"Ah ibu bisa saja, jamilah kan dari dulu memang seperti ini bu" Kilahnya masih dengan wajah memerah karena semua orang menatapnya.
"Masa ibu bohong mila, bener deh kamu sangat cantik hari ini. Ibu jadi bersemangat mau kondangan bareng kamu"
"Ya udah kalo gitu, berangkat yuk bu. Nanti telat ga enak" Jamilah menarik tangan ibunya mas Bimo.
"Pak pamit ya, nanti bapak nyusul sama Bimo saja" Ibunya mas Bimo setengah berteriak karena ditarik oleh jamilah.
" Tuh Bimo, lihat jamilah itu cantik dan jelas asal-usulnya. Heran bapak kamu gak mau sama dia. "
"Pak sudahlah, ayo siap-siap biar Bimo antar" mas Bimo terlihat menghindari bapak.
Aku hanya bisa menghela nafas, entah apa salahku. Mas Bimo sendiri yang tidak jujur dari awal. Terlihat mas Bimo berjalan menuju kearahku, aku sengaja menyibukkan diri dengan handphone ditanganku.
" Rhe aku pamit ya, mau ngantar bapak kondangan"
Aku hanya diam saja, seharusnya yang pergi bersama ibunya mas Bimo itu aku bukan jamilah. Tapi aku diam saja, karena tidak ingin memulai permasalahan baru lagi. Aku tidak ingin dianggap cemburu pada jamilah.
Melihat aku yang diam saja mas Bimo terlihat sedih. Kubiarkan saja, sedih rasanya ditinggal sendiri di rumah. Aku merasa tidak dianggap sama sekali.
" Kamu baik-baik ya dirumah rhe "
" Kamu yang harusnya baik-baik mas, jangan jelalatan " Seruku.
"Iya, gak akan. Masa udah punya istri cantik seperti kamu masih mau jelalatan." Mas Bimo tersenyum sambil mengacak rambutku.
"Jangan gombal kamu mas. Gak mempan klo sama aku, sama jamilah mungkin baru"
"Eh rhe, Jangan-jangan kamu ya yang dandanin jamilah? " Selidik mas Bimo.
" Iya, mana tau dengan penampilan seperti itu banyak yang mau deketin dia. Biar ga deketin suami orang terus" Jawabku.
Mas Bimo tertawa " Kamu cemburu rhe "
"Menurutmu mas. Sudah sana berangkat" aku mendorongnya keluar dari kamar.
Sepeninggal mereka aku memutuskan untuk menelpon pak umar, orang yang aku percayai mengelola bisnis ku. Tidak ada masalah serius hanya ada beberapa pemilik bangunan yang menaikkan sewa. Selagi masih dalam batas wajar ya tidak apa. Toh sekarang apa-apa pada mahal semua.
Kucek saldo tabunganku melalui ibank dan alhamdulillah kenaikannya melebihi apa yang aku harapkan. Aku masih ingat, dulu saat keluar dari panti aku hanya memiliki beberapa juta di tabunganku, itupun hasil jerih payahku selama beberapa tahun bekerja di sebuah rumah makan kecil.
Memikirkan hal itu terpikirkan sebuah ide dalam benakku. Bagaimana jika aku memutuskan untuk membuka rumah makan didaerah ini. Tidak ada salahnya mencoba kan. Aku akan menyuruh pak umar mencarikan manager berpengalaman dan beberapa karyawan temasuk chef.
Seharian aku sibuk dengan rencana pembukaan restaurant. Ya kata pak umar sebaiknya namanya dibuat restaurant saja jangan rumah makan. Karena kata pak umar dijaman sekarang sangat terbatas orang yang mengunjungi rumah makan karena menunya yang itu-itu saja.
Tapi jika restaurant banyak kaum muda yang akan tertarik dan akan sangat mudah dikenal jika menunya memuaskan, apalagi di era gadget seperti sekarang. Apa-apa dipost, dipamerkan sehingga membuat banyak orang penasaran.
Tak terasa beberapa jam telah berlalu, sebentar lagi mas Bimo akan pulang. Aku harus secepatnya mengakhiri percakapan ku dengan pak umar jika tidak ingin dicurigai. Pak umar akan berusaha mencari apa yang aku minta dalam beberapa minggu ini. Untuk urusan tempat aku sendiri yang akan mencari, aku akan mengajak mas Bimo berkeliling dengan beberapa alasan.
Setelah memutuskan kontak dengan pak umar, aku berjalan keluar. Duduk di teras sepertinya ide yang bagus, hari ini cuacanya cerah.
Belum lama, terlihat mas Bimo pulang. Tapi yang membuatku terkejut, orang yang duduk dibelakangnya adalah jamilah. Aku diam saja, pura-pura tidak melihat mereka. Setelah mereka mendekat, aku perlahan masuk tanpa menghiraukan panggilan mas Bimo.
Yang benar saja, tadi berangkatnya sama bapak masa pulangnya sama jamilah. Pake motor jamilah pula lagi.
"Rhe aku beneran deh ga ada niat lain, tadi bapak sama ibu mau mampir ketempat saudara dulu terus nyuruh aku balik sama jamilah" Jelas mas Bimo.
"Memangnya kamu ga ada gitu mas tumpangan lain. Apa cuma jamilah aja yang searah sama kamu? Harusnya kamu jagain perasaan aku dong mas" Entah kenapa perasaan aku sakit luar biasa melihat mas Bimo boncengan sama jamilah. Padahal mungkin ini hanya rencana orangtuanya mas Bimo agar kami bertengkar.
"Aku janji ga akan ngulangin lagi rhe"
"Ga usah janji mas, aku ga percaya"
Aku berusaha menenangkan perasaanku agar tidak mudah terpancing dikemudian hari. Karena aku yakin kejadian seperti hari ini pasti akan kembali terulang lain kali. Secara orangtuanya mas Bimo masih berharap kalau jamilah bisa menjadi menantunya.