Aku sebenarnya berat, harus meninggalkan rumah yang lama. Namun, berpisah dengan Alea jauh lebih menyakitkan. Mama hanya memberi waktu satu bulan untuk mencari hunian baru.
Aku tahu, mencari tempat yang nyaman dan cocok tidaklah semudah membalik telapak tangan. Letaknya harus strategis, dekat dengan kantor. Beberapa kali aku membaca iklan penjualan rumah di media sosial dan tawaran dari teman, semua tidak ada yang cocok.
Hari ini aku sengaja mengajak Alea ke mal dan menemaninya bermain di Playgroun. Mengunjungi stand properti adalah tujuan yang sebenarnya. Alea mungkin akan senang diajak berdiskusi, memilih rumah seperti yang ia inginkan.
"Murni, awasi dia. Jangan lengah!" Aku meminta Murni menjaga Alea dengan benar selama aku melihat pameran. Pengasuh Alea itu tidak boleh terlalu fokus bermain ponsel.
Sampai di stand properti, mataku tertuju pada poster berdiri bertuliskan 'Miliki sekarang juga hunian impian anda'. Aku mengambil beberapa brosur, melihatnya lebih dulu sebelum menunjukkan kepada Alea. Cluster little Wood dan Swan, dua cluster itu membuatku bimbang karena letaknya sama-sama strategis.
"Ayah," panggil Alea. Ia sudah duduk di sampingku sambil menikmati es krim mochi rasa klepon, rasa favoritnya.
"Minta dong!" Aku langsung membuka mulut. Alea pasti mau berbagi.
"Tidak. Es krimnya cuma satu," jawab Alea dengan tegas. Ia menjauhkan tangannya dari mulutku.
"Oke. Nanti, Ayah akan membeli sendiri. Beli yang banyak. Hanya untuk Ayah sendiri," ucapku menggoda.
Seketika wajah Alea cemberut. Perlahan, ia mendekatkan es krim itu ke mulutku. "Anak ini sungguh lucu," gumamku dalam hati sambil mencubit pipinya.
"Kertas apa itu, Ayah?" Alea mengambil paksa brosur Little Wood dari tanganku. Ia nampak mengamati gambar yang ada di dalam brosur itu.
"Rumahnya bagus. Ayah, mau beli rumah? Kita akan pindah?" tanya Alea sambil terus mengunyah es krim.
"Kalau yang ini?" Aku menyodorkan brosur yang lain. Swan Regency, begitulah namanya. Alea mengamati dua brosur itu secara bergantian.
"Alea pilih yang ini saja," jawabnya tegas. Aku tidak tahu alasan Alea menjatuhkan pilihan pada rumah di Cluster Little Wood. Padahal, gambar yang tertera di dalam brosur adalah hasil rekayasa komputer. Namun, ia bisa begitu yakin dengan pilihannya.
"Baik. Mari kita bertanya pada om-om yang ada di sana," tunjukku pada stand properti yang ada di depan outlet parfum.
"Ayok!" jawab Alea penuh semangat sembari menarik garis senyum di wajahnya. Hidupku terasa sempurna bersama Alea. Kami memang bukan sedarah, tetapi takdir telah membuat aku dan Alea saling terikat.
Selama kurang dari satu jam, pihak developer menjelaskan dengan rinci rumah di cluster yang hanya akan dihuni oleh dua belas kepala keluarga. Termasuk membebaskan customer mendesain rumah mereka di atas kavling seluas lima ratus meter persegi.
"Bagaimana, Nak? Apakah kamu siap pindah ke rumah baru?" Aku memastikan lagi bahwa Alea akan merasa nyaman tinggal di lingkungan baru.
"Mmm." Alea nampak membolak-balik brosur Cluster Little Wood. Entah apa yang ia lihat.
"Eh, rumah kita nanti bentuknya tidak seperti ini. Ayah akan mendesain sendiri rumahnya," terangku sembari menarik brosur dari tangan Alea.
"Rumahnya dibikin tingkat ya, Ayah. Ada terasnya," bisik Alea pelan. Sudah lama ia menginginkan rumah berlantai dua.
"Siap. Ada taman kecilnya kan?" tebakku kemudian. Alea menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Kapan kita akan pindah, Ayah?"
"Nanti, kalau Ayah sudah selesai mengurus segalanya." Aku mengangkat tubuh Alea ke dalam gendongan. Ia pun bergelayut manja dan tidak lupa memberikan sebuah kecupan.
Sikap Alea selalu manis pada semua orang, sama seperti kali pertama aku bertemu dengannya tiga tahun silam. Saat aku sedang KKN di panti asuhan, tempat Alea dulu tinggal. Sejak pertama bertemu aku sudah jatuh cinta.
Setelah aku menyetujui pilihannya, wajah Alea terlihat sangat bahagia. Sesimpel itu cara membahagiakan seorang anak. Beruntung aku masih mempunyai tabungan yang cukup untuk membeli hunian baru, demi membahagiakan Mama dan upaya menyembuhkan penyakit Alea.
Tepat di bulan Juni, akhirnya aku pindahan. Mama kembali terbang dari Surabaya demi membantuku beberes rumah paling ujung, nomor sebelas. Jatah rumah terakhir di cluster little wood.
"Rumah ini jauh lebih nyaman daripada rumah tusuk sate," komentar Mama saat sedang beberes calon kamar Alea.
"Syukurlah kalau Mama suka," balasku kemudian.
"Dapat uang dari mana kamu membeli cluster ini? Pasti mahal," tanya Mama penuh selidik. Rupanya Mama tidak percaya, jika pekerjaanku menghasilkan banyak rupiah dan aku sudah menabung sejak lama hingga terbeli rumah di Cluster Little Wood.
"Menabung, Ma. Aku sudah punya anak, bekerja ya untuk anak," jawabku.
"Istri yang belum. Kapan?" Lagi dan lagi Mama mengungkit soal istri.
Aku tidak menanggapi pertanyaan Mama, karena sebenarnya aku sudah tidak ingin berbagi cinta dengan siapa pun kecuali Alea.
"Sudah ada Murni, Ma?," sanggahku sambil memasang kelambu Hello Kitty di kamar Alea.
"Murni itu pengasuhnya, bukan ibu."
"Kalau aku menikah, posisi istriku akan sama dengan Murni. Dia tidak akan bisa menjadi ibu kandung Alea." Aku terus berkilah agar ibu tidak lagi membahas soal pernikahan.
"Beda Awang. Murni di sini bekerja, ada batasannya. Namun jika istri, dia akan merawat kamu dan Alea tanpa ada batasan."
Berdebat dengan Mama tentang pernikahan pasti tidak akan ada habisnya. Perempuan berusia lima puluh tahun itu selalu mempunyai sejuta argumen untuk bisa membuatku diam. Dan seperti biasa, aku memilih bersikap acuh.
"Mas! Mas Awang" Terdengar suara derap langkah Murni menaiki tangga dengan terburu-buru.
"Ada apa, Murni?" tanya Mama sembari mempertemukan kedua alisnya.
"Anu. Anu, Bu?" jawab Murni terbata.
"Tenang, tenang. Tarik nafas dulu." Murni mengikuti arahanku. Ia mengatur nafasnya, lalu mengatakan bahwa Alea hilang saat dirinya sedang buang hajat di kamar mandi.
"Kamu ini bagaimana to, Mur," ucap Mama sembari membuang sembarangan baju Alea yang akan dimasukkan ke dalam lemari. Mama bergegas turun sambil terus memanggil nama Alea. Aku memilih tetap mencari Alea di atas.
Kamar pojok, kamar dekat tangga, lalu kamar depan, semua sudah aku periksa tetapi belum menemukan Alea. Area balkon juga tak luput dari pencarianku, hasilnya nihil.
Aku memutuskan untuk menyusul Mama ke bawah, mencari tahu apakah Alea sudah ketemu.
"Bagaimana, Ma?"
Ah, seharusnya aku tidak bertanya. Raut muka Mama sudah menunjukkan jawaban. Perempuan itu terduduk lemas sambil memijit keningnya, jelas ia khawatir. Aku mengambilkan segelas air minum, agar Mama sedikit lebih tenang.
"Bantu Murni mencari Alea di sekitar cluster!" pinta Mama.
"Mama, gak papa aku tinggal?" Aku juga mengkhawatirkan kesehatan Mama. Situasi seperti ini, Mama butuh pendampingan.
"Cari Alea. Mama akan baik-baik saja," ucapnya pelan. Setelah memastikan bahwa Mama bisa ditinggal, segera aku menyusul Murni.
"Mencari siapa, Mas?" tanya tetangga depan rumah.
"Alea," jawabku sambil berlari tanpa memandangnya.
Aku mengamati teras setiap rumah, mencari sandal Alea. Mungkin ada sesuatu yang menarik dirinya hingga masuk sembarangan ke rumah orang. Aku tidak perlu mengetuk setiap pintu rumah di cluster ini, Murni pasti sudah melakukan.
Alea memang seperti itu, mudah akrab dengan siapa pun. Orang akan selalu suka dengannya saat pertama kali bertemu. Padahal aku sudah sering mengingatkan untuk tidak mudah bergaul dengan orang yang tidak dikenal, agar ia bisa lebih waspada terhadap orang yang bermulut manis.
Seorang lelaki paruh baya memperhatikanku yang sedang gelisah sambil celingukan. Aku tersenyum kepadanya, sebelum akhirnya mendekat dan bertanya.
"Maaf, Pak! Apa bapak melihat gadis kecil, rambutnya panjang sepunggung, dan memakai dress berwarna pink?" tanyaku sembari menguncir rambut yang baru sempat aku lakukan.
"Dia adik kamu?" Dia balik bertanya.
"Anak, Pak"
"Aku memang melihat ada anak kecil sedang berjalan ke sana. Sepertinya perempuan itu juga sedang mencari," tunjuk si bapak ke arah pos satpam. Perempuan yang dimaksud adalah Murni.
"Oh, terima kasih, Pak"
Begitu sampai di pos satpam, ternyata Murni masih belum menemukan Alea. Sedang menurut pengakuan pak satpam, beberapa menit yang lalu memang ada anak kecil sedang bermain dan bercengkrama dengannya.
"Setelah dia mengatakan ada ibu-ibu aneh, anak itu langsung berlari lagi ke dalam Cluster. Dan saya tidak memperhatikan ke mana arah dia berlari," terang pak satpam.
Aku dan Murni semakin panik. Secara logika, Alea akan dapat dengan mudah ditemukan karena tidak ada gang dan jalan berkelok di dalam cluster. Namun, kenyataannya Alea menghilang tanpa ada yang melihat.
"Aduh, Mas. Kepala Murni mumet," keluh Murni sambil memegang kening.
"Baiklah, Mur! Kita pulang dulu."
Sebelum pulang aku berpesan kepada pak satpam untuk mengantar Alea pulang, jika nanti gadis kecilku itu memang kembali bermain di pos jaga berukuran dua kali dua meter.
Separuh perjalanan, aku mendengar suara langkah kaki seseorang sedang berlari.
"Ayah"
"Alea! Ya ampun, Nak! Kamu dari mana? Ayah, Mbak Murni, dan Uti khawatir." Seketika aku berjongkok saat tahu bahwa itu adalah Alea.
"Bermain di sana." Alea menunjuk sebuah taman kecil di sudut pintu masuk cluster.
Sejenak aku mengerutkan kening guna mengingat kembali bahwa beberapa detik yang lalu tidak ada Alea di sana. Murni menatapku, ia menggelengkan kepala. Pikiran kami mungkin sama.
"Besok, kalau mau bermain di luar rumah bilang dulu sama Mbak Murni. Ayah ngebolehin kok, asal Alea minta izin. Mengertikan anak Ayah?" nasehatku sambil mengangkat tubuh Alea yang mulai berat.
Di separuh perjalanan, Alea mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan. "Ayah, nenek cantik itu ada di sini juga."