Ian
“Oh...aku tau itu,” sahutku sambil melirik arlojiku. “Jam kerja Hendra baru akan selesai sekitar...lima belas menit lagi,” ujarku dengan nada datar. Meskipun tatapan tajam Hendra terfokus padaku, aku mengabaikannya.
Bersahabat dengan Hendra selama bertahun-tahun, membuatku mengetahui hampir seluruh hal yang terjadi pada kehidupannya. Ketika dia bersama wanita sebelumnya. Ketika dia mencintai dan patah hati karena mereka. Tidak banyak memang. Tapi tiap kali bersama dengan seorang wanita, Hendra selalu mencurahkan seluruh hati dan perasaannya.
Sayang sekali, hampir kesemuanya berakhir buruk. Membuat Hendra kecewa dan melukai hatinya. Penyebabnya adalah apa yang dimiliki dan diperoleh Hendra. Uang dan status memang suatu godaan yang sulit untuk diabaikan. Apalagi dengan fisik yang dimiliki Hendra. Membuatnya bukan lagi sebagai godaan namun sebuah tantangan.
“Tapi, nggak apa-apa. Kamu tunggu di sini aja. Lima belas menit bentar kok,” ujarku sambil melambaikan tangan ke arah kursi tunggu.
“Sori..aku nggak tau kamu belom selesai kerja. Kotaknya aja di mana? Ntar biar kamu bisa cepet lanjut kerja lagi,” tukasnya cepat. Hendra menggeleng terlalu cepat.
“Nggak ganggu. Beneran. Kotaknya ada di belakang. Mesti ke sana dulu kalo mau ngambil,” ujarnya tanpa mengalihkan pandangan dari wanita itu. Aku meringis.
“Tante, tante…” suara anak kecil menarik perhatianku. “Aku mau liat dalemnya mobil itu. Mesinnya kayak gimana? Boleh ya?” pintanya polos.
“Liam mau liat? Ayo sini sama om. Om tunjukin juga cara benerin mesin yang rusak,” ajak Hendra cepat. Dia berlalu dengan Liam yang mengikuti langkahnya.
“Duduk situ dulu aja. Cowok kalo udah urusan kendaraan, pasti susah ngalihinnya. Termasuk buat anak-anak juga,” tukasku sambil berjalan mendahului wanita itu. Dia mengangguk dan mengambil duduk di sampingku.
“Udah temenan lama sama Hendra? Kok baru liat sekarang?” tanyaku berbasa-basi. Wanita itu menggelengkan kepala.
“Nggak kok. Baru ketemu kemarin.” ujarnya singkat. Aku mengangguk.
“Ohh...gitu. Namanya siapa? Keponakanmu?” tanyaku kembali. Kali ini mataku menoleh dan memandanginya.
“Liam,” ujarnya singkat. Keningku mengernyit. Menyadari Mireia tidak berusaha membuka percakapan denganku.
“Biasanya kerjaan di bengkel selesai jam lima. Abis beres-beres peralatan, semua pegawai baru bisa pulang,” wanita itu hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasanku. Matanya masih melekat pada Hendra dan keponakannya.
“Kadang masih banyak mobil yang nunggu antrian buat dikerjain. Padahal kami udah buka dari pagi tapi nggak bisa selesai juga saking banyaknya pelanggan. Yah….lumayan banget sih. Baru tiga tahun dibangun, tapi udah segede ini perkembangannya,” ujarku dengan nada yang kubuat ringan.
“Wah...syukurlah. Pasti nggak gampang bangun semuanya dari bawah,” ucapnya sambil menatapku sekilas. Senyum tulus terkembang di bibirnya sebelum kemudia berpaling.
Meskipun tubuhku rileks, tapi mataku menatap tajam wanita di sebelahku. Dia tidak banyak berkomentar. Tidak menatapku takjub ataupun terkesima. Satu-satunya respon yang dapat kutangkap adalah senyum tulus ketika dia menyelamatiku atas perkembangan bengkel ini.
Memang dia tidak secantik dan semenarik wanita yang pernah masuk ke dalam hidup Hendra. Tubuhnya pun bahkan tidak semolek wanita yang saat ini mengincar Hendra.
Namun, saat dia menoleh padaku dan menyunggingkan senyum tulusnya, baru aku dapat memahaminya. Mungkin inilah alasan utama yang dimiliki Hendra. Ketulusan hati yang membuat kecantikan luar menjadi sesuatu yang tidak signifikan.
“Iya...nggak gampang. Tapi bengkel ini udah berhasil sekarang,” sahutku santai. Dia menoleh dan kembali menganggukkan kepalanya.
“Tante...keren banget tadi. Aku bisa ngelepasin sama ngencengin baut lho. Pake kunci...kunci...kunci apa, Om?” ujar anak lelaki itu sambil mendongak ke arah Hendra. Kekehan Hendra terdengar.
“Kunci pas-ring. Ntar kalo kamu mau coba lagi, ke sini aja. Om kasih tau caranya,” ujar Hendra sambil menepuk pelan punggung anak itu. Hal itu membuat pekikan dan tepukan tangan terdengar dari anak itu.
“Boleh ya, Tante? Aku dateng ke sini lagi?” kembali kuarahkan mataku ke samping. Mengamati bagaimana respon wanita itu saat menerima pandangan memelas dari keponakannya.
“Liam...di sini tempat kerja. Liat tuh semua om di sini serius. Nggak ada yang main-main,” raut muka cemberut langsung nampak di wajah anak itu.
“Nggak apa kok, Mireia. Liam bisa sama aku ntar,” ucapan Hendra membuat pandangan Mireia, sepertinya nama wanita itu, terarah kepadaku. Aku memasang wajah datar.
“Jangan gitu, Hen. Nggak enak sama atasanmu,” gelengan kepala dan ucapan lirih Mireia terdengar saat dia kembali menatap Hendra.
“Tunggu waktunya pas dulu ya, Liam… pas om Hendra libur mungkin,” bujuk Mireia. Keponakannya mengangguk.
“Aku ke dalam dulu ya. Hen, jangan lupa beresin perkakas yang tadi kamu pake,” ucapku datar. Setengah mati ingin terbahak ketika mendapatkan tatapan tajam mata Hendra sebagai balasannya.
“Mireia...Liam ya? Liam, om masuk dulu ya…” tukasku santai. Tanganku terangkat dan melambai ke arah keduanya.
Dari tempatku berdiri, aku kembali mengamati mereka. Melihat Hendra yang berbicara halus dengan Mireia, dengan ceria menarik perhatian Mireia, berlari ke dalam kantor dan dalam sekejap kembali lagi ke depan sekedar untuk menyerahkan kotak makan yang sejak pagi diwanti-wanti Hendra untuk tidak boleh disentuh.
***
Hendra
“Enak ya ternyata. Aku baru tau lho kalo ada yang jual bakso enak sekitar sini,” tukasku sambil mengamati warung bakso yang kudatangi bersama Mireia dan Liam.
“Tuh...kan, Tante. Om Hendra nggak tau. Coba kalo tante tadi nggak dengerin aku, pasti sampe om Hendra tua, om Hendra nggak bakal tau ada bakso enak di sini,” seloroh Liam. Aku terkekeh.
Mataku berpindah pada wanita yang sedang menyeruput es jeruk di hadapanku. Matanya yang mengernyit dan ekspresinya yang pura-pura jengkel sangat menggemaskan. Senyumku lagi-lagi tak mampu kusembunyikan.
“Emang sebelumnya kamu nggak pernah ke sini?” aku menggelengkan kepala menjawab pertanyaannya.
“Belum. Nggak pernah ke sini. Biasanya abis kerja, langsung balik sih,” tukasku sambil mengedikkan bahu. Meskipun tidak sebesar restoran pada umumnya, namun tidak ada satu bangku pun yang kosong. Semuanya terisi penuh.
“Aaahh….gitu. Kamu udah lama kerja jadi montir di bengkel itu?” tanya Mireia ringan. Tatapan Mireia terpaku padaku. Aku beringsut. Sedikit merasa tidak nyaman dengan asumsi yang dimiliki Mireia. Tentu saja dia tidak salah. Aku adalah pemilik bengkel itu. Bisa dibilang aku juga bekerja di situ. Pekerjaanku mengawasi pekerjaan karyawan dan kelangsungan bengkelku.
“Lumayan sih. Sejak awal bengkel itu dibangun. Tiga tahun lalu,” sambungku,
“Seneng kerja di sana?” pertanyaan Mireia membuatku sedikit terpaku.
“Ya..seneng. Dari dulu udah suka utak-atik mesin. Apa aja sih benernya. Mobil, motor, bahkan misal kalo mesin cuci kamu rusak, kasih tau aku aja. Siapa tau aku bisa benerin,” tukasku sambil menyeringai lebar.
“Oya? Benerin mesin cuci kamu juga bisa?” tanyanya heran dan terkesima.
“Semua prinsipnya sama. Cara kerjanya nggak jauh beda. Misal ada yang beda, biasanya aku pelajari dulu. Tinggal diutak-atik bentar, beres,” ujarku sambil lalu. Mireia menatapku dan tersenyum kecil.
“Oya…” panggilku. Mencoba menarik Mireia dari lamunannya.
“Hemm?” Mireia mendongak dan bergumam.
“Boleh minta nomer handphonemu?” Mireia menelengkan kepalanya ketika mendengar permintaanku.
“Kali aja Liam mau liat mesin kayak tadi. Jadi aku bisa ngasih tau kamu, kapan waktu yang pas,” tukasku santai. Ralat. Berusaha terlihat santai.
“Aahh…” pemahaman terlintas di wajahnya. “Bentar,” tukasnya sambil merogoh dan menarik handphone dari dalam tasnya.
“Kamu simpen langsung aja,” ujarnya. Kepalaku mengangguk. Dengan cepat jemariku menari di atas layar. Menyodorkan kembali handphone itu ke arah Mireia begitu nomerku telah tersimpan.
“Udah,” tukasku saat Mireia menyambut handphone yang kuulurkan. Mataku mereguk Mireia yang tertunduk dengan pandangan terfokus pada layar.
Hingga dentingan notifikasi terdengar di handphoneku.
“Aku barusan kirim chat. Itu nomerku,” tukas Mireia. Aku mengangguk.
“Oke...aku kabari ya, kalo pas lagi lowong. Biar Liam bisa dateng buat ikut liat,” sahutku. Kali ini giliran Mireia yang tersenyum sambil mengangguk.
“Makasih. Udah mau ngajarin Liam. Dia seneng banget hal-hal kayak gitu,” sambil menolehkan kepala ke arah Liam, aku mengamati Mireia yang mengusap kepala Liam dengan sayang.
“Udah lama nih. Pulang yuk. Liam juga mesti nyiapin pelajaran buat besok,” ucap Mireia sambil mulai berdiri. Mengamati dengan terkejut saat Mireia berjalan menuju kasir. Cepat-cepat aku menghampirinya. Tanganku terulur dan meraih lengannya. Menghentikan langkahnya.
“Hei...aku aja yang bayar,” ujarku cepat. Mireia menggeleng.
“Eh jangan. Nih Liam makannya banyak tadi. Nggak usah,” tukasnya menghentikan niatku. Tidak ingin didahului Mireia, aku membuka dompetku. Kesiap terlepas dari bibirku ketika mataku terpaku pada isinya.
Waduh! Kok nggak ada duit cash sih? Cuma segini doang mana cukup erangku dalam hati.
Aku menelan ludah. Dengan bergidik ngeri, aku mengedarkan pandangan ke arah meja sederhana yang digunakan untuk kasir. Nggak ada mesin EDC buat gesek kartu. Nggak ada QR code buat bayar juga. Duh… batinku kalut. Aku mendesis.
“Eh...Mireia…” ucapku sambil menolehkan kepala ke samping. Mendapati Mireia yang tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya kepadaku.
“Berapa semuanya, Bu?” ucapnya sambil membuka dompet miliknya.
Duh,,,Hendra.. bodoh banget sih kamu. Udah dikira montir di bengkelmu sendiri, sekarang malah nggak bisa bayarin makanan segini doang. Malu-maluin banget sih. Mikir apa coba Mireia ke kamu nanti kutahan eranganku yang hampir saja terlepas. Meringis kecut saat Mireia tersenyum ketika menoleh ke arahku.