"Murni, Mur!" Aku mendengar Mama berteriak dengan sangat keras.
Bukan hanya Murni, aku juga segera berlari menghampiri Mama yang sedang menemani Alea bermain di kamar pojok. Seperti yang aku duga, Mama panik karena melihat Alea pingsan lalu kejang.
Perempuan itu memang sudah sering mendengar Alea pingsan, tapi baru kali ini ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana cucunya itu pingsan. Usai kejang, Alea tidak segera sadar.
Beberapa detik setelah Murni mengoleskan minyak kayu putih ke seluruh telapak kaki, Alea baru bisa membuka mata.
"Bagaimana jika tadi tidak ada Mama? Bagaimana jika tidak ada orang di samping Alea? Kalau kepalanya terbentur?" cerca Mama penuh emosi.
Tergambar jelas di wajahnya jika ia sangat khawatir dengan Alea yang pingsan tanpa aba-aba dan itu artinya Mama sangat menyayanginya tanpa peduli dengan status anak adopsi.
"Uti, Alea baik-baik saja. Uti jangan marahin Ayah sama Mbak Murni!," ucap Alea pelan.
Setelah memberi minum, ku berikan gelas pada Murni. Dan seperti biasa, aku memijit perlahan punggungnya. Sampai Alea mengatakan cukup. Ketika ngantor, Murni yang melakukan itu.
"Ayo berangkat ke rumah sakit!," ajak Mama.
"Tidak perlu, Ma. Alea baik-baik saja." Aku menolak ajakan Mama untuk membawa Alea ke rumah sakit, karena hal itu akan sia-sia.
"Mama tidak percaya. Sekarang juga kita harus pergi ke rumah sakit. Mama ingin mengetahui sendiri hasil cek up lengkap Alea." Intonasi pembicaraan Mama terdengar tegas, artinya aku tidak boleh menolak.
"Alea gak papa, Nak?" Sebelum membawa Alea ke rumah sakit, aku pastikan dulu ia mau pergi ke tempat yang paling tidak ingin ia datangi.
"Gak papa, Ayah. Alea harus nurutkan sama Uti?" tanya Alea memastikan bahwa dirinya harus menjadi anak yang penurut.
Setengah jam perjalanan, mobil sudah terparkir di halaman rumah sakit. Lalu aku mengantar Alea cek up lengkap seperti keinginan Mama. Beruntung, tidak ada drama jarum suntik seperti biasanya. Mungkin karena ada Mama, Alea menjadi sedikit tenang.
Sengaja aku menunggu di depan ruang periksa, membiarkan Mama mendengar sendiri penjelasan dari dokter untuk mengetahui kebenarannya.
"Ayah," panggil Alea dengan suara yang sangat lemah
"Kenapa, Sayang?" tanyaku sembari menenggelamkan tubuhnya ke dalam pelukan.
"Es mochi, Ayah." Ternyata Alea hanya meminta es krim kesukaannya.
"Siap, tapi nanti setelah Ayah mengambil obat," janjiku pada Alea.
Aku tahu ia pasti merasa bosan berada di rumah sakit. Apalagi, hari ini ia harus kembali keluar masuk ruangan untuk cek up lengkap kesehatan. Alea takut dengan jarum suntik, tapi tidak phobia.
Beberapa kali periksa, hasilnya pasti sama. Tidak ada penyakit serius yang di derita oleh Alea. Namun karena Mama memaksa, aku pun kembali menuruti permintaan perempuan yang memiliki bobot tubuh tujuh puluh lima itu.
Cukup lama Mama berada di dalam, entah apa yang ingin ia ketahui tentang penyakit Alea. Aku yakin Mama terus mendesak sang dokter untuk berkata jujur, tanpa ada yang disembunyikan karena ia juga sering melakukan hal yang sama kepadaku.
Mama merasa, aku sering menyembunyikan sesuatu demi menjaga perasaan dan kesehatan dirinya yang mempunyai riwayat penyakit jantung. Namun, sebenarnya Mama jauh lebih senang jika ia diberitahu pelan-pelan tanpa menimbulkan efek samping.
Akhirnya Mama keluar ruangan dengan wajah yang kurang menyenangkan. Seketika hatiku tidak tenang dan berpikir bahwa kali ini ditubuh Alea memang sedang bersarang sebuah penyakit serius.
"Bagaimana, Mama?" tanyaku tidak sabar mendengar penjelasan Mama.
"Alea, baik-baik saja," jawab Mama datar
"Lalu, kenapa Mama tidak terlihat bahagia?"
"Kasihan cucuku. Masih kecil sudah merasakan sakit yang aneh," ucap Mama terbata.
"Yang penting Alea sehat, Ma. Itu sudah cukup bagi Awang. Memberikan Alea kebahagiaan, itulah tujuan Awang. Tidak ada yang lain." Sebisa mungkin aku menghibur Mama agar hatinya bisa menerima bahwa ini takdir yang harus dilalui bersama.
"Ini resep vitamin yang harus ditebus." Mama menyodorkan selembar kertas putih dengan tulisan yang tidak bisa aku baca.
Setelah menitipkan Alea pada Mama, aku segera menuju ke loket obat. Duduk di barisan kursi nomor tiga, ikut mengantri seperti yang lain.
Rasa bosan mulai melanda. Aku mengambil ponsel dari dalam saku celana guna mengusirnya. Saat sedang asyik membaca novel online, harum aroma melati tetiba mengusik konsentrasiku.
Aroma itu semakin kuat ketika perempuan berkebaya merah memilih duduk di sampingku. Selang beberapa menit, aroma itu bercampur dengan bau dupa. Aku berusaha tenang, menjaga pikiran agar tetap fokus.
Namun, gagal. Mataku tanpa sengaja menatap hal janggal pada kaki perempuan yang duduk di sebelah. Kaki itu tidak menunjukkan layaknya kaki manusia, ia lebih mirip seperti kaki harimau, kucing dan sejenisnya.
Aku mengibaskan kepala guna memusatkan pikiran dan meyakinkan diri bahwa itu hanyalah ilusi. Aku hanya lelah hingga apa yang aku lihat menjadi kabur. Keyakinanku masih tetap sama bahwa makhluk astral itu tidak ada.
"Pasien Alea" Akhirnya nama Alea mendapat giliran untuk mengambil obat. Ku tinggalkan sosok itu begitu saja, tanpa memastikan lagi bentuk kakinya.
Setelah membayar semua administrasi, entah kenapa aku sangat ingin melihat sosok yang tadi duduk di sampingku. Ternyata, ia masih duduk di sana, tatapan matanya tertuju kepadaku. Senyumnya membuat suasana menjadi tegang.
"Tidak Awang. Dia hanya manusia biasa" Aku menghela nafas panjang sambil terus menenangkan diri dan berjalan menuju tempat semula.
"Itu, Ayah!" teriak Alea. Rupanya ia sudah kembali ceria.
"Ayo, kita pulang dan beli es krim moci!"
"Hore," sambung Alea dengan suka cita.
Aku senang, Alea sudah kembali ceria. Namun, aku juga sedih karena penyakit Alea yang tak kunjung ditemukan penyebabnya.
"Bagaimana kata dokter tadi, Ma?" tanyaku setelah keluar dari parkiran rumah sakit.
"Seperti yang sudah Mama bilang tadi, Alea baik-baik saja. Dia hanya butuh istirahat," jawab Mama kesal. Rupanya ia tahu jika pertanyaanku hanya bersifat meledek.
Aku tersenyum sembari menggamit kedua bibir menahan tawa agar tidak kebablasan. "Maaf ya, Mama. Kalau begini kan Mama jadi tahu jika selama ini Awang sudah mengatakan yang sebenarnya tentang kondisi Alea."
"Hanya itu saja? Tidak ada jawaban lain atau apa gitu?" lanjutku meledek Mama.
"Iya, Awang. Sudah Ah, kamu ini sengaja ya meledek Mama?" ucap Mama kesal sambil memukul bahu kiriku.
"Sudah tahukan, bagaimana kata dokter. Awang tidak berbohongkan, Ma?"
Mama hanya diam. Mungkin ia sudah bisa menerima hasil cek up lengkap Alea hari ini. Dari sini, aku juga berharap Mama tidak membahas lagi soal rumah tusuk sate.
Setiap kali Alea pingsan, Mama selalu mempermasalahkan letak rumah yang aku beli setelah dua bulan bercerai. -Rumah tusuk sate, hunian para makhluk tak kasat mata- seperti itulah Mama mempercayai mitos yang sudah berkembang di masyarakat. Dalam anggapan Mama rumah itu seolah menjadi tersangka atas kondisi Alea yang sekarang.
"Sudahlah, kamu pindah saja dari rumah itu. Mama semakin yakin, kalau Alea dapat gangguan dari makhluk tak kasat mata."
Ah, harapanku semu. Mama masih membahas soal pindah rumah. Aku tidak ingin pindah. Rumah itu sudah menjadi rumah paling nyaman.
Tentang kondisi Alea, aku tidak terlalu menanggapinya serius. Toh, ia hanya pingsan karena kelelahan dan setelahnya ia bisa kembali ceria dan ceriwis.
Lalu alasan apalagi yang mengharuskanku pindah rumah? Tidak ada. Mama akan terus kunego untuk tidak membahas posisi rumah lagi.
"Tidak Ma. Rumah itu tidak ada makhluk halusnya. Kami tidak pernah melihat hantu buruk rupa kok, Ma," ucapku berkilah.
"Pindah, Awang. Pokoknya kamu harus pindah. Atau Mama yang akan mengajak Alea pulang ke Surabaya," ancam Mama.
Mama paling tahu titik kelemahanku. Sedikit gertakan darinya, hatiku sudah luluh meski sebelumnya sudah pasang d**a untuk mempertahankan yang sudah dibuat.
"Bulan depan harus sudah pindah. Jangan ditawar lagi," pungkas Mama.
Aku tidak menanggapi ucapan Mama. Perlu waktu untuk berpikir sebab aku bukan orang yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.
"Ayah, es moci jangan lupa!" Alea menagih janjjku.
"Iya, Nak," jawabku tidak b*******h.