Siang ini merupakan jadwal latihan gabungan pertama untuk seluruh anggota tim basket SMA Garuda baik putra maupun putri. Tujuannya untuk saling mengenal, karna selama ini mereka memiliki jadwal kegiatan yang berbeda dan jarang di pertemukan di waktu yang sama.
"Anjir! Akhirnya setelah sekian purnama latihan bareng ciwi-ciwi estetik kita!" oceh Leon heboh sambil berjalan beriringan para sahabatnya menuju lapangan indoor.
"Lu kira barang di t****k pake segala estetik dibawa-bawa!" semprot Bumi.
"Lu sih dunia, kalo ciwi-ciwi lagi tanding ga pernah ikut! Cakep-cakep b*****t! Mana kaptennya galak-galak manis lagi, guakan jadi seneng liat tampang judes berwibawanya" balas Leon sambil menerawang, mengingat secuil memori tournament basket putri kemarin.
"Siapa?" Bumi mengernyit, karna memang dia paling malas untuk melihat pertandingan basket kalo bukan dia yang main. Buang-buang waktu menurutnya.
"Itu si Xenna! Anak Ipa3!" jawab Leon antusias.
"Udahlah gua kaga kenal! Bahas yang lain napa, jangan cewe mulu! Kaga ngarti gua tuh!" Bumi mulai kesal pada sahabat gilanya ini.
"Lu sih kalo diajak nonton tournament banyak banget alesannya! Kalo tawuran aja langsung gas!" jawab Leon kesal sembari menjitak Bumi.
"Sakit dodol" Bumi membalas dan terjadilah aksi kejar-kejaran sepanjang koridor menuju lapangan indoor. Memang Bumi dan Leon adalah perpaduan yang pas untuk menggebohkan keadaan.
Sementara di lapangan indoor sudah hadir Abima dan Zean juga para anggota tim basket putra lainnya yang sedang duduk santai di tribun sambil memperhatikan tim basket putri yang bertanding antar regu inti dan cadangan. Sambil menanti 2 biang rusuh sekaligus tim inti basket putra yang entah kemana karna sampai latihan sudah dimulai pun masih belum terlihat para manusianya. Sampai sebuah teriakan memecahkan perhatian mereka semua.
"SELAMAT SIANG EPRIBADEH! MARI KITA AWALI LATIHAN DENGAN SENYUMAN!" baru masuk ke area lapangan sudah membuat Leon sampai harus menutup telinga, siapa lagi kalo bukan Bumi Aiden yang kemudian mendapatkan tatapan tajam dari Abima karna sudah memecah konsentrasi mereka semua.
"Ngapa kita malah santai-santai sih bos?" Bumi bertanya tanpa rasa bersalah seolah sesi teriakan tadi tak pernah terjadi.
"Liat tim putri latihan dulu, abis itu gantian kita" jawab Abima tenang kemudian kembali menatap para tim basket putri.
"Lah kalo begini ceritanya ngapa gak nanti aja sih kesininya? Guakan bisa makan dulu di kantin" Bumi melayangkan protesnya yang disauti deheman oleh Abima.
"Gausah bacot, diem!" Zean yang sedari tadi jengah mendengarkan ocehan Bumi mulai angkat bicara membuat Bumi diam dan mulai memperhatikan pertandingan kecil antara tim inti putri dan cadangannya.
"Sttt singa! Itu yang lu bilang cakep tadi?" bukannya memperhatikan taktik mereka Bumi justru terpaku pada gadis manis bernomor punggung 5.
"Nahkan kepincut juga akhirnya" Leon terkekeh mendengar bisikan Bumi, jangan sampai ketua dan wakil mereka mendengarkan atau mereka akan kembali mendapat teguran pedas dari keduanya.
"Anjir cakep bener! Cocoklah jadi ibu dari anak-anak gua" Bumi menatap gadis itu berbinar seolah mendapatkan hadiah istimewa.
"Namanya Xenna anak kelas Ipa3, Juara 1 paralel setahun belakangan dan juga kandidat calon ketua osis tahun ini" Leon memberikan info lengkap yang dia ketahui dari akun majalah resmi milik SMA Garuda.
"Anjing! Calon pacar gua kenapa malah lu yang ngerti semuanya" bukannya berterima kasih Bumi malah menatap Leon dengan nyalang seolah-olah Leon adalah musuh yang harus di basmi.
"Heh dunia! Gua ngasih info dodol! Bukannya mau nikung elu! Lagian kalo gua suka sama si kapten udah gua gebet dari dulu" Leon menjawab dengan sedikit emosi dan jangan lupakan tatapan sinisnya pada Bumi.
"Oh" hanya satu kata itu mampu menyulut Leon ke medan pertempuran sekarang tapi karna sudah kelewat kesal akhirnya Leon pindah duduk agak menjauh dari Bumi. Bumi hanya melirik Leon sekilas kemudian kembali memperhatikan Xenna tanpa kata.
"Temen lu kalo lagi suka sama cewe udah kek orang kesurupan Bim" curhat Leon pada Abima.
Abima melirik Bumi sekilas lalu tersenyum tipis "Diem!" balasnya pada Leon membuat Leon mendengus.
Waktu berjalan dengan cepat hingga tiba saatnya anggota basket putra yang bertanding dan tim putri duduk di tribun memperhatikan mereka. Tujuan mereka saling memperhatikan adalah memahami taktik satu sama lain agar jika ada kekurangan mereka bisa merevisi ulang taktik mereka.
Setelah semua sesi latihan berakhir tiba waktunya berkumpul, antara tim baket putra dan putri saling menjabat tangan kemudian menjelaskan tentang taktik mereka pada satu sama lain. Namun berbeda dengan Bumi yang hanya diam saja memperhatikan setiap apa yang diucapkan Xenna dan bagaimana dia memperhatikan setiap kritikan yang disampaikan Abima. Menurut Bumi, Xenna itu menggemaskan ketika sedang fokus begini seakan mempunyai dunia sendiri dan tak memperhatikan sekelilingnya. Sampai waktu pulang objek yang jadi perhatian Bumi tetap sama yaitu Xenna Calestial, kapten tim basket putri yang benar-benar menggemaskan.
"Dari tadi lu diem aja deh dunia, cosplay jadi Zean lu?" celetuk Lein membuat Zean mendelik mendengarnya, kenapa dia harus dibawa-bawa. Saat ini mereka bertiga sedang berjalan beriringan menuju parkiran. Kemana Abima? Dia sedang membicarakan sesuatu dengan pelatih mereka.
Tapi Bumi hanya melirik Leon sekilas lalu melenggang cepat menuju parkiran. Tujuannya sekarang adalah cepat-cepat pulang dan mandi, sekaligus mendinginkan pikiran dan perasaannya yang sedari tadi tak bisa dialihkan dari sosok Xenna.
"Eh dunia! Tungguin gua anjir! Gua balik sama siapa?! Woy dunia!" Leon mulai panik pasalnya motornya sedang ada di bengkel jadi jika dia ditinggalkan Bumi disini bisa dipastikan dia akan kalang kabut sendiri.
"Nanti bareng gua" sahut Zean melihat Leon yang panik sendiri.
"Hufff tuh anak kalo suka sama cewe jadi aneh" gerutunya melihat tingkah Bumi yang tak biasanya.
"Pernah waras?" pertanyaan sederhana dari Zean membuat Leon tersadar suatu hal.
"Iya juga ya diakan emang ga pernah sehari aja gak aneh" membuat Zean terkekeh pelan, dasar Leon! Playboy tapi pikun. Zean jadi bingung apa jangan-jangan Leon punya banyak cewe karna dia lupa punya cewek? Ah lupakan! Leon dan Bumi memang sama-sama membuat Zean pening.
Sampainya di parkiran Bumi langsung tanjap gas pulang melupakan Leon yang tadi pagi berangkat bersamanya, persetan dengan tanggapan teman-temannya yang dia tinggalkan sekarang dia butuh waktu untuk memahami perasaannya sendiri.
Sesaat kemudian Leon dan Zean sampai di parkiran dan tak menemukan Bumi membuat Leon medesah pelan bukan karna ditinggalkan Bumi begitu saja tapi Leon khawatir jika Bumi kenapa-kenapa, meskipun Bumi itu ngeselin tapi tetep sahabat baiknya Leon.
"Tenang" Zean menepuk pelan bahu Leon melihat Leon seperti anak ayam yang ditinggalkan induknya.
"Yok!" ajak Zean kemudian, dia sudah stand by di motornya.
"Sama gua aja, sekalian gua mampir beli perlengkapan basket" sahut Abima tiba-tiba yang entah datang sejak kapan. Leon hanya mengangguk sekilas kemudian mengikuti Abima menaiki motornya. Karna nyatanya ditinggalkan teman seperjuangan tanpa pamit lebih sakit dari pada ditinggalkan kekasih. Bumi sudah seperti bayangannya bisa dibayangkan selinglung apa Leon jika Bumi hilang dari jarak pandangnya bukan?