Hendra
Kalem aja, Hen. Nggak usah heboh. Stay cool batinku dalam hati. Berusaha menahan cengiran konyol yang mungkin saja terpasang di wajahku bila aku tidak mampu mengontrol perasaanku yang kegirangan.
“Sini. Geseran dikit. Aku liat dulu rantainya,” ujarku ringan. Wanita itu sedikit memundurkan tubuhnya.
Tak pernah kusangka, ternyata begini jalanku untuk bisa berkenalan dengannya. Betapa terkejutnya diriku saat melihat mereka berdua berjongkok di tepi jalan. Kebingungan nampak jelas di kedua pasang mata mereka.
Aku bukan orang bodoh, tentu saja. Tidak mungkin kusia-siakan kesempatan ini. Jadi, tanpa ragu aku menepikan motorku dan mematikannya. Bergerak pasti mendekati mereka berdua.
“Tunggu,” ucapannya membuatku menoleh. Kepalaku menengadah dan menatap matanya.
“Ya? Kenapa?” tanyaku.
“Kenapa, Tante?” aku mendengar keponakan wanita ini menanyakan hal yang sama denganku.
“Betulin kayak gini, cepet nggak?” aku mengangguk menjawab pertanyaannya.
“Cepet kok. Kurang dari sepuluh menit mungkin. Malah kalo udah biasa benerin, nggak sampe lima menit udah selesai,” jelasku. Senyum wanita itu terkembang ketika mendengar penjelasanku.
“Ehmm...kamu sibuk nggak?’ tanyanya canggung. Aku menelengkan kepala. “Maksudku abis ini kamu mesti buru-buru pergi?” sambungnya lagi. Wanita ini beringsut.
“Nggak kok. Nggak buru-buru. Kenapa?” sahutku sambil menggeleng.
“Kalo gitu, bisa nggak kamu ajarin ponakanku buat benerin sendiri rantainya?” mulutku sedikit terbuka ketika mendengar permintaannya.
“Aah….” ujarku sambil menganggukkan kepala.
“Maksudku, kamu bisa aja betulin sekarang, dan aku makasih banget udah dibantuin. Tapi ntar kalo rantainya lepas lagi dan nggak ada orang yang bisa nolong, pasti ribet banget. Jadi.. kalo Liam bisa benerin sendiri kan bagus gitu. Dia nggak akan ngerepotin orang lain,” sambungnya lagi. Aku menganggukkan kepala.
“Liam ya?” anak itu mengangguk. “Oke, om ajarin sekarang ya,” tukasku ringan.
“Ini sepedanya dibalikin dulu aja biar gampang benerinnya. Dijungkirin,” tukasku. Aku berdiri.
“Ntar…” berusaha meminimalkan bantuanku, aku hanya sekedar menyeimbangkan badan sepeda yang sedang dibalik oleh Liam. “Nah...kayak gini kan enak. Jadi tumpuan sepeda ada di sadel sama stang,” jelasku. Liam mengangguk.
Percobaan pertama memakan waktu lima belas menit. Tangan Liam yang masih kaku membuatnya kesulitan saat harus menggunakan keduanya secara bersamaan. Satu tangan mendorong derailleur belakang ke arah stang untuk mengendurkan rantai, sedang tangan satunya memasang rantai ke galur gigi yang tepat.
Saat Liam sudah berhasil, aku kembali melepaskan rantai. Kali ini, sama seperti yang sudah aku perkirakan, Liam berhasil mengembalikan rantai dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Bahkan mungkin hanya lima menit saja.
“Yeaay….” tepukan tangan terdengar dari belakangku. Aku berdiri dan menoleh. Seringai terpasang di wajahku.
“Nah...gitu dong. Bisa gitu,” pujian yang dilontarkannya membuat Liam sedikit tersipu. Aku yang mengamati kedua orang itu ikut merasa gemas sekaligus bangga. Setelah puas mengacak rambut Liam, wanita itu menunduk dan merogoh sesuatu dari dalam tasnya.
“Bersihin tanganmu dulu,” ujarnya. Dengan cepat Liam menyambut tisu yang diulurkan tantenya. Kali ini dia berbalik menghadapku.
“Ini,” ujarnya. Aku menunduk. Senyum tersungging di bibirku ketika menyadari dia memberikanku sehelai tisu, sama seperti Liam.
“Makasih banyak. Kamu udah mau ngajarin Liam. Kamu nggak harus ngelakuin itu, tapi...kamu mau nyempetin waktumu buat ngajarin dia. Makasih banget lho ya…” ucapnya kalem. Aku menggeleng dan mengibaskan tanganku.
“Nggak masalah. Liam cepet ngerti kok. Paling nggak, sekarang Liam udah bisa benerin sendiri kalo itu kejadian lagi,” tukasku sambil mengedikan bahu. Senyumanku masih bertahan di bibirku.
“Tetep aja. Sori kalo ngerepotin. Oya…” ucapannya terputus saat dia kembali menunduk dan merogoh tasnya.
“Ini..buat kamu. Makasih udah mau direpotin kita berdua, aku sama Liam,” ucapnya sambil tersenyum padaku. Aku menggelengkan kepala.
“Ohh..nggak perlu. Nggak usah, nggak apa-apa. Nggak ngerepotin kok. Beneran,” tukasku cepat.
“Ohh...ini cuma kue kok. Nggak yang aneh-aneh. Makan aja. Ya?” tukasnya masih bersikeras.
“Enak kok, Om. Itu tante yang bikin. Om pasti suka,” ucapan Liam membuatku menoleh ke arahnya. Aku tersenyum kecil dan mengalihkan tatapanku pada wanita di hadapanku.
“Kamu yang bikin?” dia mengangguk mengiyakan. Tanganku terulur dan meraih kotak itu. “Aku bawa kalo gitu. Makasih banyak,” ucapku sambil mengangkat kotak di tanganku. Satu langkah menjauh dariku sudah diambilnya ketika aku tersadar dengan cepat. “Eh tunggu,” tukasku cepat. Dia berbalik ke arahku.
“Gimana caranya aku bisa balikin kotak ini ke kamu?” tanyaku.
“Nggak usah dibalikin nggak apa-apa,” ujarnya santai. Aku menggelengkan kepala.
“Tapi aku mau balikin...” sergahku. Pikiranku berputar. Mencari alasan yang cukup diterima oleh akal sehat. “Ehh...ini kotak makannya kayaknya mahal. Ntar ilang kalo aku bawa. Aku mau balikin ke kamu aja,” ujarku cepat.
Mataku menangkap sosoknya yang sekarang mengamatiku dari kepala hingga ujung kaki. Alisku terangkat naik. Ketidakyakinan terlihat nyata di sorot matanya.
“Eeehmm….tau bengkel itu kan?” ujarku putus asa. Dengan jemari yang menunjuk ke arah bengkel besar yang berada di ujung jalan, aku bertanya padanya.
Sekilas dia mengikuti arah yang kutunjuk. Sebelum kemudian mengembalikan pandangannya padaku.
“Aku kerja di situ. Besok, kalo kamu nggak repot, mampir sana ya.. aku balikin kotaknya,” tukasku. Wanita itu meringis canggung. “Liam bisa ikut kok. Kali aja dia suka liat mesin mobil. Mungkin… “ ujarku tidak yakin. Sedikit bergidik ngeri dengan semakin absurdnya alasan yang kulontarkan.
“Oke...pulang kerja besok aku mampir sama Liam,” kelegaan menyelubungiku. Aku tersenyum dan mengangguk.
“Ah..aku Hendra. Kali aja pas kamu dateng, aku lagi ada di belakang,” ucapku.
“Hendra…” ulangnya lirih. Suara panggilan Liam membuatnya menoleh dan mengangguk. “Ehmm...Balik dulu ya. Makasih banyak, Hendra. Udah bantuin,” aku mengangguk ketika mendengarnya pamit.
“Hati-hati…” ucapku. Dia mengangguk dan mulai melangkah. “Oh...sori. Kamu? Namamu…” pertanyaanku membuat langkahnya memelan.
“Mireia,” ucapnya sambil tersenyum kecil.
“Mireia….” gumamku. Senyumku melebar. Tanganku mencengkeram kotak kue yang berada di genggamanku.
***
Mireia
“Liam… pager rumah tadi udah bener dikunci kan?” tanyaku begitu kami keluar dari halte.
“Udah kok, Tante. Kan yang pintu belakang tante yang kunci. Aku tinggal ngunci pintu depan sama pager doang,” jawabnya sambil menaiki sepeda
“Bagus deh. Maaf ya...tadi pagi tante mesti pergi pagi-pagi banget. Temen tante ada yang sakit. Tante mesti gantiin,” ujarku.“Oya, kita mampir ke bengkel situ bentar ya,” sambungku singkat.
“Ke tempat om yang kemarin malem?” kepalaku mengangguk.
Benakku memutar kejadian kemarin malam. Seseorang yang cukup sopan dan ramah bahkan dengan anak kecil. Berbanding terbalik dengan tubuhnya yang terlihat kokoh dan gagah, senyumnya yang cerah dan matanya yang bersinar-sinar membuat dia terlihat...entahlah. Aman? Mudah didekati? Itulah kesan pertama yang kudapat darinya. Dengan sepeda motor lawas yang dikendarainya dan keengganannya untuk membawa kotak makanku yang dia bilang terlihat mahal cukup memberikanku gambaran akan keadaannya.
Pekerja biasa. Syukurlah batinku lega. Entah kenapa mengetahui dia lelaki biasa cukup meringankan batinku.
“Ada yang bisa dibantu?” kepalaku menoleh saat sebuah suara mampir di telingaku. Aku menoleh dan mendapati seorang lelaki paruh baya yang mendekatiku.
“Ehhmm…..Hendra...bener kerja di sini ya? Bisa ketemu dia bentar?” tanyaku.
“Hendra….di mana ya dia?” suaranya yang lantang membuat beberapa pasang mata menoleh ke arahku dan Liam. “Hendra….” panggilnya nyaring. Suara perkakas yang terjatuh menyeret perhatianku ke sebelah kiri. Gemerisik gumaman lelaki dengan suara yang rendah sampai di telingaku.
Kugerakkan tubuhku dan sedikit merunduk saat seorang lelaki menyelinap keluar dari bawah kolong mobil. Dengan posisi tubuh yang menelentang, awalnya hanya kakinya yang terbungkus celana jins dengan potongan cukup rendah saja yang tertangkap mataku.
Seiring dengan gerakannya keluar dari bawah mobil, otot perut yang terbentuk sempurna dan dadanya yang bidang tidak mampu disembunyikan oleh kaos abu-abu lusuh dan tercoreng dengan noda oli di sana sini. Aku menelan ludah. Kutegakkan tubuhku. Mendadak kegugupan merambatiku.
"Apaan? Nggak usah kenceng-kenceng manggilnya," gerutuan terdengar dari bawah kolong.
Ketika seluruh tubuh lelaki itu telah terbebas, mataku segera menangkap matanya. Kesiap kaget namun dengan cepat berganti menjadi senyuman ramah dan sinar cerah lagi-lagi terpancar pada ekspresi wajahnya. Sama persis dengan apa yang kuingat tadi malam. Satu tangannya yang bebas, bertumpu ke lantai dan dengan mudah dia menegakkan tubuh. Menghampiriku dan Liam.
“Hei...Mireia. Udah lama?” tanyanya sambil mengusap kedua tangannya yang kotor di kedua sisi celana jinsnya. Aku menggeleng dan tersenyum.
“Nggak kok. Baru aja. Kamu lagi kerja ya...sori banget ganggu.” kepala Hendra menggeleng dengan cepat.
“Nggak ganggu kok. Beneran. Ini cuma lagi…” penjelasan Hendra terputus saat suara lelaki lain menyeruak dan menyela omongannya.
“Hendra...karyawan itu digaji buat kerja. Bukan buat ngobrol,” dengan cepat aku menoleh dan mencari asal suara yang kudengar. Menemukan seorang lelaki dengan pakaian modis dan tak bernoda menghampiri Hendra. Dia menatap Hendra dengan tajam. Aku meringis kecil.
“Ohh...pasti atasannya Hendra ya?” begitu pertanyaanku terlontar, Hendra dan lelaki itu menoleh ke arahku secara bersamaan. “Maaf...Hendra nggak salah kok. Dia lagi kerja tadi. Aku cuma mampir bentar. Ini mau balik,” tukasku sambil menyunggingkan senyum permohonan maaf.
Duh...jangan sampe Hendra kena masalah gara-gara aku sama Liam batinku dalam hati.