Selesai membisikkan hal yang sangat ia tahu pasti akan melemahkanku, Novandra kembali tersenyum miring dengan tatapan matanya yang penuh kemenangan. Aku benar-benar merasa muak melihat tatapan mata itu selama 2 tahun aku bersekolah di sini. Tapi aku tak mampu untuk menghindarinya. Aku hanya bisa balas menatapnya dengan mata kesalku. Aku tahu ia tak akan berani menyakitiku jika aku balas menatapnya sekalipun. Kalian akan tahu apa sebabnya nanti.
"Cepat sana! Oh ya, yang isi daging, ya!" perintah Novandra.
Sebenarnya aku merasa sangat malas melakukannya. Tapi karena Novandra telah memperingatkanku dengan tepat sasaran dan bel sekolah pun sebentar lagi akan berbunyi, aku segera berlari meninggalkan mereka menuju ke kantin. Jarak antara kantin dengan tempatku berdiri tadi kira-kira sejauh 200 meter. Ya, sekolahku memang sangatlah besar karena merupakan salah satu SMA swasta favorit di Surabaya.
Aku berlari sekuat tenaga menuju kantin, sampai-sampai beberapa murid melihat ke arahku dengan keheranan. Tak lama, aku pun telah masuk ke dalam kantin dan langsung menuju ke stan yang menjual roti. Aroma harum roti yang sedang dipanggang semerbak memenuhi ruangan yang berukuran sebesar lapangan bola itu.
"Bu, saya beli roti yang isi daging, tiga," pintaku pada si ibu penjual roti.
"Tapi rotinya masih dipanggang, belum ada yang matang," jawab si ibu itu.
"Apa sama sekali tidak ada yang matang, Bu? Tiga saja," ujarku dengan nada memaksa. Sebenarnya aku sama sekali tak suka memaksa orang lain, tapi aku sendiri sedang berada dalam keadaan terjepit.
"Belum ada, Nak. Roti yang sedang Ibu panggang ini sebentar lagi matang. Mau menunggu?" tanya si ibu.
"Berapa lama, Bu?"
"Sekitar 2 menit lagi."
Apa? Dua menit lagi? Roti itu akan matang tepat saat bel masuk sekolah berbunyi! Bagaimana ini? Apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Novandra? Tapi aku takut ancamannya terhadapku akan terjadi. Tidak! Aku tak boleh membiarkan hal itu terjadi!
"Baik, Bu. Saya tunggu. Tapi ... nanti bisa agak lebih cepat ya, Bu? Soalnya saya sudah mau masuk kelas," pintaku dengan nada bicara yang terdengar tergesa-gesa.
Si ibu penjual roti itu mengangguk mengiyakan permintaanku dan segera melanjutkan pekerjaannya, mempersiapkan kemasan untuk roti pesananku. Sementara aku sendiri hanya bisa berdiri menunggu dengan gelisah dan jantung berdebar, sambil terus saja melihat ke arah jam tanganku.
Ting!
Terdengar oven pemanggang roti baru saja berbunyi. Akhirnya ... roti-roti itu matang juga! Si ibu pun dengan sigap mengeluarkan nampan berisi roti-roti dagangannya keluar dari oven.
Kring!
Di saat yang bersamaan, bel masuk kelas pun berbunyi. Merasa sadar apa yang harus ia lakukan, si ibu penjual roti itu pun mempercepat gerakannya memasukkan roti-roti pesananku ke dalam plastik. Meskipun roti-roti itu masih panas, kami tidak memiliki pilihan lain.
"Ini, Nak." Si ibu penjual roti memberikan kantong plastik berisi tiga roti daging pesananku.
"Berapa, Bu?"
"Dua puluh ribu," jawabnya.
Aku cukup terkejut mendengar harga roti itu. Ternyata mahal! Sebenarnya dapat dimaklumi karena sekolahku termasuk salah satu sekolah mahal. Bukannya pelit, dua puluh ribu itu adalah uang sakuku selama dua hari. Jika aku memberikan semuanya untuk membeli roti itu, maka sisa uang sakuku yang kemarin-kemarin dengan hari ini akan langsung habis begitu saja. Lalu akan makan apa aku siang ini?
Tak cukup waktu untuk berpikir! Aku sudah melihat beberapa guru berjalan keluar dari ruang guru. Ketiga roti ini pun telah berada di tanganku.
"Ini ya, Bu. Terimakasih," ujarku sambil memberikan dua lembar uang kertas sepuluh ribuan kepada si ibu penjual roti, dan langsung saja berlari dengan kecepatan penuh menuju ke kelasku.
Sialnya, kelasku berada di lantai dua sehingga aku pun harus berlari dengan langkah lebar-lebar saat menaiki tangga untuk mempersingkat waktu. Aku hanya berharap agar guru mata pelajaranku yang pertama tidak datang mendahuluiku ke kelas.
Akhirnya aku telah sampai ke depan kelasku dan masuk begitu saja setelah melihat belum ada guru yang datang. Aku segera saja berjalan dengan napas yang masih terengah ke arah meja Novandra yang sudah menungguku dengan senyum lebar di wajahnya. Rambutku yang telah aku sisir dengan rapi pun jadi berantakan terhempas angin saat aku berlari tadi. Percuma saja aku menghabiskan waktu untuk merapikan diri sebelum berangkat sekolah. Lagipula ... semua kerapian itu juga sebenarnya hanya demi pencitraan di depan Ayah dan Ibu.
"Nih!" ujarku sambil meletakkan bungkusan plastik yang aku bawa ke atas meja Novandra. Aku yakin ia dapat menangkap rasa kesal di wajah dan nada bicaraku. Namun aku tak peduli, aku langsung berjalan menuju ke kursiku sendiri.
Namun saat aku telah sampai ke mejaku dan hendak duduk, aku dapat melihat sebuah tulisan dalam bahasa Inggris yang ditulis dengan menggunakan kapur berwarna merah di atas mejaku. Tulisan itu berbunyi "loser" dalam bahasa Inggris, yang berarti "pecundang". Bukan sekali ini saja aku mendapatkan tulisan seperti ini dari Novandra dan kawanannya. Aku sudah terbiasa, bahkan sudah mulai mempercayai bahwa mungkin benar diriku adalah seorang pecundang.
Aku segera menghapusnya dengan menggunakan tangan kosong dan langsung saja duduk. Aku dapat mendengar suara tawa dari Novandra dan kedua temannya dari belakang, merasa puas telah mempermainkanku. Teman-teman sekelasku yang lain bukannya tak peduli dengan diriku yang dipermainkan oleh Novandra. Yang mereka tahu, karena aku sering terlihat bersama dengan Novandra dan kawanannya, mereka menganggapku sebagai bagian dari para pembuat onar itu. Apa saja yang Novandra lakukan padaku hanya mereka anggap sebagai sebuah lelucon antar teman satu geng.
Karena menganggapku sebagai bagian dari mereka, teman-temanku yang lain mulai menjauhiku karena takut terkena masalah. Hal itu terjadi sejak kepindahan Novandra ke sekolah ini, yaitu sejak kami masih duduk di kelas dua. Padahal jelas-jelas karakteristik dan penampilanku jauh berbeda dari mereka bertiga. Bagaimana bisa mereka menyimpulkan bahwa aku adalah bagian dari para berandalan itu?
Aneh!
***
Kruyuk!
Perutku sedari tadi berbunyi karena aku sangat lapar sementara tak ada yang bisa aku makan. Semua uang sakuku telah aku habiskan membeli roti untuk ketiga orang sialan itu. Setengah mati aku menahan lapar sambil menjaga konsentrasi belajarku sampai mata pelajaran terakhir ini, yang kebetulan dibawakan langsung oleh wali kelasku.
"Anak-anak, dua minggu lagi kalian sudah akan melakukan perjalanan karya wisata. Seperti yang sudah diumumkan sebelumnya, kita akan melakukan perjalanan karya wisata ke Bali. Ibu harap kalian mempersiapkan semuanya sebaik-baiknya, dan jangan lupa ... untuk biaya karya wisata sudah harus lunas dalam minggu ini." Bu Mega, wali kelasku yang sedang berdiri di depan kelas, memberikan pengarahan tentang rencana karya wisata kelas kami.
"Baik, Bu!" jawab kami secara serentak.
"Ibu akan membagikan buku laporan kosong yang harus kalian isi untuk karya wisata kalian nanti. Kalian maju satu per satu mulai dari nomor urut satu ya," pinta Bu Mega sambil mengambil sebuah buku dari tumpukan buku lainnya yang ada di atas mejanya.
Sembari menunggu semua buku dibagikan sampai nomor urut terakhir, teman-teman sekelasku cukup gaduh. Jika aku ingin ikut membuat kegaduhan dengan berbincang dengan teman-teman sekelas yang duduk di dekatku sebenarnya tidak akan menjadi masalah, selama mereka mau saja aku ajak bicara. Tapi aku terlalu asyik menahan rasa laparku, sampai tak terasa keringat dingin pun mulai menetes dari keningku.
Karena namaku berawalan dengan huruf "S", maka nomor absenku berada di urutan terakhir. Saat tiba saatku, aku pun harus menguatkan tubuhku untuk berjalan ke depan mengambil buku yang dimaksud. Padahal keringat dinginku terus menetes. Tapi untungnya tak terjadi apa-apa sampai semua buku pun telah selesai dibagikan.
"Baiklah! Semua buku sudah dibagikan. Tinggal 5 menit lagi sampai jam pulang sekolah. Ibu akan pergi ke ruang guru, kalian tunggulah sampai bel pulang di dalam kelas! Jangan berisik, mengerti?" perintah wali kelas kami.
"Mengerti, Bu!" Kami menjawab secara bersamaan.
Wali kelas kami meninggalkan kelas dalam keadaan yang masih cukup tenang. Namun beberapa detik setelah wali kelas kami meninggalkan ruangan kelas, teman-teman sekelasku mulai semakin gaduh. Kami berada di dalam kelas IPA tapi mereka terlihat sangat sosial sekali seperti berada di kelas IPS. Kegaduhan mereka membuat perutku terasa makin lapar saja.
"Aku bacakan yang belum melunasi pembayaran karya wisata, ya! Dari nomor absen terakhir dulu." Seorang teman perempuanku yang berperan sebagai bendahara di dalam kelas tiba-tiba saja memberi pengumuman. Aku cukup dibuat terkejut karenanya dan ingin buru-buru menyela saja.
"A-"
Belum juga aku berbicara sepatah kata, temanku itu telah berseru, "Satria!"
Ya, dari sekian puluh murid di dalam kelas, aku termasuk salah satu dari hanya segelintir yang belum melakukan pelunasan biaya karya wisata. Karena itulah tadi aku ingin buru-buru menyelanya. Mungkin baginya biasa, tapi aku malu.
"Apa? Kau belum melunasinya, Sat? Bagaimana kau ini? Katanya murid rajin, taat peraturan." Terdengar sebuah suara laki-laki yang cukup berat dari arah belakang tempat dudukku. Tanpa menoleh sekalipun, aku telah bisa menebak suara siapa itu. Novandra!
Sungguh dongkol hatiku dibuatnya! Sudah kelaparan karena harus menurutinya, lalu dengan terang-terangan namaku disebutkan di depan kelas untuk hal yang sama sekali tak membanggakan, dan kini Novandra malah berniat ingin memperkeruh keadaan. Sesegera mungkin aku memalingkan kepalaku ke arahnya.
"Aku sudah bayar atau belum, itu bukan urusanmu! Urus saja milikmu sendiri!" Aku menjawab dengan tanpa takut. Biar saja. Memang benar apa yang aku katakan.
"Oh, ya? Bukan urusanku?" Novandra tersenyum dengan sinis ke arahku. Tampaknya kata-kataku barusan menyinggungnya.
Ia pun bangkit berdiri dari tempat duduknya dan berjalan dengan langkah pelan namun pasti menuju ke tempat dudukku. Aku terus saja memandangnya mendekat ke arahku, tak ingin sama sekali menampakkan bahwa aku takut padanya. Selama ini aku terus saja berusaha untuk terlihat kuat di depannya sehingga teman-temanku yang lain menganggap bahwa aku seirama dengan Novandra dan teman-temannya. Namun laki-laki berandal itu selalu saja bisa menemukan titik kelemahanku pada akhirnya.
Novandra pun berhenti tepat di sampingku dan menundukkan kepalanya agar matanya bisa menatap langsung ke mataku.
"Tentu saja itu urusanku. Bagaimana jika acara karya wisata kita terhambat hanya karena satu orang tak sanggup membayar biayanya?" tanya Novandra, sok menjadi seorang pahlawan padahal hanya ingin menggangguku saja.
"Tidak sanggup? Ayahku sanggup membayarnya! Tinggal menunggu gajiannya saja, dan semuanya pasti akan lunas," jawabku tak mau kalah, karena memang aku mengatakan yang sebenarnya.
Setelah mendengar jawabanku, Novandra terdiam. Aku berharap bahwa ia akan berhenti menggangguku dan segera kembali ke kursinya. Apa lagi yang ingin ia bicarakan tentang aku di depan teman-teman yang lain? Ia pasti sudah kehabisan bahan.
"Hei, teman-teman! Lihatlah!" seru Novandra, memecah keheningannya sendiri.
Hah ... aku lupa bahwa ia pasti tak ingin, tak mau, dan tak sudi terlihat kalah dariku, apalagi di depan banyak orang. Tentu ia tak akan dengan mudah menyerah begitu saja.
"Inikah Satria yang kalian sebut sebagai anak rajin dan pintar? Tertib peraturan saja dia tidak bisa!" sindir Novandra sambil tersenyum miring kemudian terkekeh. Terdengar kedua temannya yang lain pun mengeluarkan suara tawa yang sama. Padahal sindirannya benar-benar tak berbobot menurutku.
"Untuk apa kau membawa kepandaianku? Apakah karena kau tak memilikinya?" ledekku dengan sengaja.
Entah mengapa tiba-tiba aku bisa dengan beraninya mengatakan hal itu pada Novandra di depan orang banyak. Aku tahu aku nekat dan amarah Novandra pasti akan tersulut. Tapi sepertinya memang benar kata orang, perut yang lapar membuat emosi manusia bergejolak. Dan kini aku pun tak bisa menahan emosiku pada Novandra.
"Apa yang kau bilang? Apakah kau sudah mulai berani melawanku?" ancamnya dengan wajah yang terlihat mulai memerah dan tatapan yang seperti sudah ingin menyakitiku saja.
Tapi...
"Aku yakin kau tak akan menyakitiku," ujarku dengan penuh percaya diri. "Apakah kau lupa? Kau adalah saudaraku."