Setelah menyelesaikan urusan belanja, kami langsung pulang tanpa mampir untuk sekedar makan seperti biasa. Sesampainya dirumah aku langsung merapikan belanjaan ku didapur baru kemudian ku hampiri mas bimo.
" Mas apa yang sebenarnya terjadi?"
" Begini re ceritanya, maaf jika aku berbohong kepadamu. Aku hanya khawatir jika kamu akan menolak lamaran ku jika aku jujur dari awal. "
Mas Bimo menceritakan jika sebenarnya dia tinggal di kampung yang hanya berjarak sekitar lima jam dari tempat tinggal kami saat ini. Dia pergi dari rumah karena orangtuanya terus memaksanya untuk segera menikahi gadis pilihan mereka. Gadis itu bernama jamilah anak seorang pengusaha lele yang terkenal di kampungnya.
Orang tua mas Bimo yang bisa dibilang gila kehormatan tentu saja sangat antusias mengetahui jika anaknya di taksir oleh orang paling kaya dikampung itu.
Mas Bimo juga bilang, jika sebelum bertemu denganku dia pernah menyukai seorang gadis bernama aisyah. Gadis berhijab yang selalu menjaga jarak dengan pria manapun, gadis itu berteman dengan jamilah. Agar bisa mendekati aisyah mas Bimo terlebih dulu mendekati jamilah sebagai teman tapi ternyata gadis itu salah sangka.
Setelah mas Bimo menjelaskan semuanya, jamilah marah dan tidak lagi mau menemuinya. Tak lama setelah itu mas Bimo mendapat kabar jika aisyah akan dinikahi oleh Abdurrahman kakak tertua jamilah.
Mas Bimo sakit hati, dia tahu jika ini pasti ada hubungannya dengan jamilah. Bagaimana tidak, jamilah adalah putri satu-satunya dikeluarga itu. Sementara tiga kakaknya laki-laki semua. Sudah pasti segala keinginannya akan dituruti bagaimanapun caranya.
Tak lama setelah kejadian itu mas Bimo dipanggil oleh orangtuanya yang ternyata membicarakan perihal perjodohan dirinya dan jamilah. Tentu saja mas Bimo menolak, namun tetap saja tidak didengarkan oleh orangtuanya. Dihari saat pertemuan kedua keluarga mas Bimo diam-diam pergi dari rumah, disaat semua orang sibuk mengurusi segala hal tentang perjodohannya.
Mas Bimo sudah tidak perduli dengan yang namanya nama baik keluarga. Dia pergi meninggalkan keluarganya begitu saja tanpa pamit, bahkan handphonenya pun ia tinggalkan agar mereka tidak dapat menemukannya.
Setelah selesai mengutarakan semua isi hatinya, mas Bimo terlihat lega. Beban pikiran yang selama ini dia simpan terbuang sudah. Sekarang tinggal memikirkan bagaimana caranya menghadapi keluarga mas Bimo.
Sebagai istri yang baik aku harus bisa kembali membawa mas Bimo pulang menemui orangtuanya selagi mereka masih ada. Karna waktu terkadang bisa saja tidak berada di pihak kita, dan penyesalan itu adanya pasti belakangan setelah kita merasakan sakitnya kehilangan.
Aku berusaha membujuk mas Bimo dengan segala cara, dan aku bahkan mengatakan akan siap melewati apapun yang terjadi nanti asalkan dia tetap disisiku. Asalkan dia tidak menduakan ku, aku akan berjuang bersamanya. 'Oh puitis sekali pikirku setelah mengatakannya pada mas Bimo'.
Sungguh sulit untuk menggoyahkan keteguhan mas Bimo, bahkan sampai aku harus menangis memohon kepadanya baru dia bersedia mendengarkan ku.
"Rhe aku tau niat kamu baik, tapi tetap saja aku takut keluargaku memperlakukan kamu dengan buruk nantinya". Mas Bimo mengutarakan alasannya yang sebenarnya tidak mau pulang.
" Mas aku akan berusaha sabar, seperti yang kemarin aku katakan. Asal kamu tetap bersamaku aku akan menghadapinya. Tidak enak rasanya tidak memiliki orangtua mas. Kamu harus bersyukur".
"Baiklah rhe akhir pekan kita pulang"
Akhirnya mas Bimo setuju untuk pulang. Setengah dari diriku sangat bahagia setengahnya lagi merasa khawatir. Bagaimana tidak? Sainganku yang sesungguhnya adalah seorang gadis dari keluarga terpandang dan jelas asal usulnya tidak seperti ku yang mungkin saja anak haram makanya dibuang begitu saja.
' Tuhan aku memohon kepadamu, permudahkanlah segala urusanku. Jauhkan aku dari semua niat jahat, iri dan dengki orang lain. ' aku terus merapalkan doa dalam hati.
Akhir pekan tinggal dua hari lagi, masih banyak pekerjaan ku yang menumpuk. Baik itu tentang cafe ataupun toko sembako maupun konten yang harus segera aku rampungkan.
Cukup menguras tenaga sebenarnya tapi aku sebisa mungkin membuat mas Bimo tidak curiga.
Seperti biasa sepeninggalnya bekerja, aku mulai lanjut membuat beberapa konten yang harus aku upload sesuai jam tayang yang telah aku tentukan. Sambil sesekali aku berbalas WA dengan beberapa orang karyawan yang aku tugaskan mengelola toko sembako ku. Mulai dari pengiriman barang, pemesanan dan pembayaran tetap aku yang melakukan. Karna bisa dilakukan walau hanya dari rumah.