Sesuai yang Atin dan Alex rencanakan diawal, setelah kedua orang tersebut selesai beraktivitas untuk pekerjaan paruh waktu Atin. Keduanya menuju rumah Alex. Untuk mengerjakan proposal.
Tak terjadi hal buruk, Alex bersikap biasa. Orang itu tak tunjukkan kejanggalan sedikitpun setelah lihat Atin dan Darkos. Dalam defenisi hidup Alex, ada yang namanya ketepatan waktu, sikon pas. Kalau sudah, baru ia bergerak. Walau kebanyakan langsung sih. Alex bukan orang konsisten.
Dia hanya bertindak sesuai selera hati.
Untuk sekarang masih bisa Alex tahan. Lantas, saat sudah sampai rumah Alex, orang tersebut langsung kunci pergerakan Atin.
Atin tentu kaget.
Why?
Atin pikir semua baik-baik saja, kenapa sekarang berubah buruk?
“Ada apa, aku salah?” Atin menunduk. Ia takut ke aura yang Alex pancarkan. Sangat gelap.
Napas Alex memburu. Masih bertanya salah atau tidak, Atin tak peka terhadap kesalahan sendiri?
Oh, harus Alex ingatkan terlebih dahulu. Orang seperti Atin memang kurang tahu bagaimana dan bagian apa kesalahannya. Ia anggap interaksi tersebut wajar namun tidak bagi Alex!
Alex tak mau kehilangan orang yang ia cintai. Tak boleh walau apapun yang terjadi!
Meski hanya sekedar intraksi wajar, Alex tak terima. Marah.
“Kau bicara dengan Darkos saat di perpustakan tadi, aku tidak suka.”
Mata Atin membulat, jadi Alex membolos hanya untuk memata-matai aktivitas ia dan Darkos?
Kekanakan. Harus Atin perbaiki cara berpikir Alex. Hanya saja harus dengan cara khusus. Kemungkinan berhasil berkisar 20-30%. Oke, Atin pikir tak ada salahnya mencoba.
Atin menunduk dalam, ia terlihat sangat bersalah. Sedih.
“Maaf, aku ingin hidup normal. Berinteraksi dengan orang lain belum tentu aku akan meninggalkanmu. Justru dengan bersikap begini, kita jadi tak nyaman satu sama lin. Aku tertekan, kau lebih buruk saat membullyku sebab sekarang posisi kita beda.”
Air mata tak dapat Atin bendung, lalu air mata tersebut bukanlah kepura-puraan. Dirinya juga tak sedang memanfaatkan emosi serta kepekaan untuk menipu Alex. Semua murni terhadap hal yang harus, bisa dan boleh Atin perbuat. Ia sedih dan sakit.
Alex tak suka lihat orang yang ia cintai menangis, oleh sebab itu ia elus wajah Atin. Saat orang yang ia cintai menangis, secara tak langsung bilang Alex benar-benar payah. Tak becus membahagiakan atau setidaknya buat orang yang ia cintai nyaman. Disanalah letak kekalahan seorang Alexis.
“Jangan nangis, ku mohon."
Wajah Alex terlihat merasa bersalah, ekspresi tersebut berubah di eeperkian detik selanjutnya. Bak orang berkepribadian ganda.
"Kamu salah jadi aku tak akan minta maaf. Atin, kamu harus lakukan sesuatu untukku agar nanti tak terlalu pikirkan hal ini. Sudah ku bilang jangan dekat Darkos, aku sensitif terhadapnya. Bagimu interaksi dengannya wajar, tapi bagiku tidak. Parameter pengukuran kita beda,” ujar Alex tegas.
Masih belum ia lepas kunkungannya dari Atin. Mungkin akan lama Alex lakukan hal tersebut, toh lagipula ia suka.
Mode ambil kesempatan dalam kesempitan on.
Alex dekat dengan Atin, orang tersebut berada penuh dalam jangkaunnya, dalam penglihatan Alex dan yang terpenting, hanya untuknya. Tidak orang lain. Alex tak mau berbagi, sudah jadi hak paten!
Atin masih menangis, ia tak tahu bagaimana cara lawan sistem berpikir Alex. Rasanya terlalu sulit walau Atin jadi psikiater sekalipun. Orang tersebut keras, Alex hanya percaya terhadap hal yang ia anggap benar.
Setelah itu, kalau ada sisi baik aspek ‘kebetulan,’ baru deh bisa nyambung. Itu pun kalau ada, kalau tidak Alex tak kalah pintar untuk berdebat.
Apda akhirnya Atin dan Alex tak kan pernah nyambung. Selalu berselisih.
“Alex, kau ingin orang yang berada dekatmu nyaman kan? Kalau begitu tolong dengar aku baik-baik. Tak semua fleksibel ataupun statis. Pemahaman seseorang pun bersifat relatif, kau tak harus berpegang teguh ke sesuatu yang saklek. Bagimu itu benar, tak peduli apapun anggapan orang lain. Bak seperti kau adalah dunia batas dan garis antara wajar dan tidak. Kau kuat dan aku merasa itu benar-benar menakutkan. Aku takut Al."
Susah payah Atin kumpulkan tekad ia bicara baik-baik. Setelah ini, ia harus bersyukur kaai Alex tak ngamuk. Tapi kalau berhasil, Atin selangkah lebih dekat ke orang tersebut.
"Kau baik Alex, berdebat tak akan hasilkan apapun. Kita tak selesai. Intinya, kau ingin buat seseorang tersebut nyaman kan? Kalau begitu aku ingin kita hargai privasi masing-masing. Selama aku bisa kau percaya, maksudku kita saling mempercayai, kita bisa. Kau… percaya padaku?”
Atin lihat Alex intens tanpa lepas kontak mata sedikit pun. Ia masih menangis, saat ini Atin senggugukan bak anak kecil. Sulit bicara ketika kita begitu, Atin tengah berusaha.
Sejak berpacaran dengan Alex, Atin janji pada dirinya sendiri. Banyak hal yang harus ia korbankan. Atin sudah tak suci, kebodohan oleh rasa ‘percaya dan keyakinan’ untuk saling memperbaiki satu sama lain. Disanalah letak ketidakwarasan antara mereka.
Sejak awal hubungan tersebut aneh, terbentuknya saja tak wajar.
Alex tertegun, ia paham benar terhadap yang Atin bilang, namun, tetap saja, Alex tak mau berbagi.
Demi rasa nyaman?
Harus?
Pada akhirnya Alex pun mengangguk, itu mungkin yang terbaik. Setidaknya untuk sekarang.
“Oke, kau bertanggung jawab terhadap perkataanmu, aku percaya penuh padamu, Annisa Atinda. Untuk itu jangan sekalipun kecewakanku.”
Glek. Atin menelan ludah susah payah, ia harus terjebak di situasi itu?
Janji yang dalam sudut pandang Alex relatif eksterm. Salah sedikit, tamatlah riwayat Atin. Jadi butiran debu. Terbakar.
Jadi lebih buruk dari yang Atin pikir. Alex terlalu keras hingga Atin terikat penuh.
Janji apa yang terjerat?
Harusnya tidak.
Oke, say good bye untuk bebas. Sejak bertemu Alex, Atin memang harus bilang selamat tinggal pada segala kenyaman, kebebasan, dan rasa-rasa tersebut. Bahkan sekarang ia sepenuhnya milik Alexis. Tak bisa lepas.
Atin mengangguk, ia harus jalani. Senyum Alex terbit. Masih dengan tersenyum Alex usap air mata Atin. Perlahan mendekatkan wajahnya untuk cium bibir sang kekasih.
Haruskah sekuat ini gejolak rasa dan hidup?
Kembali, Atin jadi kambing yang ikut kemanapun tuannya pergi, dipasangkan tali kekang. Tak bebas bergerak. Keledai dungu yang tak berkelas. Inilah akhirnya. Suara lenguhan kembali terdengar, aktivitas Alex lebih jauh saat ia berjongkok dekat bagian intinya. Oleh sebab aktivitas awal, tenaga Atin terkuras habis, ia tak bisa lakukan apapun saat Alex bergerak sejauh itu.
Atin tersentak, apa yang terjadi!?
Ia menjerit saat benda asing menerobos masuk, terasa penuh, mengganjal habis dan ambil alih dunia Atin.
Kenapa malah jadi begini!?
“Alex?”
Napas Atin tak teratur, ia lebih jauh dari yang ia pikir benar. Sejauh yang ia tahu, hanya ada gelap, berkunang-kunang sampai bergetar. Hanya itu.
Atin tahu kalau Alex beri rangsangan lebih melalui lidah nakal dan jari-jari. Cukup dan selesai, Atin lebih kotor daripada sampah. Ia tak mampu lakukan apapun yang benar untuk hal tersebut. Ia hanya tahu kalah lalu tak miliki kesempatan.
Saat Alex selesai, orang tersebut pun bangkit. Pas, detik itu juga Atin pasti terjatuh jikalau tak ditahan oleh orang tersebut. Atin lemah, bukan hanya secara fisik, psikis, akan tetapi juga harga diri. Dunia kejam nan gelap.
Alex sigap bergerak untuk bawa Atin ke sofa dekat mereka, kemudian membaringkan Atin ditempat tersebut. Bisa Alex lihat air mata mengalir deras dari mata kekasihnya. Sisi lain dalam diri Alex tertekan, sakit lihat Atin menangis.
Ia tak lakukan apapun selain usap air mata Atin, Alex tahu kalau perbuatannya salah, harga diri Atin terluka. Sayangnya Alex tak minta maaf, ia justru semakin penasaran.
Mungkin sekitar dua atau tidak tiga menit Atin menangis dalam diam, setelah itu ia pun berhenti. Alex kembali angkat tubuh lunglai itu untuk bersandar di sofa bukan berbaring lagi. Alex tahu, Atin butuh leluasaan bergerak. Ia juga butuh minum.
Tanpa bicara Alex pun langsung ambil air yang memang tersedia di atas meja.
“Minum,” ujar Alex terkesan memaksa, namun masih lembut. Kira-kira begitu sih.
Lagi-lagi Atin nurut, ia ambil air dari orang tersebut. Agak aneh saat merasa detik-detik itu adalah hal terburuk dalam sepanjang hidup Atin.
Atin beralih sepenuhnya ke Alex. Tak bisa ia biarkan. Alex sudah berada bertindak jauh. Lama kelamaan, mahkota Atin terenggut bahkan tanpa ia sadari sedikitpun.
Alex pandai memanfaatkan situasi dan kondisi.
“Kau sayang aku atau tidak? Ini salah Al, bukan begini cara menyangi seseorang. Kau merusak orang yang kau sayangi dan itu menyakitiku. Kau punya hati nurani? Kalau ada, setidaknya sedikit, tolong beri untukku.”
Alex tersentak sebelum akhirnya tertegun. Ia kesal serta tersinggung, ada banyak percampuran rasa yang buat Alex tak nyaman. Atin dan dia berselisih paham pada bagian hal yang tak kenal bagaimana baiknya. Alex paham benar.
Lantas apakah yang terjadi selanjutnya?
*****Sesuai yang Atin dan Alex rencanakan diawal, setelah kedua orang tersebut selesai beraktivitas untuk pekerjaan paruh waktu Atin. Keduanya menuju rumah Alex. Untuk mengerjakan proposal.
Tak terjadi hal buruk, Alex bersikap biasa. Orang itu tak tunjukkan kejanggalan sedikitpun setelah lihat Atin dan Darkos. Dalam defenisi hidup Alex, ada yang namanya ketepatan waktu, sikon pas. Kalau sudah, baru ia bergerak. Walau kebanyakan langsung sih. Alex bukan orang konsisten.
Dia hanya bertindak sesuai selera hati.
Untuk sekarang masih bisa Alex tahan. Lantas, saat sudah sampai rumah Alex, orang tersebut langsung kunci pergerakan Atin.
Atin tentu kaget.
Why?
Atin pikir semua baik-baik saja, kenapa sekarang berubah buruk?
“Ada apa, aku salah?” Atin menunduk. Ia takut ke aura yang Alex pancarkan. Sangat gelap.
Napas Alex memburu. Masih bertanya salah atau tidak, Atin tak peka terhadap kesalahan sendiri?
Oh, harus Alex ingatkan terlebih dahulu. Orang seperti Atin memang kurang tahu bagaimana dan bagian apa kesalahannya. Ia anggap interaksi tersebut wajar namun tidak bagi Alex!
Alex tak mau kehilangan orang yang ia cintai. Tak boleh walau apapun yang terjadi!
Meski hanya sekedar intraksi wajar, Alex tak terima. Marah.
“Kau bicara dengan Darkos saat di perpustakan tadi, aku tidak suka.”
Mata Atin membulat, jadi Alex membolos hanya untuk memata-matai aktivitas ia dan Darkos?
Kekanakan. Harus Atin perbaiki cara berpikir Alex. Hanya saja harus dengan cara khusus. Kemungkinan berhasil berkisar 20-30%. Oke, Atin pikir tak ada salahnya mencoba.
Atin menunduk dalam, ia terlihat sangat bersalah. Sedih.
“Maaf, aku ingin hidup normal. Berinteraksi dengan orang lain belum tentu aku akan meninggalkanmu. Justru dengan bersikap begini, kita jadi tak nyaman satu sama lin. Aku tertekan, kau lebih buruk saat membullyku sebab sekarang posisi kita beda.”
Air mata tak dapat Atin bendung, lalu air mata tersebut bukanlah kepura-puraan. Dirinya juga tak sedang memanfaatkan emosi serta kepekaan untuk menipu Alex. Semua murni terhadap hal yang harus, bisa dan boleh Atin perbuat. Ia sedih dan sakit.
Alex tak suka lihat orang yang ia cintai menangis, oleh sebab itu ia elus wajah Atin. Saat orang yang ia cintai menangis, secara tak langsung bilang Alex benar-benar payah. Tak becus membahagiakan atau setidaknya buat orang yang ia cintai nyaman. Disanalah letak kekalahan seorang Alexis.
“Jangan nangis, ku mohon."
Wajah Alex terlihat merasa bersalah, ekspresi tersebut berubah di eeperkian detik selanjutnya. Bak orang berkepribadian ganda.
"Kamu salah jadi aku tak akan minta maaf. Atin, kamu harus lakukan sesuatu untukku agar nanti tak terlalu pikirkan hal ini. Sudah ku bilang jangan dekat Darkos, aku sensitif terhadapnya. Bagimu interaksi dengannya wajar, tapi bagiku tidak. Parameter pengukuran kita beda,” ujar Alex tegas.
Masih belum ia lepas kunkungannya dari Atin. Mungkin akan lama Alex lakukan hal tersebut, toh lagipula ia suka.
Mode ambil kesempatan dalam kesempitan on.
Alex dekat dengan Atin, orang tersebut berada penuh dalam jangkaunnya, dalam penglihatan Alex dan yang terpenting, hanya untuknya. Tidak orang lain. Alex tak mau berbagi, sudah jadi hak paten!
Atin masih menangis, ia tak tahu bagaimana cara lawan sistem berpikir Alex. Rasanya terlalu sulit walau Atin jadi psikiater sekalipun. Orang tersebut keras, Alex hanya percaya terhadap hal yang ia anggap benar.
Setelah itu, kalau ada sisi baik aspek ‘kebetulan,’ baru deh bisa nyambung. Itu pun kalau ada, kalau tidak Alex tak kalah pintar untuk berdebat.
Apda akhirnya Atin dan Alex tak kan pernah nyambung. Selalu berselisih.
“Alex, kau ingin orang yang berada dekatmu nyaman kan? Kalau begitu tolong dengar aku baik-baik. Tak semua fleksibel ataupun statis. Pemahaman seseorang pun bersifat relatif, kau tak harus berpegang teguh ke sesuatu yang saklek. Bagimu itu benar, tak peduli apapun anggapan orang lain. Bak seperti kau adalah dunia batas dan garis antara wajar dan tidak. Kau kuat dan aku merasa itu benar-benar menakutkan. Aku takut Al."
Susah payah Atin kumpulkan tekad ia bicara baik-baik. Setelah ini, ia harus bersyukur kaai Alex tak ngamuk. Tapi kalau berhasil, Atin selangkah lebih dekat ke orang tersebut.
"Kau baik Alex, berdebat tak akan hasilkan apapun. Kita tak selesai. Intinya, kau ingin buat seseorang tersebut nyaman kan? Kalau begitu aku ingin kita hargai privasi masing-masing. Selama aku bisa kau percaya, maksudku kita saling mempercayai, kita bisa. Kau… percaya padaku?”
Atin lihat Alex intens tanpa lepas kontak mata sedikit pun. Ia masih menangis, saat ini Atin senggugukan bak anak kecil. Sulit bicara ketika kita begitu, Atin tengah berusaha.
Sejak berpacaran dengan Alex, Atin janji pada dirinya sendiri. Banyak hal yang harus ia korbankan. Atin sudah tak suci, kebodohan oleh rasa ‘percaya dan keyakinan’ untuk saling memperbaiki satu sama lain. Disanalah letak ketidakwarasan antara mereka.
Sejak awal hubungan tersebut aneh, terbentuknya saja tak wajar.
Alex tertegun, ia paham benar terhadap yang Atin bilang, namun, tetap saja, Alex tak mau berbagi.
Demi rasa nyaman?
Harus?
Pada akhirnya Alex pun mengangguk, itu mungkin yang terbaik. Setidaknya untuk sekarang.
“Oke, kau bertanggung jawab terhadap perkataanmu, aku percaya penuh padamu, Annisa Atinda. Untuk itu jangan sekalipun kecewakanku.”
Glek. Atin menelan ludah susah payah, ia harus terjebak di situasi itu?
Janji yang dalam sudut pandang Alex relatif eksterm. Salah sedikit, tamatlah riwayat Atin. Jadi butiran debu. Terbakar.
Jadi lebih buruk dari yang Atin pikir. Alex terlalu keras hingga Atin terikat penuh.
Janji apa yang terjerat?
Harusnya tidak.
Oke, say good bye untuk bebas. Sejak bertemu Alex, Atin memang harus bilang selamat tinggal pada segala kenyaman, kebebasan, dan rasa-rasa tersebut. Bahkan sekarang ia sepenuhnya milik Alexis. Tak bisa lepas.
Atin mengangguk, ia harus jalani. Senyum Alex terbit. Masih dengan tersenyum Alex usap air mata Atin. Perlahan mendekatkan wajahnya untuk cium bibir sang kekasih.
Haruskah sekuat ini gejolak rasa dan hidup?
Kembali, Atin jadi kambing yang ikut kemanapun tuannya pergi, dipasangkan tali kekang. Tak bebas bergerak. Keledai dungu yang tak berkelas. Inilah akhirnya. Suara lenguhan kembali terdengar, aktivitas Alex lebih jauh saat ia berjongkok dekat bagian intinya. Oleh sebab aktivitas awal, tenaga Atin terkuras habis, ia tak bisa lakukan apapun saat Alex bergerak sejauh itu.
Atin tersentak, apa yang terjadi!?
Ia menjerit saat benda asing menerobos masuk, terasa penuh, mengganjal habis dan ambil alih dunia Atin.
Kenapa malah jadi begini!?
“Alex?”
Napas Atin tak teratur, ia lebih jauh dari yang ia pikir benar. Sejauh yang ia tahu, hanya ada gelap, berkunang-kunang sampai bergetar. Hanya itu.
Atin tahu kalau Alex beri rangsangan lebih melalui lidah nakal dan jari-jari. Cukup dan selesai, Atin lebih kotor daripada sampah. Ia tak mampu lakukan apapun yang benar untuk hal tersebut. Ia hanya tahu kalah lalu tak miliki kesempatan.
Saat Alex selesai, orang tersebut pun bangkit. Pas, detik itu juga Atin pasti terjatuh jikalau tak ditahan oleh orang tersebut. Atin lemah, bukan hanya secara fisik, psikis, akan tetapi juga harga diri. Dunia kejam nan gelap.
Alex sigap bergerak untuk bawa Atin ke sofa dekat mereka, kemudian membaringkan Atin ditempat tersebut. Bisa Alex lihat air mata mengalir deras dari mata kekasihnya. Sisi lain dalam diri Alex tertekan, sakit lihat Atin menangis.
Ia tak lakukan apapun selain usap air mata Atin, Alex tahu kalau perbuatannya salah, harga diri Atin terluka. Sayangnya Alex tak minta maaf, ia justru semakin penasaran.
Mungkin sekitar dua atau tidak tiga menit Atin menangis dalam diam, setelah itu ia pun berhenti. Alex kembali angkat tubuh lunglai itu untuk bersandar di sofa bukan berbaring lagi. Alex tahu, Atin butuh leluasaan bergerak. Ia juga butuh minum.
Tanpa bicara Alex pun langsung ambil air yang memang tersedia di atas meja.
“Minum,” ujar Alex terkesan memaksa, namun masih lembut. Kira-kira begitu sih.
Lagi-lagi Atin nurut, ia ambil air dari orang tersebut. Agak aneh saat merasa detik-detik itu adalah hal terburuk dalam sepanjang hidup Atin.
Atin beralih sepenuhnya ke Alex. Tak bisa ia biarkan. Alex sudah berada bertindak jauh. Lama kelamaan, mahkota Atin terenggut bahkan tanpa ia sadari sedikitpun.
Alex pandai memanfaatkan situasi dan kondisi.
“Kau sayang aku atau tidak? Ini salah Al, bukan begini cara menyangi seseorang. Kau merusak orang yang kau sayangi dan itu menyakitiku. Kau punya hati nurani? Kalau ada, setidaknya sedikit, tolong beri untukku.”
Alex tersentak sebelum akhirnya tertegun. Ia kesal serta tersinggung, ada banyak percampuran rasa yang buat Alex tak nyaman. Atin dan dia berselisih paham pada bagian hal yang tak kenal bagaimana baiknya. Alex paham benar.
Lantas apakah yang terjadi selanjutnya?
*****