Perpustakaan dan Kantor Arsip Desa Wajak adalah tempat pertama yang terlintas di pikiran Kay dan Agni. Tempatnya mudah dicari karena berlokasi di kompleks Kantor Desa yang lama. Tanpa berpikir panjang, mereka langsung kesana.
Ini pertama kalinya Kay menginjakkan kakinya di gedung ini. Bangunannya bergaya lama dengan dua tiang besar menyangga atap terasnya. Temboknya putih membosankan, tanpa aksen apapun. Begitu memasuki pintu depan, Kay mendatangi satu-satunya penjaga yang ada disitu, seorang pustakawan wanita yang nampaknya seusia dengan Kay. Ia sedang memain-mainkan bolpoin dengan bosan. Papan nama di mejanya bertuliskan BETTY. Kay dan Agni mengisi daftar hadir, Kay memindai barcodenya, sementara Agni menulis secara manual di buku yang disediakan. Betty memperhatikan Agni saat yang disebut belakangan menulis, alisnya terangkat.
Jujur saja Kay merasa agak kecewa saat mengetahui bahwa banyak koleksi sudah hilang dan rusak akibat bencana nasional. Menurut Betty, sejak saat itu masih belum ada pembaruan lagi, jadi terpaksa mereka harus mencari informasi dari sisa-sisa koleksi yang ada. Kay mengambil apa saja yang menurutnya menarik dan membacai sinopsis di punggung buku-buku, menyimpan beberapa yang berisi informasi tentang permata dan batu-batu alam. Sayangnya, setelah tiga jam berlalu, mereka masih sama tidak tahunya dengan saat sebelum mereka masuk kesini.
“Kita ini sebenernya nyari apa sih?” Kay berucap, mendorong bukunya yang kelima menjauh lalu menggelosor ke meja.
“Apa saja yang berhubungan dengan permata, batu-batu mulia, dan sejenisnya. Persis seperti yang udah aku bilang ke kamu, hmmm, enam kali sejak kita sampai di sini.” Agni menjawab dengan enggan, tidak mengangkat muka dari buku berjudul Ensiklopedia Batu Permata tahun 2000. “Dan omong-omong soal batu permata, batu kamu itu berlian, dan aku garnet.”
“Sorry, what?”
“Jadi berdasarkan buku kuno ini, orang tahun 2000an percaya kalau kita punya batu kelahiran berdasarkan bulan kelahiran kita. Januari Garnet, dan April Berlian. Kalau dipikir-pikir cocok banget ya aku garnet. Warnanya merah—“
“Kayak api.” Kay melanjutkan kalimat Agni
“You know me so well.” Lalu Agni menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.
“Apa?”
“Apa?”
“Barusan kamu bilang apa? Aku nggak denger.”
“Oh, nggak penting. Lupain aja.”
Tanpa terasa hari sudah sore waktu mereka ‘diusir’ Betty. Tetapi sesaat sebelum meninggalkan gedung, mendadak Agni berhenti.
“Tunggu sebentar.” Kata Agni pada Kay. Ia kembali ke meja pustakawan dan Kay membuntutinya.
“Mbak, boleh tanya?” Agni berkata pada Betty yang sedang memunggungi mereka, menata kertas-kertas berantakan di bagian belakang.
“Iya?” Kata Betty sambil menoleh. Matanya berbinar melihat Agni dan mendadak sikapnya berubah menjadi manis. “Iya? Ada yang bisa saya bantu?” Nada suaranya berubah menjadi lebih tinggi sedikit.
“Saya butuh buku yang didalamnya mengandung apapun yang berhubungan dengan batu-batu mulia. Saya sudah baca yang ditumpukan sana itu—“ Agni melambaikan tangannya pada segunung kecil buku yang tadi ia baca,”—tapi nggak ada satupun yang memberi informasi yang saya cari.”
“Oh begitu. Hmm, ada istilah khusus buat dicari?” Betty mengerling ke Agni
“Katanya sih Mustika Cahaya. Bener kan itu tentang batu-batu?”
“Hmm, mungkin. Mungkin ada, tapi belum aku cari. Besok deh kamu kesini lagi. Gimana?” Pandangan Betty menyapu Agni dari wajahnya, ke otot-otot di lengannya yang mulai terbentuk, ke bagian perutnya yang tertutup kaos, lalu kembali ke wajah Agni.
“Oke, makasih banyak ya.”
“Boleh scan barcodenya buat nyatet pesanan?”
“Sorry, aku belum punya.” Agni terlihat tidak nyaman mengakuinya.
“Oh..” Betty tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. “Ngomong-ngomong kamu tinggal dekat sini? Ada acara nanti malam? Mau kutraktir makan?”
“Mmm coba kupikir-pikir dulu ya.”
“Mau mbak, dia PASTI MAU. Iya kan?” Kay menyeletuk ikut pembicaraan mereka sambil mencubit pinggang Agni.
“Ah!! Apaan sih?” Agni memprotes kesakitan.
“Nanti malem jam tujuh. Depan Balai Desa ya mbak. Bye. Makasih.” Kay nyengir lalu menarik Agni keluar sebelum cowok itu bisa berkata apa-apa lagi.
Perjalanan pulang membutuhkan waktu sepuluh menit berjalan kaki dan Kay tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk meledek Agni habis-habisan tentang ‘situasi penting’ yang baru saja terjadi.
“Kamu lihat ekspresinya tadi?” Kay membuat ekspresi malu-malu dengan menutupkan tangan ke wajah sambil berjingkat-jingkat kecil, lalu tertawa terbahak-bahak. Agni hanya diam dan memutar matanya. “Iya Kak, ada. Tapi belum aku cari. Besok deh kakak kesini lagi,” Sambung Kay, menirukan suara Betty sambil mengedipkan matanya pada Agni.
“Udah deh Kay, biasa aja gitu loh. Dan dia nggak manggil aku kakak, okay?”
“Tau deh ya, biasa aja buat Kakak Agni kalo ada cewek godain. Untung aja mbak tadi tahu kamu belum punya barcode. Kalau enggak, pasti kamu udah diajak entah kemana.” Tawa Kay pecah membahana membayangkan apa yang bisa saja terjadi. Sesaat kemudian Agni mengejar hendak menangkap Kay, tapi Kay berkelit dan berlari menjauh sambil terbahak, membuat Agni ikut tertawa.
Malam harinya, Kay memaksa Agni kembali untuk datang memenuhi janjinya ke Betty, yang sepertinya sulit karena Agni sama sekali tidak tertarik pada perempuan itu.
“Ayolah Ni, nanti bungkusin buat aku satu. Ya? Please.”
“Kamu yang janji, kamu yang datang.” Agni melipat lengan.
“Please Agni. Kalau kamu nggak datang, besok pasti kita nggak dibolehin masuk.”
Agni diam sesaat memikirkan jawaban Kay.
“Demi makanan, demi aku? Ya? Ya?” Kay memohon.
Agni menghembuskan nafas panjang. “Okelah Tuan Putri.”
Dan Agnipun berangkat. Kay tidak ikut, dan entah kenapa melihat sahabatnya pergi meninggalkan dirinya sendiri menyebabkan rasa tidak nyaman didalam diri Kay, seakan-akan ada monster menggeram di dalam perutnya. ‘Tenang ya, perut. Setelah ini kita makan enak.’ Batin Kay menenangkan dirinya sendiri.
Pukul sepuluh malam Kay terbangun mendengar pintu depan dibuka. Agni sudah pulang dan seperti yang dijanjikan, membawa sebungkus nasi goreng untuk Kay. Kay membuka dan langsung menyantapnya, sambil menanyai Agni apa saja yang sudah terjadi. Agni terlihat senang, ia tersenyum-senyum terus sambil memandang Kay makan.
“Hadi himama?” Kay bertanya. Mulutnya penuh makanan.
“Baik.” Agni tersenyum, “Aku bener-bener harus berterimakasih sama kamu karena udah dipaksa ketemu Betty. Well, dia, I don’t know how to say this, but, “
Kay menunggu tapi Agni tidak melanjutkan. “She’s what?”
“We kissed.”
“UHUK UHUK UHUK!!!” Kay tersedak, terbatuk batuk tidak terkontrol. Matanya berair dan ia keslitan bernafas. Dengan sigap Agni menggebuk-gebuk punggungnya sampai nasi yang menutup jalan nafasnya keluar dan ia bisa bernafas lagi. Segera setelah itu Agni mengambil segelas air dan menyerahkannya pada Kay.
“You okay?”
“I think I am” Bintik bintik air mata yang tadi terbentuk saat ia tersedak meluncur turun.
“Dan aku dapet ini,” Agni melempar sebuah buku usang kepada Kay. Bukunya tidak terlalu tebal, halamannya sudah lecek dan menguning. “Kata Ayahnya Betty, kalau mau tahu soal Mustika Cahaya disuruh baca itu.”
“Babad Tanah Jawa versi Kontemporer oleh Adri Subagio.Tahun SEMBILAN BELAS SEMBILAN LIMA?! Nggak sekalian cari sumber dari zaman paleoliticum Ni?” Kay membaca sampulnya keras-keras.
“Udah k****a semua. Sebenernya tadi aku udah selesai jam delapan, tapi gak langsung pulang karena baca itu dulu. Langsung buka halaman delapan tujuh aja.” Dengan ini Agni ngeloyor pergi, meninggalkan Kay sibuk dengan bacaannya.
Kay membuka halaman yang disebutkan Agni, dan entah kenapa batinnya terasa lebih ringan mendengar Agni ternyata tidak berlama-lama dengan Betty. ‘But they kissed!’ Alam bawah sadarnya memprotes. ‘Tapi setidaknya Agni nggak betah lama-lama sama dia.’ Dan ia, alam bawah sadarnya, membungkam dirinya sendiri.
Sejarah Aksara Jawa
Dahulu kala hiduplah seorang pendekar bernama Ajisaka. Ia sakti mandraguna, tetapi kesaktiannya tidak membuatnya sombong melainkan menjadikannya orang yang rendah hati dan berbudi luhur.
Ajisaka memiliki dua orang abdi yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi. Setya dan Setuhu, itulah nama mereka. Suatu hari, Ajisaka mengajak kedua abdinya ke Negeri Maceti untuk membuka lahan baru disana. Setelah lahan baru terbuka, Ajisaka meminta Setyo untuk melanjutkan perluasan lahan sementara ia dan Setuhu pergi melawan seorang raja lalim di ujung pulau bernama Dewata Cengkar. Ajisaka meninggalkan keris saktinya pada Setyo, menyuruhnya menjaga keris itu dengan jiwa raganya, dan agar tidak memberikan keris itu kepada siapapun kecuali Ajisaka sendiri.
Begitulah, Ajisaka dan Setuhu pergi menuju Jawa Dwipa. Dewata Cengkar adalah raja yang sangat sakti. Konon kesaktiannya diperoleh dari hobinya memakan manusia. Saat Ajisaka datang di kerajaannya, Ajisaka menawarkan diri untuk dijadikan santapan raja lalim itu, tetapi dengan satu syarat, yaitu jika Dewata Cengkar memberi Ajisaka tanah seluas sorbannya. Dewata Cengkar sangat senang karena pada akhirnya ada orang yang dengan rela mau dimakannya, terlebih lagi syarat yang diajukan Ajisaka sangatlah mudah. Jadi, Dewata Cengkar menerima syarat Ajisaka.
Alangkah kagetnya Dewata Cengkar, saat sorban Ajisaka digelar, sorban itu tidak berhenti merentang dan akhirnya menutupi seluruh pulau, yang berarti bahwa Dewata Cengkar harus menyerahkan seluruh Tanah Jawa pada Ajisaka. Dewata Cengkar merasa ditipu, ia marah besar dan mengamuk, menantang Ajisaka bertarung. Ajisaka mengambil sorbannya dan melecutkannya kepada Dewata Cengkar. “Cipta Hening Sabda Pandhita Wali,” Ajisaka berkata, dan dalam sekejap Dewata Cengkar berubah menjadi buaya putih. Ia kabur ke laut selatan dan tidak berani lagi menginjakkan kaki ke Tanah Jawa. Sebagai gantinya, Ajisaka kini menjadi raja.
Ia menjadi raja yang luhur budi dan dicintai rakyatnya. Bertahun-tahun berlalu, Ajisaka kini telah memiliki keluarga. Tiba-tiba ia teringat akan keris sakti yang ia titipkan pada Setyo. Ia mengutus Setuuhu untuk mengambil keris itu. Sebagai tanda bahwa memang ialah yang mengutus Setuhu, Ajisaka membawakan cincin batu permatanya sebagai bukti. Ia berpesan pada Setyo untuk tidak kembali sebelum menemukan Setyo dan membawa pulang keris itu.
Berangkatlah Setuhu ke bumi Maceti. Disana ia bertemu dengan Setyo yang sudah meluaskan lahan sehingga Bumi Maceti sekarang telah dihuni warga. Ia ungkapkan pada Setyo tentang maksud kedatangannya dan diserahkannya cincin Ajisaka sebagai bukti. Namun, Setyo ingat bahwa tak seorangpn boleh mengambil keris itu darinya kecuali Ajisaka sendiri, jadi Setyo tidak memberikannya pada Setuhu. Sebaliknya, Setuhu kukuh ingin menjalankan perintah tuannya dan bertekad tidak akan kembali sebelum mendapatkan keris itu. Begitulah, kedua abdi itu bertarung. Mereka berdua sama-sama setia, mereka berdua sama-sama sakti, dan mereka berdua sama-sama mati.
Di Jawa Dwipa, Ajisaka merasa ada yang tidak beres karena Setuhu tidak kunjung kembali setelah sekian lama. Ia memutuskan untuk pergi ke Maceti dan mencari Setuhu. Alangkah kagetnya ia saat menemukan keduanya sudah tidak bernyawa, dan saat itulah Ajisaka ingat pesannya terhadap Setyo untuk tidak memberikan keris itu kepada siapapun kecuali dirinya.
Ajisaka merasa sangat sedih karena telah kehilangan kedua abdi setianya disebabkan oleh kekhilafannya sendiri. Ia mengubur jasad Setyo dan Setuhu sesuai dengan posisi saat ia menemukan mereka. Ia juga memasang batu nisan. Di nisan itu, ia menuliskan nama mereka dalam tulisan Arab, dan kisah mereka dalam Aksara Jawa.
Aksara Jawa sendiri merupakan kisah dari kedua abdi tersebut.
Ha na ca ra ka (ada dua orang abdi)
Da ta sa wa la (saling berselisih pendapat)
Pa dha ja ya nya (Sama-sama sakti)
Ma ga ba tha nga (Sama-sama mati)