Kedengarannya memang konyol, tapi ya aku harus mencobanya demi mempertahankan pernikahan ku dengan mas Bimo. Jika terus menerus membiarkan jamilah mendekati mas Bimo melalui keluarganya aku takut suatu saat nanti dia akan luluh.
Biar bagaimanapun juga, aku tidak ingin pernikahan ku kandas ditengah jalan. Hanya karena aku tidak mendapatkan hati kedua mertuaku. Aku bisa memulainya dengan mencoba bicara dari hati ke hati dengan jamilah.
Setelah tiga hari menginap dirumah sakit, ayahnya mas Bimo diperbolehkan pulang dengan catatan harus benar-benar menjaga emosinya agar selalu stabil.
Aku tinggal dirumah menyambut kepulangan mereka, sementara mas Bimo menjemput.
Mas Bimo memapah ayahnya perlahan masuk kerumah, dan aku berusaha menjauh untuk menjaga suasana hati beliau.
Aku melihat jamilah hendak masuk kedapur mengantarkan tas yang dibawanya dari rumah sakit. Aku pun mengikuti dari belakang secara perlahan agar ibu mertua tidak sadar. Ya mulai sekarang aku harus membiasakan diri memanggil mereka seperti itu.
" Sini biar aku saja yang rapiin. " Aku mengambil tas tersebut dari tangannya.
" Tidak, biar aku saja, kan aku yang bawa" Sahutnya.
"Sudah tidak usah takut, tidak ada yang melihat kok. Aku tidak mau bermusuhan dengan siapapun. Sebenarnya aku tidak tahu jika mas Bimo itu sudah dijodohkan ketika kami menikah. Andai saja dia memberi tahu ku sebelum itu aku tidak akan disini. " Cerocosku begitu saja, entah dia mendengar kan ku atau tidak.
"Dia juga mengatakan Kampung halamannya jauh dari tempat kami menikah. Makanya kami tidak kesini meminta restu sebelum menikah. Intinya dia membohongiku tapi aku memaafkannya karena mungkin beginilah cara Tuhan mempersatukan kami. " Aku melirik kearahnya dia terdiam seperti memikirkan sesuatu.
" Kamu itu cantik, banyak pria yang mungkin mau denganmu. Untuk apa kamu mengejar seseorang yang tidak mengharapkanmu. Seseorang yang tidak mencintaimu. Dan bahkan sekarang sudah menikah. "
Aku berdiri tepat didepannya, memegang tangannya berusaha seolah-olah menjadi kakak perempuan yang baik.
Mukanya memerah, mungkin dia merasa malu atau gimana mendapat perlakuan seperti itu dariku.
" Aku tidak memaksamu untuk menjauhi mas Bimo, itu adalah hakmu. Jika dia memilihmu, aku akan mengalah."
Jamilah hanya diam saja mendengarkan apa yang berusaha aku jelaskan padanya. Dia ternyata adalah gadis yang baik, buktinya dia mendengarkan ku tanpa memaki dan membela dirinya. Hanya saja mungkin sekelilingnya yang membuatnya seperti ini.
Selisih umur kami mungkin hanya sekitar dua sampai empat tahun, tapi cara berfikir nya masih kurang dewasa.
" Dasar kurang ajar, apa yang kamu katakan padanya? "
Hampir saja aku meloncat karena kedatangan ibu mertua yang tiba-tiba.
"Tidak ada Apa-apa bu kami hanya mengobrol sedikit" Jamilah yang menanggapi. Aku tersenyum, sepertinya perlahan hatinya akan luluh.
"Aku pulang dulu bu, takut kelamaan nanti dicariin bapak" Dia beranjak dari tempatnya.
"Awas ya kamu, klo berani mencari masalah dengan jamilah. Akan kubuat kamu menyesal seumur hidup."
'Wah tangguh juga ini ibu mertua. Mungkin dia yang nantinya akan menyesal jika mengetahui semuanya' Batinku.
Semenjak peristiwa didapur waktu itu, jamilah mulai menjaga sikap dan perlahan mulai dekat denganku. Aku suka dengan perubahan sikapnya, dan dia tidak lagi mengejar mas Bimo se intens dulu. Paling Sesekali dia bercanda, ingin dijadikan istri kedua.
Kami bahkan sudah bertukar kontak, dan itu membuat ibu dan ayah mertua tidak senang. Mereka mengatakan aku sudah mempengaruhi jamilah dengan hal yang tidak baik sedangkan mas Bimo hanya diam saja. Sesekali dia mengingatkan ku untuk jangan terlalu dekat dengan jamilah.
Seminggu sudah sejak kedatangan kami, ingin rasanya segera pulang agar hati dan fikiran ini bisa istirahat barang sejenak. Tapi orang tua mas Bimo belum memperbolehkan bahkan katanya kalau bisa mas Bimo resign saja dari pekerjaan nya dan membantu usaha keluarga mereka disini.
Jika mas Bimo menuruti perkataan orangtuanya, akan sulit untukku mengendalikan semua pekerjaanku. Tapi mau bagaimana lagi, aku hanya seorang istri yang harus patuh pada suaminya selagi mas Bimo menghargaiku dan sekali lagi tidak menduakanku.