2 Minggu sebelumnya
"Terima kasih atas kunjungannya, Nyonya Larasati. Selamat Malam."
Sidney baru saja menyelesaikan tiga buket bunga pesanan Nyonya Larasati, salah satu pelanggan setia toko bunga Four Season Florist tempatnya bekerja. Sekilas dia melirik jam tangannya, ternyata sudah jam 20.37. Kurang dari setengah jam lagi shift-nya akan selesai dan dia akhirnya bisa pulang. Masih tersisa dua pembeli di dalam toko; satu sedang dilayani Nadya dan satunya lagi masih terlihat berkeliling melihat-lihat koleksi bunga.
Baru saja Sidney akan menghampiri si calon pembeli, tiba-tiba ponselnya berdering. Dari Kevin -- anak laki-laki Manajer toko bunga tempat dia bekerja. Setiap kali anak laki-laki itu menelepon biasanya pertanda anak itu terlibat dalam sebuah masalah. Ini bukanlah pertama kalinya. Karena sudah berkali-kali Sidney yang harus membereskan masalah yang ditimbulkan Kevin.
Anak itu masih duduk di bangku SMA dan di bawah umur. Mengingat dia anak tunggal dan orang tuanya lebih sibuk mengurus pekerjaan dibanding anaknya. Sidney merasa jika anak itu kurang diperhatikan oleh keluarganya dan membutuhkan sosok pembimbing. Jadi Kevin sudah dia anggap seperti adik sendiri.
"Halo."
"Kak Sidney, tolong aku!" Suara Kevin terdengar panik. Benar kan, firasatnya kalau anak itu sedang mengalami masalah ternyata tidak meleset.
"Kenapa Kevin?"
"Kak, aku habis kecelakaan." Mata Sidney membelalak. Sepertinya masalah yang ditimbulkan Kevin kali ini lebih serius dari biasanya.
"Ya tuhan. Bagaimana kejadiannya?"
"Aku tadi telat mengerem waktu lihat tiba-tiba ada anak menyeberang. Bagaimana ini, Kak? Ada anak kecil yang teluka. Om si anak kecil itu mengancam mau laporin aku ke polisi."
"Terus keadaan anak itu bagaimana?"
"Anak itu ada luka. Sekarang lagi diperiksa dokter."
"Oke, sekarang kamu tenang dulu ya disana. Kakak akan segera ke sana. Sekarang posisimu di mana?"
"Sekarang aku lagi di Klinik Meika Jalan Flamboyan, Kak. Tapi Kak Sidney tolong jangan bilang-bilang ke mama ya soal ini. Please..."
“Tapi, Vin. Ini masalah yang cukup serius…”
“Kak, aku mohon..” Gadis itu memijat keningnya merasa pening.
"Oke..."
"Makasih, Kak."
Sidney hanya bisa menghela nafas, sekali lagi berhadapan dengan situasi seperti ini. Dia buru-buru melepas celemeknya lalu menuju loker untuk mengambil tas.
"Nadya, aku ada urusan mendadak dan harus pergi sekarang. Maaf ya aku harus ninggalin kamu sendiri."
"Oh, iya, nggak apa-apa, Sid. Lagian sudah jam segini" Sahut Nadia santai, "Aku bisa handle sisanya kok."
"Sori, ya."
"Santai, Sidney."
"You're the best."
Untung saja tidak lama setelah keluar dari toko bunga Sidney langsung mendapatkan tumpangan taksi. Kalau berdasarkan lokasi yang disebutkan Kevin jaraknya tidak begitu jauh, paling hanya membutuhkan 10-15 menit waktu perjalanan.
Kevin Saputra. Dasar anak nakal… keluhnya dalam hati.
Seharusnya Sidney berhenti melibatkan dirinya dalam urusan bocah itu, dan menyerahkan tanggung jawab perbuatan Kevin pada orang tuanya. Namun Sidney tidak sampai hati melakukannya. Tidak tega melihat anak itu akan mendapatkan hukuman yang berat dari orang tuanya. Dia sudah pernah melihat bagaimana anak itu dikurung di rumah selama beberapa hari dan beberapa hukuman lain.
Bagaimanapun Kevin sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri. Melihat kenakalan yang dilakukan Kevin membuatnya teringat dengan masa remajanya ketika sering melakukan kesalahan, kakaknya sering membantunya mengatasi masalahnya dan terkadang merahasiakan kesalahan yang dibuat – tidak pernah membahasnya ke orang tuanya.
Ah, Sidney jadi merindukan keluarganya. Orang lain saat merindukan keluarga mereka bisa tinggal menghubungi lewat telepon, melakukan video call atau datang bertemu langsung. Sedangkan dirinya?
Seandainya ada alat komunikasi beda alam.
“Nona, sudah sampai tujuan. Nona? Klinik Meika, benar kan?”
Sidney tersadar dari lamunannya. Ah iya, dia langsung teringat tujuannya kesini untuk membantu Kevin.
“I-iya, benar, Tuan.” Sahutnya sambil menyodorkan beberapa lembar uang puluhan ribu lalu cepat-cepat turun dari taksi.
Klinik itu lumayan sepi, mungkin karena sudah mendekati jam tutup operasional. Tapi masih ada tanda-tanda beberapa pengunjung yang duduk di kursi terlihat sedang menunggu di dalam ruangan.
“Kak Sidney! Kak, sini!” Sebuah suara yang dia kenal terdengar memanggilnya. Sidney menoleh ke sumber suara dan menemukan Kevin berjalan tertatih-tatih. Kaki kirinya diseret saat berjalan.
“Kevin! Ya tuhan, kamu tidak apa-apa? Sudah kamu tetap duduk saja disitu.” Sidney langsung berjalan cepat menghampiri anak itu.
“Nggak apa-apa, Kak. Cuma kaki kiriku aja yang terkilir sama di lengan ada lecet sedikit.”
“Terus sudah diobati belum? Ada luka lain lagi tidak?” Dalam jarak dekat kini memang terlihat beberapa luka memar di lengannya.
“Sudah diobati, Kak. Dan keadaanku baik-baik aja tidak ada luka lain yang serius.”
Tadinya sebelum sampai ke klinik, Sidney marah sekali dan berniat akan mengomeli Kevin habis-habisan. Dia sangat marah karena masalah yang ditimbulkan kali ini begitu serius dan sampai melibatkan nyawa; nyawa Kevin sendiri dan orang lain. Tapi begitu melihat keadaan Kevin secara langsung, gadis itu menjadi tidak tega.
“Syukurlah, kamu tidak apa-apa.” Ucapnya lega, “Kakak tidak tahu lagi bagaimana mencari alasan untuk membela—"
“Harusnya Anda juga memikirkan korban yang hampir dia tabrak, Nona.” Sebuah suara berat dan terdengar dingin tiba-tiba menginterupsi Sidney.
Sidney menoleh. Tidak jauh dari kursi tempat mereka duduk, seorang pria tinggi berkulit putih berdiri dan sedang menatap tajam padanya. ‘Garang sekali orang ini’, pikir Sidney gugup.
“Apa?” Tanya Sidney, tidak mengerti.
Pria itu berjalan mendekat, ekspresi wajahnya begitu mengintimidasi.
“Keponakan saya yang masih kecil hampir tertabrak motor yang dikendarai adik Anda.”
“Astaga… Lalu bagaimana keadaan keponakan Anda sekarang, Tuan?”
“Untung saja tidak ada luka yang serius.”
Sidney menghela nafas lega. Thank god. Gadis itu melirik Kevin yang kini juga ikut terlihat sedikit lega mendengar ucapan pria itu. Namun masih ada sorot ketakutan di matanya. Meski anak itu nakal, Sidney tahu Kevin pasti sangat menyesali perbuatannya.
"Saya minta maaf, Tuan. Atas kesalahan yang adik saya lakukan. Jika terdapat kerugian yang perlu diganti silahkan hubungi saya.” Ucap Sidney sambil mengeluarkan sebuah kartu nama.
Pria itu masih tampak kesal namun menerima uluran kartu nama yang diberikan Sidney.
“Saya hanya tidak habis pikir, bagaimana bisa bocah masih di bawah umur dan belum memiliki SIM sudah berani ugal-ugalan di tengah jalan dengan sepeda motor? Kakak macam apa Anda tidak bisa mengawasi Adik dengan baik sampai membiarkan hal seperti ini terjadi?”
“Saya benar-benar minta maaf.”
“Ini bukan salah Kak Sidney. Jadi jangan salahkan dia.” Sergah Kevin terdengar tidak senang.
“Kevin, sudah. Biarkan saja.”
“Biarkan saja? Adik Anda hampir mencelakai keponakan saya, seorang gadis kecil. Hal yang lebih buruk dari ini bisa saja terjadi!” Pembicaraan mereka kini telah menarik perhatian pengunjung lain yang ada di dalam ruangan itu.
“Saya ingin berbicara dengan orang tua Anda. Di mana orang tua Anda sekarang? Orang tua macam apa yang sudah begitu lalai dalam mendidik Anda dan Adik Anda.”
Sidney terdiam. Hatinya seperti melalui musim dingin secara tiba-tiba. Dingin, kosong, dan sendu.
“Keterlaluan. Jaga ucapanmu!” Kevin sudah melangkah maju bersiap melayangkan kepalan tinjunya ke pria itu.
“Kevin! Kevin! Jangan, jangan. Ku mohon jangan.” Sidney dengan sekuat tenaga mencegah anak itu agar tidak melakukan tindak kekerasan hanya karena tidak bisa menahan emosinya.
“Orang ini sudah keterlaluan, Kak! Kakak tidak pantas mendapat pekataan seperti itu.”
“Kevin. Please…”
Pihak klinik sampai mendatangi mereka dan memperingatkan, jika tidak bisa menjaga ketenangan mereka dipersilahkan pergi saja dari sana. Pria itu akhirnya pergi melangkah menuju ke sebuah ruang yang entah ruang apa itu.
Sidney dan Kevin memutuskan langsung keluar dari klinik. Mereka sedang menunggu kedatangan taksi online sekarang. Sebenarnya Sidney masih ingin melihat kondisi anak kecil korban kecelakaan ini. Bagaimanapun, anak itu terluka dan kemungkinan juga mengalami shock dan trauma.
Tanpa sengaja dari kejauhan Sidney melihat sosok pria tadi berjalan keluar dari klinik dengan menggendong seorang gadis kecil kira-kira berusia 5-6 tahun sedang tertidur dalam gendongan.
“Kev, kamu tunggu disini sebentar ya.”
“Oke.”
Dengan langkah mantap Sidney berjalan menuju parkiran, mendekati mobil Audi berwarna hitam tempat pria tadi sedang berhati-hati mendudukkan keponakannya di kursi depan penumpang.
“Bagaiamana kondisi keponakan Anda, Tuan? Semoga dia baik-baik saja.”
Pria itu menoleh, sedikit terkejut dengan kedatangan Sidney.
“Dia sudah tertidur. Dan ya, dia sudah lebih tenang dibanding tadi.”
“Syukurlah kalau begitu.” Ucap gadis itu tulus. “Dia gadis kecil yang manis.”
“Ya, terima kasih. Permisi saya harus pergi sekarang.” Pria itu terlihat teburu-buru, menutup pintu mobil kursi penumpang lalu berjalan menuju kursi pengemudi.
“Anda juga bersalah, Tuan.”
Pria itu menghentikan langkahnya lalu berbalik. “Maksud anda?” Kebingungan terpancar dalam wajahnya.
“Anak kecil masih butuh pengawasan orang dewasa, kapan pun dan dimana pun. Jadi jika terjadi sesuatu pada mereka, menurut saya orang dewasa yang mengawasinya lah yang paling bertanggung jawab. Dalam kasus ini, orang dewasa itu adalah Anda.”
Pria itu tercengang, “Apa?”
“Adik saya bilang, keponakan Anda tiba-tiba muncul ke tengah jalan. Jika orang dewasa yang sedang mengawasinya tidak lalai saya pikir kecelakaan itu tidak akan terjadi. Anda, Tuan. Sudah lalai dalam menjaga keponakan Anda. Anda juga bersalah.” Ucap Sidney penuh penekanan.
Sidney membuka dompet lalu mengeluarkan semua lembar uang seratus ribu yang ada di dompetnya. Gadis itu berjalan mendekati pria itu, lalu tanpa izin meraih tangannya dan menaruh uang itu kedalam genggaman pria itu. Sementara pria itu hanya diam masih tercengang, tidak menyangka pada apa yang dilakukan gadis itu. Otaknya masih mencerna setiap perkataan yang baru saja didengarnya.
“Jika biaya kerugian yang saya berikan masih kurang, silahkan hubungi saya. Nomor handphone saya ada di kartu nama yang saya berikan tadi. Semoga keponakan Anda cepat sembuh. Selamat malam.”