Akhir pekan seperti yang dikatakan mas Bimo kami akan mengunjungi orangtuanya. Dadaku terus saja berdebar tak menentu, gugup, was-was bercampur jadi satu.
Setengah hari perjalanan menggunakan bus kami akhirnya sampai diterminal dan melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum. Mas Bimo terus saja memegangi tanganku seolah aku anak kecil yang akan tersesat bila dilepas sendiri.
Turun dari angkutan umum kami berjalan kaki sekitar lima belas menit, hingga akhirnya mas Bimo berhenti.
" Rhe kamu yakin? Kalau tidak kita bisa kembali lagi?" Mas Bimo terlihat khawatir. Pasalnya tanganku terus saja mengeluarkan keringat dingin begitu juga dengan dahiku.
"Tidak apa mas, aku hanya gugup saja. Aku tidak tahu bagaimana cara menghadapi orangtua, kamu kan tahu sendiri aku seperti apa" Aku berusaha meyakinkan nya begitu juga diriku. Semoga saja orangtua mas Bimo tidak seburuk yang aku pikirkan.
Kami berhenti didepan rumah dengan halaman yang begitu luas, dan tentu saja rumah khas orang-orang terpandang untuk ukuran kampung.
" Assalamu'alaikum " Mas Bimo mengucapkan salam, katanya kalau dikampung orang tidak terbiasa menggunakan bel. Jadinya harus sabar menunggu si empunya rumah membukakan pintu.
" Assalamu'alaikum " Mas Bimo kembali mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam" Terdengar langkah kaki setengah berlari dari dalam rumah menuju kearah kami.
Setelah pintu terbuka terlihat seorang wanita usia sekitar lima puluh tahunan berdiri sambil menangis kemudian memeluk mas Bimo suamiku.
" Nak kemana saja kamu selama ini? "
" Maafkan Bimo ya bu, Bimo pergi begitu saja"
Setelah melepaskan pelukannya, ibunya mas Bimo melihat dengan penuh tanda tanya kearahku. Akupun mencium tangannya layaknya anak dan ibu.
" Ayo bu masuk dulu, biar nanti Bimo jelasin semua ", Mas Bimo menggandeng tanganku masuk kedalam rumahnya. Kami duduk saling berhadapan dengan kedua orangtuanya mas Bimo yang tak lain adalah mertuaku. Aku tak melihat siapapun dirumah ini kecuali mereka berdua.
" Pak bu, maafkan Bimo sudah membuat ayah sama ibu malu waktu itu. Tapikan Bimo sudah bilang kalau Bimo tidak cocok dengan jamilah pak, bu. "
" Ini siapa?" Bapaknya mas Bimo bertanya dengan nada ketus menunjuk kearahku.
" Ini rheana pak, istri bimo. Kami sudah menikah sejak lima bulan yang lalu". Jelas mas Bimo. Sementara ibu mas Bimo menatapku dengan tatapan menilai.
Aku tidak merasa ada yang salah dengan penampilanku, aku berusaha tampil se sopan mungkin menggunakan tunik dibawah lutut dipadukan dengan celana jeans. Tapi tetap saja aku melihat ada sesuatu di tatapan itu.
" Boleh tahu rheana ini asalnya dari mana? Dan sekarang kerjanya apa? " Bapaknya mas Bimo lagi yang bertanya.
" Rheana ini tidak punya siapapun kecuali aku pak, dulu dia kerja dicafe terus semenjak kami menikah, aku menyuruhnya untuk dirumah saja", Tatapan ibunya mas Bimo langsung berubah meremehkan ku sejalan dengan bapaknya yang terlihat tidak menyukai ku sedari awal.
" Bimo... Bimo.... "
" Bapak tidak mengerti apa yang sebenarnya kamu lihat dari dia, jelas-jelas semuanya jauh lebih baik jamilah. Keluarganya terpandang anaknya cantik, baik, penurut lagi". Seketika pandanganku berkaca-kaca, belum pernah aku dijatuhkan seperti itu seumur hidupku.
Aku berusaha sekuat tenaga menahan air mataku, mengingat janjiku pada mas Bimo sebelumnya.
"Apa tidak salah kamu Bimo memberikan ibu menantu bekas kerja dicafe,? "
" Pak bu sudah ya, Bimo mau pulang itu karena dibujuk oleh rheana. Jika tau akan seperti ini sampai mati pun Bimo tidak akan pulang bu" Mas Bimo membentak kedua orang tuanya.
"Sudah mas, jangan. Ingat beliau adalah orangtua kita." Aku berbisik pada mas Bimo untuk memenangkan nya.
" Rhe ayo kita pergi dari sini, percuma juga aku turuti keinginanmu. Sekarang kamu lihatkan apa yang mereka lakukan." Mas Bimo tidak mau lagi mendengarku. Mungkin dia merasa harga dirinya telah jatuh didepan orangtuanya sendiri.
Akupun sebenarnya mengerti maksud ibunya mas Bimo yang mengatakan aku menantu bekas kerja dicafe. Karena difikiran orang pedesaan cafe itu ibaratkan tempat menjajakan diri. Padahal sebenarnya hampir sama saja dengan warung kopi di pedesaan, hanya saja tempat dan menunya dibuat mengikuti perkembangan zaman.
Sakit rasanya tapi kutahan sekuat tenaga, bagaimanapun mereka adalah orangtuanya mas Bimo yang berarti orangtuaku juga. Mungkin saat ini Tuhan sedang ingin mengujiku lewat mereka.
Disaat kami ingin beranjak pergi, tiba-tiba bapaknya mas Bimo kejang dan ibunya histeris.
" Pak..... Bapak.... "
" Tolong carikan mobil buat bawa bapak kamu kerumah sakit bim, mobil kita sudah dijual " Setengah berteriak ibunya meminta mas Bimo.
Aku yang tidak tau harus berbuat apa, hanya bisa diam mematung di tempatku berdiri, jangan sampai terjadi apa-apa pada bapaknya mas Bimo. Aku terus merapalkan doa dalam hatiku. 'Tuhan maafkanlah segala kesalahannya, sungguh aku tidak benci pada mereka, aku memaafkan mereka tuhan'
Sekitar lima menitan mas Bimo kembali bersama beberapa orang untuk mengangkat bapaknya. Sepertinya mas Bimo tidak mendapatkan mobil sehingga terpaksa menggunakan angkutan umum.
" Bu sebenarnya apa yang terjadi dengan bapak? Sebelumya tidak pernah seperti ini. " Mata mas Bimo terlihat memerah menahan tangis.
" Bapakmu terkena serangan jantung dan darah tingginya sering kumat kalau dia tidak bisa mengendalikan amarahnya. Semua itu bermula sejak kamu kabur pada saat itu". Jelas ibunya.
"Pak maafkan Bimo, Bimo janji tidak akan membuat bapak marah lagi" Kata mas Bimo.
Aku tersentak mendengarnya, 'mas sebenarnya kamu sadar tidak sih dengan apa yang kamu ucapkan' batinku.
Bagaimana jika bapaknya mas Bimo menyuruhnya meninggalkan aku. Dasar mas Bimo, entah kemana mas Bimo yang aku kenal selama ini. Secepat inikah dia berubah.
" Pak ayo buruan, kerumah sakit terdekat saja" Seru ibunya mas Bimo pada sang supir. Pak supir mengangguk dan menambah kecepatan kendaraannya. Bisa dibilang kami saat ini sedang ugal-ugalan, banyak sekali umpatan dan klakson panjang yang kami terima.
Sesampainya di rumah sakit ayahnya mas Bimo langsung ditangani oleh dokter. Dan disuruh rawat inap agar dokter bisa dengan mudah untuk mengontrol kesehatannya.
Aku sengaja duduk agak jauh, agar mereka bebas membicarakan apapun yang mereka ingin. Tidak baik bagiku mengetahui masalah keluarga mereka walau sekarang mas Bimo adalah suamiku.
Saat malam tiba kami disuruh untuk pulang, karena hanya satu orang saja yang diperbolehkan menunggui pasien.
Dalam perjalanan pulang aku bertanya pada mas Bimo mereka ada berapa bersaudara. Mas Bimo mengatakan ada empat, dan semuanya sekarang berada diluar kota. Termasuk lita, adiknya mas Bimo yang beberapa hari kemarin kami temui. Dia memilih untuk kuliah diluar kota mengikuti teman-temannya.
Sementara kedua kakaknya sudah sejak lama kabur dari rumah karena kesalahan yang sama seperti yang mereka lakukan pada mas Bimo. Mereka tidak pernah berniat ingin pulang walau sebentar saja menjenguk kedua orangtua mereka.
Mirisnya orangtua mas Bimo tidak pernah belajar dari kesalahan mereka sebelumnya. Perjodohan dijaman sekarang tidak semudah dulu, sekarang sejak remaja pun seorang anak pasti sudah menentukan dengan orang seperti apa ia akan menghabiskan sisa hidupnya.
Sesampainya dirumah aku dikagetkan dengan seorang perempuan yang tiba-tiba saja datang dan memeluk mas Bimo. Wajahnya tidak kelihatan karena kondisi sekitar rumah yang masih gelap gulita, mengingat dari siang menjelang sore tadi kami semua berada dirumah sakit.