Tepat setelah bilang itu Alex pun tersenyum lebar. It's funny!
Darkos yang baik hati menyukai Annisa Atinda dari kalangan bawah. Nasib orang baik memang tak tertebak.
Urat leher Darkos terlihat, memperlihatkan betapa marahnya ia. Perikemanusiaan yang ia miliki dianggap lulucon oleh Alexis!?
Alex tak normal, Darkos pun tak bisa merasakan emosi dalam diri orang tersebut. Alex rasa!
"Kenapa, kau marah?" tanya Alex lagi. Sengaja pancing emosi Darkos agar mereka bertengkar.
Itu pasti menyenangkan.
Secepat kilat, Darkos pun lepas pegangan tangan Alex dari Atin, lantas tak lama kemudian ia melindungi si gadis dengan di posisikan dibelakang tubuhnya.
Ini adalah yang terbaik, terserah Alex ingin melakukan apapun.
"Pergilah Atin, biar aku yang urus anak nakal ini."
Biasanya Atin akan dengan senang hati pergi, tapi sekarang keadaannya beda. Mereka akan berbengkar?
Keduanya sama-sama anak petinggi kampus, mereka bagian terpenting. Nama baik mereka tentulah 'maha agung.' Karena itu selama ini Darkos berusaha menghindari perkelahian.
Ia tak akan pernah bisa.
"Tapi...?"
"Apa-apaan, aku harus lihat drama romantis? Lebih baik cepat selesaikan. Kalian buatku muak. Atin, tetap disini."
Tuh kan Atin jadi bingung.
Sementara itu Darkos sibuk berpikir. Tidak, ini bukanlah yang ia inginkan.
"Atin, pergi."
Suara Darkos sudah terdengar dingin dan tajam. Ia tak lagi menatap Atin tetapi sudah beralih ke Alex. Kedua orang tersebut menatap lurus seakan-akan menunjukkan kubu masing-masing. Kentara pandangan tak suka.
Tangan Atin mengepal kuat, ia tak pantas berada di posisi itu. Seolah-olah ia adalah putri dadakan yang tengah diperebutkan. Sayangnya situasinya terbalik. Ia adalah korban bullying, bukan diperebutkan secara 'utuh.' Dimana persaingan memperebutkan hati seseorang.
"Lama."
Atin kaget. Dia ditarik secara tak terduga. Ini lebih buruk dari yang ia pikirkan!
Harusnya tadi ia pergi!
***
"Alex!"
Mata Atin membulat sempurna. Tak pernah terbayangkan olehnya akan dicium seperti sekarang. Atin tak berkhayal soal ciuman pertama romantis, namun setidaknya untuk orang yang ia suka.
Bukan orang model begituan. Alex?
C'mon. Lantas sekarang bagaimana!?
Atin tak pernah bayangkan hal itu terjadi!?
Nothing!
Pelecehan seksual, Atin tahu, bukan hanya sedar di-bully, ia lebih rendah dari wanita penjaja tubuh dalam pandangan Alex.
Jatuh berkeping-keping. Tak bersisa.
Atin bodoh?
Iya!!!
Atin membeku, ia bukan syok, lebih jauh, ia bak mayat hidup. Walau Darkos menarik tangannya kembali untuk menjauhkan ia dari Alex, namun tetap saja rasanya aneh.
Perlahan mata Atin bertemu ke manik tajam Alex. Lagi-lagi tatapan meremehkan. Orang itu beri pertanda akan sering melakukan hal itu. Tak hanya sekali akan tetapi baru permulaan.
Atin syok. Ia dalam masalah besar.
"Ku bilang pergi Atin. Cepat!"
Cukup. Terhitung satu setengah tahun sudah Annisa Atinda diam dapat perlakuan buruk dari Alex. Lantas setelah keterdiamnnya, orang itu bertindak lebih jauh?
Alex ingin Atin yang bunuh diri sendiri. Harus orang itu yang mengakhirinya, bukan Alex.
Itu jelas.
Tatapan datar Atin pun langsung berubah. Ia tak terima. Tangan tersebut terangkat ke udara. Lantas kemudian inilah yang Atin bilang.
"Tidak, biar aku yang selesaikan. Ini antara aku dan Alex. Maaf Darkos, kau orang luar, untuk itu tolong berhenti."
Tak bersyukur, silahkan berpikir tentang itu terhadap Atin. Toh memang itulah kebenarannya. Yang jelas Atin tak kan biar hal ini berlarut-larut. Ia hidup dan bernapas demi hidupnya sendiri.
Atin berjuang keras untuk sampai pada posisi tersebut!
Apa yang diharapkan dari anak yatim-piatu yang tinggal sendirian?
Lalu Atin harus berakhir menyedihkan ditangan Alex?
Apalah arti perjuangan Atin selama setiap hembusan napas!
Alexis bukan malaikat pencabut nyawa atau pengatur takdir, Atin yang harus selesaikan.
Darkos menggeleng kuat, jelas ia tak setuju terhadap keinginan Atin. Walau bagaimanapun orang itu perempuan, mana mungkin ia tinggalkan bersama orang kejam seperti Alex?
Darkos sudah terindikasi gila kalaulakukan hal tersebut.
"Tidak, aku tetap disini kalau ku belum pergi."
Alex bersmirk. Inilah yang ia suka dari Darkos. Orang itu pun juga keras kepala sama sepertinya. Alex pikir, Darkos pasti sedang berpikir soal banyak hal, yang jelas ia tak akan biar orang itu ikut campur lebih banyak.
Atin adalah hak paten Alex!
"Pertolonganmu sudah tak diperlukan Darkos. Tak malu ditolak mentah-mentah. Dimana harga dirimu?"
Alex pasang pose sesantai mungkin. Ia bisa lekukan apapun. Semua mudah baginya. Tatapan remeh terus kuasai orang tersebut.
"Ku pastikan kau dikirim ke luar negeri Alex, kau harus pergi."
Sial, orang itu siapa yang bisa atur hidup Alex?
Tak mempan, yang ada justru Darkos yang kalah. Oh, ternyata ingin bermain-main, oke, kalau kata-kata tak berpengaruh, saatnya tindakan yang ambil alih.
Alex muak.
Bugh!
Satu pukulan done. Alex tersenyum bangga. Memukul adalah hal termudah Alex lakukan. Atin tentu kaget, sebentar lagi perkelahian terjadi.
Bugh!
Satu sama. Bukan hal sulit untuk Darkos juga kok. Darkos pikir sudah keterlaluan, untuk itu harus ia tuntaskan.
Atin membola, ia tak boleh diam saja.
Itu memang bukan tanggung jawabnya, namun ia jelas tak boleh biarkan. Atin berperang ke pikiran sendiri, apa yang harus ia lakukan?
Sulit. So hard.
"Stop."
Atin ambil ancang-ancang tahan Darkos. Jikalau dipikir-pikir, itu adalah pilihan terbaik, sedangkan tangan yang lain Atin pakai untuk menjauhkan Alex.
Salah, Atin rasa hal yang ia perbuat sangat salah. Kenapa ia terlibat!?
Perlahan pandangan Atin menggelap. Tak ada cahaya yang bisa ia rasa. Tubuh seringan bulu dan sakit yang menghilang secara tiba-tiba.
Hal terakhir yang Atin tahu adalah suara teriakan seseorang yang tidak ia tahu siapa. Setelah itu hanya gelap.
Tanpa buang waktu Darkos bawa Atin ke UKS. Perempuan itu pingsan setelah tak senjaga dipukul oleh Alex. Niat Atin adalah sebagai penengah, pukulan yang harusnya untuk Darkos malah terkena ke Atin.
Alhasil orang tersebut pingsan sebab bagian yang kena adalah kepala. Vital, apalagi pukulan Alex bukan main kuatnya.
Alex terdiam, ia sempat terlihat bak orang dungu yang tak tahu harus melakukan hal apa. Perasaan tersebut jelas bukan kasihan, hanya kaget tiba-tiba Atin yang terkena, bukannya Darkos.
Lalu, Alex hanya bisa menatap nanar Atin, orang yang selalu ia bully dibawa oleh Darkos. Apa itu yang namanya respek?
Tidak.
Alex menggeleng, ia belum pernah sih memukul Atin. Selama ini paling hanya sekedar menyandung, ganggu makan, ambil barang-barang orang tersebut, terakhir memukul skala terkecil. Tak pernah sampai pingsan.
Entah kenapa, sekarang rasanya agak aneh.
***
Di UKS.
Darkos cepat menempatkan Atin ke sebuah tempat tidur khusus orang sakit. Ia ambil kotak P3K. Sebelum itu ia ambil sebaskom air untuk mengompres luka lebam di jidat Atin.
Astaga berubah biru. Pasti rasanya sakit.
Dengan hati-hati dan telaten Darkos mengurus luka Atin. Petugas UKS baru saja datang, namun Darkos mengabaikan orang tersebut.
"Tidak apa-apa, biar aku. Anda tolong urus hal lain," ujar Darkos.
Ia tak tega ke Atin. Hidup orang tersebut pasti sulit, diperparah lagi oleh Alex.
"Kau harus baik Atin," lirih Darkos setelah selesai mengobati luka lebam Atin.
Darkos melihat jam tangan. Sudah waktunya masuk, apa ia harus tinggalkan Atin?
Darkos tak tega, tapi, ia pun tak bisa bolos. Itu termasuk pengecualian, bukan atau iya?
Sulit.
"Maaf Atin. Ku pastikan datang lagi setelah ini. Istirahatlah," putus Darkos akhirnya.
Ia bisa izin sih, namun dirinya tak ingin lakukan itu. Soal Alex, Darkos akan suruh petugas UKS menjaga Atin.
Orang itu pun beralih ke petugas UKS.
"Buk, tolong jaga teman saya. Saya harus masuk."
Si ibu tersenyum setelahnya mengangguk. Darkos spontan tersenyum, ia tak perlu khawatir. Darkos mengucap terima kasih setelahnya pergi.
***
Atin perlahan buka matanya, sejatinya ia pun tak terlalu lemah juga kok. Tapi ya, pukulan Alex memang sangat kuat, karena itulah sampai pingsan.
"Euungghh."
Suara lenguhan terdengar, Atin pun menyesuaikan matanya dengan cahaya yang masuk.
"Ayo pergi."
Saat buka mata, tahu-tahu Alex sudah berada tepat didepan mata Atin. Apa yang orang itu lakukan?
Otak Atin tak sempat berproses, sebab sudah lebih dulu Alex tarik tangannya. Lebih tepat disebut menyeret. Orang itu tak punya memang perasaan.
Pernyataannya, dimana petugas UKS?
Orang itu diusir oleh Alex, siapa yang berani dengan anak pemilik kampus?
Selain itu papa Alex juga seorang presdir di perusahaan besar. Untuk standar hidup lebih dari cukup hingga terkesan mewah.
Banyak hal yang harus diurus, hingga tanpa sadar lupa ke anak sendiri. Gila kerja, sebut saja begitu. Bahkan mama Alex pun juga begitu.
"Lepas, tak puaskah kau buat aku pingsan?"
Atin tak terlalu paham, isi otak Alex hanya membully orang?
Tapi, kenapa hanya dia yang jadi korban?
Bukankah ada banyak orang?
Satu tahun setengah orang tersebut betah hanya satu korban, tak pernah cari orang lain. Bukankah aneh?
"Lepas Alex!"
Tak Alex hiraukan perkataan Atin. Terserah, apapun yang ia mau harus terkabul. Inilah wilayah kekuasaan orang tersebut.
Akhirnya Atin lelah memberontak. Buang-buang tenaga.
Dasar gila. Mata Atin membulat, ia dipaksa masuk ke mobil?
Tak ada kelembutan, yang ada hanyalah rasa sakit. Atin memunduk, sekarang ia diculik?
Bukankah harusnya teriak atau setidaknya minta tolong?
"Kau mau apa Al?"
Masih tak ada jawaban, Alex cuek kemudian justru menjalankan mobil. Atin khawatir, kalau-kalau ternyata ia dibawa ke tempat aneh-aneh bagaimana?
Saat ini pikiran orang itu sudah traveling ke berbagai hal yang semuanya buruk.
"Alexis!"
Atin terkesiap, ia baru saja berteriak ke Alex?
Tamat sudah riwayat hidupnya. Apa yang orang tersebut akan lakukan terhadapnya?
"Kau cukup diam. Satu hal yang pasti, aku tak akan membunuh ataupun memperkosamu. Kalau tak ingin terjadi hal buruk, tinggal diam."
Semua hal jadi lebih buruk dalam pandangan Atin. Ia tak bisa sikapi hal tersebut dengan benar.
Akan jadi apakah mereka?
***Tepat setelah bilang itu Alex pun tersenyum lebar. It's funny!
Darkos yang baik hati menyukai Annisa Atinda dari kalangan bawah. Nasib orang baik memang tak tertebak.
Urat leher Darkos terlihat, memperlihatkan betapa marahnya ia. Perikemanusiaan yang ia miliki dianggap lulucon oleh Alexis!?
Alex tak normal, Darkos pun tak bisa merasakan emosi dalam diri orang tersebut. Alex rasa!
"Kenapa, kau marah?" tanya Alex lagi. Sengaja pancing emosi Darkos agar mereka bertengkar.
Itu pasti menyenangkan.
Secepat kilat, Darkos pun lepas pegangan tangan Alex dari Atin, lantas tak lama kemudian ia melindungi si gadis dengan di posisikan dibelakang tubuhnya.
Ini adalah yang terbaik, terserah Alex ingin melakukan apapun.
"Pergilah Atin, biar aku yang urus anak nakal ini."
Biasanya Atin akan dengan senang hati pergi, tapi sekarang keadaannya beda. Mereka akan berbengkar?
Keduanya sama-sama anak petinggi kampus, mereka bagian terpenting. Nama baik mereka tentulah 'maha agung.' Karena itu selama ini Darkos berusaha menghindari perkelahian.
Ia tak akan pernah bisa.
"Tapi...?"
"Apa-apaan, aku harus lihat drama romantis? Lebih baik cepat selesaikan. Kalian buatku muak. Atin, tetap disini."
Tuh kan Atin jadi bingung.
Sementara itu Darkos sibuk berpikir. Tidak, ini bukanlah yang ia inginkan.
"Atin, pergi."
Suara Darkos sudah terdengar dingin dan tajam. Ia tak lagi menatap Atin tetapi sudah beralih ke Alex. Kedua orang tersebut menatap lurus seakan-akan menunjukkan kubu masing-masing. Kentara pandangan tak suka.
Tangan Atin mengepal kuat, ia tak pantas berada di posisi itu. Seolah-olah ia adalah putri dadakan yang tengah diperebutkan. Sayangnya situasinya terbalik. Ia adalah korban bullying, bukan diperebutkan secara 'utuh.' Dimana persaingan memperebutkan hati seseorang.
"Lama."
Atin kaget. Dia ditarik secara tak terduga. Ini lebih buruk dari yang ia pikirkan!
Harusnya tadi ia pergi!
***
"Alex!"
Mata Atin membulat sempurna. Tak pernah terbayangkan olehnya akan dicium seperti sekarang. Atin tak berkhayal soal ciuman pertama romantis, namun setidaknya untuk orang yang ia suka.
Bukan orang model begituan. Alex?
C'mon. Lantas sekarang bagaimana!?
Atin tak pernah bayangkan hal itu terjadi!?
Nothing!
Pelecehan seksual, Atin tahu, bukan hanya sedar di-bully, ia lebih rendah dari wanita penjaja tubuh dalam pandangan Alex.
Jatuh berkeping-keping. Tak bersisa.
Atin bodoh?
Iya!!!
Atin membeku, ia bukan syok, lebih jauh, ia bak mayat hidup. Walau Darkos menarik tangannya kembali untuk menjauhkan ia dari Alex, namun tetap saja rasanya aneh.
Perlahan mata Atin bertemu ke manik tajam Alex. Lagi-lagi tatapan meremehkan. Orang itu beri pertanda akan sering melakukan hal itu. Tak hanya sekali akan tetapi baru permulaan.
Atin syok. Ia dalam masalah besar.
"Ku bilang pergi Atin. Cepat!"
Cukup. Terhitung satu setengah tahun sudah Annisa Atinda diam dapat perlakuan buruk dari Alex. Lantas setelah keterdiamnnya, orang itu bertindak lebih jauh?
Alex ingin Atin yang bunuh diri sendiri. Harus orang itu yang mengakhirinya, bukan Alex.
Itu jelas.
Tatapan datar Atin pun langsung berubah. Ia tak terima. Tangan tersebut terangkat ke udara. Lantas kemudian inilah yang Atin bilang.
"Tidak, biar aku yang selesaikan. Ini antara aku dan Alex. Maaf Darkos, kau orang luar, untuk itu tolong berhenti."
Tak bersyukur, silahkan berpikir tentang itu terhadap Atin. Toh memang itulah kebenarannya. Yang jelas Atin tak kan biar hal ini berlarut-larut. Ia hidup dan bernapas demi hidupnya sendiri.
Atin berjuang keras untuk sampai pada posisi tersebut!
Apa yang diharapkan dari anak yatim-piatu yang tinggal sendirian?
Lalu Atin harus berakhir menyedihkan ditangan Alex?
Apalah arti perjuangan Atin selama setiap hembusan napas!
Alexis bukan malaikat pencabut nyawa atau pengatur takdir, Atin yang harus selesaikan.
Darkos menggeleng kuat, jelas ia tak setuju terhadap keinginan Atin. Walau bagaimanapun orang itu perempuan, mana mungkin ia tinggalkan bersama orang kejam seperti Alex?
Darkos sudah terindikasi gila kalaulakukan hal tersebut.
"Tidak, aku tetap disini kalau ku belum pergi."
Alex bersmirk. Inilah yang ia suka dari Darkos. Orang itu pun juga keras kepala sama sepertinya. Alex pikir, Darkos pasti sedang berpikir soal banyak hal, yang jelas ia tak akan biar orang itu ikut campur lebih banyak.
Atin adalah hak paten Alex!
"Pertolonganmu sudah tak diperlukan Darkos. Tak malu ditolak mentah-mentah. Dimana harga dirimu?"
Alex pasang pose sesantai mungkin. Ia bisa lekukan apapun. Semua mudah baginya. Tatapan remeh terus kuasai orang tersebut.
"Ku pastikan kau dikirim ke luar negeri Alex, kau harus pergi."
Sial, orang itu siapa yang bisa atur hidup Alex?
Tak mempan, yang ada justru Darkos yang kalah. Oh, ternyata ingin bermain-main, oke, kalau kata-kata tak berpengaruh, saatnya tindakan yang ambil alih.
Alex muak.
Bugh!
Satu pukulan done. Alex tersenyum bangga. Memukul adalah hal termudah Alex lakukan. Atin tentu kaget, sebentar lagi perkelahian terjadi.
Bugh!
Satu sama. Bukan hal sulit untuk Darkos juga kok. Darkos pikir sudah keterlaluan, untuk itu harus ia tuntaskan.
Atin membola, ia tak boleh diam saja.
Itu memang bukan tanggung jawabnya, namun ia jelas tak boleh biarkan. Atin berperang ke pikiran sendiri, apa yang harus ia lakukan?
Sulit. So hard.
"Stop."
Atin ambil ancang-ancang tahan Darkos. Jikalau dipikir-pikir, itu adalah pilihan terbaik, sedangkan tangan yang lain Atin pakai untuk menjauhkan Alex.
Salah, Atin rasa hal yang ia perbuat sangat salah. Kenapa ia terlibat!?
Perlahan pandangan Atin menggelap. Tak ada cahaya yang bisa ia rasa. Tubuh seringan bulu dan sakit yang menghilang secara tiba-tiba.
Hal terakhir yang Atin tahu adalah suara teriakan seseorang yang tidak ia tahu siapa. Setelah itu hanya gelap.
Tanpa buang waktu Darkos bawa Atin ke UKS. Perempuan itu pingsan setelah tak senjaga dipukul oleh Alex. Niat Atin adalah sebagai penengah, pukulan yang harusnya untuk Darkos malah terkena ke Atin.
Alhasil orang tersebut pingsan sebab bagian yang kena adalah kepala. Vital, apalagi pukulan Alex bukan main kuatnya.
Alex terdiam, ia sempat terlihat bak orang dungu yang tak tahu harus melakukan hal apa. Perasaan tersebut jelas bukan kasihan, hanya kaget tiba-tiba Atin yang terkena, bukannya Darkos.
Lalu, Alex hanya bisa menatap nanar Atin, orang yang selalu ia bully dibawa oleh Darkos. Apa itu yang namanya respek?
Tidak.
Alex menggeleng, ia belum pernah sih memukul Atin. Selama ini paling hanya sekedar menyandung, ganggu makan, ambil barang-barang orang tersebut, terakhir memukul skala terkecil. Tak pernah sampai pingsan.
Entah kenapa, sekarang rasanya agak aneh.
***
Di UKS.
Darkos cepat menempatkan Atin ke sebuah tempat tidur khusus orang sakit. Ia ambil kotak P3K. Sebelum itu ia ambil sebaskom air untuk mengompres luka lebam di jidat Atin.
Astaga berubah biru. Pasti rasanya sakit.
Dengan hati-hati dan telaten Darkos mengurus luka Atin. Petugas UKS baru saja datang, namun Darkos mengabaikan orang tersebut.
"Tidak apa-apa, biar aku. Anda tolong urus hal lain," ujar Darkos.
Ia tak tega ke Atin. Hidup orang tersebut pasti sulit, diperparah lagi oleh Alex.
"Kau harus baik Atin," lirih Darkos setelah selesai mengobati luka lebam Atin.
Darkos melihat jam tangan. Sudah waktunya masuk, apa ia harus tinggalkan Atin?
Darkos tak tega, tapi, ia pun tak bisa bolos. Itu termasuk pengecualian, bukan atau iya?
Sulit.
"Maaf Atin. Ku pastikan datang lagi setelah ini. Istirahatlah," putus Darkos akhirnya.
Ia bisa izin sih, namun dirinya tak ingin lakukan itu. Soal Alex, Darkos akan suruh petugas UKS menjaga Atin.
Orang itu pun beralih ke petugas UKS.
"Buk, tolong jaga teman saya. Saya harus masuk."
Si ibu tersenyum setelahnya mengangguk. Darkos spontan tersenyum, ia tak perlu khawatir. Darkos mengucap terima kasih setelahnya pergi.
***
Atin perlahan buka matanya, sejatinya ia pun tak terlalu lemah juga kok. Tapi ya, pukulan Alex memang sangat kuat, karena itulah sampai pingsan.
"Euungghh."
Suara lenguhan terdengar, Atin pun menyesuaikan matanya dengan cahaya yang masuk.
"Ayo pergi."
Saat buka mata, tahu-tahu Alex sudah berada tepat didepan mata Atin. Apa yang orang itu lakukan?
Otak Atin tak sempat berproses, sebab sudah lebih dulu Alex tarik tangannya. Lebih tepat disebut menyeret. Orang itu tak punya memang perasaan.
Pernyataannya, dimana petugas UKS?
Orang itu diusir oleh Alex, siapa yang berani dengan anak pemilik kampus?
Selain itu papa Alex juga seorang presdir di perusahaan besar. Untuk standar hidup lebih dari cukup hingga terkesan mewah.
Banyak hal yang harus diurus, hingga tanpa sadar lupa ke anak sendiri. Gila kerja, sebut saja begitu. Bahkan mama Alex pun juga begitu.
"Lepas, tak puaskah kau buat aku pingsan?"
Atin tak terlalu paham, isi otak Alex hanya membully orang?
Tapi, kenapa hanya dia yang jadi korban?
Bukankah ada banyak orang?
Satu tahun setengah orang tersebut betah hanya satu korban, tak pernah cari orang lain. Bukankah aneh?
"Lepas Alex!"
Tak Alex hiraukan perkataan Atin. Terserah, apapun yang ia mau harus terkabul. Inilah wilayah kekuasaan orang tersebut.
Akhirnya Atin lelah memberontak. Buang-buang tenaga.
Dasar gila. Mata Atin membulat, ia dipaksa masuk ke mobil?
Tak ada kelembutan, yang ada hanyalah rasa sakit. Atin memunduk, sekarang ia diculik?
Bukankah harusnya teriak atau setidaknya minta tolong?
"Kau mau apa Al?"
Masih tak ada jawaban, Alex cuek kemudian justru menjalankan mobil. Atin khawatir, kalau-kalau ternyata ia dibawa ke tempat aneh-aneh bagaimana?
Saat ini pikiran orang itu sudah traveling ke berbagai hal yang semuanya buruk.
"Alexis!"
Atin terkesiap, ia baru saja berteriak ke Alex?
Tamat sudah riwayat hidupnya. Apa yang orang tersebut akan lakukan terhadapnya?
"Kau cukup diam. Satu hal yang pasti, aku tak akan membunuh ataupun memperkosamu. Kalau tak ingin terjadi hal buruk, tinggal diam."
Semua hal jadi lebih buruk dalam pandangan Atin. Ia tak bisa sikapi hal tersebut dengan benar.
Akan jadi apakah mereka?
***