Hendra
“Aku telat nggak?” tanyaku begitu sampai di ruang belakang bengkel.
“Telat?” kepalaku mengangguk kecil saat menjawab pertanyaan Ian. Ian melirik jam di dinding. “Aahh….itu. Nggak kayaknya. Nggak tau juga. Aku di sini terus dari tadi. Ngecek pembukuan kita,” sambung Ian. Kembali aku mengangguk. Langkahku berputar.
“Aku ke depan,” sahutku cepat. Tanpa membuang waktu, aku bergegas ke bagian pelayanan. Sebagai seorang senior mechanical engineer di perusahaan milik keluargaku, tugasku tidak mudah.
Beberapa masalah sering terjadi di bagian permesinan dan aku harus mencari solusinya. Terkadang aku bahkan harus memprediksi masalah yang mungkin terjadi di masa mendatang. Mendesain dan merancang sistem baru sekaligus mengembangkan entah itu sistem ataupun equipment yang sudah ada.
Harus mengambil waktu untuk kesini setiap hari memang melelahkan. Tapi aku tidak keberatan. Semuanya sepadan bila dapat melihat wanita itu.
“Kenapa?” tanyaku sambil melongok ke bagian kap mesin yang sedang terbuka.
“Sering mati waktu baru dinyalain, Bos,” aku mengangguk mendengar sahutan karyawanku. Tanganku terulur menyentuh satu bagian di dalam kap mesin.
“Kabel terminal akinya?” kataku ringan.
“Agak kendur. Tapi udah aku benerin. Sekarang masih dicek lagi. Kali aja ada sebab lain,” sahutnya tanpa melihatku. Sedikit kucondongkan tubuh saat tepukan di lenganku membuatku berpaling.
“Nggak usah terlalu diawasi. Ntar dia grogi,” ucapan Ian membuat karyawanku terkekeh. Alisku terangkat.
“Kenapa? Kamu grogi aku di sini?” ucapanku tidak hanya membuat karyawanku terkekeh. Tangannya melambai, mengusirku menjauh.
“Sana, Bos. Kalo bos di sini, ntar nggak tau pas cewek itu lewat. Nyesel jadinya,” ucapnya santai. Tatapan menuduh perlahan kuarahkan pada seluruh karyawanku. Pura-pura sakit hati.
“Jadi bener ya, yang dibilang Ian? Kalian semua tau kenapa aku di sini?” sergahku. Langsung saja godaan dan sorakan dari seluruh karyawanku terdengar bertubi-tubi.
“Tau lah, Bos. Emang kita semua kenal bos baru semingguan ini?” sahut seorang yang sedang merapikan perkakas. Seringaiku terkembang.
“Itu udah mangap terus pas liatin cewek itu jalan. Untung nggak sampe ngiler,” tukas karyawanku yang berada di kolong mobil. Kekehanku kembali terdengar.
“Cepetan kenalan gih, Bos. Daripada diembat yang lain,” sahut seorang yang lain.
“Kenapa? Biar kalian dapet duit? Menang taruhan?” kali ini giliran mereka yang terbelalak. Sedetik kemudian, saling tuduh mulai terdengar. Kepalaku menggeleng geli. Aku bergeser dan mulai menantinya.
Detik berganti menit. Keningku mengernyit. Tumben sampe jam segini belum ada. Biasanya udah setengah jam yang lalu dia bakal lewat sini tukasku dalam hati.
“Belom ada?” tanya Ian. Aku meringis. Kepalaku menggeleng kecil.
Matahari sudah hampir tenggelam. Aku menghela nafas.
“Nggak balik ke kantor? Kamu biasanya nggak nunggu selama ini,” ujarnya sambil menepuk pundakku. “Kantor belakang udah aku kunci. Tinggal yang depan ini aja. Mau aku temenin ato nggak?” tanya Ian. Alisku mengernyit.
“Kok tumben ya jam segini dia belum balik? Apa ada sesuatu ya, Yan? Dia sakit mungkin?” setitik kecemasan merambati hatiku.
“Tau deh. Makanya cepet kenalan. Tanya nomer handphonenya. Biar bisa tau posisinya di mana,” ucapnya ringan. Aku meringis.
“Ini niatnya juga gitu,” putusku. “Kamu balik dulu aja. Aku yang nutup bengkel. Lagian udah nggak mungkin balik kantor. Jam segini juga. Langsung pulang kayaknya,” ujarku dengan berat hati.
“Ya, udah. Aku duluan ya,” pamit Ian. “Mobilmu mana?” tanya Ian lagi. Daguku menunjuk pada sepeda motor Royal Enfield Hunter yang terparkir di sisi kanan bengkel
“Ohh...oke. Jangan lupa rolling doornya dikunci,” ujar Ian sambil melambai sekilas,
“Heemm…” sahutku singkat. Mataku masih bertahan di jalanan.
***
Mireia
“Ini...dimakan ya,” ucapku sambil mengulurkan sekotak cream puff dengan beragam jenis filling kepada tiga orang perawat yang berjaga di lantai tempat Miran berada. “Makasih banyak udah jagain kakakku. Maaf jadi ngerepotin…” ucapku sambil menyunggingkan senyum.
“Oh...Mireia, jangan gitu. Ini emang udah tugas kami kok,” ucap salah satu perawat. Aku mengangguk.
“Tapi..tetep aja, kalian yang ada di samping kakakku tiap hari. Jagain dia. Makasih banyak ya,” ucapku penuh rasa terima kasih.
“Wah...keliatannya enak. Ini pasti kamu sendiri yang bikin ya?” aku mengangguk mengiyakan. “Enak banget ya, bisa kerja di bakery. Tiap hari bisa makan enak,” tukasnya sambil memasukkan kue itu ke mulutnya. Aku hanya tersenyum.
“Aku ke kamar dulu ya,” dengan begitu, para perawat tersebut mengangguk dan membiarkanku melangkah menuju kamar Miran.
Hanya bisa mengunjungi kakakku sekali seminggu dan menitipkannya pada perawat terpaksa kulakukan. Berjuang melunasi seluruh biaya pengobatan dan sekolah Liam sudah cukup menguras tenagaku.
Kubuka pintu kamar. Mendapati Liam telah berada di samping mamanya yang tengah tertidur. Senyumku terkembang.
“Hei, Kakakku sayang… cantik banget kamu hari ini,” sapaku sambil mendekatinya. Tanganku terulur dan mengelus rambutnya yang hitam. Raut mukanya terlihat tenang.
Cantik. Miran selalu cantik. Dia anggun dan baik hati. Seorang kakak yang sempurna untukku. Mataku menjelajahi wajahnya yang terlihat damai. Kecantikan dan kebaikan hati Miran membuat dia banyak dikelilingi oleh semua orang. Begitu dicintai dan disayangi.
Senyum kecil terukir di ujung bibirku. Tidak ada yang spesial dariku. Ya, aku memang biasa saja. Tubuhku tidak pendek tapi juga tidak tinggi. Rambutku berwarna cokelat dan berombak. Bukan coklat almond yang hangat. Hanya...coklat. Polos. Biasa. Otakku tidak secemerlang Miran. Sikapku juga tidak seramah dan sesupel Miran. Bukan karena aku sombong atau apa, aku tidak memiliki apapun yang bisa kusombongkan, aku hanya… canggung.
Ringisanku muncul. Kuraih sisir dan kusikat rambut kakakku perlahan. Menyadari Liam masih bercerita dengan penuh semangat. Pikiranku mengembara. Miran. Kehadirannya ibarat cahaya matahari yang berpendar. Saat dia hadir, suasana akan menjadi lebih cerah dan ceria. Suasana hatinya yang positif, banyak menular pada orang yang berdekatan dengannya.
Berbeda denganku. Kebahagiaanku sangat sederhana. Suasana hatiku akan jauh lebih ringan saat orang mengenaliku sebagai Mireia. Bukan ‘adik Miran’ atau ‘cewek yang ada di samping Miran’. Aku tidak akan menerima tatapan iri atau kekaguman bila melewati suatu kerumunan. Aku hanya akan berbaur dan menghilang. Tidak menonjol.
“Tante udah yuk. Pulang. Aku capek,” perkataan Liam memecah lamunanku. Mataku mengerjap. Aku menoleh dan menatapnya.
“Udah?” tanyaku. Liam mengangguk. Aku tersenyum. Tubuhku bergerak kembali ke arah Miran. Aku mencondongkan tubuh, mencium kedua pipinya.
“Kakakku sayang...cepet bangun ya. Adikmu ini kangen banget sama kamu. Aku bahkan kangen sama omelanmu,” tukasku parau. “Cepet bangun ya. Sepi banget di rumah. Cuma dengerin Liam doang, kurang seru,” ujarku kecut.
“Hei...tante kok gitu?” sungut Liam. Mulutnya cemberut. Aku terkekeh.
“Becanda. Ya udah, peluk mama dulu,” mendengar suruhanku, Liam bergerak dan memeluk mamanya. Mencium kedua pipinya sebelum meraih tas. “Kak...aku pamit dulu. Akhir minggu nanti aku ke sini lagi. Usahain bangun ya...waktu aku sama Liam dateng,” pamitku. Tatapan mataku masih tertuju padanya.
Membiarkan Liam berjalan mendahuluiku, aku berpamitan pada para perawat.
Kami berjalan dalam diam. Bahkan ketika kami menaiki bus, Liam hanya duduk dan tidak mengucapkan apapun.
“Laper?” tanyaku. Mataku menjelajah wajahnya. Liam menoleh dan menganggukkan kepala.
“Mau makan apa? Ntar tante bikinin,” tawarku.
“Nasi goreng jawa aja, Tante,” ujarnya riang. Kuangkat jempolku.
“Sip! Gampang itu,” jawabku sambil tersenyum. “Oya, di dalem tas tante, masih ada cream puff. Ntar kita makan bareng ya,” ajakku. Liam mengangguk-angguk dengan penuh semangat.
“Tante yang bikin?” kepalaku mengangguk. “Asiikkk….” kegirangannya terdengar jelas. Membuatku tersenyum lebar.
Turun dari bus dan segera mengambil sepeda yang dititipkan Liam di toko kelontong tidak memakan waktu lama.
Pandanganku memindai jalanan. Saat ini tidak banyak mobil yang lewat di sekitar sini meskipun tidak sepi juga. Untungnya lampu jalanan cukup terang. Saat mendadak, aku merasakan Liam berhenti di pinggir jalan. Dia turun dari sepeda dan berjongkok.
“Kenapa?” tanyaku ketika sampai di dekatnya.
“Tuh,” jawab Liam singkat. Aku menurunkan tubuh dan ikut berjongkok.
“Duh..rantainya,” sahutku sambil mendesis. Aku mengernyit. “Kamu bisa benerin?” tanyaku. Liam menoleh dan menatapku dengan pandangan memelas.
“Nggak,” aku bergidik mendengar jawabannya.
“Tante bisa?” tanya Liam. Alisku terangkat. Aku menggeleng dan meringis. Bayangan harus menuntun sepeda itu sampai rumah cukup membuatku lelah. Kami terdiam. Suara mobil dan sepeda yang melaju saja yang memecah kebisuan kami.
Hingga satu suara menyelinap dan membuat perhatianku teralikan. Aku menoleh dan mendapati sebuah sepeda motor dengan model lawas berhenti di dekatku. Pengendara itu turun dan membuka helmnya sebelum mendekati kami. Pandanganku bergerak naik. Mengamati kaki jenjangnya yang terbalut celana jins serta jaketnya yang tidak mampu menyembunyikan tubuh atasnya yang bidang dan tegap.
Ketika dia berjongkok di dekat kami lah, aku baru bisa memandang dengan jelas wajahnya. Rahang yang tegas, alis yang tebal, iris yang sekelam malam. Namun yang menarik perhatianku adalah matanya yang bersinar dan bibirnya yang menyunggingkan senyum cerah.
“Hei...ada apa ini? Ada masalah?” tanyanya sambil mengamatiku dan Liam bergantian.
“Hei.. rantai sepeda keponakanku lepas. Kamu ngerti cara betulinnya?” tanyaku sambil menatapnya.
“Ponakan?” tanyanya. Aku mengangguk mengiyakan. “Tentu aja. Aku bisa betulin. Sini aku bantu,” ujar lelaki itu sambil bergeser mendekatiku.