Setiap pagi Atin selalu bersyukur sebab ia masih diberi kesempatan bangun. Melanjutkan setiap hembusan napas. Hal yang paling buat Atin bersyukur adalah masih bertahan selama itu.
Untuk kedepannya, banyak hal yang dapat Atin eksplorasi lebih jauh. Disanalah letak ia bersyukur terhadap setiap napas yang ia hirup. Sejatinya, manusia kurang bersyukur terhadap hidup dan apa yang ada.
Sudah naluriahnya begitu. Tak banyak yang berubah.
Semalam Alex dan Atin berselisish paham soal tidur dan beberapa hal lain. Ujung-ujungnya, setelah bertengkar kecil, ujung-ujungnya Atin bisa tidur. Makanya Atin harus 'bersyukur' lebih banyak. Atin lihat Alex yang masih tidur, belum ada tanda-tanda untuk bangun. Atin biasa bangun cepat, mungkin oleh sebab banyak jadwal.
Kemudian, tidur pun juga mengikuti. Bangun cepat, tidur pun juga begitu.
Pujilah diri sendiri, kalau mengharap orang lain masih lama. Satu garis bawah dan ketentuan, jangan terlalu berlebihan. Secukupnya. Yang berlebihan itu tak baik sama seperti kurang.
Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi, Atin ingin masak. Nasi goreng dan sop pasti enak. Tanpa buang banyak waktu Atin pun bergegas. Ia terlihat nyaman ambil alat masak berikut bahannya. Nikmati aktivitas tersebut.
Ponsel Atin ia bawa, habis Alex bilang ingin sita barang itu. Nah, Atin terpikir untuk menyelamatkan benda yang bisa disebut paling berharga. Selain sepeda dan rumah kecil.
Laptop?
Atin punya sebab ia tabung dari uang hasil beasiswa. Berhemat dan bisa atur uang, plus Atin juga kerja. Untuk sekadar hidup sederhana Atin bisa. Orang tersebut dapat penuhi kebutuhan sandang walau dalam bentu sederhana.
Saat sedang masak, tiba-tiba Atin rasakan seseorang peluk ia erat dari belakang. Pasti Alex, orang itu terbangun?
Padahal Atin sudah berusaha gak berisik.
“Kamu kok gak bangunin aku. Aku kan juga mau ngerasain sensasi bangun cepat. Dingin,” ujar orang itu peluk Atin lebih erat dari yang awal.
Dasar manja.
“Kamu gak bilang, aku takut salah, makanya gak berani bangunin kamu.”
“Baunya enak.” Mulai deh kayak kucing. Baru Atin tahu kebiasaan mencium makanan Alex agar berlebih.
“Aku masak nasi goreng, kamu bisa gak makan itu pagi-pagi gini?”
“Bisa kok.”
Bagus, berarti tak sulit untuk atur makan Alex. Ia tak pemilih, gak banyak ini itu dan ribet. Jangan-jangan apapun yang Atin masak dimakan aja. Bukannya ingin besar otak, kebanyakan orang seperti Alex bersikap begitu.
Sekian beberapa menit mereka diam, Atin pikir ia teringin mengatakan sesuatu. Soal tujuannya sampai menginap di rumah Alex.
“Ngomong-ngomong proposal kamu sudah bagus, sering-sering temui dosen pembimbing akademik biar cepat ACC. Kamu pasti ingin lulus cepat, kalau aku sih gitu juga.” Di akhir kalimat Atin berdehem.
Senyum cerah, pagi-pagi mood Alex sudah baik sebab keberadan Atin disampingnya. Benar juga sih, Alex ingin lulus cepat, ia muak kuliah lama-lama. Bosan!
“Terima kasih, kamu gak perlu khawatir. Aku sering kok komunikasi dengan dosen pembimbing. Sekarang aku ingin cium, boleh ya, morning kiss.”
Atin tertawa tak nyaman alias dipaksakan, mereka benar-benar seperti suami istri!
Interaksi yang seharusnya tak mereka lakukan. Dasar, Atin merasa ia sanggup bodoh. Kenapa masih terpikir soal itu?
Jelas Atin memang bodoh kok.
“Kita belum menikah Al.”
Banyak hal terjadi semalam. Alex tetap berikeras dengan keinginannya yang tak mau Atin cegah ia melakukan kegiatan panas yang terjadi belum lama ini. Alex seperti kecanduan tubuh Atin, untuk pemanasan ia tetap ingin. Tak bisa diganggu gugat.
Bukannya respon permintaan Alex, yang justru Atin lakukan berbanding jauh. Melenceng. Ia menolehkan muka untuk lihat Alex.
“Lain kali kamu pergi ke tempat tinggal Papa dan Mama kamu gih. Aku gak mau kamu jadi anak durhaka. Kamu kan sudah janji akan bersikap baik ke orangtua dan ini termasuk salah satu dari itu.” Suara Atin terdengar hangat. Nyaman saat lakukan hal tersebut.
Pelukan Alex di pinggang Atin semakin kencang. Sakit, Atin berusaha untuk tahan ringisan yang siap keluar kapanpun. Masih terus peluk yang kemudian melonggar, Alex pun akhirnya berucap.
Ia ingin habiskan kualiti time bersama Atin-nya.
“Oke, tapi tetap morning kiss ya. Aku gak mau tahu, pokoknya harus kasih. Sekalian aku ingin kenalin kamu sebagai pacar ke Mama dan Papa.”
Tidak, Atin belum siap untuk itu. Untuk sekarang cukup antara ia dan Alex. Siapa yang tak mau posisi jelas, hanya saja Atin belum siap. Ia pasti ditolak.
“Jangan.” Atin berbalik, tak lupa matikan kompor yang setelahnya berhadapan langsung ke Alex.
Sejak hari pertama resminya hubungan mereka, Atin sudah cukup terbuka dan tak segan-segan untuk bicara panjang lebar ke Alex. Sekan-akan mereka kenal dekat dan sudah lama punya hubungan semi serius. Bukan hubungan tiba-tiba yang tak masuk akal. Namun itulah yang terjadi, Atin ingin menyamankan diri ke Alex.
Ia berontak, hanya saja bagian sudut lain bilang tak ada salahnya mencoba. Itu sepertinya yang terbaik untuk ia lakukan, untuk mereka.
Atin sudah jadi orang terbodoh setelah kenal Alex. Setelah semua yang mereka lakukan, Atin terpikir berusaha. Berusaha terus... entah kapan berakhir hal itu.
“Maaf, aku tak bisa. Aku belum siap, tunggu sampai aku siap ya. Sekarang cukup begini dulu.”
Respon Alex adalah diam, ia tak suka ke sistem berpikir Atin. Hanya saja tatapan meyakinkan yang bilang seakan-akan bilang, ‘aku baik-baik saja, tolong percaya.’ Itu membuat Alex tersentuh.
Masih pagi. Alex tak ingin berdebat. Pada akhirnya ia pun menurut. Oke, tak masalah.
Atin pun mengangguk. Sampai akhirnya suara getar ponsel menganggu aktivitas kedua orang tersebut. Saat lihat, ternyata milik Atin. Nomor tak dikenal, pasti Darkos.
Orang-orang kampus jarang telepon Atin, kalau mereka butuh bantuan pakai media chat. Jikalau teramat sangat penting, baru deh di telepon. Sayangnya Atin jarang aktif.
Untuk nomor yang bisa di telepon pribadi hanya ada satu, dan satu-satunya orang yang tahu hanya Darkos.
Atin pun segera angkat teleponnya.
Tipe berkomunikasi Darkos adalah bicara langsung, bukan berkirim pesan ataupun chat. Bisa sih chattingan, cuman jarang.
[Halo, selamat pagi.]
[Pagi Atin. Aku ingin kasih kabar, nanti siang kita harus belajar lagi. Kamu sibuk atau tidak, kalau sibuk jadwalnya bisa undur kok.]
Atin tersenyum tipis. Soal lomba dan belajar ia selalu semangat. Banyak benefit yang ia dapatkan.
[Tidak kok, ayo lakukan itu. Cuma aku gak bisa lama, ada beberapa hal yang harus ku selesaikan.]
[Tentu, sampai jumpa nanti siang.]
Telepon tersebut pun putus. Saat beralih, Atin langsung berhadapan ke wajah datar Alex.
Apa, ingin marah?
Oh Tuhan, tolong ingatkan Atin untuk segera pergi dari tempat tersebut. Ia sangat tertekan kalau dikekang besar-besaran!
Syukurnya inilah yang Alex bilang. Ia jelas marah, namun perkataan Atin untuk saling percaya, privasi, dan buat nyaman adalah hal yang ingin Alex tuju. Ia tak ingin buat Atin tertekan selama bersamanya.
“Silahkan pergi, cuman ingat, gak boleh terlalu dekat ke Darkos. Untuk kali ini aku juga tak akan awasi kamu seperti kemarin. Aku harus konsul.”
Hah… Atin spontan tarik naps lega. Semakin kesini, Alex tak terlalu buruk untuk ia pertahankan. Hal tersebut cukup baik untuk Atin. Orang itu pun bilang terima kasih.
“Masih ingin cium.”
Cup.
Tanpa buang banyak waktu Atin langsung lakukan hal yang Alex mau. Cukup lama sampai ia sendiri jadi sulit bernapas. Senyum Alex bilang bahwa Atin sudah lakukan yang terbaik dan tak ada pengulangan.
***
Oke, saatnya belajar. Kali ini ternyata Atin bertemu orangtua Darkos. Orangtua tersebut datang sebagai kepala yayasan untuk lihat bagaimana proses belajar peserta lomba. Itu adalah lomba penting, yaitu event debat Inggris. Atin sangat bersyukur terpilih jadi salah satu peserta.
Rangkaian kegiatan berlangsung lancar. Terlihat jelas pak Arkan tertarik ke Atin. Dari pancaran mata pun sudah terlihat kalau Atin termasuk salah satu orang yang bertekad dan berkeinginan kuat. Semua orang yang begitu menarik perhatian tuan Arkan.
Sambil tersenyum hangat, orang itu pun berucap. Terpancar aura menenangkan dari orang tersebut.
“Nak, nanti malam apa kau sibuk? Kalau tidak, mari datang ke rumah kami. Saya dan keluarga besar mengundangmu secara resmi ke rumah.”
Atin tertegun, pergi ke rumah keluarga Darkos?
Sekalipun hal tersebut tak pernah terlitas di otak Atin. Ia langsung kaget. Respon tubuhnya bilang, benarkah?
Terlalu tiba-tiba, harusnya tak begitu. Rasanya aneh, Atin tak paham benar. Orang tersebut hanya tersenyum setengah memaksa, sedetik kemudian pun mengangguk.
Oke, bisa Atin lakukan kok. Tapi… bagaimana dengan Alex?
Tidak masalah?
Kalau Atin tak punya hubungan apapun, palingan ia cuman galau mikir untuk aspek sendiri, tapi ini beda!
Selalu ada Alex yang ikuti kemanapun Atin melangkah. Atin juga bayangi hal-hal yang tak masuk akal. Atin terlalu takut. Sulit imbangi hal tersebut.
“Jangan lupa untuk datang Atin. Kedatanganmu sangat kami harapkan. Aku jamin kamu pasti senang,” ujat Darkos. Ia tersenyum hangat.
Terhitung beberapa detik setelahnya, tak sadar pegang tangan Atin. Sedang bahagiakah?
Yang harusnya lakukan hal itu kan Atin, bukan Darkos.
Atin bingung, apa yang harus ia lakukan?
Sulit, Atin lebih banyak diam.
Akankah Atin bisa pergi?
*****Good Morning (bertengkar?)
Setiap pagi Atin selalu bersyukur sebab ia masih diberi kesempatan bangun. Melanjutkan setiap hembusan napas. Hal yang paling buat Atin bersyukur adalah masih bertahan selama itu.
Untuk kedepannya, banyak hal yang dapat Atin eksplorasi lebih jauh. Disanalah letak ia bersyukur terhadap setiap napas yang ia hirup. Sejatinya, manusia kurang bersyukur terhadap hidup dan apa yang ada.
Sudah naluriahnya begitu. Tak banyak yang berubah.
Semalam Alex dan Atin berselisish paham soal tidur dan beberapa hal lain. Ujung-ujungnya, setelah bertengkar kecil, ujung-ujungnya Atin bisa tidur. Makanya Atin harus 'bersyukur' lebih banyak. Atin lihat Alex yang masih tidur, belum ada tanda-tanda untuk bangun. Atin biasa bangun cepat, mungkin oleh sebab banyak jadwal.
Kemudian, tidur pun juga mengikuti. Bangun cepat, tidur pun juga begitu.
Pujilah diri sendiri, kalau mengharap orang lain masih lama. Satu garis bawah dan ketentuan, jangan terlalu berlebihan. Secukupnya. Yang berlebihan itu tak baik sama seperti kurang.
Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi, Atin ingin masak. Nasi goreng dan sop pasti enak. Tanpa buang banyak waktu Atin pun bergegas. Ia terlihat nyaman ambil alat masak berikut bahannya. Nikmati aktivitas tersebut.
Ponsel Atin ia bawa, habis Alex bilang ingin sita barang itu. Nah, Atin terpikir untuk menyelamatkan benda yang bisa disebut paling berharga. Selain sepeda dan rumah kecil.
Laptop?
Atin punya sebab ia tabung dari uang hasil beasiswa. Berhemat dan bisa atur uang, plus Atin juga kerja. Untuk sekadar hidup sederhana Atin bisa. Orang tersebut dapat penuhi kebutuhan sandang walau dalam bentu sederhana.
Saat sedang masak, tiba-tiba Atin rasakan seseorang peluk ia erat dari belakang. Pasti Alex, orang itu terbangun?
Padahal Atin sudah berusaha gak berisik.
“Kamu kok gak bangunin aku. Aku kan juga mau ngerasain sensasi bangun cepat. Dingin,” ujar orang itu peluk Atin lebih erat dari yang awal.
Dasar manja.
“Kamu gak bilang, aku takut salah, makanya gak berani bangunin kamu.”
“Baunya enak.” Mulai deh kayak kucing. Baru Atin tahu kebiasaan mencium makanan Alex agar berlebih.
“Aku masak nasi goreng, kamu bisa gak makan itu pagi-pagi gini?”
“Bisa kok.”
Bagus, berarti tak sulit untuk atur makan Alex. Ia tak pemilih, gak banyak ini itu dan ribet. Jangan-jangan apapun yang Atin masak dimakan aja. Bukannya ingin besar otak, kebanyakan orang seperti Alex bersikap begitu.
Sekian beberapa menit mereka diam, Atin pikir ia teringin mengatakan sesuatu. Soal tujuannya sampai menginap di rumah Alex.
“Ngomong-ngomong proposal kamu sudah bagus, sering-sering temui dosen pembimbing akademik biar cepat ACC. Kamu pasti ingin lulus cepat, kalau aku sih gitu juga.” Di akhir kalimat Atin berdehem.
Senyum cerah, pagi-pagi mood Alex sudah baik sebab keberadan Atin disampingnya. Benar juga sih, Alex ingin lulus cepat, ia muak kuliah lama-lama. Bosan!
“Terima kasih, kamu gak perlu khawatir. Aku sering kok komunikasi dengan dosen pembimbing. Sekarang aku ingin cium, boleh ya, morning kiss.”
Atin tertawa tak nyaman alias dipaksakan, mereka benar-benar seperti suami istri!
Interaksi yang seharusnya tak mereka lakukan. Dasar, Atin merasa ia sanggup bodoh. Kenapa masih terpikir soal itu?
Jelas Atin memang bodoh kok.
“Kita belum menikah Al.”
Banyak hal terjadi semalam. Alex tetap berikeras dengan keinginannya yang tak mau Atin cegah ia melakukan kegiatan panas yang terjadi belum lama ini. Alex seperti kecanduan tubuh Atin, untuk pemanasan ia tetap ingin. Tak bisa diganggu gugat.
Bukannya respon permintaan Alex, yang justru Atin lakukan berbanding jauh. Melenceng. Ia menolehkan muka untuk lihat Alex.
“Lain kali kamu pergi ke tempat tinggal Papa dan Mama kamu gih. Aku gak mau kamu jadi anak durhaka. Kamu kan sudah janji akan bersikap baik ke orangtua dan ini termasuk salah satu dari itu.” Suara Atin terdengar hangat. Nyaman saat lakukan hal tersebut.
Pelukan Alex di pinggang Atin semakin kencang. Sakit, Atin berusaha untuk tahan ringisan yang siap keluar kapanpun. Masih terus peluk yang kemudian melonggar, Alex pun akhirnya berucap.
Ia ingin habiskan kualiti time bersama Atin-nya.
“Oke, tapi tetap morning kiss ya. Aku gak mau tahu, pokoknya harus kasih. Sekalian aku ingin kenalin kamu sebagai pacar ke Mama dan Papa.”
Tidak, Atin belum siap untuk itu. Untuk sekarang cukup antara ia dan Alex. Siapa yang tak mau posisi jelas, hanya saja Atin belum siap. Ia pasti ditolak.
“Jangan.” Atin berbalik, tak lupa matikan kompor yang setelahnya berhadapan langsung ke Alex.
Sejak hari pertama resminya hubungan mereka, Atin sudah cukup terbuka dan tak segan-segan untuk bicara panjang lebar ke Alex. Sekan-akan mereka kenal dekat dan sudah lama punya hubungan semi serius. Bukan hubungan tiba-tiba yang tak masuk akal. Namun itulah yang terjadi, Atin ingin menyamankan diri ke Alex.
Ia berontak, hanya saja bagian sudut lain bilang tak ada salahnya mencoba. Itu sepertinya yang terbaik untuk ia lakukan, untuk mereka.
Atin sudah jadi orang terbodoh setelah kenal Alex. Setelah semua yang mereka lakukan, Atin terpikir berusaha. Berusaha terus... entah kapan berakhir hal itu.
“Maaf, aku tak bisa. Aku belum siap, tunggu sampai aku siap ya. Sekarang cukup begini dulu.”
Respon Alex adalah diam, ia tak suka ke sistem berpikir Atin. Hanya saja tatapan meyakinkan yang bilang seakan-akan bilang, ‘aku baik-baik saja, tolong percaya.’ Itu membuat Alex tersentuh.
Masih pagi. Alex tak ingin berdebat. Pada akhirnya ia pun menurut. Oke, tak masalah.
Atin pun mengangguk. Sampai akhirnya suara getar ponsel menganggu aktivitas kedua orang tersebut. Saat lihat, ternyata milik Atin. Nomor tak dikenal, pasti Darkos.
Orang-orang kampus jarang telepon Atin, kalau mereka butuh bantuan pakai media chat. Jikalau teramat sangat penting, baru deh di telepon. Sayangnya Atin jarang aktif.
Untuk nomor yang bisa di telepon pribadi hanya ada satu, dan satu-satunya orang yang tahu hanya Darkos.
Atin pun segera angkat teleponnya.
Tipe berkomunikasi Darkos adalah bicara langsung, bukan berkirim pesan ataupun chat. Bisa sih chattingan, cuman jarang.
[Halo, selamat pagi.]
[Pagi Atin. Aku ingin kasih kabar, nanti siang kita harus belajar lagi. Kamu sibuk atau tidak, kalau sibuk jadwalnya bisa undur kok.]
Atin tersenyum tipis. Soal lomba dan belajar ia selalu semangat. Banyak benefit yang ia dapatkan.
[Tidak kok, ayo lakukan itu. Cuma aku gak bisa lama, ada beberapa hal yang harus ku selesaikan.]
[Tentu, sampai jumpa nanti siang.]
Telepon tersebut pun putus. Saat beralih, Atin langsung berhadapan ke wajah datar Alex.
Apa, ingin marah?
Oh Tuhan, tolong ingatkan Atin untuk segera pergi dari tempat tersebut. Ia sangat tertekan kalau dikekang besar-besaran!
Syukurnya inilah yang Alex bilang. Ia jelas marah, namun perkataan Atin untuk saling percaya, privasi, dan buat nyaman adalah hal yang ingin Alex tuju. Ia tak ingin buat Atin tertekan selama bersamanya.
“Silahkan pergi, cuman ingat, gak boleh terlalu dekat ke Darkos. Untuk kali ini aku juga tak akan awasi kamu seperti kemarin. Aku harus konsul.”
Hah… Atin spontan tarik naps lega. Semakin kesini, Alex tak terlalu buruk untuk ia pertahankan. Hal tersebut cukup baik untuk Atin. Orang itu pun bilang terima kasih.
“Masih ingin cium.”
Cup.
Tanpa buang banyak waktu Atin langsung lakukan hal yang Alex mau. Cukup lama sampai ia sendiri jadi sulit bernapas. Senyum Alex bilang bahwa Atin sudah lakukan yang terbaik dan tak ada pengulangan.
***
Oke, saatnya belajar. Kali ini ternyata Atin bertemu orangtua Darkos. Orangtua tersebut datang sebagai kepala yayasan untuk lihat bagaimana proses belajar peserta lomba. Itu adalah lomba penting, yaitu event debat Inggris. Atin sangat bersyukur terpilih jadi salah satu peserta.
Rangkaian kegiatan berlangsung lancar. Terlihat jelas pak Arkan tertarik ke Atin. Dari pancaran mata pun sudah terlihat kalau Atin termasuk salah satu orang yang bertekad dan berkeinginan kuat. Semua orang yang begitu menarik perhatian tuan Arkan.
Sambil tersenyum hangat, orang itu pun berucap. Terpancar aura menenangkan dari orang tersebut.
“Nak, nanti malam apa kau sibuk? Kalau tidak, mari datang ke rumah kami. Saya dan keluarga besar mengundangmu secara resmi ke rumah.”
Atin tertegun, pergi ke rumah keluarga Darkos?
Sekalipun hal tersebut tak pernah terlitas di otak Atin. Ia langsung kaget. Respon tubuhnya bilang, benarkah?
Terlalu tiba-tiba, harusnya tak begitu. Rasanya aneh, Atin tak paham benar. Orang tersebut hanya tersenyum setengah memaksa, sedetik kemudian pun mengangguk.
Oke, bisa Atin lakukan kok. Tapi… bagaimana dengan Alex?
Tidak masalah?
Kalau Atin tak punya hubungan apapun, palingan ia cuman galau mikir untuk aspek sendiri, tapi ini beda!
Selalu ada Alex yang ikuti kemanapun Atin melangkah. Atin juga bayangi hal-hal yang tak masuk akal. Atin terlalu takut. Sulit imbangi hal tersebut.
“Jangan lupa untuk datang Atin. Kedatanganmu sangat kami harapkan. Aku jamin kamu pasti senang,” ujat Darkos. Ia tersenyum hangat.
Terhitung beberapa detik setelahnya, tak sadar pegang tangan Atin. Sedang bahagiakah?
Yang harusnya lakukan hal itu kan Atin, bukan Darkos.
Atin bingung, apa yang harus ia lakukan?
Sulit, Atin lebih banyak diam.
Akankah Atin bisa pergi?
*****