Sudah sejak 5 menit yang lalu Sidney berjalan mondar-mandir di depan sebuah restoran Italia mewah. Di dalam sana mungkin Sean sudah tiba dan sedang menunggunya. Tapi dirinya masih bimbang dengan keputusan yang akan diambilnya ini apakah benar sudah tepat?
'Sidney, pikirkan kelangsungan hidupmu! Harga dirimu sekarang bukan prioritas utama.' sebuah suara di dalam kepalanya mencoba memperingatkan.
Dia menghela nafas dalam-dalam. Semua akan baik-baik saja.
'Semuanya akan baik-baik saja. Aku benar-benar sedang membutuhkan uang yang banyak untuk melunasi semua hutang-hutang itu.' sekali lagi dia memantapkan keputusannya.
Dengan langkah mantap dan jantung berdebar hebat Sidney berjalan memasuki De Valle Restaurant. Seorang pelayan langsung menghampirinya.
"Selamat datang, Nona. Sudah melakukan reservasi tempat?"
"Ya. Atas nama Sean Alexander."
"Tuan Sean sudah menunggu di ruang VIP, Nona. Mari saya antar." Pinta pelayan itu lalu mengantar Sidney naik ke lantai 2 menuju sebuah ruang yang cukup private dibanding meja-meja yang lain di lantai bawah tadi.
Sean sedang berbicara lewat ponselnya. Pria itu tersenyum kecil begitu melihat kedatangan Sidney. Senyuman itu begitu memesona melengkapi wajahnya yang luar biasa tampan, aura wajah itu berbanding terbalik ketika pria itu diam tidak berbicara yang menampilkan wajah dingin. Sidney harus akui pesona pria tampan ini. Dia tidak akan heran jika pria ini digilai banyak wanita. Apalagi Sean adalah seorang perayu ulung, Sidney sangat tahu ini setelah mengenal Sean selama beberapa minggu terakhir.
Dalam kamus hidup Sidney, dia harus paling berhati-hati jika berhadapan dengan jenis pria seperti Sean.
Pria itu masih melanjutkan obrolan telepon membahas sesuatu dengan lawan bicaranya namun tidak lama kemudian mengakhiri panggilan.
"Apa kamu akan terus berdiri saja di situ? Duduk lah, Sidney." sapa pria itu, "mau makan apa? Pasta disini sangat enak." lanjutnya begitu Sidney duduk di kursi hadapannya.
Pikiran Sidney sedang kacau dan gugup, ditambah lagi saat melihat daftar harga menu restoran ini membuatnya panik. Harga satu menu saja bisa cukup untuk jatah makan selama satu minggu. Akhirnya Sidney menyamakan menu pesanan dengan Sean.
"Jadi, apa alasan pertemuan kita kali ini, sweetheart?"
"Aku sudah memikirkan tawaranmu dan membuat keputusan."
Sean menyeringai lebar seperti sudah tahu jawaban yang dinantinya, "Jadi?"
Sidney menelan ludah, "Aku bersedia." ucapnya, "aku bersedia menjadi sugar baby-mu."
"Keputusan yang bagus!"