Dasar, siapa yang diam saja saat suasana genting dan tak jelas begitu!?
Atin perempuan!
Siapa yang menjamin Alex tak berbuat aneh?
Tiba-tiba Atin menangis, selama ini belum pernah air mata tersebut keluar. Seburuk apapun perlakukan Alex, Atin tak pernah menangis.
"Bunuh saja aku. Aku tak tahan lagi. Aku akan pindah," ujar Atin menunduk dalam.
Setidaknya Alex tak mengendarai mobil dengan terburu-buru, orang itu masih bisa mengendalikan dirinya.
Entahlah, yang jelas sekarang itulah yang Atin lihat.
Alex spontan menghentikan mobil, apa yang ia dengar?
Atin ingin pindah. Jelas Alex tidak biar hal tersebut terjadi. Yang sudah jadi milik Alex tak mudah lepas begitu saja. Jelas tidak!
"Sayangnya tak semudah itu sayang, you're mine. Tak paham?"
Sial, Alex berada tepat didepan Atin. Jarak terlalu intim. Itu menakutkan. Setelah tadi kaget sekarang justru posisi intim?
"Minggir Alex, sadar. Kau psikopat atau apa?"
"Kau tak boleh pergi."
"Memangnya kau siapa? Aku tahu kau anak orang kaya, tapi kau tak berhak menjajahku. Sadar, kau pikir dengan membully orang lain, kau dapat kepuasan batin? Yang ada kondisi psikismu makin memburuk. Kau tak akan tenang Al."
Atin masih belum ingin berhenti. Itulah saat milik Atin.
"Coba, saat kesepian dan kesendirianmu itu kau pakai untuk hal baik. Buktikan anak broken home bisa ubah pandangan primitif. Kau sudah bertahan sampai usia 19 tahun Alex. Itu adalah pencapaian bagus."
Awalnya Alex tertegun, dari mana Atin tahu kalau ia anak broken home yang kurang kasih sayang?
Sesekali Alex lihat papa dan mamanya bertengkar. Juga, tak bicara untuk waktu yang tidak sedikit. Alex tak pernah dapat kasih sayang.
Ia seperti robot yang tinggal dikasih baterai setelah itu bergerak. Baterai itu adalah uang, fasilitas danbaby sitter.
Alex marah, ia tatap nyalang Atin. Orang itu sok tahu, padahal tak paham apapun yang dirinya alami.
"Kau tahu apa soal hidupku!?"
Tubuh Atun terpaksa menyender di pintu mobil saat Alex mengurung tubuhnya. Semakin terpojok. Gila, Alex seperti orang kerasukan. Entah setan apa yang merasuki, yang jelas seram.
Atin tak paham dari mana ia dapat keberanian, yang jelas Atin harus selesaikan hal ini sekarang.
"Aku tahu banyak, bahkan lebih dari dirimu sendiri. Kau bodoh Al jikalau salah mengartikan yang kau butuh dan ingin. Harusnya bisa bedakan mana yang harus dan tidak."
Atin memejamkan mata saat ia pikir Alex akan memukulnya. Ternyata sasaran orang tersebut adalah pintu mobil.
Keringat halus membahasi tubuh Atin. Ia cukup berani, lebih tepatnya sedang berusaha. Itulah yang Atin lakukan.
"Akan ku ajarkan arti hidup yang sesungguhnya padamu, Annisa Atinda."
Deg, Atin menatap horor Alex. Orang itu justru bersmirk. Inilah yang Alex ingin. Atin menegang.
***
Tidak, ini salah. Lagi-lagi Alex menciumnya tepat dibibir. Tak boleh, Atin diam saja saat ia dilecehkan?
Itu adalah hal terbodoh yang pernah ia perbuat.
Bugh!
Atin boleh saja dianggap lemah, namun untuk standar perempuan, ia termasuk kuat. Tak mudah buat ia kalah. Aktivitas hidup keras tak hanya menempa sistem berpikir dan sikap Atin, tapi juga tenaganya.
Ia bisa berbuat walau sedikit.
Otak pintar Atin langsung berproses, lantas tak lama kemudian ia pun ambil ancang-ancang pergi dari tempat tersebut. Pertama-tama harus buka kunci pintu mobil. Tak lama kemudian ia pun berhasil bebas.
Ini bukanlah hal sulit.
"Arrgghh sial!"
Atin berlari sekuat tenaga. Tak peduli harus pergi kemana, yang penting harus lepas dulu.
"Ini dimana ya?"
Atin menggigil, ia tak tahu harus bagaimana. Ia pikir pasti tersesat. Alex tentu mengejar Atin, oleh sebab itu ia pergi dari tempat tersebut. Sejauh mungkin agar tak tertangkap.
Lantas setelah berhenti malah tersesat. Ini menyebalkan.
"Mana hutan lagi," ujar Atin sambil menggosokkan tubuh yang terasa menggigil.
Ai kedinginan, jalan yang Alex ambil sepi, sedikit kendaraan yang lewat. Atin terjebak, ia pusing tak tahu harus melakukan hal seperti apa.
Tak boleh, otak Atin kembali berputar, berdasarkan insting dan pengetahuannya, arah matahari bisa menentukan arah mata angin.
"Oh."
Atin tersenyum, ia ketamu, ia bisa lihat kemana jalan yang harus ia ambil. Ini cukup mudah. Untuk itu ia pun segera pergi dari tempat tersebut.
Cukup lama waktu yang harus Atin lewati, tak mudah lho Keluar saat ia bahkan ia juga takut kalau-kalau bukannya keluar justru makin tersesat.
"Hah..., Tuhan, akhirnya sampai. Tapi... Bagaimana dengan Alex? Bukankah dia juga ikut masuk hutan?"
Harusnya langsung pulang, tapi Atin tak tega. Ia kedinginan apalagi Alex. Suhu hutan renda sebab itu adalah hutan yang besar. Banyak hal yang akan terjadi. Ada makhluk buas dan tersesat.
"Aish, dasar merepotkan. Aku harus cari." Atin menjambak rambutnya, bersikap seakan-akan orang yang tengah stress.
Setelah berperang dengan pikiran sendiri, akhirnya Atin pun memutuskan untuk cari Alex. Orang tersebut merasa bodoh, setelah keluar lalu masuk lagi.
Kenapa tidak kepikiran dari tadi coba?
Kalau gitu kan gak perlu bolak-balik. Atin memang bodoh. Harusnya bisa cepat.
Sudah masuk jauh, sekarang apalagi yang harus Atin lakukan?
Alex tak kunjung ketemu juga.
Orang tersebut mengepalkan tangan didada, menyemangati diri sendiri untuk tak menyerah.
"Tak boleh, Alex harus ketemu. Dia tak salah."
Lantas tak lama kemudian Atin pun lanjut. Ia yakin pasti bisa menemukan Alex. Ngomong-ngomong mereka bolos.
Mata Atin membulat, astaga Tuhan, ia lihat Alex terluka. Ia duduk persis gelandangan yang sering minta-minta dijalan. Untung sih tak mati diserang hewan buas
Hal itu cukup buat Atin bersyukur. Azab tuh.
Cepat Atin hampiri Alex, sebelum keberadaan mereka tercium hewan buas atau penunggu tak kasat mata hutan ini. Untuk itu harus cepat.
"Alex?"
Orang tersebut pun mendongkrak. Lantas kembali menunduk. Tak peduli apapun yang Atin lakukan.
Atin terenyuh, anak ini terlihat seperti anak kecil, nunduk.
"Ayo pulang, jangan membantah disini tak aman." Atin sampai tepat di hadapan Alex. Ia mengulurkan tangannya untuk ajak Alex pergi.
"Kenapa kau kembali? Harusnya kau biarkan aku sendiri dimakan hewan buas atau tidak dibawa makhluk halus."
Atin terkesiap, kenapa?
Hidup memang sulit tapi bunuh diri bukanlah hal terbaik untuk dilakukan. Masih ada jalan dan pilihan lain. Tak harus mati. Semua maslah di bumi boleh selesai, tapi akan ada masalah lain yang datang. Sistem pemikiran sempit.
Atin menggeleng, lantas tak lama kemudian pun tersenyum miris. Alex diambang-ambang antara menyerah dan tidak dalam hidupnya.
"Aku akan jadi temanmu. Bukan orang yang kau bully tapi orang yang temani setiap langkahmu."
Kalimat serius Atin justru direspon Alex terkekeh. Ia seperti dengar lelucon. Kebodohan macam apa yang Atin tawarkan?
Tak ada yang bisa dipercaya dalam dunia ini, sangat jauh.
"Kau menawarkan sebagai apa? Pacar?"
Situasi yang awalnya mencekam jadi berubah awkward. Kalau dari segi Atin sih begitu. Berbanding terbalik dengan Alex yang tersenyum remeh lihat ekspresi menjijikkan Atin. Bayangkan, orang tersebut menganggakan mulutnya.
Orang pintar ternyata bisa terlihat bodoh juga.
"Aku berubah pikiran, ayo pergi. Ku ralat pernyataan yang bilang ingin mati. Kau sudah menawarkan, jadi mulai sekarang kau adalah pacarku."
Memangnya kalimat Atin menjurus ke sana?
Ia bilang teman, bukan oacar. Ada yang salah?
Alex tak pedulikan ekspresi bodoh Atin, ia berusaha bangkit walau kakinya terasa sakit. Sedikit kesusahan namun pada akhirnya ia pun berhasil.
Atin, orang itu masih terlihat syok.
"Kau pikir aku apa?"
"Aku sakit, tolong bantu."
Oh, ini adalah hal terburuk dalam hidup Atin. Ya bisakah ia jadi manusia normal yang punya kehidupan normal juga?
Tak masuk akal. Itu menyakitkan.
"Kau ingin apa? Kalau aku ingin kau ikut kita cukup jadi teman." Atin kasih penegasan, ia tak mungkin diam saja di perlakukan begini.
Cukup bodoh saat mereka yang tiba-tiba berpacaran. Pertama yang lebih gila adalah mereka tak kenla dalam diri masing-masing.
Oh c'mon, mereka pun adalah orang asing. Sebatas tukang bully dan korbannya. Lantas kenapa, ini lebih buruk geli dari yang ia pikir.
"Aku boleh, diam dan ikuti. Ini sakit."
Kenapa sekarang seakan-akan mereka gila?
Atin merasa sangat boleh, ia jadi korban bully Alex, dicium dan direndahkan, lalu sekarang pacaran?
Setting macam apa ini?
Terasa gila. Atin tak mampu melakukan apapun yang baik, apa sih?
Hari semakin gelap, bukan berarti sudah malam, namun hujan besar ini buat cahaya sulit masuk. Atin memerlukan cahaya dan lumut untuk menentukan arah mata angin dan lain sebaginya.
"Ayo."
Secara tak langsung Atin menyetujui perkataan Alex. Tak masalah, mereka harus segara pergi dari tempat tersebut.
Harus cepat.
Atin membantu Alex yang disambut baik oleh orang tersebut. Rasanya aneh, mereka tak pernah seintim ini. Atin pun tak menampik jantungnya bekerja tak normal. Untuk sekarang Atin belum berspekulasi kalau ia tertarik dengan Alex. Reaksi tubuhnya wajar sebab ia memang tak pernah dekat lelaki manapun.
Ini wajar.
Dalam perjalanan masih sempat-sempatnya Alex mengoda Atin. Kau baik-baik aja.
"Aku bisa dengar suara detak jantung mu. Menarik."
Atin tak merespon, ia lebih fokus ke jalan keluar mereka. Yang ternyata Alex tersinggung, ia marah.
"Respon Atin."
What, Alex merajuk?
Menurut Atin Alex kurang diperhatikan oleh orangtuanya. Apapun yang ia bilang harus direspon.
Ini nih efek kurang kasih sayang.
"Aku orang realistis, aku tidak tertarik dengan orang yang membullyku. Tulus dan dalam, aku mengerti, tapi aku tak punya waktu untuk itu. Aku harus urus hidupku sendiri," ujar Atin.
Ia diam, ia fokus jalan dan tak berbuat hal yang bagaimana.
"Bagus, kau lumayan. Tak boleh terikat ke orang lain, cukup diri sendiri."
Alex tersenyum, posisinya cukup dekat dari Atin. Setelah ia pikir-pikir, Atin cantik. Ia tak pilih-pilih lihat siapa yang harus jadi 'teman nelangsanya' tapi Atin adalah orang yang tepat.
Ia punya hal yang menarik habis diri Alex. Bahkan saat sekarang pun ia langsung bilang untuk jadi pacar.
Bukankah itu lucu?
Terlihat aneh dan ia lebih buruk. Maybe, ia pikir begitulah kelihatannya.
"Kau takut kata tak bisa keluar? Kau takut kita mati disini."
"Aku lebih takut berada lama dekat denganmu," ujar Atin cepat.
Atin tersadar, ia bicara panjang lebar ke Alex lalu sekarang malah bilang hal yang tak pernah ia pikir sebelumnya.
Ia bilang kekurangannya. Tak baik, itu sangat buruk.
"Nanti kalau kita keluar, ikut aku ke rumah ya. Akan ku perlihatkan hal buatku bertahan sampai saat ini."
Semudah ini Alex percaya padanya?
"Tidak, aku harus pergi. Aku tak pernah setuju jadi pacarmu. Ini lucu lho."
Cup.
Atin terkesiap, kenapa Alex mudah menyikapi dirinya. Tak baik, ia harus tegaskan pada Alex batasan untuk orang tersebut.
"Jangan cium aku sembarangan Alex. Kau melecehkanku. Aku tahu kau anak orang kaya, tapi aku bukan orang yang mudah kau perlakukan sesuka hati. Ku tinggalkan kau sendiri, mau?"
Bukannya takut, Alex justru terkekeh. Ini yang ia suka, Atin bicara banyak padanya. Ia suka dengan kemajuan ini.
"Kau ingin aku bagaimana, harus memohon? Aku ubah prospek dirimu yang dulunya korban bully jadi pacar. Ini lucu tapi aku suka. Sudah ku ambil keputusan, aku pun memang tertarik padamu, Atin."
Atin merinding, Alex dengan santai meniup daun telinganya. Oramg itu menggoda Atin?
"Jangan lakukan Alex."
Alex tahu Atin salah tingkah, terlepas dari faktor lain, Alex lebih fokus ke pemikirannya. Ta salah ia suka.
"Satu ciuman, Atin, tolong beri itu untukku."
Nada bicara Alex sudah terdengar dalam, deep voice tersebut buat Atin seperti hilang kendali. Ia tak mampu.
Apa yang harus ia lakukan?
Mereka bahkan belum keluar!
Lantas Alex justru buat hal yang tak masuk akal!?
Ini buruk!!!
Apa yang harus Atin perbuat?
*****
Dasar, siapa yang diam saja saat suasana genting dan tak jelas begitu!?
Atin perempuan!
Siapa yang menjamin Alex tak berbuat aneh?
Tiba-tiba Atin menangis, selama ini belum pernah air mata tersebut keluar. Seburuk apapun perlakukan Alex, Atin tak pernah menangis.
"Bunuh saja aku. Aku tak tahan lagi. Aku akan pindah," ujar Atin menunduk dalam.
Setidaknya Alex tak mengendarai mobil dengan terburu-buru, orang itu masih bisa mengendalikan dirinya.
Entahlah, yang jelas sekarang itulah yang Atin lihat.
Alex spontan menghentikan mobil, apa yang ia dengar?
Atin ingin pindah. Jelas Alex tidak biar hal tersebut terjadi. Yang sudah jadi milik Alex tak mudah lepas begitu saja. Jelas tidak!
"Sayangnya tak semudah itu sayang, you're mine. Tak paham?"
Sial, Alex berada tepat didepan Atin. Jarak terlalu intim. Itu menakutkan. Setelah tadi kaget sekarang justru posisi intim?
"Minggir Alex, sadar. Kau psikopat atau apa?"
"Kau tak boleh pergi."
"Memangnya kau siapa? Aku tahu kau anak orang kaya, tapi kau tak berhak menjajahku. Sadar, kau pikir dengan membully orang lain, kau dapat kepuasan batin? Yang ada kondisi psikismu makin memburuk. Kau tak akan tenang Al."
Atin masih belum ingin berhenti. Itulah saat milik Atin.
"Coba, saat kesepian dan kesendirianmu itu kau pakai untuk hal baik. Buktikan anak broken home bisa ubah pandangan primitif. Kau sudah bertahan sampai usia 19 tahun Alex. Itu adalah pencapaian bagus."
Awalnya Alex tertegun, dari mana Atin tahu kalau ia anak broken home yang kurang kasih sayang?
Sesekali Alex lihat papa dan mamanya bertengkar. Juga, tak bicara untuk waktu yang tidak sedikit. Alex tak pernah dapat kasih sayang.
Ia seperti robot yang tinggal dikasih baterai setelah itu bergerak. Baterai itu adalah uang, fasilitas danbaby sitter.
Alex marah, ia tatap nyalang Atin. Orang itu sok tahu, padahal tak paham apapun yang dirinya alami.
"Kau tahu apa soal hidupku!?"
Tubuh Atun terpaksa menyender di pintu mobil saat Alex mengurung tubuhnya. Semakin terpojok. Gila, Alex seperti orang kerasukan. Entah setan apa yang merasuki, yang jelas seram.
Atin tak paham dari mana ia dapat keberanian, yang jelas Atin harus selesaikan hal ini sekarang.
"Aku tahu banyak, bahkan lebih dari dirimu sendiri. Kau bodoh Al jikalau salah mengartikan yang kau butuh dan ingin. Harusnya bisa bedakan mana yang harus dan tidak."
Atin memejamkan mata saat ia pikir Alex akan memukulnya. Ternyata sasaran orang tersebut adalah pintu mobil.
Keringat halus membahasi tubuh Atin. Ia cukup berani, lebih tepatnya sedang berusaha. Itulah yang Atin lakukan.
"Akan ku ajarkan arti hidup yang sesungguhnya padamu, Annisa Atinda."
Deg, Atin menatap horor Alex. Orang itu justru bersmirk. Inilah yang Alex ingin. Atin menegang.
***
Tidak, ini salah. Lagi-lagi Alex menciumnya tepat dibibir. Tak boleh, Atin diam saja saat ia dilecehkan?
Itu adalah hal terbodoh yang pernah ia perbuat.
Bugh!
Atin boleh saja dianggap lemah, namun untuk standar perempuan, ia termasuk kuat. Tak mudah buat ia kalah. Aktivitas hidup keras tak hanya menempa sistem berpikir dan sikap Atin, tapi juga tenaganya.
Ia bisa berbuat walau sedikit.
Otak pintar Atin langsung berproses, lantas tak lama kemudian ia pun ambil ancang-ancang pergi dari tempat tersebut. Pertama-tama harus buka kunci pintu mobil. Tak lama kemudian ia pun berhasil bebas.
Ini bukanlah hal sulit.
"Arrgghh sial!"
Atin berlari sekuat tenaga. Tak peduli harus pergi kemana, yang penting harus lepas dulu.
"Ini dimana ya?"
Atin menggigil, ia tak tahu harus bagaimana. Ia pikir pasti tersesat. Alex tentu mengejar Atin, oleh sebab itu ia pergi dari tempat tersebut. Sejauh mungkin agar tak tertangkap.
Lantas setelah berhenti malah tersesat. Ini menyebalkan.
"Mana hutan lagi," ujar Atin sambil menggosokkan tubuh yang terasa menggigil.
Ai kedinginan, jalan yang Alex ambil sepi, sedikit kendaraan yang lewat. Atin terjebak, ia pusing tak tahu harus melakukan hal seperti apa.
Tak boleh, otak Atin kembali berputar, berdasarkan insting dan pengetahuannya, arah matahari bisa menentukan arah mata angin.
"Oh."
Atin tersenyum, ia ketamu, ia bisa lihat kemana jalan yang harus ia ambil. Ini cukup mudah. Untuk itu ia pun segera pergi dari tempat tersebut.
Cukup lama waktu yang harus Atin lewati, tak mudah lho Keluar saat ia bahkan ia juga takut kalau-kalau bukannya keluar justru makin tersesat.
"Hah..., Tuhan, akhirnya sampai. Tapi... Bagaimana dengan Alex? Bukankah dia juga ikut masuk hutan?"
Harusnya langsung pulang, tapi Atin tak tega. Ia kedinginan apalagi Alex. Suhu hutan renda sebab itu adalah hutan yang besar. Banyak hal yang akan terjadi. Ada makhluk buas dan tersesat.
"Aish, dasar merepotkan. Aku harus cari." Atin menjambak rambutnya, bersikap seakan-akan orang yang tengah stress.
Setelah berperang dengan pikiran sendiri, akhirnya Atin pun memutuskan untuk cari Alex. Orang tersebut merasa bodoh, setelah keluar lalu masuk lagi.
Kenapa tidak kepikiran dari tadi coba?
Kalau gitu kan gak perlu bolak-balik. Atin memang bodoh. Harusnya bisa cepat.
Sudah masuk jauh, sekarang apalagi yang harus Atin lakukan?
Alex tak kunjung ketemu juga.
Orang tersebut mengepalkan tangan didada, menyemangati diri sendiri untuk tak menyerah.
"Tak boleh, Alex harus ketemu. Dia tak salah."
Lantas tak lama kemudian Atin pun lanjut. Ia yakin pasti bisa menemukan Alex. Ngomong-ngomong mereka bolos.
Mata Atin membulat, astaga Tuhan, ia lihat Alex terluka. Ia duduk persis gelandangan yang sering minta-minta dijalan. Untung sih tak mati diserang hewan buas
Hal itu cukup buat Atin bersyukur. Azab tuh.
Cepat Atin hampiri Alex, sebelum keberadaan mereka tercium hewan buas atau penunggu tak kasat mata hutan ini. Untuk itu harus cepat.
"Alex?"
Orang tersebut pun mendongkrak. Lantas kembali menunduk. Tak peduli apapun yang Atin lakukan.
Atin terenyuh, anak ini terlihat seperti anak kecil, nunduk.
"Ayo pulang, jangan membantah disini tak aman." Atin sampai tepat di hadapan Alex. Ia mengulurkan tangannya untuk ajak Alex pergi.
"Kenapa kau kembali? Harusnya kau biarkan aku sendiri dimakan hewan buas atau tidak dibawa makhluk halus."
Atin terkesiap, kenapa?
Hidup memang sulit tapi bunuh diri bukanlah hal terbaik untuk dilakukan. Masih ada jalan dan pilihan lain. Tak harus mati. Semua maslah di bumi boleh selesai, tapi akan ada masalah lain yang datang. Sistem pemikiran sempit.
Atin menggeleng, lantas tak lama kemudian pun tersenyum miris. Alex diambang-ambang antara menyerah dan tidak dalam hidupnya.
"Aku akan jadi temanmu. Bukan orang yang kau bully tapi orang yang temani setiap langkahmu."
Kalimat serius Atin justru direspon Alex terkekeh. Ia seperti dengar lelucon. Kebodohan macam apa yang Atin tawarkan?
Tak ada yang bisa dipercaya dalam dunia ini, sangat jauh.
"Kau menawarkan sebagai apa? Pacar?"
Situasi yang awalnya mencekam jadi berubah awkward. Kalau dari segi Atin sih begitu. Berbanding terbalik dengan Alex yang tersenyum remeh lihat ekspresi menjijikkan Atin. Bayangkan, orang tersebut menganggakan mulutnya.
Orang pintar ternyata bisa terlihat bodoh juga.
"Aku berubah pikiran, ayo pergi. Ku ralat pernyataan yang bilang ingin mati. Kau sudah menawarkan, jadi mulai sekarang kau adalah pacarku."
Memangnya kalimat Atin menjurus ke sana?
Ia bilang teman, bukan oacar. Ada yang salah?
Alex tak pedulikan ekspresi bodoh Atin, ia berusaha bangkit walau kakinya terasa sakit. Sedikit kesusahan namun pada akhirnya ia pun berhasil.
Atin, orang itu masih terlihat syok.
"Kau pikir aku apa?"
"Aku sakit, tolong bantu."
Oh, ini adalah hal terburuk dalam hidup Atin. Ya bisakah ia jadi manusia normal yang punya kehidupan normal juga?
Tak masuk akal. Itu menyakitkan.
"Kau ingin apa? Kalau aku ingin kau ikut kita cukup jadi teman." Atin kasih penegasan, ia tak mungkin diam saja di perlakukan begini.
Cukup bodoh saat mereka yang tiba-tiba berpacaran. Pertama yang lebih gila adalah mereka tak kenla dalam diri masing-masing.
Oh c'mon, mereka pun adalah orang asing. Sebatas tukang bully dan korbannya. Lantas kenapa, ini lebih buruk geli dari yang ia pikir.
"Aku boleh, diam dan ikuti. Ini sakit."
Kenapa sekarang seakan-akan mereka gila?
Atin merasa sangat boleh, ia jadi korban bully Alex, dicium dan direndahkan, lalu sekarang pacaran?
Setting macam apa ini?
Terasa gila. Atin tak mampu melakukan apapun yang baik, apa sih?
Hari semakin gelap, bukan berarti sudah malam, namun hujan besar ini buat cahaya sulit masuk. Atin memerlukan cahaya dan lumut untuk menentukan arah mata angin dan lain sebaginya.
"Ayo."
Secara tak langsung Atin menyetujui perkataan Alex. Tak masalah, mereka harus segara pergi dari tempat tersebut.
Harus cepat.
Atin membantu Alex yang disambut baik oleh orang tersebut. Rasanya aneh, mereka tak pernah seintim ini. Atin pun tak menampik jantungnya bekerja tak normal. Untuk sekarang Atin belum berspekulasi kalau ia tertarik dengan Alex. Reaksi tubuhnya wajar sebab ia memang tak pernah dekat lelaki manapun.
Ini wajar.
Dalam perjalanan masih sempat-sempatnya Alex mengoda Atin. Kau baik-baik aja.
"Aku bisa dengar suara detak jantung mu. Menarik."
Atin tak merespon, ia lebih fokus ke jalan keluar mereka. Yang ternyata Alex tersinggung, ia marah.
"Respon Atin."
What, Alex merajuk?
Menurut Atin Alex kurang diperhatikan oleh orangtuanya. Apapun yang ia bilang harus direspon.
Ini nih efek kurang kasih sayang.
"Aku orang realistis, aku tidak tertarik dengan orang yang membullyku. Tulus dan dalam, aku mengerti, tapi aku tak punya waktu untuk itu. Aku harus urus hidupku sendiri," ujar Atin.
Ia diam, ia fokus jalan dan tak berbuat hal yang bagaimana.
"Bagus, kau lumayan. Tak boleh terikat ke orang lain, cukup diri sendiri."
Alex tersenyum, posisinya cukup dekat dari Atin. Setelah ia pikir-pikir, Atin cantik. Ia tak pilih-pilih lihat siapa yang harus jadi 'teman nelangsanya' tapi Atin adalah orang yang tepat.
Ia punya hal yang menarik habis diri Alex. Bahkan saat sekarang pun ia langsung bilang untuk jadi pacar.
Bukankah itu lucu?
Terlihat aneh dan ia lebih buruk. Maybe, ia pikir begitulah kelihatannya.
"Kau takut kata tak bisa keluar? Kau takut kita mati disini."
"Aku lebih takut berada lama dekat denganmu," ujar Atin cepat.
Atin tersadar, ia bicara panjang lebar ke Alex lalu sekarang malah bilang hal yang tak pernah ia pikir sebelumnya.
Ia bilang kekurangannya. Tak baik, itu sangat buruk.
"Nanti kalau kita keluar, ikut aku ke rumah ya. Akan ku perlihatkan hal buatku bertahan sampai saat ini."
Semudah ini Alex percaya padanya?
"Tidak, aku harus pergi. Aku tak pernah setuju jadi pacarmu. Ini lucu lho."
Cup.
Atin terkesiap, kenapa Alex mudah menyikapi dirinya. Tak baik, ia harus tegaskan pada Alex batasan untuk orang tersebut.
"Jangan cium aku sembarangan Alex. Kau melecehkanku. Aku tahu kau anak orang kaya, tapi aku bukan orang yang mudah kau perlakukan sesuka hati. Ku tinggalkan kau sendiri, mau?"
Bukannya takut, Alex justru terkekeh. Ini yang ia suka, Atin bicara banyak padanya. Ia suka dengan kemajuan ini.
"Kau ingin aku bagaimana, harus memohon? Aku ubah prospek dirimu yang dulunya korban bully jadi pacar. Ini lucu tapi aku suka. Sudah ku ambil keputusan, aku pun memang tertarik padamu, Atin."
Atin merinding, Alex dengan santai meniup daun telinganya. Oramg itu menggoda Atin?
"Jangan lakukan Alex."
Alex tahu Atin salah tingkah, terlepas dari faktor lain, Alex lebih fokus ke pemikirannya. Ta salah ia suka.
"Satu ciuman, Atin, tolong beri itu untukku."
Nada bicara Alex sudah terdengar dalam, deep voice tersebut buat Atin seperti hilang kendali. Ia tak mampu.
Apa yang harus ia lakukan?
Mereka bahkan belum keluar!
Lantas Alex justru buat hal yang tak masuk akal!?
Ini buruk!!!
Apa yang harus Atin perbuat?
*****