Apa yang dikatakan Agni setelah makan malam benar-benar membuat Kay merasa semakin tidak enak kepada keluarga Kepala Desa. Ia tahu tidak seharusnya Mama dan Papa Agni memperlakukan anaknya seperti masih berusia lima tahun, tapi di satu sisi Kay juga tidak mau menyebabkan perpecahan keluarga, terutama keluarga yang telah menolongnya. Keluarga ini mungkin masih akan tetap menolongnya jika ia tidak bertindak bodoh dengan mengadakan misi kebebasan dengan Agni. Walaupun jika boleh memilih, ia pasti akan memilih untuk tetap bersama-sama sahabatnya, Kay tidak ingin Agni menjadi anak durhaka karena dirinya. Jadi, satu-satunya cara adalah dengan pergi.
“Sudah siap Kay?” Ibu Kay mengintip dari pintu kamar Kay.
“Sedikit lagi buk.” Kay segera memasukkan beberapa dokumen penting ke dalam tas punggungnya. Barang Kay tidak banyak, jadi seharusnya berkemas tidak membutuhkan waktu lama. Tapi nyatanya ia sangat enggan berpisah dengan satu-satunya sahabat yang ia punya sehingga setelah selesai makan malam, ia bukannya bergegas tapi malah berbaring diatas kasur, menatap langit-langit selama satu jam penuh sampai ibunya datang barusan.
Setelah semuanya siap, Kay dan ibunya bersiap pergi. Mereka berdua sepakat untuk tidak berpamitan pada Agni karena tidak ingin hal yang tidak diinginkan terjadi. Kay dan Ibunya mengucapkan terimakasih kepada Papa dan Mama Agni. Kay menitiplan surat untuk Agni kepada Mamanya yang isinya permintaan maaf karena tidak bisa berpamitan padanya. Begitulah, dengan satu langkah diikuti langkah lainnya, mereka berdua berjalan menyusuri gelapnya malam.
***
“TANTE!! KAY!! TUNGGU!!”
Itu Agni. Kay hafal suaranya. Dari kegelapan muncullah Agni. Terengah-engah, ia membawa ranselnya sendiri, berlari-lari kecil menyusul mereka berdua.
“Agni!!” Kay berlari kearahnya dan menghambur kedalam pelukan cowok itu. “Kenapa nyusul?”
“Kan udah aku bilang kalau kamu pergi, aku ikut. Tega ya kamu ninggalin aku.” Jawab Agni sambil menurunkan Kay. Cowok itu membungkuk dan meletakkan kedua tangannya di kedua lututnya. Nafasnya masih pendek-pendek, terlihat benar ia baru berlari agar bisa menyusul Kay dan Ibunya.
“Tapi, aku nggak pingin jadi penyebab perpecahan keluarga kamu. Aku gak mau gara-gara aku kamu jadi anak durhaka.”
“Nak Agni, kenapa kamu nyusul kami?” Kali ini Ibu Kay sudah kembali dan mencapai mereka.
“Maaf Tante, boleh saya ikut kalian? Please.” Agni menangkupkan kedua telapak tangannya didepan wajahnya.
“Kenapa Agni? Beri satu alasan.”
“Hmm, karena Tante dan Kay perempuan dan butuh lelaki buat melindungi?”
“Kami sudah dewasa, kami sudah punya barcode dan melindungi diri kami sendiri sementara kamu masih belum.” Kata Ibu Kay tegas tetapi tidak galak.
“Karena aku ingin ikut kalian?” Agni mencoba lagi, berharap alasannya diterima.
“Maaf, itu sama sekali tidak meyakinkan tante, dan omong-omong, terimakasih sudah menyelamatkan Kay waktu di Sumberingin. Kamu pulang saja, kami mau melanjutkan perjalanan.” Ibu Kay menyangklong tas punggungnya dan mulai berjalan. Kay hanya nyengir dan mengikutinya, memberi pandangan meminta maaf pada sahabatnya.
“Oke Tante, alesannya adalah, karena aku akan terus ikutin kalian bahkan kalau gak Tante izinkan. Karena aku gakbisa jauh-jauh dari Kay. Dia satu-satunya temen yang aku punya. ”
Ibu Kay menoleh, “Resiko tanggung sendiri ya.” Kemudian ia tersenyum.
Agni melayangkan tinju ke udara dan bergegas mengikuti mereka.
***
Sore ini Kay dan Agni sedang berjalan-jalan di sebuah persawahan di Desa Wajak. Perjalanan malam itu membawa mereka ke desa ini. Kini mereka tinggal di sebuah kampung bernama Kampung Baru. Dua minggu telah berlalu dan mereka sedikit demi sedikit mulai hafal daerah sekitar, dimana letak sungai, perkebunan, persawahan. Mereka juga mulai hafal satu-dua tetangga dekat rumah yang mereka tinggali. Seperti di Pandansari, banyak rumah di Wajak telah ditinggalkan pemiliknya, jadi saat mereka sampai malam itu, mereka hanya perlu melapor ke tetua setempat dan diizinkan untuk menempati rumah kosong manapun yang mereka mau.
Matahari mulai tenggelam. Semburat warna oranye merekah di ufuk barat. Kay dan Agni berhenti dan duduk untuk menikmatinya.
“Aku selalu suka matahari terbenam.” Mata Agni menyipit memandang sang surya yang perlahan turun.
“Kenapa?” Kay tidak memandang Agni, melainkan menikmati pemandangan menakjubkan ini.
“Ia membara, tapi indah. Warnanya seperti api, tapi kau tak pernah terbakar menatapnya. Sebaliknya, kau selalu ingin menatapnya, dan saat ia sudah berlalu, keindahannyapun hilang.”
“Wuu, Lebay!” Kay memukul kepala Agni.
Agni tertawa. Tawanya renyah dan lepas, membuat Kay merasa bahagia bisa mendengarnya. “Kay, aku mau bilang sesuatu.” Air mukanya berubah serius.
“Bilang aja. Dan nggak usah lebay kayak tadi.” Kay menjawab tanpa menoleh.Tetap menikmati matahari terbenam.
“Waktu di danau, itu aku…”
Kay menunggu Agni melanjutkan tapi Agni tetap diam. “Apanya?”
“Kay, aku punya kemampuan khusus. Aku api.” Agni mengatakannya dengan cepat.
“Agni, bicara yang jelas.”
“Aku bisa nembakin api, aku bisa meledak, aku bisa bikin api dari tubuhku, aku punya kemampuan khusus Kay. Dan karena itulah kita selamat waktu di danau. Aku ledakin ularnya.”
Perhatian Kay tertuju penuh pada temannya. Kini ia memandangi sahabatnya itu dengan tatapan tertegun, antara percaya dan tidak. Mulutnya membuka menutup tapi tidak ada kata keluar dari sana, Kay bingung harus bilang apa.
“Kata Mama aku gak boleh bilang apapun soal ini kepada siapapun karena ini akan bahayain aku. Nanti kalau aku umur Sembilan belas, aku harap bisa dapat undangan dari TNI Kasus (Pasukan Khusus), aku ingin gabung sama mereka.”
Butuh beberapa saat bagi Kay untuk menemukan kembali caranya berbicara, dan saat akhirnya dia ingat, dia bilang “Kamu tahu nggak Agni, itu KEREN BANGET!!!” Suaranya meninggi di dua kata terakhir.
“I know, right? Tapi yah begitulah mama. Selalu ingin aku disembunyikan.” Agni menghela nafas panjang.
“Kamu tau, aku juga dari dulu selalu bercita-cita pingin punya kemampuan khusus dan gabung TNI Kasus. Nyatanya aku cuma anak biasa aja.” Kay tanpa sadar mencabuti rumput di dekat kakinya.
“You’re cool, you know? The way you are. Kemampuan khusus atau enggak.” Agni tersenyum.
Kini matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya, meninggalkan warna keunguan di tepi cahaya oranye-nya.
“Jadi karena itu kamu suka sunset? Api…” Kay mengangkat tangannya kedepan, membuat gerakan seakan akan menggenggam bola api di horizon. “Pantes kamu selalu hangat.”
“Berguna kalau lagi ada orang yang lagi kedinginan. Kamu kedinginan Kay?” Agni menggoda melihat Kay kini memeluk dirinya sendiri.
Kay tidak menjawab, hanya memukul kepala Agni sekali lagi sambil berdiri lalu berjalan meninggalkannya.
***
Malam Ini ibu Kay diundang untuk menghadiri pertemuan tetua kampung. Walaupun Kay ingin sekali ikut, ia tidak bisa karena ibunya bersikeras melarang Kay datang. Ibunya bilang hanya yang diundang yang boleh hadir, dan topik yang dibahas sangatlah rahasia. Kay sih sebenarnya tidak peduli dengan topik bahasannya, ia hanya ingin mencicipi makanan yang disuguhkan disana, pastinya enak-enak. Bisa dibilang sejak meninggalkan rumah Agni, Kay sudah tidak pernah lagi makan layak. Menu makanan hariannya kembali seperti saat di Pandansari: bayam dan singkong, jadi, alangkah menyenangkan jika sekali-kali ia bisa makan nasi.
Agnipun berpikiran sama dengan Kay. Bahkan, Agni lebih parah dari Kay dalam hal beradaptasi dengan menu makanan baru ini. Ia tidak pernah sekalipun dalam hidupnya kekurangan makan. Sebelumnya, ia selalu makan yang enak-enak di rumahnya. Sebaliknya, beberapa hari pertama dalam pelarian ini, dia sangat terpukul saat menemukan bahwa menu makanannya mayoritas sama dari hari ke hari. Jadi, hari ini ia sangat mendukung agar Kay bisa ikut ibunya, tentu agar Kay bisa menyelinap keluar dengan membawa beberapa makanan lezat untuk mereka berdua.
Karena penolakan ibu Kay, Kay dan Agni pada akhirnya memutuskan bahwa mungkin lebih baik mereka berusaha masuk ke dalam ruang pertemuan tanpa diketahui, entah bagaimana caranya nanti. Yang penting mereka ikuti saja ibu Kay untuk saat ini.
Merekapun berjalan menyusuri jalanan kampung yang mulai sepi. Hari sudah gelap dan tidak banyak orang berlalu-lalang di jalan. Kebanyakan dari mereka telah masuk ke rumah mereka masing-masing dan menutup pintu. Entah ada apa dengan rasa takut dan kegelapan, tapi sepertinya orang-orang ini menjadi takut saat malam tiba. Karena itulah hampir semua pintu terkunci kecuali bagi mereka yang benar-benar terpaksa harus tetap berada diluar entah untuk berjaga atau hal lainnya.
Tenda pertemuan sudah didepan mata. Kay mendekat dan mulai mengelilinginya untuk mencari celah dimana ia bisa masuk tanpa terdeteksi. Kay dan Agni berjalan mengendap-endap sambil sesekali mengintip ke celah-celah tenda, melihat situasi. Diskusi para tetua bisa terdengar samar-samar dari luar, dan upaya Kay untuk tidak mencuri dengar terasa sia-sia karena apa yang mereka bicarakan di dalam menarik perhatian Kay dan Agni.
Berjongkok dalam posisi tidak nyaman, Kay dan Agni berusaha menahan napas dan tidak bergerak agar tidak ketahuan.
“Begini saja, bagaimana kalau kita pancing mereka kesini dulu. Dengan pasukan yang sudah kita latih, sepertinya kita bisa merebut beberapa mobil.” Suara serak seorang pria terdengar.
“Tapi kita belum mampu. Kita akan kalah jumlah. Memangnya berapa yang kita punya? Empatpuluh? Limapuluh orang?” Seseorang wanita dengan suara melengking menjawab.
“Masalahnya, semakin kita menunda, kita akan semakin tertinggal. Tahu sendiri beberapa bulan yang lalu Pandansari sudah diisolir. Kalau kita tidak cepat bertindak, Patok Picis akan segera diambil alih juga.” Pria bersuara serak tadi berkata.
“Untunglah di Bambang ada kelompok yang cukup kuat, jadi sepertinya Desa Bambang tidak akan jatuh dalam waktu dekat.” Kay tahu itu ibunya yang bersuara.
Jantung Kay berdegup kencang, ia berpikir keras tentang apa yang sedang para tetua ini bicarakan. Kenapa Pandansari disebut-sebut, dan pasukan apa yang tadinya diucapkan? Siapa yang akan mereka jebak? Kay saling pandang dengan Agni. Mata Agni Nampak sama bingungnya dengan Kay.
“PD biasanya tiba di awal bulan. Bulan depan, Agustus, pastilah mereka datang lagi kemari untuk mengecek situasi. Biasanya mereka hanya membawa 1 truk untuk inspeksi. Bagaimana kalau kita serang mereka saat itu? Tambahan satu truk akan sangat membantu pergerakan kelompok kita kedepannya.” Suara laki-laki serak itu terdengar lagi.
Mata Kay membelalak. Jantungnya berdegup semakin kencang hingga membuat dadanya sakit. Apa ia tak salah dengar? Ibunya tergabung dalam sebuah kelompok tetua yang akan menyerang Pasukan Dewan? Ia pasti salah dengar. Tetapi saat ia menatap Agni, ia tah bahwa Agni telah mendengar horror yang sama dengan yang telah ia tangkap dengan telinganya sendiri. Mereka perlu segera pergi dari sini sebelum ketahuan menguping, tidak peduli lagi apakan mereka mendapatkan makanan yang tadinya mereka cari atau tidak. Tidak ada yang tahu bagaimana nasib mereka jika sampai mereka tertangkap.
Saling mengangguk singkat, Kay dan Agni berdiri dan perlahan berjingkat menjauh dari tenda. Baru dua langkah, terdengar sesuatu meletus di kaki Agni. Tanpa diketahuinya, Agni telah menginjak gelas air mineral plastic, membuatnya meletus.
“SIAPA DILUAR?”
Cukuplah teriakan itu menjadi pertanda bahwa mereka perlu segera pergi dari tempat itu, bahkan kalau bisa pergi dari desa itu sejauh mungkin. Kay dan Agni berlari bergandengan tangan. Terus berlari tanpa menghiraukan rasa menusuk-nusuk yang ada di perutnya, Kay tanpa sadar menangis. Ia memikirkan ibunya yang dengan terpaksa harus ia tinggalkan. Ia tak sempat mengucapkan selamat tinggal dan permintaan maaf. Lebih buruk lagi, rasanya Kay ingin muntah saat menyadari bahwa ibunya seorang penghianat negara.