Ular raksasa itu panjangnya setidaknya lima puluh meter, dengan diameter tubuh tidak kurang dari setengah meter. Dengan ekornya yang meruncing si ular melilit tubuh Kay, kepalanya yang sebesar anjing husky perlahan mendekati si calon mangsa. Bagaikan slow motion, Kay merasa tubuhnya diremas dan diremukkan perlahan. Semakin ia berusaha berontak, semakin erat pelukan maut itu mendekapnya. Perlahan Kay menjadi lemas tak bisa bernapas, pandangannya makin kabur. Dengan sisa-sisa tenaga terakhir ia berusaha menolehkan kepala yang lunglai pada Agni untuk terakhir kalinya.
Agni berenang menyingkir dari danau, menjauh dari si ular raksasa. Ia mendarat di sisi lain danau dan meraih sebuah batu seukuran genggaman tangan.
“Woy Mahluk jelek! Sini kalau berani!” Agni berlari mendekat ke arah si monster. Kay terlihat sudah lunglai tak sadarkan diri. Agni harus cepat. “Hey b******k!” setelah cukup dekat, Ia lemparkan batu yang tadi dibawanya ke arah ular raksasa.
Meleset, tapi cukup untuk mengalihkan perhatian si monster. Kepala besarnya yang sudah menganga siap menelan Kay menoleh kearah Agni, menyadari adanya gangguan. Si ular menjatuhkan tubuh Kay ke tanah dan berpaling kepada calon mangsa baru, mengejarnya.
***
Perasaan lega merayap kedalam paru-paru Kay bersamaan dengan tubrukan badannya dengan tanah saat hentakan keras itu mendorong oksigen masuk kedalam paru-parunya. Kay perlahan sadar. Mata Kay berat, tapi ia berusaha keras membukanya. Dalam pandangan kabur, ia melihat si ular raksasa berganti menggulungkan diri pada tubuh sahabatnya yang terlihat pasrah. Dengan semakin jernihnya visi, Kay bisa melihat bahwa hanya kepala dan kaki Agni yang terlihat, selain itu tubuh cowok itu didekap erat oleh tubuh sang ular.
“Tidak, jangan, aku saja, lepaskan” Kay berusaha berteriak dan bergerak, tapi tak ada suara. Tubuhnya terlalu lemah. Dalam ketidakberdayaan, kesedihan dan perasaan bersalah menggerogot dari dalam diri. Air matanya berlinang untuk sahabat yang ia tahu tidak akan bisa selamat dari cengkraman maut, dan itu semua karena ide gila yang ia tanamkan pada benak temannya itu.
Air mata yang mengalir terasa membakar bola mata Kay, memburamkan kembali pandangannya sekali lagi. Rasa pengar di hidung dan panas di matanya menjadi semakin intens, sampai-sampai pandangannya membuta oleh kilatan cahaya. Merah dan membutakan. Kay pun tak sadarkan diri.
***
Agni tahu inilah saatnya. Ular itu semakin erat membelit, membuatnya sesak napas. Kepala yang semakin pusing membuatnya sulit berkonsentrasi, tapi ini bukan saatnya untuk menjadi lemah. Ia harus melakukan sesuatu dan ia tahu ia bisa melakukan sesuatu. Dengan segenap kekuatan ia memusatkan pikiran. Ia meyakinkan diri. Ia pernah melakukan ini sebelumnya, dan kali ini ia harus bisa melakukannya lagi. Dengan tumbuhnya keyakinan, perlahan ia merasakan rasa hangat menjalari tubuhnya, dimulai dari d**a, dari jantungnya, menjalar menuju perut, leher, lengan, paha, dan akhirnya pada seluruh tubuh. Dalam beberapa detik yang terasa lama tubuhnya mulai kemerahan, lalu membara seperti arang terbakar. Ia bisa merasakan saat kumpulan energi mulai terbentuk dan meronta ingin meledak keluar dari tubuhnya. Tidak seperti biasa, kali ini ia tau ia harus melepaskannya, bukan malah menahan.
Saat suara ledakan itu keluar, Agni bisa merasakan bom panas meledak dari dalam dirinya bersamaan dengan cahaya merah yang membutakan. Energinya terkuras habis dan hal terakhir yang ia ingat adalah tubuhnya terjerembab ke tanah dan hujan abu hitam berjatuhan dari langit.
***
“Bagaimana bisa kalian pergi ke Sumberingin?” Mama Agni berbicara dengan suara lirih. “ Bukankah kamu tahu peraturannya Agni, kamu tidak boleh pergi jauh-jauh dari rumah. Mama dan Papa melakukan ini semua demi kebaikan kamu sendiri.” Mama Agni tampak sekali kecewa dan terpukul atas apa yang telah terjadi. Air mata menggenang di pelupuk matanya, nyaris jatuh.
Baru saja Agni menceritakan pada Mamanya hampir semua yang telah terjadi mulai dari awal. Hanya saja ia menghilangkan bagian ‘hampir dimakan monster danau’ dan menggantinya dengan ‘tenggelam dan kelelahan’. Kay lega karena Agni tidak menceritakan bagian itu, karena jujur saja Kay tidak ingin Mama Agni yang sudah sakit-sakitan menjadi semakin syok. Mungkin sebagian dari dirinya masih belum mau menerima bahwa idenyalah yang telah membuat mereka berdua hamper terbunuh.
Agni yang masih lemas hanya bisa menunduk melihat mamanya yang sakit hati, “Maafkan aku Ma.”
“Mama kecewa sama kamu Agni.” Ketara sekali rasa sakit yang ia rasakan karena penghianaran ini.
“Ma, pernah nggak sekali-kali mama berpikir gimana perasaan aku?” Agni mulai membantah, “Aku udah delapan belas tahun Ma. Teman- teman seusiaku udah pada main jauh, sementara aku selalu dikekang sama Mama dan Papa. Mama pingin anak Mama jadi anak kuper? Terlebih lagi, apakah Mama suka kalau anak Mama merasa dipenjara oleh orangtuanya sendiri?”
Mereka berdua diam lama sambil saling menatap. Agni dengan pandangan mendendam, dan Mama Agni dengan tatapan tidak percaya anaknya bisa berlaku seperti itu.
“Agni, bisa-bisanya kamu bilang begitu ke Mama. Banyak orang sudah nyariin kamu dari tadi tapi kamu nggak ada dimana-mana. Kita nggak bisa lacak kamu. Untung saja Kay sudah punya barcode, kalau tidak entah apa yang akan terjadi sama kalian berdua. Dan ngomong-ngomong soal Kay,” Mama Agni menatap Kay, “Apa Agni jadi begini gara-gara kamu?”
“Apa kamu yang ngajarin Agni jadi seperti ini Kay?” Pandangan Mama Agni beralih pada Kay yang terduduk lemas di kursi ruang tamu rumah kepala desa. Ia belum pulih betul dari pingsannya.
Kay saling pandang dengan Agni sebelum menjawab. “Iya Tante. Maaf.”
“Maaf Kay, tapi tante menyesal sekali kepada kamu. Kamu seharusnya menjadi contoh yang baik untuk Agni sebagai orang yang lebih dewasa, bukannya malah mengajarinya hal yang tidak benar.” Mama Agni beralih berbicara kepada Agni, “Sebentar lagi papa kamu pulang. Kita tunggu keputusan dari dia tentang ini.”
“Tapi bukannya papa baru akan pulang Sabtu?” kata Agni.
“Memang seharusnya begitu, tapi karena kecelakaan ini, semua agenda papa dibatalkan demi kamu. Coba kamu lihat apa yang sudah kamu akibatkan pada semua orang.” Dengan ini, Mama Agni mendorong kursi rodanya menjauh meninggalkan mereka berdua.
Hanya tinggal Agni dan Kay di ruang tamu. Mereka tidak tahu harus berkata apa. Jadi mereka hanya diam lama, sesekali saling memandang berusaha membaca benak satu sama lain.
“Maafin aku Agni.” Kay memulai pembicaraan memecah keheningan. Semua ini benar, semua yang telah dikatakan Mama Agni benar. Ini semua salah Kay dan ia berharap ia bisa memutar balik waktu dan membatalkan semuanya. Ia telah membalas air s**u kelluarga Agni dengan air tuba.
Agni yang tadinya berdiri menyandar dinding mendekati Kay dan duduk di sebelahnya. “Bukan salah kamu.”
“Tapi kalau kamu nggak ketemu aku, ini semua nggak akan pernah terjadi.” Kay mengubah posisinya agar bisa memandang Agni dengan lebih jelas. Bahkan dengan wajah penuh luka, Agni tetap tampan. Malah, bisa dibilang luka-luka itu pas sekali di wajahnya, membuatnya terlihat lebih macho. Pantas saja banyak cewek mengejar-ngejarnya. Kay tahu di dalam dirinya, ia yakin bahwa jika ada satu saja cewek yang melukai hati salah satu orang yang paling ia pedulikan ini, Kay akan melakukan apapun untuk membalas cewek itu dengan kejam.
“Kamu tahu, berkat kamulah aku ngerti apa itu artinya kebebasan. Selama ini aku memang hidup tercukupi secara materi di istana ini, tapi aku nggak pernah ngrasain perasaan yang udah aku alami ketika kita melakukan hal-hal konyol bersama. Gimana ya aku menyebutnya, kau menunjukkan aku dunia?” Agni tersenyum.
Kay mengerutkan dahimya, “Tapi gara-gara aku kamu akan kena masalah. Dan aku nggak mau kamu kena masalah.”
“Dengar,” Agni meletakkan tangannya di pipi Kay, “Apapun masalah yang akan aku dapat sebagai konsekuensi dari ini semua, aku akan terima dengan lapang d**a karena pengalaman yang udah kita alami bersama jauh lebih baik.”
Kay tersenyum, merasa lega karena sahabatnya tidak menyalahkannya atas kejadian ini. Ia bahkan merasa sedikit tidak enak karena memang seharusnya Kaylah yang harus disalahkan, tapi bukannya membenci Kay, Agni malah membelanya. Didalam hati, Kay sebenarnya masih penasaran dengan apa yang terjadi setelah ia pingsan. Ia ingat telah bermimpi seakan cahaya merah berkobar-kobar sebelum semuanya menggelap. Saat terbangun, tahu-tahu, ia sudah berada di ruang tamu kediaman keluarga Agni. Sudah sejak tadi Kay ingin bertanya pada Agni tentang apa yang terjadi, tapi tentu saja tidak didepan para paramedis dan pelayan rumah, dan terutama mama Agni. Kini saat mereka sedang berdua saja, sepertinya ini waktu yang tepat untuk membicarakannya.
“Tadi waktu di danau, gimana kamu bisa selamat?” Kata Kay
“Itu…Kay, sebenernya aku—“
“Kay!” Agni dipotong oleh kedatangan Ibu Kay yang masuk di pintu depan dengan panik, sepertinya baru tahu kabar kecelakaan ini. Ibu Kay berlari untuk mendekap Kay dengan berlinang air mata. “Kamu nggakpapa?” Tangannya memegangi tubuh Kay, memeriksa jika ada sesuatu yang salah.
Agni perlahan menyelinap pergi dan masuk ke kamarnya di lantai atas, meninggalkan Kay dan Ibunya untuk memberi mereka privasi.
“Nggakpapa Ibuk. Kay diselametin Agni tadi.”
“Agni? Gimana ceritanya?”
“Entahlah aku nggak terlalu ingat, yang jelas aku, “ Kay memelankan suaranya menjadi sebuah bisikan, ”dililit ular raksasa—“
“Ular raksasa?!” Ibu Kay menyela, kaget akan apa informasi yang didapatnya.
“SHHHH!! Ibuk jangan keras-keras,” Kata Kay sambil mendekatkan jari telunjuknya ke bibir.
“Iya, waktu aku dililit, Agni ngalihin perhatian ularnya, terus ularnya berbalik ngejar Agni dan Kay dilepasin. Kay terlalu lemas jadi pingsan dan tahu-tahu sudah ada disini pas bangun.”
Ibu Kay tampak tak percaya tapi bersyukur anaknya telah pulang dengan selamat. “Ya Tuhan, Ibuk hutang nyawa sama Agni. Mana anak itu?” Ibu Kay menolehkan kepala kekanan dan ke kiri mencari Agni yang sudah pergi. “Syukurlah kamu selamat Kay. Mau jadi apa ibuk tanpa kamu dan ayah?” Ibu Kay menghambur memeluk anaknya sambil menangis sesenggukan.
Kay menjadi salah tingkah dengan disebut-sebutnya ayahnya dalam percakapan ini. Sungguh ia tidak pernah memikirkan tentang meninggalkan ibunya sendirian di dunia ini jika dirinya kenapa-napa dan dalam sesaat ia benar-benar menyesal karena telah bertindak begitu ceroboh.
Malam harinya, Kay bersama ibunya dan Agni sekeluarga makan malam bersama. Papa Agni datang menjelang petang dan sepertinya ia telah mendengar cerita ‘lengkapnya’ dari Mama Agni dan beberapa orang lainnya.
“Sayang sekali semua ini harus terjadi,” Papa Agni memulai percakapan,”Sejak Kay ada disini, Agni menjadi anak yang lebih pemberani dan outspoken. Bisa saya lihat dia menjadi lebih bahagia sejak berteman denganmu Kay.” Papa Agni menganggukkan kepala pada Kay. “Kamu tidak apa-apa, kan?” tambahnya, bertanya pada Kay.
“Sudah mendingan daripada tadi sore Om. Maaf ini semua salah Kay.” Kay menimpali.
“Saya berjanji, setelah ini saya akan menjaga Kay dengan lebih hati-hati Pak.” Ibu Kay berkata. “Hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena telah membalas kebaikan Bapak yang sudah menyediakan tempat tinggal bagi kami dengan sikap yang sangat tidak bertanggung jawab.”
“Tidak apa-apa. Kadang-kadang anak muda memang mebuat kesalahan.” Papa Agni menjawab tenang. “Saya yakin setelah ini hal seperti ini tidak akan terulang, karena, maaf Bu, Kay, kalian tidak diterima lagi dirumah ini. Kay sudah membawa pengaruh buruk untuk—“
“APA MAKSUD PAPA?” Agni sudah berdiri dan membentak papanya sendiri. Kursi yang didudukinya terjath ke belakang. Semua mata menatapnya.
“Ini persis apa yang Papa maksud Agni.” Nada bicara Pak Kepala Desa tidak meninggi, namun bergetar keluar dari sela-selagiginya. Pelipisnya berkedut, terlihat jelas ia berusaha menahan amarahnya. “Sejak kapan kamu berani melawan dan bicara kasar kepada Papa, apalagi membentak seperti barusan? Kemana anak Papa yang penurut?”
“Papa sama aja sama mama, nggak pernah memikirkan perasaanku!” Agni hendak meninggalkan meja makan dan menuju kearah kamarnya.
“Siapa kamu Agni? Mana anak Papa yang sebenarnya?” Papa Agni kini sudah berdiri juga
Agni berhenti dan menoleh, “Inilah aku, Pa, aku yang hidup. Dan orang yang Papa pikir anak Papa itu sudah hilang. Jika Papa tidak mau mengakuiku yang sekarang, aku nggak peduli.” Agni hendak pergi tetapi menoleh sekali lagi sebelum meninggalkan yang lainnya, “Dan kalau Papa ngusir Kay, Sorry Pa, aku ikut dia.”