Novandra tampak sangat terkejut dengan keberanianku membuka kedoknya di depan semua teman-teman sekelas kami. Tak hanya wajahnya memerah, kini matanya pun juga melotot. Entah mengapa aku sekali lagi dengan beraninya membuka rahasia yang sedari dulu berusaha untuk disembunyikan Novandra di depan semua teman sekolahnya. Tampaknya perut laparku telah membuatku berpikir di luar nalar tanpa memperhatikan resikonya.
Terdengar teman-teman sekelas kami membicarakan hubungan kami yang sebenarnya dengan wajah cukup terkejut. Selama ini mereka hanya tahu bahwa aku berada di dalam kumpulan yang sama dengan Novandra, hanya saja posisiku yang paling rendah di antara mereka bertiga. Teman-teman sekelas kami tak akan pernah menyangka bahwa seorang remaja nakal seperti Novandra memiliki saudara yang terlihat normal sepertiku. Sangat berbeda beratus-ratus derajat!
"Apa yang kau katakan? Aku tak memiliki saudara sepertimu!" ujar Novandra dengan wajah marah.
Tentu saja ia akan menyembunyikan fakta bahwa ia adalah saudaraku karena ia tak ingin citranya di sekolah sebagai seorang penguasa tercoreng. Memiliki saudara yang "tak keren" dan terlihat tak berduit sepertiku merupakan sebuah penurunan reputasi baginya.
Terdengar teman-teman sekelas kami tetap saja heboh membicarakan hubungan antara kami berdua. Aku hanya bisa diam berdiri tercekat sambil menatap Novandra yang sedang marah. Sudah terlanjur, mau bagaimana lagi? Aku tahu Novandra pasti tak akan tinggal diam.
"Eh, tenang, tenang! Mereka berdua hanya bercanda. Mereka tidak serius. Ini hanya candaan antara kami saja. Jangan terlalu dianggap serius!" pinta Herdy, salah satu teman Novandra, pada seisi kelas.
Oh iya, aku lupa menceritakan pada kalian tentang kedua teman Novandra. Berhubung Herdy sudah mulai bersuara, aku akan memperkenalkannya sebagai teman Novandra yang selalu dengan bodohnya membela Novandra dan mencari muka di depannya, seolah Novandra adalah seorang bos yang membawa keuntungan baginya. Seperti yang sedang ia lakukan saat ini, berusaha untuk membela dan menutupi identitas Novandra yang sebenarnya.
Sementara teman Novandra yang satu lagi, Alan, hanya diam sambil mengernyitkan dahi, menatap dengan kesal padaku. Wajahnya seakan sudah siap ikut menyergap kalau-kalau Novandra menyerangku. Posisinya lebih seperti seekor anak ayam yang selalu mengikuti gerakan induknya. Ia tak banyak bicara sampai-sampai aku pernah berpikir bahwa ia sebenarnya bisu.
Novandra sendiri ... kini masih saja menatapku dengan marah, seolah ingin menerkam. Sebenarnya siapa juga yang merasa bangga memiliki saudara seperti dirinya? Jika saja ia tahu, aku benar-benar muak dan ingin pindah sekolah karenanya. Ingin rasanya aku berkata-kata kasar di depan wajahnya tapi aku tahu aku tak akan bisa. Aku tahu ia tak akan berani menyakitiku, tapi masalahnya ia memegang kartu As-ku.
"Siapa saja yang percaya pada Satria dan terus membicarakan bahwa kami berdua bersaudara, akan berhadapan langsung denganku!" hardik Novandra di depan semua teman sekelas kami. Sebegitu enggannya ia mengakui bahwa benar ia adalah saudaraku.
Kring!
Untung saja bel pulang sekolah berbunyi. Dengan suasana menegangkan di dalam kelas, teman-teman sekelas kami yang lain langsung saja beranjak dari kursi mereka masing-masing. Tak sampai semenit mereka semua telah pergi meninggalkan aku dengan Novandra dan kawanannya di dalam kelas.
"Kalian berdua juga pergi!" perintah Novandra pada Herdy dan Alan.
"Tapi-"
"Sekarang!" seru Novandra dengan wajah kesal.
"Oke, oke. Kita pergi," jawab Herdy. Ia dan Alan pun berjalan bersama meninggalkan kelas, di mana hanya ada aku dan Novandra berdua di dalamnya.
Kini hanya tinggal aku dan Novandra berdiri berhadapan di dalam kelas yang kosong. Jantungku berdegup kencang dan peluhku tak hentinya menetes, perpaduan antara tegang dan lemas. Aku dapat melihat dengan jelas kemarahan di matanya dan hidungnya yang kembang kempis berusaha untuk menahan amarahnya. Iris matanya yang hitam pekat menatap dengan tajam dan menyeramkan ke arahku.
Novandra tiba-tiba melangkah maju semakin mendekat ke arahku dan memosisikan wajahnya hanya beberapa sentimeter saja dari wajahku. Aku bahkan dapat merasakan napasnya yang berat dan berbau rokok di depan wajahku.
"Sudah mulai berani rupanya kau sekarang," ujar Novandra. "Lihat saja, kalau kau tetap saja berani padaku, aku pasti akan segera memberitahu ayah dan ibumu bahwa kau tak memiliki teman di sekolah dan kau ikut dalam geng anak nakal! Mereka pasti akan mempercayaiku karena semua penghuni sekolah ini juga telah mengetahuinya."
Apa yang baru saja ia katakan adalah kartu As-ku, dan Novandra telah memegangnya sejak lama. Aku sangat mencintai kedua orang tuaku, terutama ibuku. Aku tak ingin membuat mereka sedih dan terlalu keras memikirkan keadaanku jika mereka mengetahui itu semua. Kasihan ... mereka sudah tua. Aku hanya ingin mereka tahu bahwa aku pandai dan nilaku bagus. Sudah, itu saja sudah cukup. Aku hanya perlu terus bertahan sampai lulus sekolah nanti, meskipun rasanya seperti ingin kabur saja setiap hari.
"Pikirkan itu baik-baik!" Novandra berjalan meninggalkanku dengan langkah marah.
Aku hanya bisa terdiam sambil melihatnya pergi. Mengapa aku harus memiliki saudara sepertinya? Mengapa semua ini terus saja terjadi padaku? Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja menghantuiku setiap kali Novandra mengusik kehidupanku.
***
Aku, Ayah, dan Ibu duduk bersama di meja makan keluarga kami yang berukuran kecil, hanya cukup untuk kami bertiga. Di hadapan kami sudah tersedia sepiring tempe dan tahu goreng, serta sayuran hijau yang ditumis dengan hanya menggunakan bawang putih. Begini saja aku sudah bersyukur, yang penting nasi di piringku panas.
Kami bertiga pun makan malam dengan selera kami masing-masing. Aku sendiri lebih menyukai banyak tahu dan tempe daripada sayuran di atas piringku. Meskipun jenis makanan seperti ini sangat sering aku temui dalam keseharianku, aku tak pernah bosan karena Ibu selalu bisa memasaknya dengan rasa yang pas.
Tapi jika boleh jujur, sebenarnya ... aku berbohong. Aku sudah sangat bosan dengan semua makanan ini! Setiap hari kami hanya makan tahu, tempe, dan sayur, tanpa lauk lain seperti ikan ataupun ayam. Berapa kali kami makan ikan ataupun ayam dalam sebulan dapat dihitung dengan menggunakan jari pada satu tangan. Tapi bagaimanapun juga, Ibu mengajariku agar selalu bersyukur dengan rejeki yang Tuhan beri.
"Bagaimana try-out ujian kelulusannya? Apa kau menemui kendala?" tanya Ibu setelah menghabiskan makanan di dalam mulutnya.
"Lancar. Tapi ada beberapa soal yang terasa sulit," jawabku dengan sejujur-jujurnya.
"Kalau begitu kau harus banyak belajar lagi. Jangan sampai ada soal yang terasa sulit barang satu pun," pinta Ayah dengan nada tegas.
Ayah memang sangat tegas dan disiplin, selalu menginginkan kualitas terbaik dari diriku. Wajar saja. Aku bukanlah anak kandung Ayah sementara Ayah harus selalu mengeluarkan uang untuk biaya sekolahku yang tak murah, tentu Ayah akan menuntut lebih walau di bibirnya Ayah mengatakan tidak. Aku pun juga tahu diri dan tahu balas budi sehingga aku selalu berusaha untuk mendapatkan nilai bagus, bahkan tertinggi, di tengah kehidupan sekolahku yang sangat getir.
"Iya, Yah," jawabku seadanya.
"Ibu juga. Sekali-sekali masak ikan biar anakmu ini dapat kadar Omega 3 yang cukup, jadi daya ingatnya semakin baik," pinta Ayah pada Ibu.
"Ya nantilah, Yah, kalau sudah ada rejeki lebih. Sekarang terima saja dulu makan apa adanya," jawab Ibu sambil menyendok makanannya.
"Masa ikan saja tidak bisa beli?" Ayahku merasa tak terima.
Aku sudah bisa merasakan naiknya tensi suasana makan malam kami dengan pertanyaan Ayah yang nadanya agak meninggi itu. Aku merasakan sesuatu akan terjadi, dan aku sudah sangat hapal dengan hal itu.
"Ayah ini bagaimana? Kalau saja Ayah tidak selalu menuruti keinginan Dessy dan memberikan semua uang Ayah, kita bisa makan ikan bahkan tiap hari!" jawab Ibu dengan nada bicara yang juga sudah mulai meninggi. Dessy yang ibuku sebutkan tadi adalah nama anak kandung Ayah dari pernikahannya yang sebelumnya.
"Jangan sebut anakku seperti itu! Bagaimanapun juga dia adalah anakku! Dan dia janda! Masa dia minta padaku tapi aku tidak memberikannya?" Kini giliran Ayah yang terlihat marah.
Aku sudah tahu akan jadi seperti ini. Setiap kali uang dan nama Dessy muncul dalam percakapan Ayah dan Ibu, mereka berdua pasti akan bertengkar. Ayah hanya memberikan uang belanja seadanya pada Ibu karena dengan murah hatinya Ayah memberikan semua uang yang diminta oleh Dessy, anak kandungnya.
Ayah sendiri tak pernah memperlakukanku seperti itu. Ayah menyerahkan semua keperluanku pada Ibu dengan semua uang yang tersisa. Untungnya aku tak pernah meminta macam-macam karena aku mengerti keadaan orang tuaku. Aku pun tak merasa iri pada anak kandung Ayah karena semua anak pasti memiliki kelebihannya masing-masing. Kelebihanku sendiri adalah aku pintar dalam pelajaran sehingga aku selalu ingin berusaha menunjukkan kelebihanku itu pada Ayah agar Ayah dapat mengakuinya dan merasa bangga padaku. Siapa tahu aku dan Ayah bisa semakin dekat dan Ayah menjadi semakin sayang padaku.
"Tapi lihat-lihat dulu keadaan keuangan kita sebelum memutuskan untuk memberi uang pada Dessy! Ibu lelah begini terus, Ayah! Mau sampai kapan Ayah seperti ini? Dessy itu sudah dewasa, bisa cari uang sendiri!" Ibuku tetap saja merasa tak terima dengan perlakuan Ayah. Bukan sekali dua kali Ibu mengatakan padaku bahwa Ibu menyesal telah menikah dengan Ayah yang pernah menjanjikan kehidupan sejahtera untuk masa tua mereka.
"Aku sudah selesai makan." Ayah langsung saja beranjak dari kursinya, meninggalkan piring yang sudah kosong di atas meja. Begitulah caranya menyelesaikan masalah dengan Ibu.
Aku hanya diam duduk sambil menunduk dan mengaduk-aduk makananku menyaksikan pertengkaran mereka berdua. Aku tak berdaya, tak sanggup berbuat apa-apa. Rasanya aku sangat marah pada seseorang bernama Dessy, yang telah membawa kemalangan bagi keluargaku, terutama ibuku yang sangat aku sayangi.
Aku mendongak untuk melihat wajah Ibu. Tampak Ibu sedang mengusap air mata yang keluar dari matanya. Rasanya sangat sakit melihat Ibu menangis seperti itu. Keadaan ibuku itu membuat pikiran jahatku seakan ingin agar aku kembali mengingat masa-masa sebelum Ibu menikah dengan Ayah.
Waktu itu ... Ibu sangat sukses dengan bisnis distributor makanan ringan yang dimilikinya. Semua harta ditinggalkannya demi menikah dengan pria yang dicintainya, yang menjanjikan masa depan terjamin bagi kami berdua. Ibu merasa senang karena tak perlu lagi susah payah banting tulang sendirian demi kehidupan kami. Ibu pasti juga sudah sangat lelah berjuang seorang diri semenjak aku dilahirkan ke dunia tanpa sosok ayah.
Namun ternyata semua janji itu semu karena seseorang bernama Dessy ini selalu saja dengan tak tahu dirinya mengusik kehidupan ayahnya dengan pasangannya yang baru. Kini Ibu hanya bisa meratap setiap habis bertengkar dengan Ayah. Aku sungguh merasa kasihan pada Ibu.
"Cepat selesaikan makanmu! Letakkan piringnya di belakang jika sudah selesai!" perintah Ibu sambil membereskan meja. Aku dapat menangkap kemarahan pada nada bicaranya.
Makan malamku kali ini terasa sama sekali tak nikmat dengan semua kejadian itu. Selesai makan malam pun, aku langsung masuk ke dalam kamar dan melanjutkan kegiatan belajarku. Tak ada tugas, ujian, atau apapun untuk besok. Aku hanya membaca-baca kembali beberapa buku dari bab awal sampai akhir untuk mengisi waktuku. Aku sangat enggan duduk di ruang keluarga dan menonton televisi bersama Ayah karena suasananya sedang tidak bagus.
Ting tong!
Sudah lewat sejam sejak aku masuk kamar dan terdengarlah bel rumahku berbunyi. Siapa yang akan bertamu malam-malam begini? Sudah jam 8 lewat. Ah, biarkan saja. Biar Ibu dan Ayah yang menemui tamu itu.
"Satria, bukakan pintunya!" seru Ibu dari arah dapur.
"Ah ... kenapa harus aku yang membukakan pintu?" keluhku pada diri sendiri, sementara Ayah masih berada di ruang keluarga.
Dengan langkah malas, aku pun berjalan keluar dari kamar menuju ke pintu utama rumah kami. Aku langsung saja memutar kunci yang menyangkut di pintu, lalu membukanya. Di depan pintu berdirilah seorang wanita paruh baya berusia sekitar 30 tahunan akhir dan seorang remaja laki-laki, keduanya sangat aku kenal. Dari milyaran manusia yang ada di Bumi, kedua orang itu yang paling tak ingin aku temui.
Mereka berdua adalah Dessy Rosalia, kakak tiriku, dan yang berdiri bersebelahan dengannya adalah Novandra, anaknya. Bisa dikatakan ... kedua orang yang berdiri di hadapanku saat ini adalah tokoh-tokoh utama yang membuat hidupku seperti berada di dalam mimpi buruk!