Malam hari saat orangtuanya mas Bimo sudah tidur dia mengajakku musyawarah perihal tawaran orangtuanya. Katanya bagaimanapun juga sekarang kami sudah menikah mereka akan berhenti menjodohkan mas bimo dengan jamilah. Aku jelas menolak, dengan alasanku sendiri. Aku berusaha mencari sebanyak mungkin alasan yang masuk akal.
" Rhe, kamu tolonglah ngertiin posisi aku. Aku sungguh tidak mau membuat penyakit bapak kambuh lagi. Lagian gaji yang aku terima akan jauh lebih besar dibanding dengan pekerjaan yang sekarang. "
" Aku heran denganmu mas, kemarin kamu tidak mau aku ajak walau hanya untuk menjenguk mereka. Sekarang malah kamu yang bersikeras tinggal disini. Kamu sadar tidak sih mas, dengan tinggal disisi mereka rumah tangga kita akan jadi taruhannya. Apalagi dengan kondisi kita yang belum memiliki anak ".
Sepanjang malam kami terus mengemukakan pendapat masing-masing, merasa mas Bimo tidak mau mengalah akhirnya aku memutuskan untuk tidur tanpa mendengar ocehannya yang semakin tidak ada habisnya. Heran juga aku, ini sungguh bukan mas Bimo yang sebelumnya aku kenal. Plin plan sekali.
Pagi harinya dimeja makan, ibunya mas Bimo kembali menyerangku secara terang-terangan dihadapan semua orang, bahkan ada jamilah juga yang sudah berpakaian rapi seperti mau kondangan, tapi make up yang dia gunakan sungguh membuatku ingin tertawa.
"Bimo kalian kan sudah 5 bulan ini menikah, masa sampai sekarang dia belum hamil juga, Jangan-jangan mandul lagi" Bahkan namaku saja beliau ogah menyebutnya.
"Bu bukan begitu, ini bukan salahnya rheana. Kami memang sudah sepakat untuk tidak memiliki anak sementara waktu" Jelas mas Bimo.
"Dasar konyol, prinsip macam apa itu. Ini pasti akal-akalan kamu aja kan untuk membela wanita ini. Lagian ya baguslah kalo nantinya kalian bercerai biar tidak banyak urusannya" Ayahnya mas Bimo menimpali. Sontak saja aku terkejut begitu juga mas Bimo.
"Astaghfirullah bapak, tidak baik ngomong seperti itu" Mas Bimo terlihat gusar.
"Apapun yang terjadi Bimo tidak akan pisah dengan rheana pak, walau bapak sama ibu tidak suka" Tambah mas Bimo.
" Sudah mas, makan dulu. Jangan bertengkar didepan rezeki, pamali." Aku berusaha menengahi walau sebenarnya dadaku bergemuruh menahan sesak. Kulirik jamilah yang hanya menunduk sedari tadi, entah apa maksudnya pagi-pagi sudah berada disini.
Selesai makan aku bergegas merapikan peralatan dibantu jamilah. Sementara mas Bimo dan orangtuanya pindah ke sofa depan TV.
" Mau kemana pagi-pagi gini udah dandan? " tanyaku.
" Mau kondangan sama ibu. Kemarin diajakin ga enak kalo nolak " Jawab jamilah.
" Sebaiknya setelah ini kamu mampir deh kekamar aku. Liat tuh dandanan kamu udah kayak badut mau nongkrong dilampu merah" langsung saja kukatakan secara blak-blakan tanpa melihat ekspresi nya yang mungkin sedang menatap nyalang kearahku. Aku sungguh tak perduli, karena sebelumnya juga dia seperti itu terhadapku.
"Tidak usah marah, yang ku katakan kenyataan. Liat saja dicermin klo ga percaya. Pantas saja tidak ada pria yang mau mendekatimu, bentukan kamu malu-maluin kaya gitu" tambahku. Sekarang kutatap wajahnya, sontak saja dia menunduk tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Dalam hatinya mungkin ingin sekali menampar ataupun menjambak rambutku karena berani meledek nya seperti itu. Tapi tidak berani, karena mungkin takut merusak citra nya didepan keluarga mas Bimo.
" Sebaiknya bergegaslah dan jangan sampai ada yang tau" Aku segera meninggalkannya dan masuk kedalam kamar.
Ya sebaiknya ibu sama bapak tidak tahu sampai riasannya selesai ku perbaiki.
Mungkin karena penasaran atau bagaimana dia segera mengikutiku dari belakang. Perlahan dia masuk kedalam kamar dan sepelan mungkin mengunci pintu.
" Duduk" Perintahku.
Dia menurut duduk didepan meja rias. Aku segera beraksi menghapus riasannya yang super tebal, dan sesuai prediksiku dia cantik tanpa riasan hanya saja kurang percaya diri. Walau kemampuan merias ku hanya masih tahap dasar, tapi aku berhasil membuatnya terlihat memukau dangan polesan sealami mungkin.
" Terimakasih. Bisakah kau mengajariku. Ibuku selalu membuatku jadi bahan tertawaan dengan make up seperti tadi " Sorot matanya terlihat sedih.
"Boleh saja, asal kamu berjanji menjauhi mas Bimo dan keluarganya" tawarku. Tentu saja harus ada harganya. Kalau tidak, bisa jadi mas Bimo pun akan tergoda melihat tampilannya sekarang. Perkataan dan janji pria adalah satu hal yang tidak bisa dipercaya seumur hidup. Mungkin saja dulu alasannya tidak menyukai jamilah karena penampilannya yang norak dan malu-maluin.
" Mila.... Jamilahhh" terdengar panggilan ibunya mas Bimo mencarinya.
" Baik, aku janji " Serunya kemudian sebelum meninggalkanku. Aku tersenyum mendengarnya.
Diluar mereka terlihat tercengang melihat jamilah. Sontak saja membuat gadis itu tersipu.
" Mila kamu terlihat berbeda " Sahut ibunya mas Bimo. Sementara mas Bimo memandangnya tanpa berkedip. Aku hanya bisa berharap semoga gadis ini memegang janjinya. Bukannya aku takut kalah saing dengannya, aku juga terbilang cantik apalagi jika menggunakan sedikit riasan. Hanya saja dari awal orangtuanya mas Bimo sudah tidak menyukaiku, jadi bagaimanapun caraku berpenampilan tidak akan ada bedanya. Ditambah lagi sekarang, penghasilan mas Bimo hanya cukup untuk keperluan sehari-hari jangankan skincare untuk bedak dan lipstick aja harus nabung dulu.
Semua peralatan yang aku miliki sekarang adalah hasil kerjaku sebelum menikah. Sebisanya aku tidak menggunakan uang pribadi milikku karena takut mas Bimo curiga. Dia masih belum sepenuhnya bisa ku percayai.