Sekitar satu bulan waktu yang dibutuhkan untuk merampungkan renovasi sesuai dengan keinginanku. Aku sangat puas melihat hasilnya. Setiap detailnya sangat diperhatikan.
Untuk saat ini aku belum bisa terang-terangan mengaku sebagai pemilik didepan semua karyawan yang akan bekerja. Jadi pada saat perkenalan, aku memutuskan memakai masker dengan pashmina untuk menyamarkan identitas ku.
Setelah mengatakan sepatah dua patah kata, aku pamit. Mengingat saat ini aku masih resmi bekerja sebagai pramusaji direstoran lain.
Untuk urusan lain aku serahkan pada indra, seorang mahasiswa lulusan S1 manajemen keuangan dan dapur aku serahkan kepada kepala koki mas teguh namanya. Mereka berdua mempunyai tugas masing-masing menyangkut kemajuan resto milikku.
Aku percaya pada mereka karena pak umar sendiri yang merekrut. Pak umar sudah seperti keluarga bagiku, beliau tidak pernah menghianatiku selama ini. Aku juga tekankan pada mereka jangan pernah menelpon ku walaupun dalam urusan mendadak sekalipun, cukup kirim pesan singkat saja.
Hari senin aku pilih sebagai hari OPENING, dan sesuai dugaanku pasti banyak orang yang antusias. Padahal sengaja aku pilih hari senin agar tidak sampai berdesakan. " Diskon 50 Persen" Mungkin itulah penyebabnya. Pilihan menu yang kekinian juga mungkin menjadi faktor pendukung lainnya.
Sementara di restauran tempatku bekerja teman-temanku juga membicarakan restaurant milikku yang baru buka di sela-sela waktu senggang mereka.
"Tin.. Gimana nih? Aku pengen banget makan di restoran yang baru buka disana? Itu loh NATAMI restaurant. " Riri mengutarakan niatnya.
"Iya ri, aku juga. Kata temen aku yang udah nyoba menunya enak-enak dan lagi tempatnya bagus banget. Tapi mau bagaimana waktu istirahat kita hanya satu jam, antri buat dapat meja aja sepertinya bakalan lama. " Kata riri menghela nafas.
Begitulah kira-kira obrolan mereka, aku hanya menjadi pendengar tidak berniat ikutan. Bukan karna sombong atau mengasingkan diri, aku hanya ingin membuat sedikit ruang diantara kami. Dan lagi setiap orang kan memiliki libur sehari dalam seminggu, jadi mereka bisa antri dihari itu. Sebab itulah aku tidak berusaha memesan meja untuk mereka walau itu hal yang mudah bagiku.
Sepulang kerja seperti biasanya aku dijemput oleh mas Bimo. Entah mengapa aku melihat hari ini mas Bimo terlihat berbeda, dia terlihat tersenyum bahagia. Tapi aku merasa senyum itu bukanlah untukku, ntahlah insting ku merasakan hal yang berbeda.
"Mas ada apa? Kelihatannya bahagia sekali?" Pancing ku.
"Tidak ada rhe, hari ini toko sedang rame pengunjung jadi bapak memberikan bonus tambahan" Jelas mas Bimo.
'Tidak mungkin, pasti ada sesuatu yang lain' batinku ' jangan-jangan jamilah lagi'. Ya sudahlah nanti aku cari tahu sendiri saja pikirku.
Tapi waktu itu sepertinya jamilah bersungguh-sungguh akan menjauhi mas Bimo. Semenjak aku mengajarkan dia cara memakai make up dan memadukan fashion dengan benar, dia terlihat percaya diri dan katanya ada beberapa pria yang mendekatinya.
Sesampainya dirumah, aku melihat mertuaku sedang duduk disofa depan TV sedang asyik menyantap makanan.
"Assalamu'alaikum pak.... Bu.... " Aku mengucap salam.
"Waalaikumsalam " Jawab ibu ketus, sementara bapak hanya diam saja. Sepertinya sangat menikmati makanannya.
Aku segera masuk ke kamarvsebelum mendengar ocehan tak berujung seperti biasanya.
"Bimo sini makan, makanannya enak sekali. Jarang-jarang dapat yang seperti ini." Ajak ibu pada mas Bimo.
"Ga usah bu, ibu makan sama bapak saja" Tolak mas Bimo.
"Yasudah kalo gitu"
"Aisyah baik sekali ya Bimo, masa tadi ibu mau bayarin ga boleh?" Kata ibunya mas Bimo.
'Deg.....!'
Apakah yang dimaksud ibu mertuaku orang yang sama dengan yang mas Bimo ceritakan padaku? Ah mungkin hanya kebetulan saja, toh wanita itu juga sudah menikah dengan kakak tertuanya jamilah.