Malam ini dingin. Entah kenapa Kay harus kabur dari rumah saat musim kemarau, saat udara malam hanya berkisar belasan derajat Celsius di Wajak. Lebih parahnya lagi, ia tidak membawa perlengkapan apapun untuk tidur diluar. Jangankan perlengkapan tidur, baju yang ia kenakanpun sangat ‘tanpa persiapan’, hanya celana pendek selutut dan kaos lengan pendek. Seharusnya dia membawa jaket, mengingat ia dan Agni memang keluar setelah hari gelap, tapi membayangkan makanan lezat di tempat pertemuan membuat Kay benar-benar lupa akan hal sepenting itu. Kini, di dalam sebuah pondok di tengah sawah dimana ia dan Agni mengungsi tidur, Kay merasa sangat merana dan menyumpahi kebodohannya sendiri. Ia mencoba menjaga dirinya tetap hangat dengan duduk meringkuk memeluk lutut, yang rasanya sungguh tidak nyaman diatas lantai tanah yang, tentu saja, sama sekali tidak hangat.
“Kamu dingin?” Agni bertanya. Ia sama-sama memakai celana pendek selutut seperti Kay, bahkan dengan kaos tanpa lengan. Ia sendirilah yang telah memotong lengan kaosnya dengan alasan gerah. Kelihatan sekali ia tidak terganggu dengan hawa dingin yang menusuk tulang.
“Menurut kamu?” Jawab Kay ketus. “Udah tau hawanya dingin, pakai nanya.” Kay melanjutkan dengan menggerutu.
Agni tertawa lalu duduk di sebelah Kay. “Iya, sorry. Kamu tahu kan aku selalu hangat. Just in case—“
“STOP! STOP disana!!” Kay mengangkat kedua tangannya. “Aku ngerti apa maksud kamu, tapi, sorry. Makasih.”
Agni tertawa lagi. Lalu mereka berdua diam.
“Terus sekarang kita gimana?” Ucap Kay memecah kesunyian.
“Menurut kamu?” Agni menjawab tanpa menoleh pada Kay.
“Menurut kamu, apa ibuk,” Kay butuh beberapa saat untuk mengucapkan apa yang hendak ia katakana selanjutnya. “-penghianat negara?”
“Entahlah. Aku sendiri gak yakin sama apa yang aku dengar disana Kay. Bisa aja yang kita sangka kita tahu sebenernya bukan yang sebenernya terjadi.”
“Kamu denger kan, mereka mau ambil alih truknya PD?”
“Aku juga denger bagian itu. Tapi, menurutmu adil nggak kita mengambil kesimpulan tanpa beri ibu kamu kesempatan untuk menjelaskan dulu?”
“Terus apa yang menurut kamu perlu kita lakuin?”
“Terserah kamu. Aku ikut aja sama kamu.”
“Apa kita harus pergi ya Ni?” Hati Kay sakit lagi mengingat mungkin ia tidak akan pernah bertemu ibunya lagi.
“Misalkan, ibumu memang penghianat negara. Kira-kira apa itu akan mengurangi perasaanmu ke dia?”
Pertanyaan Agni itu membuat Kay berpikir. Benarkah ia tidak akan menyayangi ibunya lagi jika memang ibunya penghianat negara? Ibunya yang telah merawatnya dari kecil? Yang telah bertahan bersamanya walaupun ayahnya memilih pergi? Padahal Kay masih merasakan rasa rindu yang amat sangat pada ayahnya yang telah menikam mereka, Kay dan ibunya, dari belakang, mana mungkin ia bisa melupakan ibunya, ibu kandungnya?
“Kayaknya enggak. Nggak akan pengaruh.” Kay menjawab. Suaranya hampir tak terdengar.
“Terus?”
“Agni, bisa nggak kamu stop tanyain apa mauku dan bener-bener kasih masukan?”
“Oke Oke. Sorry. Menurutku, kita perlu pulang dulu dan tanya ke ibu kamu maksudnya apa, setelah kita tahu jawabannya, terus kita baru putusin langkah selanjutnya.”
“Dan in case memang jawabannya adalah yang terburuk, menurutmu apa yang harus kita lakuin?” Kali ini Kay mendongak menatap wajah Agni.
Agni balas menatap Kay, “Terserah kamu. Kalau kamu mau pergi, aku nggak akan nglarang. Begitu pula kalau kamu mau tinggal. Kemanapun, aku ikut kamu.” Senyum pengertian mengikuti ngkapan Agni, dan saat itulah Kay tahu, bahwa sahabatnya akan mendukungnya sampai akhir.
Malam semakin pekat, angin berhembus semakin kencang. Hanya bunyi uhu-uhu urung hantu dan suara katak yang mengisi kesunyian. Kedua manusia itu hanya diam tertelan pikiran masing-masing.
“Agni, aku dingin.” Kay berbisik
Agni tidak menjawab, melainkan merapatkan tubuhnya kepada Kay dan mendekapnya tetap dalam posisi duduk yang tidak nyaman. Namun Agni tidak mengeluh, dan Kay sangat bersyukur akan hal ini. Mereka diam tanpa bicara dalam posisi itu. Matahari akan terbit dalam beberapa jam, dan Kay gugup memikirkan apa yang akan dikatakan ataupun dilakukannya nanti didepan ibunya.
***
Saat cahaya pertama muncul dari Gunung Semeru di arah timur, Kay dan Agni sudah siap di depan pintu rumah mereka. Bermacam skenario bermain di benak Kay, dan semuanya membuat Kay merasa mulas. Bagaimana jika ibunya memang penghianat negara? Haruskah ia melaporkannya? Apakah benar ia akan menyerahkan ibunya? Jika tidak, apakah itu berarti Kay juga penghianat negara karena tidak melaporkan penghianatan yang ia ketahui? Jika ibunya terrnyata bukan penghianat negara, Kay tentunya harus menginterogasinya tentang keterlibatannya dalam kelompok tetua. Dan disamping itu semua, masalah yang paling mencolok didepan mata adalah bagaimana Kay akan menjawab jika ibunya bertanya kemana saja ia dan Agni pergi semalaman sampai tidak pulang?
“Ni, kalau kita ketahuan menguping dan ditangkap, gimana?” Kay berkata. Mengulur waktu sebelum membuka pintu depan rumah mereka.
“Kay, aku bisa nembakin api. Menurutmu kemampuan itu gak ada gunanya?” Jawab Agni sambil tersenyum meyakinkan.
Bersamaan dengan itu, sesosok perempuan yang wajahnya mirip dengan Kay terlihat membukakan pintu.
“Ya Tuhan, dari mana saja kalian?” Ibu Kay terlihat khawatis, menyuruh mereka berdua masuk.
“Jalan-jalan Buk. Ke Sawah.” Kay menjawab.
“Itu aja?” Ibu Kay bertanya pada Agni kali ini
“Iya Tante, mendadak tadi malam pingin kesana, Kay bilang ingin lihat bintang, jadi—“
“Ohya?” Kay memotong ucapan Agni, kebingungan
“Bukannya kamu sendiri yang bilang tadi malem?” Agni mengedipkan matanya, memberi kode agar Kay mendukung ceritanya.
“O, oh iya. Lupa. Hahaha,” Tawa Kay garing sekali. Ia sangat gugup dan bingung memikirkan bagaimana ia harus memulai percakapan tentang apa yang sebenarnya terjadi tadi malam, eh tau-tau Agni sudah membuat cerita bohongan tanpa berkompromi dengan kay dulu.
Ibu Kay menghela nafas panjang beberapa kali sementara Kay dan Agni hanya diam saling pandang. Lalu ibunya berkata, “Dengar, anak-anak. Ibuk tahu kalian sudah dewasa, walaupun Agni belum dapat barcode, ibuk anggap saja sudah. Ibuk juga pernah seusia kalian, dan saat itu juga suka melakukan, emm, bagaimana ya bilangnya, eksperimen-eksperimen,” dan tepat pada saat itu Kay dan Agni saling mendelik satu sama lain, bingung dengan apa yang sedang dibicarakan ibu Kay, “tapi, jujur saja ibuk berharap kalian tidak akan melakukannya. Itu sesuatu yang seharusnya dilakukan hanya oleh mereka yang sudah menikah—“ Ketara sekali ibu Kay pun sebenarnya bingung bagaimana harus menjelaskannya.
“WHOA WHOA WHOA!! Wait, Buk. What do you mean, here?” Kay refleks beranjak dari kursi sambil mengangkat kedua tangannya. “You’re not telling me about that, right now,” Membicarakan tentang s*x dengan ibunya didepan Agni jelaslah bukan salah satu hal yang diantisipasi Kay tadi sebelum membuka pintu depan rumah ini. Bagaimana bisa ibunya berpikir sejauh itu, semelenceng itu, hanya karena anaknya tidak pulang semalaman? Pada detik itu, Kay merasa lebih baik saat ini mereka membicarakan tentang Kay dan Agni yang menguping di tenda para tetua tadi malam. Apapun resikonya
“Ni, bantuin aku jelasin ke ibuk.” Kay berpaling ke Agni sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
Agni hanya diam terpana dengan apa yang ia saksikan didepan matanya sendiri, menggeleng-gelengkan kepala, mengambil nafas panjang, lalu berkata, “Wow. Just Wow. Maaf aku speechles banget. Tapi Tante, Tante jelas sangat salah paham disini.—“
“Betul. Nggak ada apa-apa diantara aku dan Agni, kalau itu yang mau Ibuk dengar. We’re just friends. Suuper best friend. Bestest!! Iya kan Ni?” Ucap Kay menyikut Agni yang tersenyum kecut.
“Yep.” Jawab Agni singkat.
“Oh, maafin ibuk sudah buruk sangka sama kalian. Habisnya, kalian lengket banget kemana-mana berdua. Sudah lama Ibuk pingin bahas ini, tapi rasanya nggak enak sendiri.” Ibu Kay bangkit dari kursi, terlihat sekali ia malu. “Kalian sudah makan?”
“Belum sejak kemarin sore.” Agni menjawab bersemangat.
“Didalem ada makanan, tadi malam tante bawain dari pertemuan lho. Sudah dingin, salah sendiri pada nggak ada dirumah pas pulang.”
Semua makanan ini lezat dan Kay dan Agni tidak buang-buang waktu untuk menghabiskannya. Matahari sudah mulai tinggi, dan mereka berdua kelelahan. Kay sedang memikirkan cara yang tepat untuk menanyakan masalah tadi malam pada ibunya, tapi tetap saja kesulitan menemukan jawabannya. Kemudian terdengar suara sebuah mobil berhenti dan pintu depan rumah mereka diketuk. Ibu Kay yang keluar untuk membukakan pintu.
Kay tidak bisa melihat siapa yang datang atau mendengar apa yang ibunya bicarakan dengan tamu itu. Saat Kay hendak mengecek keadaan, ibunya sudah kembali ke ruangan dalam. Ia terlihat terburu-buru.
“Kay, Agni, cepat kemasi barang-barang kalian seperlunya. Cepat cepat. Ayo Kay cepat.” Ia menambahkan tiga kata terakhir waktu melihat Kay mulai membuka mulut untuk melontarkan pertanyaan.
Situasi mendadak menjadi aneh. Tanpa tahu kenapa atau bagaimana, secara otomatis Kay dan Agni mengepak beberapa pakaian ganti kedalam ransel mereka masing-masing. Ibu Kay juga menjejalkan beberapa dokumen ke dalam tas Kay dan air minum juga makanan ke dalam tas Agni.
“Dengar, Ibuk mau kalian cepat pergi dari sini, dan jauh-jauh dari PD. Cari tempat pengungsian yang nyaman, jauh dari PD. Jangan sampai ada yang tau kalian siapa, kalau perlu palsukan nama kalian. Kalian ngerti?” Kata Ibu Kay terburu-buru sambil mengelus kepala Kay dan Agni dengan kedua tangannya.
“Ibuk kenapa? Maksud Ibuk apa? Siapa itu diluar?” Kay panik, air matanya mulai mengalir
“Sudah Kay, kamu tidak perlu tahu. Yang penting sekarang kalian cepat pergi. Tolong jaga Kay ya, Agni.”
“Ada apa Tante? Mungkin Agni bisa bantu, Agni bisa—“
“Apapun yang kamu bisa, sekarang yang tante minta dari kamu adalah bawa Kay pergi jauh-jauh dari sini. Segera. Kay,” Ibu Kay memandang anaknya dengan iba, “kamu tahu kan ibuk selalu menyayangi kamu? Ayah juga, walaupun dia nggak bersama kita. Selalulah menunduk dan ikuti kata hati.”
Bersamaan dengan itu terdengar suara gebrakan dan teriakan tidak sabar, dan Ibu Kay memberi isyarat agar mereka, Kay dan Agni, segera pergi lewat pintu belakang. Kay ragu-ragu, tidak ingin meninggalkan ibunya. Pipinya sudah basah oleh air mata ketika Agni menariknya menjauh.
“Tunggu!” Teriak Kay pada Agni sehingga Agni melepaskan pegangannya di lengan Kay. “Apa ibuk, “ Kay diam sesaat. Suara gebrakan itu semakin keras terdengar, diikuti derap suara langkah kaki hendak menerobos masuk ke tempat mereka berada, “apa ibuk penghianat negara?” Suara Kay hampir berupa bisikan, tapi berdasarkan respon yang diberikan ibunya, yaitu terpana kaget sambil meangkupkan tangan ke mulutnya, Kay tahu ibunya bisa mendengarnya.
“Maafkan ibuk, Kay.” Ibunya tersungkur ke tanah, lunglai dan menangis.
Setelah itu semuanya buram. Kay kehilangan tenaganya saat itu juga. Agni menariknya keluar lewat pintu belakang, agak menyeretnya karena Kay benar-benar lemas setelah apa yang didengarnya. Ia tidak tahu kemana Agni membawanya, ia cuma mengikuti genggaman tangan Agni yang menariknya entah kemana tanpa benar-benar memperhatikan sekitar. Semua yang ia pikirkan benar, ibunya memang penghianat negara. Sekarang ia tak tahu lagi kepada siapa ia bisa bersandar. Pertama ayahnya, lalu ibunya, kemudian siapa lagi? Agni?