Alex dan Atin sudah sampai di mobil, kedua orang beda gender tersebut berpandangan satu sama lain. Rona merah di wajah Atin tak dapat ia sembunyikan, ia jelas takut. Entah karena apa, otak pikiran Atin penuh hal-hal negatif.
Otak sudah traveling jauh.
Sampai ketika Alex ingin pegang wajahnya, Atin sigap mengindar, ia tak nyaman. Siapapun perempuan itu, pastilah tak nyaman diperlakukan begitu. Dalam konteks yang terjadi.
Alex tersenyum, ia tahu Atin pemalu, polos, serta lurus. Baru di cium reaksi tubuh saja sudah panas dingin.
Sambil tersenyum Alek pun bicara. Tak ia lepas pandangan sedikitpun dari pacarnya tersebut. “kau takut?”
Tatapan Atin seakan bilang 'bodoh,' lalu Alex-lah orang bodoh tersebut. Tentu saja Atin takut, otak Alex jauh dari yang dapat Atin pikirkan. Orang tersebut liar!
Atin bingung, sebuah rasa yang tenggelam pada diri sendiri. Pada akhirnya Atin usahakan tersenyum walau tipis. Lantas, inilah yang ia katakan. Atmosfer terlihat kurang bagus untuk mereka.
Senyum Atin kentara tengah memaksa. Alex bukan tipe orang peka sih, namun ia bisa rasakan hal tersebut. Reaksi Atin buat Alex gemas!
“Lebih baik kita pulang, aku lelah," ujar Atin.
“Ah… benar. Aku pun sama, kita pergi ke rumahku.” Alex tersenyum lebar.
Atin terpaku, ia tak pernah lihat Alex tersenyum selebar itu, yang sepertinya senyum tersebut tulus. Timbul rasa senang, berarti, Atin bawa pengaruh positif untuk Alex.
Oke, untuk sekarang biarkan hal buruk pergi, Atin ingin manfaatkan momen tersebut untuk perbaiki sistem berpikir Alex. Kesempatan langka yang sulit ia dapat.
Alex tersenyum ramah begitupun Atin.
Mobil berjalan konstan, sepanjang perjalanan Atin masih sibuk berperang dengan pikiran sendiri, walau begitu tak terlalu buruk juga sih, Atin tengah berpikir soal hal baik kedepan. Walau sulit sekalipun, Atin tetap usahakan yang terbaik.
Sibuk berpikir, Atin sama sekali tak sadar. Tahu-tahu sudah sampai rumah Alex. Baru dari luar saja Atin tak berkedip lihat taman luas keluarga Alex. Wow, amazing!
Alex beralih ke Atin, sedari awal ia curi-curi pandang ke orang tersebut. Alex tahu pacarnya tersebut sibuk berpikir yang sepertinya buruk. Wajar, siapa yang baik-baik saja orang jahat si pembully tiba-tiba menyuruh si korbannya jadi pacar?
Atin kaget, respon itu wajar.
Alex tersenyum, peralahan tarik tangan pacarnya. Ngomong-ngomong itu adalah pengalaman pertama Alex punya pacar, ia suka ke Atin sebab sekarang lebih baik untuk ia lihat benar.
Menelusuri dan pelajari jauh.
Menarik, sedari dulu Atin memang punya banyak hal yang ambil alih kewarasan Alex. Alex tak pernah sebahagia sekarang, rasanya bahkan melebihi saat ia dikasih hadiah mobil yang sialnya tak boleh ia pakai sebelum kuliah.
Alhasil Alex cuman pakai motor gede. Alex tak suka antar jemput, untuk itu terserah padanya. Ia bebas.
Mulut Atin secara alami mengangga, ia tak pernah lihat rumah semegah ini, bak mansion semi apartemen!
Wow!
Keluarga Alex pasti berkerja keras untuk dapatkan harta berlimpah.
Atin tak sadar, Alex ternyata nmenariknya ke sebuah ruangan yang tak lain dan tak bukan adalah kamar milik orang tersebut.
Shit, kenapa begitu!?
Tak adakah tempat lain yang lebih 'ramah?'
Atin tak nyaman. Ia belum pernah masuk ke tempat sensitif tersebut. Ketika sadar, tahu-tahu sudah berada di tempat terlarang. Terlalu sensitif, Atin langsung lepas tangan Alex agar ia bisa pergi. Sebelumnya harus izin, kalau tak punya kesempatan, lebih baik langsung pergi.
Kamar Alex bernuansa hitam putih. Warna netral khas lelaki. Bau maskulin menyeruak ke indera penciuman Atin.
“Tolong Lepas, kau pasti ingin ganti baju. Aku tunggu diluar,” ucap Atin.
Suara perempuan tersebut tak terdengar lirih, tegas agar Alex paham seberapa tak inginnya ia bersama orang tersebut dalam ruang pribadi. Orang ketiga alias setan berkeliaran dimana-mana. Sementara Atin bertekad untuk sebatas skinsip tingkat keras untuk pacaran mereka. Itu pun sudah termasuk dosa, demi Alex agar berubah, Atin rela lakukan hal tersebut.
Isi perjanjian dan kemauan Alex sangat diluar batas!
Siapa yang akan terima?
Atin berusaha cari kesempatan untuknya dengan secara benar. Terjebak pergaluan bebas begini, Atin tak bisa.
Hati, pikiran dan akal sehat sibuk berontak, salah besar!
Bersyukur sebab Atin masih bertahan, tak boleh lewati batas. Atin tak suka dipaksa!
Kalau ada kesempatan, Atin akan berjuang sambil jalan. Banyak hal yang harus ia selesaikan kedepannya. Berhubungan ke Alex.
“Temani aku, aku ingin tunjukkan hal yang buatku bertahan selama ini. Sekarang bicara soal pentransfer emosi positif lho, gak aneh-aneh kok.” Muka Alex polos bak anak kecil yang tengah bujuk ibuya beli mainan. Kalau begitu Atin jadi tak tega.
Kalimat Alex kok transfer emosi positif seperti ucapannya?
Lebih baik imut. Hahah lucu. Tatapan tersebut puppy eyes itu adalah yang paling bagus dalam sejarah ekspresi Alex.
Atin melipat tangan di d**a, terlihat menimbang-nimbang. Lantas orang tersebut pun mengatakan sesuatu. Agak merasa aneh sebab Atin tak pernah bersikap 'cukup' songgong sebelumnya.
Terlalu congkak!
“Oke, gak boleh macam-macam, aku hanya lihat yang kamu bilang, setelah itu selesai. Gak boleh aneh-aneh.”
“Dasar cerewet,” gerutu Alex pelan yang sayangnya masih bisa didengar Atin.
Bibir orang tersebut maju beberapa centi, lucu!
Ah tidak, maksudnya imut. Ya Tuhan kepengen nyubit. Boleh?
Atin gemas lihat Alex.
Oke, lupakan.
Mereka pun beralih ke pojok kamar, tempat ekstrem yang buat Atin merinding. Ia takut. Mata Atin menangkap sebuah kotak yang saat dibuka, ternyata isinya kalung berliontin kunci. Hey, itu benda antik.
Jadi benda berharga yang buat Alex bertahan selama ini adalah kalung?
Kasih kesan apa sih?
Alex dan kalung. Sedikit aneh.
“Maksud kamu kalung itu? Pemberian siapa, pasti sangat berharga,” celutuk Atin.
Menarik, anak lelaki nakal plus jahat seperti Alex tertarik ke kalung. Atin pikir, pisau sebab Alex psikopat, gitar untuk mengibur diri, atau setidaknya benda berharga lain, yang jelas bukan kalung. Terkesan kurang manly dalam otak Atin.
Alex tarik napas dalam-dalam, bersiap bercerita. Yang akan menjelma jadi kalimat terpanjang dalam proses bicaranya.
“Nenek, dia yang menjagaku saat Mama dan Papa sibuk, tapi beliau sudah meninggal lima tahun yang lalu. Aku tak diasuh oleh babysitter, tapi keluarga sendiri. Kalau gak gitu, aku yakin pasti lebih buruk dari sekarang."
Alex terlihat menerawang, ingat masa-masa ia saat diasuh oleh neneknya.
"Nenek bilang kalung ini harus aku kasih ke oarng yang ku cintai, itu kamu Atin. Aku bertahan sebab ingat kebaikan Nenek. Beliau terlalu baik untuk kecewa padaku saat aku tak sukses, atau berakhir mati."
Sebelum melanjutkan, Alex mengela napas yang Atin yakin pasti sangat lelah.
"Kamu benar, alasanku membully adalah karena aku butuh teman agar tak sendiri, itu aku maknai sebagai membully orang. Aku nelangsa persis seperti korban bully tersebut,” jelas Alex panjang lebar sampai sudah jadi luas.
Hati Atin menghangat, dibalik sifat buruk Alex terdapat hal tulus tak terduga. Orang tersebut berkomitmen untuk semua hal yang ia pikirkan. Ia berjuang sama seperti Atin.
“Boleh aku minta ciuman lagi?”
Eh, kok malah kemana-mana pembicaraan mereka?
Permintaan Alex serba hal sensitif, Atin tak nyaman. Respon pun tak jauh beda dari yang sudah-sudah, Atin mundur perlahan tanpa mampu ia cegah. Seakan-akan Alex adalah ancaman terbesar untuknya. Tak baik, untuk itu Atin harus ciptakan jarak aman.
Alex tak memaksa seperti biasanya, ia justru memunduk dalam. Jelas-jelas ia di tolak Atin. Itu menyakitkan, bukan tersinggung. Hati lebih sakit ketimbang harga diri jatuh serendah-rendahnya.
Atin natap nanar, haruskah?
Agaknya situasi tak berpihak padanya. Buruk.
Oke, Atin kuatkan tekad bicara serius ke Alex. Masih berusaha jaga dirinya dan Alex agar tak kelepasan, itu untuk kebaikan mereka. Hey, mereka masih kuliah.
Apa kabar masa depan, keluarga, pandangan masyarat, dan semua hal?
Memang tak ada larangan menikah saat kuliah. Walau begitu tetap saja, tak kan ada seorangpun yang terima anak kuliahan yang seharusnya beradab hamil diluar nikah.
Terutama Atin, ia anak yatim piatu. Tak ada masalah pun sulit, apalagi kalau terjebak masalah. Untuk itu jangan buat hal ekstrem.
Oke, Atin pun kembali dekati orang yang sudah jadi pacarnya tersebut. Hubungan teraneh yang pernah ia alami dalam setiap hembusan napasnya.
Biar lebih mudah ‘terhubung,’ Atin pegang kedua bahu Alex. Sambil tersenyum tipis dan natap dalam, Atin pun bicara ke Alex. “jangan begini, nenekmu pasti sedih. Kau harus sukses, ubah padangan lama yang bilang anak broken home nelangsa yang perlahan-lahan kalah. Aku tahu kau kuat, hanya perlu lebih baik untuk banyak situasi dan kondisi. Kau butuh perubahan. Untuk semua itu kau butuh motivasi hidup. Aku tak mau kita kelepasan, cuman itu kok.”
Alex mendongkrak, ia tahu, namun tetap saja masih ingin. Berdasar perjanjian mereka boleh skinsip kok, selama gak sampai inti. Alex paham benar kalau Atin jaga baik-baik mahkota untuk suaminya kelak. Atin juga tak mau menyandang status barang bekas.
Orang terpelajar, Atin berusaha imbangi antara logika dan perasaan.
“Batas skinsip Atin. Izinkan aku.”
Mata dalam itu lagi, Atin tak pernah tahu kalau ternyata Alex adalah perayu ulung. Kalau begini bagaimana Atin bisa?
Entah sadar atau tidak orang tersebut pun mengangguk, lantas tak lama kemudian sebuah ciuman terjadi. Kali ini Alex lakukan secara lembut, Atin merasa ia cukup berharga untuk diperlakukan baik.
Alex bahkan menuntunnya untuk duduk di sebuah kursi. Ah tidak, maksudnya Alex duduk disitu sedangkan Atin diatas orang tersebut. Tubuh Atin meremang, bisa ia rasa bagian pusat Alex menegang. Bodoh, itu pertanda buruk.
Atin lepas paksa ciuman tersebut, lalu tanpa aba-aba hendak bangkit. Sayangnya, Alex lebih cepat tanggap, ia tahan Atin agar tetap berada di pangkuannya.
“Tetap seperti ini, ku mohon.”
Reflex tangan Atin mengepal kuat, ia nurut saja saat disuruh jadi keledai?
Atin ingin nolong, tapi gak harus gitu juga!
Otak ada untuk berpikir!
Atin tak pernah lepas pasangan dari Alex. Tersirat ketegasan, kalau terasa sih
“Alex, nenekmu perempuan kan? Bagaimana perasaanmu jika ada yang bersikap tak senonoh pada orang yang kamu sayangi? Kau terima?”
Alex tertegun sedangkan Atin natap nyalang, ia tak bisa begini terus, niat awal adalah untuk buat Alex jadi orang baik, namun setelah Atin pikir-pikir, perbuatan mereka justru lebih menjemuskan orang tersebut ke lembah kesalahan, begitupun Atin.
“Ini caraku menyalurkan kasih sayang. Ini caraku agar aku yang kurang perhatian merasa disayangi. Aku butuh penyaluran pasti, bukan hal abstrak. Mereka, Papa dan Mama tak berikan kasih sayang untukku, karena itu harus ku cari sendiri kasih sayang tersebut," alibi Alex. Yang sialnya bisa benar dan juga tidak.
Pas ke konteks masalah yang orang tersebut alami.
Atin tatap sekan tak percaya. Semua hal dalam otak Alex salah!
Orang itu butuh penyaluran nyata dalam bentuk sikap, bukan cinta. Pantaskah itu disebut kasih sayang?
Semua hal abstrak, Alex tak bisa terima hal tersebut. Cukup masuk akal namun berbahaya. Atin terjebak.
“Ini permintaan gila, tapi apakah kau bisa bergerak? Aku ingin rasakan pusat tubuh kita bergesekkan.”
Gila, dikasih hati minta jantung!
Atin lebih dari orang dungu!
Ia akan diam-diam saja diperlakukan begitu?
Kalau gitu bukannya menolang, yang ada Atin rugi, lalu Alex semakin bertambah buruk.
Apa yang Atin lakukan?
*****The Beginning Of Drakness
Alex dan Atin sudah sampai di mobil, kedua orang beda gender tersebut berpandangan satu sama lain. Rona merah di wajah Atin tak dapat ia sembunyikan, ia jelas takut. Entah karena apa, otak pikiran Atin penuh hal-hal negatif.
Otak sudah traveling jauh.
Sampai ketika Alex ingin pegang wajahnya, Atin sigap mengindar, ia tak nyaman. Siapapun perempuan itu, pastilah tak nyaman diperlakukan begitu. Dalam konteks yang terjadi.
Alex tersenyum, ia tahu Atin pemalu, polos, serta lurus. Baru di cium reaksi tubuh saja sudah panas dingin.
Sambil tersenyum Alek pun bicara. Tak ia lepas pandangan sedikitpun dari pacarnya tersebut. “kau takut?”
Tatapan Atin seakan bilang 'bodoh,' lalu Alex-lah orang bodoh tersebut. Tentu saja Atin takut, otak Alex jauh dari yang dapat Atin pikirkan. Orang tersebut liar!
Atin bingung, sebuah rasa yang tenggelam pada diri sendiri. Pada akhirnya Atin usahakan tersenyum walau tipis. Lantas, inilah yang ia katakan. Atmosfer terlihat kurang bagus untuk mereka.
Senyum Atin kentara tengah memaksa. Alex bukan tipe orang peka sih, namun ia bisa rasakan hal tersebut. Reaksi Atin buat Alex gemas!
“Lebih baik kita pulang, aku lelah," ujar Atin.
“Ah… benar. Aku pun sama, kita pergi ke rumahku.” Alex tersenyum lebar.
Atin terpaku, ia tak pernah lihat Alex tersenyum selebar itu, yang sepertinya senyum tersebut tulus. Timbul rasa senang, berarti, Atin bawa pengaruh positif untuk Alex.
Oke, untuk sekarang biarkan hal buruk pergi, Atin ingin manfaatkan momen tersebut untuk perbaiki sistem berpikir Alex. Kesempatan langka yang sulit ia dapat.
Alex tersenyum ramah begitupun Atin.
Mobil berjalan konstan, sepanjang perjalanan Atin masih sibuk berperang dengan pikiran sendiri, walau begitu tak terlalu buruk juga sih, Atin tengah berpikir soal hal baik kedepan. Walau sulit sekalipun, Atin tetap usahakan yang terbaik.
Sibuk berpikir, Atin sama sekali tak sadar. Tahu-tahu sudah sampai rumah Alex. Baru dari luar saja Atin tak berkedip lihat taman luas keluarga Alex. Wow, amazing!
Alex beralih ke Atin, sedari awal ia curi-curi pandang ke orang tersebut. Alex tahu pacarnya tersebut sibuk berpikir yang sepertinya buruk. Wajar, siapa yang baik-baik saja orang jahat si pembully tiba-tiba menyuruh si korbannya jadi pacar?
Atin kaget, respon itu wajar.
Alex tersenyum, peralahan tarik tangan pacarnya. Ngomong-ngomong itu adalah pengalaman pertama Alex punya pacar, ia suka ke Atin sebab sekarang lebih baik untuk ia lihat benar.
Menelusuri dan pelajari jauh.
Menarik, sedari dulu Atin memang punya banyak hal yang ambil alih kewarasan Alex. Alex tak pernah sebahagia sekarang, rasanya bahkan melebihi saat ia dikasih hadiah mobil yang sialnya tak boleh ia pakai sebelum kuliah.
Alhasil Alex cuman pakai motor gede. Alex tak suka antar jemput, untuk itu terserah padanya. Ia bebas.
Mulut Atin secara alami mengangga, ia tak pernah lihat rumah semegah ini, bak mansion semi apartemen!
Wow!
Keluarga Alex pasti berkerja keras untuk dapatkan harta berlimpah.
Atin tak sadar, Alex ternyata nmenariknya ke sebuah ruangan yang tak lain dan tak bukan adalah kamar milik orang tersebut.
Shit, kenapa begitu!?
Tak adakah tempat lain yang lebih 'ramah?'
Atin tak nyaman. Ia belum pernah masuk ke tempat sensitif tersebut. Ketika sadar, tahu-tahu sudah berada di tempat terlarang. Terlalu sensitif, Atin langsung lepas tangan Alex agar ia bisa pergi. Sebelumnya harus izin, kalau tak punya kesempatan, lebih baik langsung pergi.
Kamar Alex bernuansa hitam putih. Warna netral khas lelaki. Bau maskulin menyeruak ke indera penciuman Atin.
“Tolong Lepas, kau pasti ingin ganti baju. Aku tunggu diluar,” ucap Atin.
Suara perempuan tersebut tak terdengar lirih, tegas agar Alex paham seberapa tak inginnya ia bersama orang tersebut dalam ruang pribadi. Orang ketiga alias setan berkeliaran dimana-mana. Sementara Atin bertekad untuk sebatas skinsip tingkat keras untuk pacaran mereka. Itu pun sudah termasuk dosa, demi Alex agar berubah, Atin rela lakukan hal tersebut.
Isi perjanjian dan kemauan Alex sangat diluar batas!
Siapa yang akan terima?
Atin berusaha cari kesempatan untuknya dengan secara benar. Terjebak pergaluan bebas begini, Atin tak bisa.
Hati, pikiran dan akal sehat sibuk berontak, salah besar!
Bersyukur sebab Atin masih bertahan, tak boleh lewati batas. Atin tak suka dipaksa!
Kalau ada kesempatan, Atin akan berjuang sambil jalan. Banyak hal yang harus ia selesaikan kedepannya. Berhubungan ke Alex.
“Temani aku, aku ingin tunjukkan hal yang buatku bertahan selama ini. Sekarang bicara soal pentransfer emosi positif lho, gak aneh-aneh kok.” Muka Alex polos bak anak kecil yang tengah bujuk ibuya beli mainan. Kalau begitu Atin jadi tak tega.
Kalimat Alex kok transfer emosi positif seperti ucapannya?
Lebih baik imut. Hahah lucu. Tatapan tersebut puppy eyes itu adalah yang paling bagus dalam sejarah ekspresi Alex.
Atin melipat tangan di d**a, terlihat menimbang-nimbang. Lantas orang tersebut pun mengatakan sesuatu. Agak merasa aneh sebab Atin tak pernah bersikap 'cukup' songgong sebelumnya.
Terlalu congkak!
“Oke, gak boleh macam-macam, aku hanya lihat yang kamu bilang, setelah itu selesai. Gak boleh aneh-aneh.”
“Dasar cerewet,” gerutu Alex pelan yang sayangnya masih bisa didengar Atin.
Bibir orang tersebut maju beberapa centi, lucu!
Ah tidak, maksudnya imut. Ya Tuhan kepengen nyubit. Boleh?
Atin gemas lihat Alex.
Oke, lupakan.
Mereka pun beralih ke pojok kamar, tempat ekstrem yang buat Atin merinding. Ia takut. Mata Atin menangkap sebuah kotak yang saat dibuka, ternyata isinya kalung berliontin kunci. Hey, itu benda antik.
Jadi benda berharga yang buat Alex bertahan selama ini adalah kalung?
Kasih kesan apa sih?
Alex dan kalung. Sedikit aneh.
“Maksud kamu kalung itu? Pemberian siapa, pasti sangat berharga,” celutuk Atin.
Menarik, anak lelaki nakal plus jahat seperti Alex tertarik ke kalung. Atin pikir, pisau sebab Alex psikopat, gitar untuk mengibur diri, atau setidaknya benda berharga lain, yang jelas bukan kalung. Terkesan kurang manly dalam otak Atin.
Alex tarik napas dalam-dalam, bersiap bercerita. Yang akan menjelma jadi kalimat terpanjang dalam proses bicaranya.
“Nenek, dia yang menjagaku saat Mama dan Papa sibuk, tapi beliau sudah meninggal lima tahun yang lalu. Aku tak diasuh oleh babysitter, tapi keluarga sendiri. Kalau gak gitu, aku yakin pasti lebih buruk dari sekarang."
Alex terlihat menerawang, ingat masa-masa ia saat diasuh oleh neneknya.
"Nenek bilang kalung ini harus aku kasih ke oarng yang ku cintai, itu kamu Atin. Aku bertahan sebab ingat kebaikan Nenek. Beliau terlalu baik untuk kecewa padaku saat aku tak sukses, atau berakhir mati."
Sebelum melanjutkan, Alex mengela napas yang Atin yakin pasti sangat lelah.
"Kamu benar, alasanku membully adalah karena aku butuh teman agar tak sendiri, itu aku maknai sebagai membully orang. Aku nelangsa persis seperti korban bully tersebut,” jelas Alex panjang lebar sampai sudah jadi luas.
Hati Atin menghangat, dibalik sifat buruk Alex terdapat hal tulus tak terduga. Orang tersebut berkomitmen untuk semua hal yang ia pikirkan. Ia berjuang sama seperti Atin.
“Boleh aku minta ciuman lagi?”
Eh, kok malah kemana-mana pembicaraan mereka?
Permintaan Alex serba hal sensitif, Atin tak nyaman. Respon pun tak jauh beda dari yang sudah-sudah, Atin mundur perlahan tanpa mampu ia cegah. Seakan-akan Alex adalah ancaman terbesar untuknya. Tak baik, untuk itu Atin harus ciptakan jarak aman.
Alex tak memaksa seperti biasanya, ia justru memunduk dalam. Jelas-jelas ia di tolak Atin. Itu menyakitkan, bukan tersinggung. Hati lebih sakit ketimbang harga diri jatuh serendah-rendahnya.
Atin natap nanar, haruskah?
Agaknya situasi tak berpihak padanya. Buruk.
Oke, Atin kuatkan tekad bicara serius ke Alex. Masih berusaha jaga dirinya dan Alex agar tak kelepasan, itu untuk kebaikan mereka. Hey, mereka masih kuliah.
Apa kabar masa depan, keluarga, pandangan masyarat, dan semua hal?
Memang tak ada larangan menikah saat kuliah. Walau begitu tetap saja, tak kan ada seorangpun yang terima anak kuliahan yang seharusnya beradab hamil diluar nikah.
Terutama Atin, ia anak yatim piatu. Tak ada masalah pun sulit, apalagi kalau terjebak masalah. Untuk itu jangan buat hal ekstrem.
Oke, Atin pun kembali dekati orang yang sudah jadi pacarnya tersebut. Hubungan teraneh yang pernah ia alami dalam setiap hembusan napasnya.
Biar lebih mudah ‘terhubung,’ Atin pegang kedua bahu Alex. Sambil tersenyum tipis dan natap dalam, Atin pun bicara ke Alex. “jangan begini, nenekmu pasti sedih. Kau harus sukses, ubah padangan lama yang bilang anak broken home nelangsa yang perlahan-lahan kalah. Aku tahu kau kuat, hanya perlu lebih baik untuk banyak situasi dan kondisi. Kau butuh perubahan. Untuk semua itu kau butuh motivasi hidup. Aku tak mau kita kelepasan, cuman itu kok.”
Alex mendongkrak, ia tahu, namun tetap saja masih ingin. Berdasar perjanjian mereka boleh skinsip kok, selama gak sampai inti. Alex paham benar kalau Atin jaga baik-baik mahkota untuk suaminya kelak. Atin juga tak mau menyandang status barang bekas.
Orang terpelajar, Atin berusaha imbangi antara logika dan perasaan.
“Batas skinsip Atin. Izinkan aku.”
Mata dalam itu lagi, Atin tak pernah tahu kalau ternyata Alex adalah perayu ulung. Kalau begini bagaimana Atin bisa?
Entah sadar atau tidak orang tersebut pun mengangguk, lantas tak lama kemudian sebuah ciuman terjadi. Kali ini Alex lakukan secara lembut, Atin merasa ia cukup berharga untuk diperlakukan baik.
Alex bahkan menuntunnya untuk duduk di sebuah kursi. Ah tidak, maksudnya Alex duduk disitu sedangkan Atin diatas orang tersebut. Tubuh Atin meremang, bisa ia rasa bagian pusat Alex menegang. Bodoh, itu pertanda buruk.
Atin lepas paksa ciuman tersebut, lalu tanpa aba-aba hendak bangkit. Sayangnya, Alex lebih cepat tanggap, ia tahan Atin agar tetap berada di pangkuannya.
“Tetap seperti ini, ku mohon.”
Reflex tangan Atin mengepal kuat, ia nurut saja saat disuruh jadi keledai?
Atin ingin nolong, tapi gak harus gitu juga!
Otak ada untuk berpikir!
Atin tak pernah lepas pasangan dari Alex. Tersirat ketegasan, kalau terasa sih
“Alex, nenekmu perempuan kan? Bagaimana perasaanmu jika ada yang bersikap tak senonoh pada orang yang kamu sayangi? Kau terima?”
Alex tertegun sedangkan Atin natap nyalang, ia tak bisa begini terus, niat awal adalah untuk buat Alex jadi orang baik, namun setelah Atin pikir-pikir, perbuatan mereka justru lebih menjemuskan orang tersebut ke lembah kesalahan, begitupun Atin.
“Ini caraku menyalurkan kasih sayang. Ini caraku agar aku yang kurang perhatian merasa disayangi. Aku butuh penyaluran pasti, bukan hal abstrak. Mereka, Papa dan Mama tak berikan kasih sayang untukku, karena itu harus ku cari sendiri kasih sayang tersebut," alibi Alex. Yang sialnya bisa benar dan juga tidak.
Pas ke konteks masalah yang orang tersebut alami.
Atin tatap sekan tak percaya. Semua hal dalam otak Alex salah!
Orang itu butuh penyaluran nyata dalam bentuk sikap, bukan cinta. Pantaskah itu disebut kasih sayang?
Semua hal abstrak, Alex tak bisa terima hal tersebut. Cukup masuk akal namun berbahaya. Atin terjebak.
“Ini permintaan gila, tapi apakah kau bisa bergerak? Aku ingin rasakan pusat tubuh kita bergesekkan.”
Gila, dikasih hati minta jantung!
Atin lebih dari orang dungu!
Ia akan diam-diam saja diperlakukan begitu?
Kalau gitu bukannya menolang, yang ada Atin rugi, lalu Alex semakin bertambah buruk.
Apa yang Atin lakukan?
*****