Tak bisakah 'kau: buat lebih mempersempit takut untuk beberapa kegiatan 'kita?'
Semua yang terjadi buatku sulit, sayangnya sepertinya kau tak kan pernah paham. Kita berselisish paham. Harus ini dan itu sedangkan kita tak mampu samakan jalan berpikir. Itu sangat buatku sakit.
Annisa Atinda, orang yang tersakiti.
***
Sekarang dua orang tersebut saling diam. Tak ada yang berniat buka pembicaraan. Cukup, itu selesai.
Ah, jikalau ada kesempatan, Atin sangat ingin pergi. Tinggalkan tempat bak neraka baginya. Jika suatu tempat hanya menyisakan sakit, untuk apa bertahan disana?
Ini bukan soal bodoh, hanya keinginan waras dari seseorang. Sekitar beberapa detik kemudian Alex pun berucap. Sudahlah, cukup.
“Ayo makan, kau pasti lapar. Kalau kau bertanya dimana Mama dan Papa, mereka jarang pulang kesini. Well, aku sudah besar, saat kecil pun Nenek yang urus, setelah beliau pergi aku dititipkan ke babysitter. Aku tak masalah dengan itu. Aku masih ada sampai sekarang. Kita sudahi saling diam ini,” ujar Alex. Sebegitu mudah sampai Atin berpikir orang itu benar-benar bisa dipercaya atau tidak.
Setidaknya untuk berubah lebih baik. Kebanyakan laki-laki tak bisa di percaya. Mulut mereka adalah racun. Lalu sulit untuk tentukan mana yang pantas dan tidak. Dunia terlalu gila.
Alex hendak tarik tangan sang kekasih untuk ikut bersamanya. Lalu seolah tak terjadi apa-apa, orang tersebut pun berucap kembali. Selalu begitu. Yang sialnya buat hal tak masuk akal untuk Atin.
Kenapa buruk?
Berakhir buruk.
“Kau bisa masak. Aku rindu masakan rumahan, bukan beli. Aku terlalu malas untuk buat makanan, semua terlalu praktis untuk tak ku pakai dan ku manfaatkan. Kau tahu, aku dimanjakan oleh harta."
Wow, Atin terkesiap, nada bicara Alex sudah terdengar seperti biasanya. Padahal tadi Atin lihat dengan jelas bahwa orang tersebut tegang sampai wajahnya memerah. Kemungkinan besar Alex tersinggung.
Lalu kemudian, justru hal tersebut yang Atin dapat?
Harus bersyukur?
Sikap Atin yang berarti ketidak normalan juga. Pin termasuk ke Alex. Orang tersebut terlalu cepat berubah-ubah. Bak orang berkepribadian ganda, binal dan 4 D. Bukan menjudge orang yang begitu, cuman ya memang rada aneh. Strata seseorang tak dapat dilihat dari bagaimana kepribadian yang menjelma jadi 'kekurangan' yang benar-benar kekurangan.
Bukan buruk.
Atin spontan menggeleng, ini normal kok. Banyak orang yang masih tingkat wajar untuk sikap arogansi begitu.
Masalahnya, Alex berlebihan atau tidak?
Sudah Atin, berhenti berpikir!
Untuk saat itu lebih baik cukup.
Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah dapur. Lagi-lagi tempat tersebut buat Atin tak berkutik, sangat indah. Sesuai antara desain interior dan tambahan unsur artistik kuno.
“Atin, kau belum jawab pertanyaanku.” Alex usap bahu sang kekasih. Respon Atin hanya natap bingung, ia terlalu fokus ke hal yang ia pikir, mengagumi desain dapur. Jadi Atin pun kurang connect.
“Eh, maaf, aku gak tahu,” ujar Atin. Berdehem sebentar yang kemudian lanjut kembali, “bisa kok, aku hidup sendiri. Aku hanya gak tahu apakah masakanku cocok atau tidak di lidahmu. Soal rasa aku tak terlalu selektif, saat sudah makan aja sudah cukup.” Diakhir kalimat Atin tersenyum tipis.
Itu benar, memang begitulah adanya. Alex mengangguk, ia usap pelan kepala Atin, seakan-akan bilang bahwa ia sangat menyayangi orang tersebut. Alex respon ucapan sang kekasih. “gak apa-apa kok, apapun makanan yang kamu masak dan rasanya, aku akan tetap makan, tak perlu khawatir.”
Sebuah pengertian dan buat nyaman, cuma Alex memang dasarnya keras kepala dan otoriter. Di bagian sana Atin sangat tertekan. Tak jarang bingung cara sikapi hal tersebut. Banyak yang buat sulit. Hah.. yang mana harus dan tidak.
Tak adakah batasan dalam hidup seorang Alex?
Alexis terlalu pemaksa, Atin kurang bisa imbangi sikap tersebut. Terlalu takut untuk banyak keadaan dan kondisi.
“Sudah cepat masak, kamu nginep ya, aku gak mau tahu malam ini kamu harus periksa proposalku. Janji gak lecehkan kamu lagi. Padahal itu caraku untuk…”
“Sssttt.” Atin hentikan ucapan Alex dengan tutup mulut orang tersebut. Bukan pakai salah satu jari dengan gerakan sensual, tangan dan pakai seluruh jarinya sekaligus.
Kalau tidak gitu mereka tak kan pernah selesai.
Alex tersenyum miring, tapi bukan smirik.
Atin rolling eyes. Ia pun beralih ke alat masak. Memang pemalas. Alat masak semuanya lengkap, Alex saja yang terlalu dimanjakan oleh harta. Sama seperti yang ia bilang barusan.
“Baiklah, kamu yang nyuruh, aku ngerasa sangat terhormat. Sekarang aku ingin masak. Nanti gak selesai-selesai. Kamu mandi gih, bau.”
Senyum ramah Alex terlihat. Ia suka ke cara berucap Atin. Untuk saat itu mereka belum jadi bertengkar, hal tersebut masih di cancel. Biar waktu dan keadaan yang lihat dan bawa kemanakah mereka harus pergi.
“Siap bos, masak yang enak ya, semua bahannya di lemari ini dan kulkas. Aku sengaja nyuruh karyawan Papa beli bahan makanan biar aku bisa cicipi masakan kamu. Ngomong-ngomong, aku suka segala jenis olahan ayam. Masak itu saja.”
Atin mengangguk, itu yang terbaik. Ia mendorong Alex untuk segera pergi. Ia harus cepat. Sesekali Atin lihat jam, sudah pukul 16.30, terlalu cepat. Waktu memang tak bisa Atin manage kalau ia sibuk terus. Tak ada istilah tanggal merah, pokonya kerja tanpa libur.
Jadwal Atin pulang kerja part time pukul 16.00. Terkhusus hari itu pulang lebih awal yaitu 15.30.
Sekitar beberapa menit kemudian masakan Atin pun selesai. Atin masak beberapa ayam goreng dan gulai ayam. Seperti yang Alex mau, ia pakai bahan dasar ayam semua. Biar Alex gak marah. Saat Atin lihat, ternyata orang tersebut sudah selesai mandi.
Wangi, Atin baru tahu Alex pakai aroma sabun rasa buah. Lucu aja, kayak anak kecil.
“Aku izin mandi, kamu makan duluan, gak usah tunggu aku,” ujar Atin yang bersiap mandi. Ia sudah bawa beberapa potong baju. Alex nurut untuk berhenti sebentar di rumahnya.
“Eh, memangnya kamu tahu harus mandi dimana?”
Shit, saat-saat seperti ini Alex masih sempat-sampatnya main-main. Ya mana Atin tahu, ia kan baru ingin nanya. Sayangnya orang tersebut sudah lebih dulu menggoda, makanya gini deh.
Atin menggeleng.
“Tidak, aku bau mau nanya. Dimana?”
“Nanti aja mandinya, sekarang kamu ikut makan. Temani aku makan. Aku gak manja lho, cuman selama ini memang gak pernah makan sama-sama. Kalau sudah punya pacar kan lebih baik makan sama-sama.” Alis Alex naik turun bak tengah menggoda.
Ck, alasan. Kalau dilihat-lihat sih, wajah Alex imut juga. Puppy eyes itu selalu bisa buat Atin tertarik jauh, sehingga tanpa sadar ia selalu menurut. Jadi kambing bodoh yang ikut semua hal yang orang tersebut mau.
Atin tersenyum. Oke, no problem. Makan sama-sama adalah hal yang paling menarik untuk dilakukan.
Tanpa bicara sepatah kata pun Atin bawa hasil masakannya ke meja makan yang kebetulan berada tak jauh dari tempat mereka. Tangan mungil tersebut telaten menyiapkan makanan ke piring untuk ia dan Alex. So sweet. Kalau dipikir-pikir mereka bak suami istri yang baru menikah.
pengalaman pertama pacaran itu yang terbaik dalam sejarah hidup Atin. Sekaligus menjadi yang terburuk.
Ah entahlah, Atin pun tak terlalu paham. Banyak hal yang buat dirinya sulit.
Terlepas dari yang terjadi, Atin penasaran, makan sama lawan jenis itu euforianya bakal gimana?
“Makan yang banyak.” Setelah bilang begitu Atin pun tersenyum.
Ia makan dan wow, rasanya enak. Jujur Atin jarang masak ayam sebagai bahan utamanya. Ia sering masak sayur. Itu pun juga enak sih, cuman ya tak seenak bahan utama ayam.
Gak bersyukur?
Setiap manusia punya hasrat ingin ini dan itu. Tak ada yang sempurna, baik dan menarik. Manusia pun bersifat dinamis.
Atin merasa baik untuk beberapa alasan, dirinya cukup 'bersyujur.'
“Enak?” Alex yang bertanya, bukan Atin.
Harusnya kan yang masak bertanya begitu.
Atin mengangguk, rasa masakan tersebut enak untuk ia rasakan dengan sebenar-benarnya. Kalau boleh, Atin kepengen makan banyak-banyak.
Tak ada rasa malu sedikitpun!
“Lain kali bilang kamu ingin masak apa. Aku suka masakanmu, lalu ini rasanya sangat pas di lidahku. Jadi koki aku ya,” celutuk Alex.
Dirinya serius terhadap yang ia bilang. Buktinya, orang tersebut makan sangat lahap. Atin dan dirinya sangat cocok makan bersama!
Habis rakusnya samaan.
“Oke, aku ingin coba masak sosis dan telur puyuh. Apa boleh?”
Setelah selesai minum, Atin bertanya ke Alex. Yang langsung saja buat Alex gemas lihat. Tahan, gak boleh cubit pipi Atin. Harus tahan.
Senyum Alex pun terlihat. Ia senang, ia dan Atin akur. Tak kan ada yang menyangkal kalau tadi mereka sempat berselisih paham.
Masih dengan tersenyum Alex respon ucapan Atin.
“Tentu, untuk sekarang masak yang ada di lemari dan kulkas dulu ya. Biar hemat. Kalau sudah habis baru kita beli sosis dan telur puyuh," ujar Alex hangat. Ia bak matahari yang mengintip malu-malu di pagi hari.
Full sun. Alex ingat, terakhir kali ia begitu adalah saat sang nenek bilang tak kan menyerah dari sakit yang dideritanya. Namun kenyataannya orang tersebut kalah. Waktu itu Alex masih terlalu kecil, ia anggap sang nenek membohonginya.
Semua ucapan sang nenek Alex anggap serius. Bahkan bercandaan pun dianggap serius. Tak jarang karena itu mereka pun bertengkar ringan. Yang pada akhirnya Alex mengalah. Demi nenek.
Hanya itu yang Alex kecil pikirkan.
Untuk hal tersebut Atin bersyukur. Tak harus Atin yang singgung, ternyata Alex pun sepemikiran. Kedua orang tersebut tertawa bersama. Lanjut makan sampai proses tersebut berakhir.
“Selesai. Aku ingin mandi, sudah lengket. Biasanya aku mandi dulu sebelum makan. Mana kamar mandinya?”
Alex tersenyum. Ia gemas ke Atin.
“Gimana kalau mandi sama-sama?”
Plak!
Bukannya takut setelah melakukan itu, Atin justru tertawa. Wajah tegang Alex pun jadi ikut yang Atin lakukan. Secara alamiah Alex tertawa. Biasanya pasti langsung marah-marah.
Atin beralih sepenuhnya ke Alex. Kebiasaannya sudah ia tunjukkan ke orang tersebut.
“Terbiasalah dengan caraku kesal, kadang aku suka lepas. Dengan begini berarti aku sudah terbuka padamu, maaf ya,” ujar Atin.
Ia kembali lanjut bicara.
“Mana kamar mandinya. Serius, aku sudah gak nyaman. Kamu bilang kan gak 'gituan' lagi."
Alex mengangguk. Agaknya atinnsufah sangat risih. Oleh sebab itu langsung ia kasih tahu saja. Kasihan Atin kepengen mandi.
“Ya sudah, di sebelah kiri dekat dapur. Pintunya warna hijau.”
Atin mengangguk, ia pikir ada banyak kamar mandi di rumah besar itu. Pasti, biar gak nyasar, Atin harus segera bergegas.Tak hanya baju, Atin pun juga sekalian bawa handuk. Pikiran orang tersebut memang sudah siap sedia. Istilahnya sedia payunglah.
Bahkan untuk alat mandi seperti sabun pun sudah bawa. Cuma gak semua, Atin hanya bawa alat-alat yang benar-benar penting.
Selama Atin mandi, Alex lihat ponsel Atin-nya. Alex penasaran, apa saja isi ponsel sang kekasih?
Alex pun menelusuri isi ponsel Atin. Ternyata ada nomor Darkos. Tanpa pikir panjang langsung Alex block nomor tersebut kemudian menghapusnya.
Setelah ini harus Alex kasih tahu ke Atin untuk tak simpan nomor Darkos. Boleh Atin menghubingi, cuman gak boleh disimpan. Aduh, padahal jatuhnya sama aja toh. Dasar Alex.
Atin selesai mandi, kemudian ia pun langsung hampiri Alex. Disana ada beberapa sabun yang sama dengan milik Alex. Mungkin sudah sengaja disiapin sih.
Sengaja Atin tak pakai sabun yang ia bawa. Entah pikiran dari mana, Atin tergerak untuk pakai milik Alex.
Jarang-jarang sekali, gak apa-apalah.
Alex pun beralih sepenuhnya ke Atin.
“At, kamu gak boleh simpan nomor Darkos. Aku sudah hapus nomornya dan kamu gak boleh bantah. Kalian boleh berkomunikasi tapi kamu gak boleh simpan nomor orang itu. Nomornya menganggu pandanganku.”
Cobaan macam apalagi ini ya Tuhan. Sifat psosesif Alex gak ketulungan. Buat Atin sangat gerah hati dan body!
Oke, Atin paham. Tinggal turuti perintah Alex. Setelah itu cukup. Semua akan baik-baik saja. Semoga Atin bisa bertahan, ia tak tahu seberapa lama hati dan akal sehatnya bertahan ke sifat Alex yang terlalu posesif.
*****Harusnya Ini!
Tak bisakah 'kau: buat lebih mempersempit takut untuk beberapa kegiatan 'kita?'
Semua yang terjadi buatku sulit, sayangnya sepertinya kau tak kan pernah paham. Kita berselisish paham. Harus ini dan itu sedangkan kita tak mampu samakan jalan berpikir. Itu sangat buatku sakit.
Annisa Atinda, orang yang tersakiti.
***
Sekarang dua orang tersebut saling diam. Tak ada yang berniat buka pembicaraan. Cukup, itu selesai.
Ah, jikalau ada kesempatan, Atin sangat ingin pergi. Tinggalkan tempat bak neraka baginya. Jika suatu tempat hanya menyisakan sakit, untuk apa bertahan disana?
Ini bukan soal bodoh, hanya keinginan waras dari seseorang. Sekitar beberapa detik kemudian Alex pun berucap. Sudahlah, cukup.
“Ayo makan, kau pasti lapar. Kalau kau bertanya dimana Mama dan Papa, mereka jarang pulang kesini. Well, aku sudah besar, saat kecil pun Nenek yang urus, setelah beliau pergi aku dititipkan ke babysitter. Aku tak masalah dengan itu. Aku masih ada sampai sekarang. Kita sudahi saling diam ini,” ujar Alex. Sebegitu mudah sampai Atin berpikir orang itu benar-benar bisa dipercaya atau tidak.
Setidaknya untuk berubah lebih baik. Kebanyakan laki-laki tak bisa di percaya. Mulut mereka adalah racun. Lalu sulit untuk tentukan mana yang pantas dan tidak. Dunia terlalu gila.
Alex hendak tarik tangan sang kekasih untuk ikut bersamanya. Lalu seolah tak terjadi apa-apa, orang tersebut pun berucap kembali. Selalu begitu. Yang sialnya buat hal tak masuk akal untuk Atin.
Kenapa buruk?
Berakhir buruk.
“Kau bisa masak. Aku rindu masakan rumahan, bukan beli. Aku terlalu malas untuk buat makanan, semua terlalu praktis untuk tak ku pakai dan ku manfaatkan. Kau tahu, aku dimanjakan oleh harta."
Wow, Atin terkesiap, nada bicara Alex sudah terdengar seperti biasanya. Padahal tadi Atin lihat dengan jelas bahwa orang tersebut tegang sampai wajahnya memerah. Kemungkinan besar Alex tersinggung.
Lalu kemudian, justru hal tersebut yang Atin dapat?
Harus bersyukur?
Sikap Atin yang berarti ketidak normalan juga. Pin termasuk ke Alex. Orang tersebut terlalu cepat berubah-ubah. Bak orang berkepribadian ganda, binal dan 4 D. Bukan menjudge orang yang begitu, cuman ya memang rada aneh. Strata seseorang tak dapat dilihat dari bagaimana kepribadian yang menjelma jadi 'kekurangan' yang benar-benar kekurangan.
Bukan buruk.
Atin spontan menggeleng, ini normal kok. Banyak orang yang masih tingkat wajar untuk sikap arogansi begitu.
Masalahnya, Alex berlebihan atau tidak?
Sudah Atin, berhenti berpikir!
Untuk saat itu lebih baik cukup.
Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah dapur. Lagi-lagi tempat tersebut buat Atin tak berkutik, sangat indah. Sesuai antara desain interior dan tambahan unsur artistik kuno.
“Atin, kau belum jawab pertanyaanku.” Alex usap bahu sang kekasih. Respon Atin hanya natap bingung, ia terlalu fokus ke hal yang ia pikir, mengagumi desain dapur. Jadi Atin pun kurang connect.
“Eh, maaf, aku gak tahu,” ujar Atin. Berdehem sebentar yang kemudian lanjut kembali, “bisa kok, aku hidup sendiri. Aku hanya gak tahu apakah masakanku cocok atau tidak di lidahmu. Soal rasa aku tak terlalu selektif, saat sudah makan aja sudah cukup.” Diakhir kalimat Atin tersenyum tipis.
Itu benar, memang begitulah adanya. Alex mengangguk, ia usap pelan kepala Atin, seakan-akan bilang bahwa ia sangat menyayangi orang tersebut. Alex respon ucapan sang kekasih. “gak apa-apa kok, apapun makanan yang kamu masak dan rasanya, aku akan tetap makan, tak perlu khawatir.”
Sebuah pengertian dan buat nyaman, cuma Alex memang dasarnya keras kepala dan otoriter. Di bagian sana Atin sangat tertekan. Tak jarang bingung cara sikapi hal tersebut. Banyak yang buat sulit. Hah.. yang mana harus dan tidak.
Tak adakah batasan dalam hidup seorang Alex?
Alexis terlalu pemaksa, Atin kurang bisa imbangi sikap tersebut. Terlalu takut untuk banyak keadaan dan kondisi.
“Sudah cepat masak, kamu nginep ya, aku gak mau tahu malam ini kamu harus periksa proposalku. Janji gak lecehkan kamu lagi. Padahal itu caraku untuk…”
“Sssttt.” Atin hentikan ucapan Alex dengan tutup mulut orang tersebut. Bukan pakai salah satu jari dengan gerakan sensual, tangan dan pakai seluruh jarinya sekaligus.
Kalau tidak gitu mereka tak kan pernah selesai.
Alex tersenyum miring, tapi bukan smirik.
Atin rolling eyes. Ia pun beralih ke alat masak. Memang pemalas. Alat masak semuanya lengkap, Alex saja yang terlalu dimanjakan oleh harta. Sama seperti yang ia bilang barusan.
“Baiklah, kamu yang nyuruh, aku ngerasa sangat terhormat. Sekarang aku ingin masak. Nanti gak selesai-selesai. Kamu mandi gih, bau.”
Senyum ramah Alex terlihat. Ia suka ke cara berucap Atin. Untuk saat itu mereka belum jadi bertengkar, hal tersebut masih di cancel. Biar waktu dan keadaan yang lihat dan bawa kemanakah mereka harus pergi.
“Siap bos, masak yang enak ya, semua bahannya di lemari ini dan kulkas. Aku sengaja nyuruh karyawan Papa beli bahan makanan biar aku bisa cicipi masakan kamu. Ngomong-ngomong, aku suka segala jenis olahan ayam. Masak itu saja.”
Atin mengangguk, itu yang terbaik. Ia mendorong Alex untuk segera pergi. Ia harus cepat. Sesekali Atin lihat jam, sudah pukul 16.30, terlalu cepat. Waktu memang tak bisa Atin manage kalau ia sibuk terus. Tak ada istilah tanggal merah, pokonya kerja tanpa libur.
Jadwal Atin pulang kerja part time pukul 16.00. Terkhusus hari itu pulang lebih awal yaitu 15.30.
Sekitar beberapa menit kemudian masakan Atin pun selesai. Atin masak beberapa ayam goreng dan gulai ayam. Seperti yang Alex mau, ia pakai bahan dasar ayam semua. Biar Alex gak marah. Saat Atin lihat, ternyata orang tersebut sudah selesai mandi.
Wangi, Atin baru tahu Alex pakai aroma sabun rasa buah. Lucu aja, kayak anak kecil.
“Aku izin mandi, kamu makan duluan, gak usah tunggu aku,” ujar Atin yang bersiap mandi. Ia sudah bawa beberapa potong baju. Alex nurut untuk berhenti sebentar di rumahnya.
“Eh, memangnya kamu tahu harus mandi dimana?”
Shit, saat-saat seperti ini Alex masih sempat-sampatnya main-main. Ya mana Atin tahu, ia kan baru ingin nanya. Sayangnya orang tersebut sudah lebih dulu menggoda, makanya gini deh.
Atin menggeleng.
“Tidak, aku bau mau nanya. Dimana?”
“Nanti aja mandinya, sekarang kamu ikut makan. Temani aku makan. Aku gak manja lho, cuman selama ini memang gak pernah makan sama-sama. Kalau sudah punya pacar kan lebih baik makan sama-sama.” Alis Alex naik turun bak tengah menggoda.
Ck, alasan. Kalau dilihat-lihat sih, wajah Alex imut juga. Puppy eyes itu selalu bisa buat Atin tertarik jauh, sehingga tanpa sadar ia selalu menurut. Jadi kambing bodoh yang ikut semua hal yang orang tersebut mau.
Atin tersenyum. Oke, no problem. Makan sama-sama adalah hal yang paling menarik untuk dilakukan.
Tanpa bicara sepatah kata pun Atin bawa hasil masakannya ke meja makan yang kebetulan berada tak jauh dari tempat mereka. Tangan mungil tersebut telaten menyiapkan makanan ke piring untuk ia dan Alex. So sweet. Kalau dipikir-pikir mereka bak suami istri yang baru menikah.
pengalaman pertama pacaran itu yang terbaik dalam sejarah hidup Atin. Sekaligus menjadi yang terburuk.
Ah entahlah, Atin pun tak terlalu paham. Banyak hal yang buat dirinya sulit.
Terlepas dari yang terjadi, Atin penasaran, makan sama lawan jenis itu euforianya bakal gimana?
“Makan yang banyak.” Setelah bilang begitu Atin pun tersenyum.
Ia makan dan wow, rasanya enak. Jujur Atin jarang masak ayam sebagai bahan utamanya. Ia sering masak sayur. Itu pun juga enak sih, cuman ya tak seenak bahan utama ayam.
Gak bersyukur?
Setiap manusia punya hasrat ingin ini dan itu. Tak ada yang sempurna, baik dan menarik. Manusia pun bersifat dinamis.
Atin merasa baik untuk beberapa alasan, dirinya cukup 'bersyujur.'
“Enak?” Alex yang bertanya, bukan Atin.
Harusnya kan yang masak bertanya begitu.
Atin mengangguk, rasa masakan tersebut enak untuk ia rasakan dengan sebenar-benarnya. Kalau boleh, Atin kepengen makan banyak-banyak.
Tak ada rasa malu sedikitpun!
“Lain kali bilang kamu ingin masak apa. Aku suka masakanmu, lalu ini rasanya sangat pas di lidahku. Jadi koki aku ya,” celutuk Alex.
Dirinya serius terhadap yang ia bilang. Buktinya, orang tersebut makan sangat lahap. Atin dan dirinya sangat cocok makan bersama!
Habis rakusnya samaan.
“Oke, aku ingin coba masak sosis dan telur puyuh. Apa boleh?”
Setelah selesai minum, Atin bertanya ke Alex. Yang langsung saja buat Alex gemas lihat. Tahan, gak boleh cubit pipi Atin. Harus tahan.
Senyum Alex pun terlihat. Ia senang, ia dan Atin akur. Tak kan ada yang menyangkal kalau tadi mereka sempat berselisih paham.
Masih dengan tersenyum Alex respon ucapan Atin.
“Tentu, untuk sekarang masak yang ada di lemari dan kulkas dulu ya. Biar hemat. Kalau sudah habis baru kita beli sosis dan telur puyuh," ujar Alex hangat. Ia bak matahari yang mengintip malu-malu di pagi hari.
Full sun. Alex ingat, terakhir kali ia begitu adalah saat sang nenek bilang tak kan menyerah dari sakit yang dideritanya. Namun kenyataannya orang tersebut kalah. Waktu itu Alex masih terlalu kecil, ia anggap sang nenek membohonginya.
Semua ucapan sang nenek Alex anggap serius. Bahkan bercandaan pun dianggap serius. Tak jarang karena itu mereka pun bertengkar ringan. Yang pada akhirnya Alex mengalah. Demi nenek.
Hanya itu yang Alex kecil pikirkan.
Untuk hal tersebut Atin bersyukur. Tak harus Atin yang singgung, ternyata Alex pun sepemikiran. Kedua orang tersebut tertawa bersama. Lanjut makan sampai proses tersebut berakhir.
“Selesai. Aku ingin mandi, sudah lengket. Biasanya aku mandi dulu sebelum makan. Mana kamar mandinya?”
Alex tersenyum. Ia gemas ke Atin.
“Gimana kalau mandi sama-sama?”
Plak!
Bukannya takut setelah melakukan itu, Atin justru tertawa. Wajah tegang Alex pun jadi ikut yang Atin lakukan. Secara alamiah Alex tertawa. Biasanya pasti langsung marah-marah.
Atin beralih sepenuhnya ke Alex. Kebiasaannya sudah ia tunjukkan ke orang tersebut.
“Terbiasalah dengan caraku kesal, kadang aku suka lepas. Dengan begini berarti aku sudah terbuka padamu, maaf ya,” ujar Atin.
Ia kembali lanjut bicara.
“Mana kamar mandinya. Serius, aku sudah gak nyaman. Kamu bilang kan gak 'gituan' lagi."
Alex mengangguk. Agaknya atinnsufah sangat risih. Oleh sebab itu langsung ia kasih tahu saja. Kasihan Atin kepengen mandi.
“Ya sudah, di sebelah kiri dekat dapur. Pintunya warna hijau.”
Atin mengangguk, ia pikir ada banyak kamar mandi di rumah besar itu. Pasti, biar gak nyasar, Atin harus segera bergegas.Tak hanya baju, Atin pun juga sekalian bawa handuk. Pikiran orang tersebut memang sudah siap sedia. Istilahnya sedia payunglah.
Bahkan untuk alat mandi seperti sabun pun sudah bawa. Cuma gak semua, Atin hanya bawa alat-alat yang benar-benar penting.
Selama Atin mandi, Alex lihat ponsel Atin-nya. Alex penasaran, apa saja isi ponsel sang kekasih?
Alex pun menelusuri isi ponsel Atin. Ternyata ada nomor Darkos. Tanpa pikir panjang langsung Alex block nomor tersebut kemudian menghapusnya.
Setelah ini harus Alex kasih tahu ke Atin untuk tak simpan nomor Darkos. Boleh Atin menghubingi, cuman gak boleh disimpan. Aduh, padahal jatuhnya sama aja toh. Dasar Alex.
Atin selesai mandi, kemudian ia pun langsung hampiri Alex. Disana ada beberapa sabun yang sama dengan milik Alex. Mungkin sudah sengaja disiapin sih.
Sengaja Atin tak pakai sabun yang ia bawa. Entah pikiran dari mana, Atin tergerak untuk pakai milik Alex.
Jarang-jarang sekali, gak apa-apalah.
Alex pun beralih sepenuhnya ke Atin.
“At, kamu gak boleh simpan nomor Darkos. Aku sudah hapus nomornya dan kamu gak boleh bantah. Kalian boleh berkomunikasi tapi kamu gak boleh simpan nomor orang itu. Nomornya menganggu pandanganku.”
Cobaan macam apalagi ini ya Tuhan. Sifat psosesif Alex gak ketulungan. Buat Atin sangat gerah hati dan body!
Oke, Atin paham. Tinggal turuti perintah Alex. Setelah itu cukup. Semua akan baik-baik saja. Semoga Atin bisa bertahan, ia tak tahu seberapa lama hati dan akal sehatnya bertahan ke sifat Alex yang terlalu posesif.
*****