Aku memilih tidak mempermasalahkan kejadian hari itu karena sepertinya mas Bimo jujur. Sebaliknya orangtua mas Bimo terlihat tidak senang mendapati kenyataan tidak ada pertengkaran diantara kami.
Hari ini sesuai rencanaku sebelumnya, aku mengajak mas Bimo berkeliling. Seharian kami habiskan berkeliling karena belum mendapatkan apa yang aku cari, mas Bimo menuruti saja kemauan ku. Tentu saja mas Bimo tidak tahu niatku, karena memang belum saatnya. Jika dia dapat sepenuhnya aku percaya dan ku andalkan, aku berjanji pada diriku sendiri akan memberikan kejutan untuknya.
"Mas memangnya didaerah sini tu ga ada ya tempat yang selalu rame siang dan malam?"
"Ada sih re. Kamu mau cari apa? " Tanya mas Bimo balik.
"Ga ada mas. Aku cuma pengen cari makanan aja. Dari tadi tu ga ada yang cocok." Kilahku
"Oh, ya udah kalo gitu. Aku bawa kamu kealun-alun saja, disana banyak tempat makan mulai dari kaki lima sampai yang gedongan pun ada."
"Oh.... Ya udah, kita kesana aja kalo gitu mas" Aku sangat antusias.
"Tapi ga sekarang re karena masih sore. Disana kalau mau kulineran itu harusnya malam. Karena rata-rata jualannya habis maghrib, kan alun-alun kota rhe. Siang mana boleh jualan" Jelas mas Bimo.
Kami memutuskan untuk pulang dulu sekalian istirahat, jangan tanya kenapa aku tidak masak dan segala macam. Itu karena bapaknya mas Bimo tidak akan menyentuh apapun yang aku masak. Bahkan kopi bikinanku saja beliau tidak akan meliriknya.
Singkat cerita aku sudah menemukan apa yang aku cari, lokasinya bagus. Siang malam selalu banyak orang yang lalu lalang disekitarnya. Hanya perlu strategi saja untuk orang berkunjung. Aku langsung mengkonfirmasi dengan pak umar, biar dia yang menangani.
Tidak lama hanya satu hari saja pak umar sudah menghubungiku lewat chat WA.
" Siang bu rheana. Sehubungan dengan tempat yang kemarin ibu lihat, saya sudah bertemu langsung dengan pemiliknya. Beliau mengatakan tempat bisa disewa, tapi hanya sampai laku terjual saja. Jika seperti itu, sama saja akan merugi sebelum memulai bu" Jelas pak umar.
Ini yang aku suka dari pak umar kerjanya bagus dan penuh pertimbangan, tidak sia-sia aku memberikan gaji dan bonus yang tinggi untuknya.
" Memangnya mau dijual berapa pak?"
Kalau memang seperti itu lebih baik dibeli saja, sekalian untuk investasi. Toh kalo kepepet bisa dijual lagi nanti dan harganya juga pasti akan semakin naik.
"Sekitar dua setengah miliar bu. Mungkin masih bisa dinego, kalau memang ibu mau beli" Balas pak umar.
Untuk ukuran tempat yang bagus seperti itu harganya masih wajar. Walaupun hampir setengah dari uang tabunganku akan berkurang tidak apa.
"Baik Pak umar, langsung saja diurus surat-suratnya. Nanti saya akan urus pembayarannya setelah selesai"
"Baik bu"
Tinggal mengurus mas Bimo sekarang. Aku harus berusaha keluar tanpa harus ditemani olehnya. Tapi aku tidak mungkin juga keluar tanpa seijin nya. Entah kata-kata pedas macam apa yang aku dengarkan nanti dari orangtuanya mas Bimo.
Akhirnya pada malam hari, menjelang tidur aku kepikiran. Langsung saja ku utarakan pada mas Bimo.
"Mas bagaimana jika aku bekerja lagi. Kamukan juga sudah dipecat, tidak mungkin kan mau beli apapun nantinya harus minta uang dulu sama ibu" Jelasku. Ya mas Bimo memang sudah dipecat dikarenakan tenggat waktu cuti yang ditetapkan oleh perusahaan telah lewat beberapa hari. Entah apa yang dipikirkannya aku juga tidak mengerti.
"Jangan dong re kan masih ada aku. Aku akan urus semuanya, kamu tenang aja. Kan aku juga bisa mulai kerja di tokonya bapak"
"Berarti aku akan tinggal dirumah seharian tanpa melakukan apapun mas. Itu hanya akan membuatku stress perlahan. Kamu tau sendiri sikapnya ibu sama bapak bagaimana ke aku"
"Tapi kamu mau kerja apa rhe, apa sebaiknya kerja di tokonya bapak saja"
"Ga mas, bapak akan nyari ribut terus setiap hari. Kerja dimana aja yang penting halal mas. Besok kamu temenin aku nyari ya"
"Yaudah rhe. Kalo itu mau kamu" Akhirnya mas Bimo pasrah.
Besoknya sebelum pergi, aku dan mas Bimo pamitan terlebih dahulu. Walau bukan kata penyemangat yang aku dengar, aku hanya pasrah dan mencoba berlapang d**a.
"Mas kalo nyari kerja disekitar alun-alun aja gimana?, mana tau ada warung makan atau resto yang nyari pramusaji. Kan enak pekerjaannya ga terlalu berat jadi aku bisa beradaptasi dengan cepat" Saranku.
Mas Bimo setuju dan langsung mengarahkan laju motornya kearah alun-alun. Setelah bertanya kesana kemari, akhirnyaaa yang dicari pun ketemu. Aku langsung menandatangani surat kontrak selama setahun terhitung mulai besoknya.
Rasanya bahagia sekali bisa terbebas walau hanya beberapa saat dari pengawasan mertua. Dengan begini aku bisa keluar tanpa harus memikirkan alasan apapun setiap hari. Dan yah tentu saja aku bisa menjalankan rencana usahaku dan leluasa bertemu dengan pak umar.
Dihari pertamaku bekerja setelah makan siang waktunya kami para pramusaji istirahat bergiliran selama satu jam, langsung saja aku temui pak umar dan pemilik bangunan yang telah menungguku disebuah bank untuk melakukan transaksi pembayaran. Setelah disepakati sang pemilik minta ditransfer saja, agar tidak repot dan menghindari sesuatu yang tidak diinginkan katanya.
Dengan disaksikan oleh teller bank sah sudah bangunan menjadi milikku, aku akan melakukan pemugaran terlebih dahulu sebelum memulai usaha. Dan harus dilakukan dengan sebaik mungkin, usaha yang maksimal akan memberikan hasil yang jauh lebih memuaskan.
Bangunan ini cukup luas dengan dua lantai dan tentu saja rooftop. Otak kecilku langsung saja menggambarkan seperti apa jadinya bangunan ini setelah renovasi nanti. Andai saja orangtuanya mas Bimo tidak memperlakukan aku dengan buruk, mungkin saja saat ini mereka akan ikut merasa bahagia bersamaku.
Lantai pertama akan didesain untuk keluarga dengan anak kecil dan akan ditambah area bermain anak disudut ruangan. Sementara dilantai dua akan didesain beda lagi dan untuk lantai ketiga akan dijadikan private. Bisa digunakan setelah melakukan pemesanan atau reservasi lebih dulu.