Ceklek!
Pintu kayu yang ada di hadapanku terbuka dan tampaklah sebuah ruangan kosong yang tak berpenghuni. Rumah ini masih sama seperti dulu, berukuran kecil dengan tampilan sederhana dan cat dinding berwarna kuning muda. Tak ada yang berbeda. Hanya saja ... kini rumah ini kosong dan tak memiliki napas kehidupan seperti dulu.
Aku melangkah masuk menyusuri ruangan kosong yang dulunya merupakan ruang tamu itu, lalu berhenti sejenak untuk mengingat bagaimana rupanya ruangan itu dulu ketika aku masih tinggal di sana. Aku dapat mengingat bayangan diriku yang masih remaja, duduk di salah satu kursi sambil membaca buku komik favoritku. Bayangan wajahku ketika remaja yang seakan tersenyum tanpa beban ke arahku membuat aku pun ikut tersenyum.
Kulanjutkan langkahku semakin masuk ke dalam, menuju ke ruang keluarga yang di sebelah kanannya terdapat dua buah pintu menuju ke kamar. Tak banyak yang dapat aku lihat karena semuanya juga kosong melompong. Aku hanya dapat mengingat bayangan ketika diriku yang masih remaja duduk menonton televisi bersama ayah dan ibuku di situ. Entah mengapa ... tak hanya ingin tersenyum, rasanya aku juga ingin menangis.
Tak ingin membiarkan air mata jatuh di pipiku hari itu, aku pun memutuskan untuk berjalan ke arah kamar pertama dan membuka pintunya. Secercah cahaya matahari masuk melalui jendela dan menyinari ruangan kosong yang cukup sempit berukuran 2 x 3 meter itu.
Ini adalah kamarku dulu ... ketika aku masih belum mengenal pahitnya kehidupan.
Masih dapat kuingat dengan jelas diriku yang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar ini untuk belajar, beranggapan bahwa semakin bagus nilaiku di sekolah, semakin sukses masa depanku nantinya. Kini tak ada yang tersisa di kamar ini, hanya sebuah cermin berukuran panjang yang menggantung di dinding.
Aku pun berjalan menghampiri cermin yang dulunya biasa aku gunakan untuk bersolek, menyisir rapi rambutku yang basah sebelum berangkat ke sekolah. Kini saat aku berdiri di depan cermin itu, aku melihat bayangan diriku yang sangat berbeda dari diriku yang dulu. Tubuh yang lebih tinggi dan tegap, rambut yang terlihat lebih rapi dengan potongan karya penata rambut profesional, kulit yang lebih terawat, setelan jas berbahan tebal dan halus berwarna abu-abu dengan dasi berbahan sutera berwarna merah, dilengkapi dengan sepatu pantofel hitam mengkilap.
Tiba-tiba aku dapat melihat bayangan masa mudaku di cermin itu, seorang remaja yang lugu dan belum mengerti kejamnya dunia. Seorang remaja yang berusaha untuk menyembunyikan kesedihan untuk dirinya sendiri dan tak berani melawan nasib. Seorang remaja yang lemah!
Aku pun menatap diriku yang sekarang di depan cermin, dan semua kesan buruk itu pun telah menghilang dariku. Betahun-tahun telah terlewati, dan akhirnya aku bisa membuktikan janjiku pada ibuku dan dunia ini. Kini aku merasa lebih pantas menyandang nama pemberian ibuku, Satria Danendra, yang memiliki arti seorang kesatria yang kaya raya.
"Satria, kau telah membuktikan bahwa kau bukanlah seorang pecundang," ucapku lirih dengan penuh keyakinan pada bayangan diriku di cermin.
***
Sembilan Tahun yang Lalu
Hai, namaku Satria Danendra. Usia? Masih di bawah umur, 17 tahun. Aku bersekolah di salah satu SMA swasta favorit di kota kelahiranku, Surabaya. Saat ini aku duduk di bangku kelas 3, sebentar lagi sudah akan lulus. Aku benar-benar sangat ingin cepat lulus SMA agar aku bisa terbebas dari seseorang. Ah ... nanti akan aku ceritakan.
Saat ini aku sedang sibuk menata rambutku dengan gaya favoritku sehari-hari, tak pernah berubah semenjak aku masih duduk di bangku SMP. Aku membasahi dulu rambut hitamku, kemudian membelah rambutku di bagian samping, lalu menyisirnya agak ke belakang sambil bercermin di kamarku. Terkadang sulit membuatnya rapi sehingga aku butuh konsentrasi lebih saat melakukannya. Maklum saja, tukang cukur di dekat rumahku tidak bisa memberikan potongan yang rata, sesuailah dengan harganya.
"Satria! Ayo berangkat! Sudah jam setengah tujuh! Ayah sudah siap!" Seperti pagi-pagi biasanya, ibuku pasti akan meneriakiku untuk mempercepat kegiatan bersolekku agar tidak terlambat datang ke sekolah.
Setiap hari, ayahku yang akan mengantarku berangkat ke sekolah. Meskipun jam masuk sekolah adalah pukul 07.00 pagi, aku sudah harus berangkat pukul 06.30. Maklum saja ... ayahku sudah tua, tidak akan sanggup jika harus memacu motor dengan kecepatan setara pembalap MotoGP untuk mengejar jam masuk sekolahku.
Sisiran terakhir, lalu sedikit ditepuk-tepuk, dan ... sudah selesai! Rambutku sudah tertata dengan rapi. Aku segera mengenakan jaketku dan mengambil tasku, lalu berlari ke arah ruang tamu di mana Ibu sudah berdiri menungguku. Meskipun usia Ibu sudah menginjak kepala enam, tapi dengan rambut pendek yang dicat hitam itu Ibu masih terlihat awet muda dan cantik.
"Ayo, cepat!" perintah Ibu dengan wajah yang sudah mulai terlihat agak kesal.
Sementara itu, Ayah ternyata sudah berada di atas motor, sedang memanaskan mesinnya. Aku pun buru-buru mengambil helmku dan mencium tangan lalu pipi Ibu. Aku selalu bertingkah seperti seorang remaja yang sangat bersemangat untuk datang ke sekolah di depan Ayah dan Ibu, meskipun pada kenyataannya tidak.
"Berangkat ya, Bu!" pamitku.
"Iya, hati-hati!" pesan Ibu.
Aku pun segera naik ke atas motor, duduk di belakang Ayah. Tak banyak bicara, Ayah langsung saja melajukan motornya, meninggalkan rumah kami yang sangat sederhana dan berada di dalam gang.
Ayah adalah seseorang yang tak banyak bicara dengan wajah yang terlihat tegas. Beda dengan Ibu yang lebih banyak bicara, bahkan beberapa orang mengatakan bahwa Ibu cerewet. Aku dapat memakluminya karena Ayah adalah seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil, yang dulunya merupakan seorang guru Sejarah. Ayahku bahkan akan lebih ingat kisah Perang Diponegoro daripada kisah hidupnya sendiri.
"Nanti pulang jam berapa?" tanya Ayah dari depan.
"Jam 2, Yah," jawabku.
Percakapan kami di atas motor biasanya hanya sampai di situ saja karena Ayah akan lebih banyak diam. Sebenarnya jika diijinkan, aku akan lebih memilih untuk mengendarai motor sendiri ke sekolah. Tapi karena motor di rumah hanya ada satu, Ayah yang mengantar dan menjemput aku. Aku hanya berharap agar Ayah tidak merasa terpaksa melakukannya.
Keluarga kami mungkin saja terlihat harmonis dari luarnya. Tapi yang tak banyak orang lain tahu, ayahku ini adalah suami kedua Ibu. Sementara aku sendiri adalah anak dari pernikahan pertama Ibu. Jadi bisa dibilang ayahku ini adalah ayah tiriku, sejak aku duduk di bangku kelas 4 SD. Sebenarnya tidak enak menjelaskan kisah ini pada orang lain karena aku pun telah menganggap Ayah sebagai ayah kandungku sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Memang begitulah kenyataannya. Ayah kandungku sendiri hilang entah ke mana, bahkan semenjak aku masih belum dilahirkan ke dunia.
Kini yang aku anggap sebagai ayahku hanya pria berusia 70 tahun berambut putih yang duduk di depanku ini, tak ada lagi yang lain. Meskipun tak begitu dekat, dan lagi sifat Ayah juga pendiam, aku lebih banyak menghabiskan waktuku dengan hal lain yang tak melibatkan sebuah percakapan panjang di antara kita. Seperti saat ini. Di atas motor aku hanya menikmati pemandangan sepanjang perjalanan ke sekolah.
"Sudah sampai," ujarku saat motor yang kami naiki sampai di depan pintu gerbang sekolah. Aku pun segera beranjak turun sambil melepas helmku.
"Belajar yang rajin," pesan Ayah dengan singkat.
"Iya, Yah," jawabku tanpa ragu-ragu, bahkan sambil tersenyum, seolah pesan Ayah adalah hal yang sangat mudah untuk kujalankan. Aku pun mencium tangan Ayah dan melempar senyum sebelum Ayah melenggang pergi dengan motornya.
Aku segera melangkah masuk ke dalam gerbang sekolah dengan senyum yang mendadak sirna dari wajahku. Belajar yang rajin dan memperoleh nilai yang baik memang bukanlah sebuah hal yang sulit bagiku. Namun ada hal lain yang membuatku sungguh tak ingin datang ke sekolah, jika saja Ayah dan Ibu mengijinkannya. Tapi aku tahu mereka tak akan pernah mengijinkannya dan aku pun tak akan tega memberitahukannya pada mereka.
Aku terus berjalan dengan langkah kaki yang tak bersemangat. Semakin dekat dengan gerbang bagian dalam sekolah, semakin ingin aku berlari rasanya. Keceriaan yang kutunjukkan di rumah benar-benar hilang dengan begitu cepat setiap aku melangkah masuk ke dalam gedung sekolah.
Di kanan dan kiriku, aku melihat beberapa teman yang sekelas denganku. Tapi mereka tak menyapaku dan aku pun tak berniat menyapa mereka. Percuma saja. Mereka takut padaku, bahkan hanya terlihat dekat dan berbincang denganku pun mereka takut. Padahal aku tak pernah berbuat salah pada mereka. Sangat sedih untuk mengakuinya, tapi sebenarnya ... semenjak kelas 2 SMA, aku tak lagi memiliki teman. Kenyataan ini membuatku sangat ingin pindah sekolah dan merasa berat saat melangkahkan kaki memasuki gedung sekolah. Seperti saat ini. Tak terasa aku sudah melangkahkan ka-
"Woi! Satria!"
Hah ... Akhirnya sebuah suara yang paling aku benci pun berkumandang dari arah depanku. Aku mendongak dan melihat ke arah depan, di mana tiga orang murid laki-laki sedang berjalan mendekat ke arahku dengan senyum lebar di wajah mereka.
Kalian pasti berpikir mereka adalah teman-teman dekatku yang menyambut kedatanganku ke sekolah dengan hati gembira. Tidak, kalian salah. Tiga orang laki-laki yang datang menghampiriku itu tak akan pernah menganggapku sebagai teman dekat mereka.
Dari antara ketiga murid laki-laki bertubuh tinggi dan tegap itu, seorang di antaranya yang berjalan di tengah selalu saja menarik perhatianku lebih daripada yang lain. Laki-laki itu berpostur sedikit lebih besar daripada yang lainnya. Apalagi dengan rambutnya yang cepak, ia lebih terlihat seperti seorang algojo. Ia berjalan di tengah dengan gaya sok seperti seorang pemimpin dalam kelompok kecil itu. Yah ... meskipun memang benar itu perannya di dalam kelompok.
"Hei, kau baru datang rupanya! Kebetulan sekali kita bertemu di sini," ujar si wajah algojo itu padaku dengan senyum di wajahnya.
"Iya, kebetulan," jawabku dengan wajah datar dan seadanya. Aku sungguh sangat malas menanggapinya. Ugh! Kenapa aku harus kebetulan bertemu dengan mereka di sini?
"Kalau begitu ... sepertinya masih sempat jika aku memintamu membelikan roti untuk kami bertiga sebelum bel masuk sekolah." Si wajah algojo itu meminta padaku sambil tersenyum miring. Kedua teman yang ada di sampingnya pun terkekeh dengan nada meledek.
Apa-apaan ini? Tinggal 3 menit lagi jam masuk kelas dan ia memintaku untuk membelikan mereka roti di kantin yang jaraknya cukup jauh dari kelas? Tapi aku tak terlalu terkejut, karena memang seperti itulah perangai mereka sehari-hari.
"Sudah mau masuk kelas. Nanti saja waktu istirahat," jawabku berusaha untuk menolak sambil melangkah pergi.
"Eiitt!" Mereka bertiga menahanku supaya tidak pergi. Dengan tubuh yang tak setinggi dan sebesar mereka tentu saja aku dapat dengan mudah ditarik kembali ke tempatku berdiri semula.
Masih sambil tersenyum sinis, si wajah algojo itu mendekatkan wajahnya ke telingaku, lalu membisikkan sesuatu. Aku tak bisa memberitahukan apa yang ia katakan pada kalian karena ia menyuruhku untuk tak memberitahukannya pada siapapun. Tapi apa pun yang ia katakan barusan sontak membuatku berubah pikiran.
Si wajah algojo itu bernama Novandra Surya Putra, seorang remaja yang sama sekali tak memancarkan sinar seperti arti dari namanya. Dan ia adalah alasan mengapa aku tak ingin lagi bersekolah di sini.