Kejadian penangkapan ibu Kay di Kampung Baru menjadi bahasan utama di Desa Wajak selama dua minggu terakhir. Sehari setelah penangkapan, salah satu anggota PD menempelkan sebuah berita tentang penangkapan itu di semua papan pengumuman yang ada. Kertas yang memuat berita itu sudah mulai lusuh akibat termakan cuaca setelah dipajang selama dua minggu, tapi tulisannya masih bisa dibaca dengan jelas.
Empat orang warga Desa Wajak, Malang, telah ditangkap oleh Pasukan Dewan pada Sabtu, 26 September 2105. AS (wanita, 45 tahun), HH (wanita, 55 tahun), GH (pria, 63 tahun), dan AP (pria, 53 tahun) dijemput paksa oleh PD di rumah masing-masing dengan dugaan penghianatan kepada negara.
Keempat tersangka diduga tergabung dalam aliansi pemberontak nasional Save Indonesia (SI) yang secara terang-terangan mengungkapkan rencananya untuk menggulingkan Presiden dalam pidato terbuka di Monas tahun lalu. Sejauh ini, SI sudah mengklaim bertanggung jawab atas beberapa serangan dan sabotase militer di berbagai daerah di Indonesia, termasuk serangan yang baru-baru ini terjadi pada bulan Agustus di Surabaya yang menewaskan 3 orang TNI dan 5 warga sipil.
Hingga berita ini diterbitkan, keempat tersangka masih ditahan di salah satu lapas di Surabaya guna pemeriksaan lebih lanjut. (red)
Setelah penangkapan itu, Kay dan Agni memang kabur, tapi mereka memutuskan untuk tidak pergi jauh-jauh dari Wajak. Mereka berpikir mereka akan lebih menarik perhatian dan lebih mudah ditangkap jika mereka mengungsi ke tengah hutan atau tempat terpencil lainnya. Oleh karena itu, mereka memilih menyembunyikan diri dengan cara membaur dengan banyak orang. Walaupun sebenarnya cara ini cukup menyakitkan bagi Kay, karena kemanapun ia pergi, ia harus mendengar orang-orang membicarakan ibunya, Arisanti Sidharta.
Tidak mudah hidup tanpa ibu Kay. Meskipun perempuan, Kay tidak bisa memasak sama sekali. Agni yang biasa hidup nyaman dengan keluarganya yang kaya juga tidak banyak tahu tentang berjuang hidup tanpa adanya orang dewasa yang membimbingnya. Praktis, kehidupan Kay dan Agni yang sudah tidak terlalu baik malah makin memburuk. Mereka berdua mencoba bekerja serabutan apa adanya, memberi bantuan pada orang yang membutuhkan dengan imbalan sepiring makanan untuk mengganjal perut. Pada umumnya mereka makan sehari dua kali, tapi tidak jarang mereka harus puas dengan makan sehari sekali saja.
Entah karena syok ibunya pergi, atau karena perutnya yang kelaparan hampir setiap saat, Kay mulai bermimpi aneh-aneh setiap ia tidur. Ia bermimpi tentang ayahnya selama dua minggu penuh, saat tidur siang maupun malam. Ia belum berani menceritakan tentang mimpi-mimpi itu kepada siapapun, termasuk Agni, karena merasa tidak ingin membicarakan ayahnya yang entah saat ini sedang melakukan apa dengan perempuan itu. Tapi semakin lama Kay berusaha untuk melupakannya, mimpi itu makin hari semakin nyata hingga Kay tak tahan lagi jika harus memendamnya sendiri. Jadi, pagi itu sebelum mereka berdua pergi beraktifitas, Kay memutuskan untuk menceritakan mimpinya pada Agni.
“Agni, kamu buru-buru nggak?” Kata Kay
“Kenapa Kay?”
“Aku mau cerita sesuatu.”
“Okay. Kalau gitu aku nggak buru-buru.” Agni yang tadinya sudah berdiri duduk lagi.
Kay menghela nafas panjang dan memperhatikan rumah baru mereka, salah satu rumah kosong yang dengan bebas ditinggali siapapun, seperti rumah mereka sebelumnya. Matanya terpaku pada lumut yang tumbuh di pojok ruangan.
“Udah dua minggu ini aku mimpi ayahku.” Kay berhenti sejenak untuk melihat reaksi Agni. Ketika yang disebut belakangan tidak mengucapkan apapun, Ia melanjutkan, “Mimpi-mimpi ini terasa nyata banget, seakan-akan aku bener-bener sedang ketemu ayah, sedang melakukan kegiatan bersama dia. Di mimpi, ayah ngajarin aku terbang—“
“Sorry?” Agni memotong
“Ayah ngajarin aku terbang. Tiap hari dia ngajarin trik yang berbeda-beda, tapi intinya, dia nyuruh aku terbang. Seperti tadi malam, dia bilang aku harus latihan nafas yang bener kalau kepingin penerbanganku stabil. Dan you know what? Aku bener-bener bisa terbang Ni, dalem mimpi tentunya.” Kay tertawa miris sebelum melanjutkan. “Kayaknya aku udah mulai gila.” Kay tertawa lagi lalu terdiam. Menunduk menatap kakinya sendiri.
“Kamu kangen ayah kamu?” Agni bertanya, berhati-hati.
“Entah kenapa, walaupun dia udah menyakiti hatiku sebegitu parahnya, aku nggak bisa benci dia. Kalau boleh jujur, aku kangen banget sama dia. Aku pingin ketemu dia dan minta penjelasan, kenapa dia tega ninggalin keluarga kami waktu itu. Apa kurangnya aku sama ibuk, biar aku bisa memperbaiki kekurangan itu, jadi dia gak perlu pergi.” Air mata Kay sudah mengalir membasahi pipinya kali ini.
“Kay, aku tau kamu kangen ayah kamu, dan menurutku wajar kalau otak kamu meresponnya dengan memberi mimpi itu.” Agni meletakkan tangannya di pundak Kay.
“Hahaha.. “ Kay tertawa miris lagi.
“Kenapa?”Terlihat sekali Agni menghawatirkan Kay.
“s**t! Aku tau ini memalukan dan terdengar bodoh, tapi—“ Kay ragu-ragu, “—gimana kalau aku ternyata bener-bener bisa terbang?” Kay menyesal telah mengatakannya. Ia benar-benar merasa sangat bodoh dan telah mempermalukan dirinya sendiri didepan Agni.
Agni tersenyum pengertian lalu berkata, “Kay, aku tau kamu pingin masuk jadi anggota TNI Kasus, tapi kalau memang kamu punya bakat khusus, bukannya seharusnya bakat itu sudah terdeteksi waktu umur sepuluh tahun? Dan sekarang kamu pasti sudah jadi anggota TNI, nggak disini sama aku.”
Memang benar. Saat umur sepuluh tahun, anak-anak diberi serangkaian tes khusus yang bisa mendeteksi jika ia mempunyai bakat khusus. Bakat khusus itu bermacam-macam bentuknya, bisa berupa kemampuan telepati, membaca pikiran orang, menggerakkan benda-benda tanpa menyentuhnya, menembakkan api, es, air, dan kemampuan-kemampuan ajaib lainnya. Beberapa anak memang sudah menunjukkan bakat khususnya sebelum berusia sepuluh tahun, tapi ada juga yang bakatnya terlambat muncul dan butuh pelatihan khusus untuk ditemukan. Oleh karena itulah diadakan tes darah untuk melihat apakah DNA si anak mempunyai karakter yang memberi bakat khusus tersebut. Jika iya, si anak akan mendapat pelatihan, jika tidak, maka memang si anak tidak mempunyai bakat khusus. Satu hal yang pasti dari ini adalah jika bakat tidak keluar saat seseorang berusia sembilan belas tahun, maka bisa dipastikan orang tersebut hanya orang biasa. Dan itulah Kay, hanya orang biasa.
Saat usianya sepuluh tahun, hasil tesnya tidak menunjukkan kelebihan apapun. Sampai ulangtahunnya yang kesembilan belas tahun lalupun bakat yang ditunggu-tunggu tidak pernah muncul. Jadi kandaslah mimpi Kay untuk mendaftar menjadi anggota TNI kasus.
“Sorry.” Kay tidak tahu lagi harus berkata apa.
“Don’t be.” Sekali lagi Agni tersenyum.
Akhir-akhir ini Agni tidak pernah lagi tertawa. Ia hanya tersenyum, padahal Kay sangat merindukan tawanya yang membebaskan. Tapi belum sempat Kay mengungkapkan apa yang ada di benaknya, Agni sudah bangkit berdiri dan meninggalkannya sendiri. Kay merasa ia juga perlu segera berangkat mencari pekerjaan, apapun, jika ingin makan hari ini.
***
Sudah tengah hari, tapi Kay belum menemukan satu orangpun yang membutuhkan bantuannya. Sepertinya hari ini semua orang sedang rajin dan memutuskan untuk melakukan semuanya sendiri. Sambil masih melamun memikirkan mimpi-mimpinya, Kay menyusuri sungai tanpa tujuan ketika seseorang mencegatnya dan membuatnya kaget. Orang itu sudah sangat tua, rambutnya putih berantakan. Ia memakai pakaian compang-camping dan membawa buntalan karung glangsi.
Tiba-tiba orang itu memegang lengan Kay dengan kuat, “Kay,”suaranya serak dan renta, tatapannya kosong. “kalau kamu ingin menyelamatkan ibumu, carilah mustika cahaya. Itu akan membantumu menyelamantkannya.”
Kay yang masih kaget atas apa yang terjadi berusaha menemukan suaranya untuk menjawab, “Mm.. maaf. Anda siapa ya? Dd..dari mana Anda tau nama saya?”
“Dan satu lagi, jangan mudah percaya pada orang yang tiba-tiba datang padamu menawarkan bantuan. Musuh ada dimana-mana. Mustika Cahaya, Kay. Dan cepat. Waktumu tidak banyak” Dengan itu orang tua itu melepaskan tangannya dari Kay dan berjalan tertatih menjauh.
Kay terpaku di tempatnya berada, masih tidak bisa bergerak saking kagetnya. Otaknya belum bisa memproses apa yang baru saja terjadi, jadi dia memilih untuk menjatuhkan diri, terduduk bersimpuh dan menangis meluapkan kebingungannya. Sekarang baru tengah hari, dan ia sudah menangis dua kali hari ini.
Begitu ia puas menangis dan bisa berpikir jernih lagi, ia mulai memikirkan apa yang dikatakan orang tua tadi. Orang tua itu bilang Kay harus menemukan mustika cahaya untuk menyelamatkan ibunya, apa itu berarti ibunya dalam bahaya? Apa yang akan terjadi jika terlambat? Apakah akan ada orang yang berusaha mencelakakan Kay sehingga Kay harus berhati-hati? Selain itu, siapakah orang tua itu, apakah ia teman ibunya, atau hanya orang gila yang hendak membuat lelucon? Bagaimana ia bisa tahu nama Kay?
Semakin ia memikirkannya, semakin Kay menjadi bingung, jadi ia putuskan untuk pulang dan membicarakannya dengan Agni. Perutnya yang masih keroncongan ia abaikan karena merasa masalah ini lebih penting. Untunglah Agni lebih beruntung daripada Kay hari ini dan ia membawakan sebungkus makanan untuk Kay. Setelah melahap habis makanan yang dibawakan Agni, Kay menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Selesai bercerita, Kay melihat kedua alis Agni bertaut mendengar cerita yang aneh itu.
“Hmmm, menarik. Menurut kamu itu bukan orang gila atau orang yang cuma mau main-main sama kamu gitu?” Kata Agni
“Aku sempet mikir gitu sih, tapi aneh soalnya dia tau namaku. Dan tatapan kosongnya saat ngomong itu,” Kay bergidik, “ngeri.”
“Dia bilang apa, batu cahaya?”
“Mustika Cahaya.”
“Dan kalau itu gak kamu temukan secepatnya, ibu kamu akan kenapa-kenapa?”
“Setidaknya itulah yang aku ngerti.”
“Kalau begitu, kita cari mustika cahaya atau apalah ini.” Agni mengangguk yakin.
“Eh, begitu aja?” Kay heran dengan betapa cepatnya keputusan diambil.
“Kenapa? Kita disini juga nggak ada tujuan, jadi kenapa enggak kita coba aja cari tahu tentang itu. Kalau memang itu ada, kita bisa lanjut. Kalau enggak, toh gak ada salahnya. Apalagi ini berhubungan dengan nyelametin ibu kamu. Iya kan?”
Kay tersenyum, lega mendengar jawaban sahabatnya. “Okelah kalau begitu. Jadi kita mulai dari mana?”