"Mas Bimo kemana saja? Aku kangen mas"
Mas Bimo berusaha melepaskan pelukan jamilah, selain risih dia juga mungkin merasa bersalah melihatku melihat sendiri kelakuan jamilah.
Setelah terlepas mas Bimo mendorongnya menjauh dan segera masuk kedalam rumah. Memang dasar perempuan jadi-jadian ya begini kelakuannya, tidak ada malunya pantas saja mas Bimo ogah dijodohkan dengannya.
"Mbak tolong ya jaga sikap dengan suami saya. Apa anda tidak malu berbuat seperti ini. Seperti tidak punya harga diri saja". Sontak saja jamilah mengalihkan pandangannya kearahku. Aku tidak peduli dan langsung mengekor dibelakang mas Bimo untuk masuk. Rasanya capek hati, pikiran dan juga tubuh bercampur aduk membuatku pusing ingin segera istirahat.
Tapi ya bukan jamilah namanya jika dia hanya diam. Bukannya pulang dia malah setengah berlari mengikuti kami.
Mas Bimo langsung menyalakan semua lampu agar rumah ini tidak terlihat kosong, takutnya mengundang kejahatan.
"Mas benar dia ini istri kamu? Ga ada Cocok-cocoknya. " Belum nyerah juga dia kembali menghampiri mas Bimo.
Mas Bimo menjauhinya dan mendekat kearahku " Ya benar dia ini istriku, sebaiknya kamu pulang dan jangan pernah ganggu aku lagi".
"Mas kamu jahat, harusnya aku yang jadi istri kamu bukan dia. Tapi gapapa aku mau kok jadi istri kedua". Seketika terbelalak mataku melihat perempuan gila yang bernama jamilah ini.
" Heh dasar perempuan sinting. Pantas ya mas Bimo ogah sama kamu. Kelakuannya aja begini ga ada malunya". Bisa ikutan kambuh juga darah tinggiku menghadapi perempuan model begini.
Daripada pusing aku dorong saja dia keluar, terus pintunya aku kunci. Perempuan jadi-jadian itu terdengar memaki dan mengancam akan mengambil mas Bimo kembali dariku. Sungguh aku tak perduli, jika pun dia meninggalkanku dia sendiri yang akan rugi dan pasti akan menyesal seumur hidup.
"Dimana kamarnya mas, aku mau istirahat. Klo mau ngobrol tuh diluar sana." Ketusku
Mas Bimo terlihat terkejut, baru kali ini aku memperlakukan mas Bimo seperti ini. Ya salahnya sendiri tidak bisa tegas.
Mas Bimo menunjuk kearah sebuah kamar paling ujung, katanya itu dulu adalah kamarnya.
Aku langsung masuk kamar begitu saja tanpa menunggu mas Bimo, seluruh tubuhku rasanya remuk ingin istirahat. Setelah selesai mandi sekilas aku melihat mas Bimo masih duduk termenung disamping tempat tidur. Tanpa menyapanya atau sekedar basa basi aku langsung tidur dan segera menuju alam mimpi. Melupakan semua yang terjadi hari ini dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok.
Pagi harinya setelah selesai mempersiapkan segala hal, termasuk sarapan pagi untuk orangtuanya mas Bimo kami pun berangkat kerumah sakit.
Sampainya dirumah sakit bukannya rasa terimakasih yang aku dapat malah hinaan dari ibunya mas Bimo.
" Ga usah sok baik deh, Jangan-jangan itu makanan ada Racunnya. Ga sudi aku makan masakan buatan mu, tanpa kamu masakin pun ada jamilah yang nganterin. Udah gitu cepet lagi datangnya.
Sesuai dugaanku perempuan jadi-jadian itu pasti sudah duluan datang dan membawa banyak sekali makanan yang aku sendiri tidak tau apakah dia sendiri yang memasak atau bukan.
Bukan berniat merendahkan tapi jika kalian sendiri yang melihat tampilannya pasti akan berpikiran sama denganku.
" Harusnya ya menantu yang baik itu bangunnya sebelum subuh, bukannya tunggu dibangunin ayam dulu " Sindir jamilah.
Aku memilih diam saja sementara mas Bimo menghampiri ayahnya. Percuma rasanya menjelaskan diri jika dari awal sudah tidak disukai oleh orang seperti ini.
Makanan yang susah-susah aku masak bahkan tidak dibuka sama sekali. Ya sudah, biarlah nanti akan ku sedekahkan di perjalanan pulang.
Aku bukanlah tipe orang yang pandai mengambil hati setiap orang. Jika mereka tidak menyukaiku untuk apa dipaksakan.
Dari pada pusing, aku buka HP yang dari kemaren sengaja aku matikan. Ada banyak sekali pesan masuk, salah satunya membuatku tersenyum dan tak lupa untuk bersyukur. Uang masuk ke rekening ku dari beberapa cabang usaha yang aku kelola.
Jumlahnya diatas dua ratus juta, tapi tidak membuat ku terlena. Segera kuhapus semua pesan yang masuk setelah terlebih dahulu membaca dan membalasnya satu persatu. Aku tidak ingin ada orang yang secara tidak sengaja melihat semuanya dan berpura pura baik padaku.
" Rhe kok senyum sendiri? "
Mas Bimo ternyata sudah berdiri disampingku, Mudah-mudahan saja dia tidak melihat semuanya.
"Sudah lama mas disitu? "
"Baru aja rhe, kamu ko ga gabung sama ibu duduknya? "
"Ga salah kamu mas nanya seperti itu? Yang ada ya bisa diusir aku klo duduk dekat ibu kamu. Liat tuh perempuan jadi-jadian nempel terus kayak perangko."
Tiba-tiba mas Bimo tertawa terbahak-bahak, membuat semua orang seketika mengalihkan pandangan kearah kami.
" Apaan sih mas? " Tanyaku bingung
" Ya kamu rhe lucu, masa Jamilah dikatain perempuan jadi-jadian. Kalo dipikir cocok juga sih." Mas Bimo masih tertawa sambil memegangi perutnya.
" Tu kan kamu juga setuju sama aku mas. Liat aja tu tingkahnya mana penampilannya menor banget lagi".sebenernya
Gimana ga aku katain coba, dari atas sampe bawah ga ada yang cocok. Kalo istilah anak sekarang sih " Teroris mode ". Make up juga begitu, alisnya hitam tebal begitu juga bedak dan yang lainnya.
Sebenarnya jamilah ini gadisnya cantik dan mungkin juga baik hanya saja mungkin didikannya yang salah. Kalo di ubah sedikit saja penampilannya, pasti akan banyak pria yang mengejarnya.
Aku berpikir bagaimana ya jadinya jika jamilah aku make over sedikit, apakah dia akan berhenti mengejar suamiku?
Mungkin saja selama ini tidak ada yang mau mendekatinya karena ilfeel, dan malu dengan tampilannya.