Liam
Tante bilang aku boleh bertanya soal program di Prancis, jadi aku mencoba memikirkan pertanyaan yang benar. Aku tahu Tante suka membuat kue dan ingin belajar lebih banyak. Aku juga tahu enam minggu itu lama. Kalau Tante pergi, aku akan tinggal dengan orang lain dan pergi sekolah tanpa dia.
Aku tidak mau bilang aku tidak setuju, karena Tante kelihatan senang saat menerima surat itu. Aku juga tidak mau bilang aku baik-baik saja kalau sebenarnya takut. Jadi aku membuat dua kolom di buku gambar. Kolom pertama berisi hal yang menyenangkan: Tante bisa belajar, mungkin membawa resep baru, dan melihat tempat yang belum pernah kami datangi. Kolom kedua berisi hal yang membuatku khawatir: ujian sekolah, tidur di rumah orang lain, dan kalau Tante sakit jauh dari rumah.
Aku menunjukkan buku itu kepada Tante setelah makan malam. Ia membaca semuanya tanpa menyela.
“Bagus kamu menuliskan yang kamu pikirkan,” katanya.
“Tante marah?”
“Nggak. Tante justru ingin tahu.”
Aku menunjuk kalimat tentang sakit. Mama dulu sakit sebelum meninggal, walau Tante selalu bilang sakitnya tidak sama dengan perjalanan. Kadang aku masih takut kalau orang yang kusayangi pergi, lalu tidak kembali.
Tante memelukku. “Kalau Tante pergi, Tante akan menjelaskan semua rencananya. Tapi Tante tidak akan pergi sebelum memastikan kamu punya orang yang kamu percaya.”
“Kalau nggak ada?”
“Berarti kita harus mencari pilihan lain.”
Aku mengangguk. Aku ingin percaya ia akan pulang. Aku juga ingin tahu apakah boleh ikut. Tante bilang ia sedang bertanya kepada penyelenggara dan sekolah.
Besoknya di sekolah, aku menceritakan sedikit tentang program itu kepada seorang teman. Ia bertanya apakah aku akan pindah ke Prancis. Aku bilang belum tahu. Ia berkata kalau aku ikut, aku mungkin akan belajar bahasa baru. Aku tidak memikirkan itu sebelumnya. Aku membayangkan Tante membuat kue dan aku berada di sekolah yang berbeda. Mungkin aku bisa ikut, tetapi aku juga takut tidak punya teman.
Sepulang sekolah, aku bertanya kepada Tante apakah ada sekolah di sana. Ia menjawab mungkin ada, tapi harus diperiksa dulu dan biayanya belum jelas. Kami mencari informasi bersama lewat laptop. Banyak kata yang sulit kupahami. Tante menjelaskan mana yang perlu kami tanyakan dan mana yang hanya contoh dari situs.
“Kalau aku ikut, aku juga harus belajar bahasa?” tanyaku.
“Mungkin beberapa kata. Tapi kita belum tahu apakah kamu bisa ikut.”
“Aku mau mencoba kalau memang bisa.”
Malamnya aku menyiram tanaman jeruk dan mengirim fotonya kepada Om Hendra. Aku menyebut Tante sedang mempertimbangkan kursus jauh. Ia membalas bahwa aku boleh ikut senang dan tetap mengatakan rasa takutku. Ia tidak meminta aku membujuk Tante atau menyampaikan pesan darinya. Setelah membaca balasan itu, aku menyimpan ponsel dan masuk ke rumah.
Malamnya aku menyiram tanaman jeruk. Daunnya bertambah lagi. Aku mengirim foto kepada Hendra seperti biasanya. Aku menambahkan pesan bahwa Tante sedang mempertimbangkan kursus jauh. Ia membalas bahwa aku harus mendukung Tante melakukan hal yang ia sukai, tetapi tidak perlu menyembunyikan rasa takutku. Aku membaca balasan itu lama. Aku senang Hendra tidak menyuruhku mengatakan iya atau tidak. Aku menyimpan ponsel dan masuk ke rumah.
***
Hendra
Pesan Liam tentang kursus jauh membuatku berhenti di tengah pekerjaan. Ia tidak menyebut Prancis secara langsung, hanya berkata Mireia mendapat kesempatan belajar dan mungkin harus pergi beberapa minggu. Aku tahu ia tidak meminta pendapatku. Ia hanya berbagi sesuatu yang sedang terjadi.
Aku menjawab bahwa ia boleh mendukung Tante Mireia sekaligus mengatakan jika ia takut. Aku tidak menawarkan uang, tiket, atau bantuan mengurus perjalanan. Semua itu akan melanggar ruang yang Mireia minta dan bisa membuatnya merasa aku menggunakan sumber dayaku untuk masuk kembali ke hidup mereka.
Aku menutup percakapan setelah Liam membalas bahwa ia sedang memikirkan semuanya. Aku tidak bertanya apakah Mireia sudah memutuskan. Aku juga tidak menghubungi Mireia untuk menawarkan bantuan. Aku harus menerima bahwa mereka memiliki urusan sendiri, meskipun aku peduli.
Di kantor, aku mengikuti rapat tentang rencana ekspansi perusahaan. Ayah mengusulkan agar aku memimpin tahap awal. Kali ini aku tidak menghindari pembahasan tentang posisi. Aku meminta kejelasan tentang kewenangan, dampak pada tim, dan waktu yang dibutuhkan.
“Kamu tampak lebih siap,” kata ayah setelah rapat.
“Aku sedang berusaha tidak lagi menganggap diam sebagai pilihan yang netral.”
Ia memahami bahwa aku bicara tentang Mireia, tetapi tidak bertanya lebih jauh. Aku menandatangani persetujuan untuk mempelajari proposal, bukan langsung menerimanya. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya kuinginkan sebelum memutuskan tanggung jawab sebesar itu.
Felicia bertemu denganku saat makan siang. Ia bertanya apakah aku masih menunggu Mireia.
“Aku tidak sedang menunggu jawaban,” kataku. “Aku menjalani hidupku dan menghormati batasnya.”
“Kamu masih menyayanginya?”
“Iya. Tapi itu tidak memberiku hak untuk masuk lagi.”
Felicia mengangguk. Ia bercerita tentang pekerjaannya dan rencana mengambil kelas malam. Aku mendukungnya, lalu kami membicarakan jadwal tanpa mengaitkan semuanya pada masa lalu kami.
Sore itu Liam mengirim foto daftar pertanyaan yang ia dan Mireia buat. Aku hanya menjawab bahwa daftar itu rapi dan semoga mereka mendapat informasi yang dibutuhkan. Aku tidak menyarankan mereka ikut atau tinggal. Aku tahu keinginan Liam mungkin berubah setelah memahami biaya, sekolah, dan tempat tinggal.
Malamnya aku bertanya kepada Ian apakah aku sebaiknya memberi tahu Mireia bahwa aku siap membantu jika diminta. Ian berkata ia sudah tahu aku akan menghormati batas.
“Kalau kamu mengirim pesan, dia harus merespons atau menolaknya. Jangan membuatnya mengelola niat baikmu.”
Aku mengangguk. Ada waktu ketika aku akan mengira tawaran bantuan selalu baik. Sekarang aku mengerti bantuan yang tidak diminta bisa menjadi tekanan, apalagi setelah aku pernah mengambil keputusan tentang apa yang perlu ia tahu.
Aku menutup percakapan setelah Liam selesai bercerita. Aku tidak meminta nomor pendaftaran atau rincian yang seharusnya Mireia pilih untuk dibagikan sendiri. Aku berharap ia menemukan keputusan yang cocok, tanpa menjadikan kerinduan atau sumber dayaku bagian dari tekanan yang harus ia tanggung.
***
Mireia
Pihak program membalas pertanyaanku. Mereka menjelaskan bahwa Liam bisa ikut, tetapi biaya sekolah sementara, transportasi, dan tempat tinggal tambahan harus kami tanggung sendiri. Beasiswa tidak menyediakan pendamping. Mereka dapat memberi surat untuk sekolah dan membantu mencari tempat tinggal yang ramah keluarga, tetapi tidak menjamin ketersediaannya.
Aku membuat perkiraan biaya bersama Bu Merry. Kami menghitung tiket Liam, asuransi, tempat tinggal, makan, dan transportasi. Bahkan dengan beasiswa yang menanggung kursusku, jumlahnya jauh di luar tabungan yang bisa kugunakan tanpa mengganggu kebutuhan rumah.
“Kamu bisa menabung untuk kesempatan berikutnya,” kata Bu Merry. “Tapi ini keputusanmu. Jangan merasa harus menerimanya hanya karena sudah lolos.”
“Aku tahu. Aku juga belum mau menolak sebelum tahu apakah ada bantuan lain.”
Kami mengirim pertanyaan tentang beasiswa keluarga. Panitia menjawab tidak ada dana tambahan, tetapi mereka mengizinkan peserta meminta penundaan sampai angkatan berikutnya jika ada alasan kuat. Penundaan itu tidak menjamin penerimaan ulang.
Aku membandingkan tiga pilihan: pergi sendiri dan meninggalkan Liam, membawa Liam dengan biaya besar serta sekolah sementara, atau menolak/menunda kesempatan. Tidak satu pun terasa ringan. Aku mengajak Liam melihat angka sederhana, bukan seluruh rincian rumit. Aku mengatakan biaya untuk membawa kami berdua akan menghabiskan sebagian besar tabungan keluarga.
“Kalau aku ikut, kita punya uang cukup?” tanyanya.
“Kita bisa membayar, tapi tabungan untuk kebutuhan mendadak akan banyak berkurang.”
“Kalau aku tinggal di sini?”
“Kita belum punya pengasuh yang bisa tinggal enam minggu penuh.”
Ia terdiam. Aku menambahkan bahwa ia tidak perlu memilih sekarang. Aku hanya ingin jujur tentang pilihan yang sedang kami lihat.
Malam itu kami membuat daftar orang yang bisa membantu. Kak Laila bisa menjemput beberapa hari, Bu Merry dapat membantu mengatur jadwal, dan Bagas mungkin bisa ikut dalam pembicaraan karena ia ayah Liam. Aku belum menghubunginya. Aku ingin terlebih dulu memastikan Liam merasa nyaman membicarakan ayahnya dan tidak menganggap perjalanan ini sebagai cara untuk menyerahkannya.
Liam sendiri berkata ia belum tahu apakah ingin tinggal bersama Bagas selama aku pergi. Ia baru mulai membangun hubungan kembali dengan ayahnya, dan enam minggu terasa panjang. Aku tidak memaksanya menjawab. Kami sepakat bahwa jika pilihan itu akan dipertimbangkan, kami akan membicarakannya bertiga dengan tenang.
Aku menelepon Kak Laila untuk menjelaskan biaya dan jadwal. Ia bersedia membantu mengantar Liam ke sekolah, tetapi tidak bisa tinggal di rumah kami selama enam minggu. Bu Merry juga tidak bisa menjadi wali, meski ia bersedia menyesuaikan jadwal bakery. Aku menghargai batas mereka dan tidak menyalahkan siapa pun.
“Jadi pilihannya belum lengkap,” kata Liam.
“Betul. Kita masih mencari tahu.”
Aku memeluknya. Ia berkata ingin aku mengikuti kursus, tetapi tidak ingin tinggal jauh. Aku mengatakan perasaannya tidak harus menjadi satu jawaban yang menghapus perasaan lain. Kami akan mempertimbangkan semuanya bersama.