapa saja hanya dengan mendengarkan nya sekali.
Kelebihan itulah yang kemudian aku gunakan untuk mengisi beberapa soundtrack video yt, yang sekarang sudah memiliki jutaan pengikut dan bisa dibayangkan berapa pundi rupiah yang bisa aku dulang setiap bulannya. Dan aku bukan hanya memiliki satu akun, ada beberapa dengan konten yang berbeda. Itu semua konsisten aku lakukan semenjak memutuskan untuk mandiri dan keluar dari panti.
Sebagian besar penghasilan ku aku gunakan untuk berbisnis dan sisanya untuk kebutuhan sehari hariku dan juga aku menjadi donatur resmi di panti tempatku dulu ditampung.
Aku lebih memilih untuk hidup biasa saja dan sederhana walaupun aku sebenarnya lebih dari sekedar mampu. Itu semua kulakukan agar bisa terhindar dari orang-orang yang terlihat baik tapi nusuk dari belakang. Sudah banyak kejadian seperti itu yang aku saksikan sendiri. Maksimal sampai aku benar-benar mendapatkan pendamping yang menerima aku apa adanya, dan setidaknya sampai aku bisa memastikannya.
Cafe tempatku bekerja juga sebenarnya milikku baik bangunan maupun usahanya sendiri. Tidak ada yang tahu selain manager yang merangkap sebagai orang kepercayaan ku. Aku sudah terbiasa disuruh suruh oleh orang yang notabene nya adalah karyawan ku sendiri, dan selagi itu masih dalam batas wajar aku akan mentolerir nya. Tapi jika saja ada yang berbuat seenaknya, maka siap-siap saja untuk segera angkat kaki dari tempatku.
Dari semua hasil usahaku, aku kembali mengembangkan usaha warung sembako di beberapa kota yang menurutku bagus. Dan alhamdulillah Tuhan sangat baik padaku, dan membiarkan setiap usahaku berjalan dengan baik.
Sudah banyak lelaki yang terang-terangan menyukaiku, tapi aku menolak karena berbagai alasan. Aku hanya berusaha percaya pada insting ku sendiri, jika aku merasa tidak enak aku akan bilang tidak. Mas Bimo adalah orang yang pertama memberi ketulusan padaku, dan membuatku merasa aman berada di dekatnya. Hingga akhirnya membuatku yakin untuk mengakhiri hubungan sekedar teman kami dengan sebuah pernikahan.
Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan semoga dia setia dan semoga saja tidak berubah meskipun belum ada anak diantara kami.
Mas Bimo adalah tipe laki-laki pekerja keras dan jujur sejauh yang aku tau. Tidak ada gelagat mencurigakan darinya. Setiap weekend dia selalu dirumah bersamaku dan kerap kali mengajakku jalan setiap kali dia habis gajian. Aku memang tidak menanyakan berapa gajinya, dan menurutku aku tidak perlu tahu jika dia sendiri tidak ingin memberitahuku.
Hingga suatu hari, saat kami jalan hendak kepasar untuk membeli keperluan bulanan ada seorang gadis cantik menyapanya dan dia terlihat cemas.
" Kak Bimo, kok pergi sih? " Gadis itu menarik tangan suamiku. "Aku tu sudah lama nyari kakak kemana-mana. Ayo pulang dong kak" Rajuk gadis itu.
Aku hanya diam menyaksikan interaksi mereka. Sekilas mereka terlihat mirip, mungkin benar jika mereka adalah sau....? Ehhh? Tapikan mas Bimo bilang kampung kelahirannya jauh dari sini. Terus apa maksudnya gadis ini menyuruhnya pulang.
Aku menatapnya dengan penuh tanda tanya, dia terlihat menggaruk kepalanya. Apakah selama ini dia berbohong padaku?
"Mas dia ini siapa? " Tanyaku padahal jawabannya sendiri sudah bisa kutebak.
" Anu re..., dia adikku. Maaf...nanti aku jelaskan dirumah ya"! Jawab mas Bimo terlihat tidak enak padaku karena telah berbohong.
" Ini siapa kak? " Tanya gadis itu menunjuk kearahku. " Rhe kenalkan ini adikku lita, dan lita ini kak rheana istri kakak. Mending sekarang kamu pulang dan ingat jangan sekalipun ngikutin kakak." Mas Bimo menyuruh adiknya pulang.
" Sejak kap....? "
" Lita kakak bilang pulang " Mas Bimo terlihat marah hingga membentak adiknya. Tak pernah kulihat dia semarah itu.
"Kak Bimo jahat" Lita bergegas pergi.
Kasihan juga melihat gadis itu meneteskan air mata sambil berlari menjauhi kami. 'Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku mas' batinku. Kuharap setelah pulang nanti dia mau menceritakan semuanya padaku.