Kay terbangun di ranjang empuk. Hampir sebulan sudah ia tinggal di rumah besar ini, tapi setiap pagi ia masih perlu meyakinkan diri bahwa ini semua bukan mimpi. Siapa yang menyangka bahwa Mama dan Papa Agni adalah teman baik ayah Kay? Walaupun mereka jarang bertemu lagi, toh mereka bersedia menerima Kay dan ibunya untuk tinggal di rumah mereka yang gedongan dengan cuma-cuma. Kay sangat bersyukur saat tau bahwa ia bisa keluar dari pengungsian, karena, jujur saja, bagi Kay lebih baik tinggal di hutan daripada di tempat itu.
Orangtua Agni sangat baik. Mama Agni tidak pernah bosan mengingatkan Kay untuk bilang kalau-kalau Kay dan ibunya butuh sesuatu. Biasanya Kay akan berterimakasih dan member anggukan malu karena sudah terlalu banyak merepotkan. Papa Agni jarang ada dirumah. Biasanya ia hanya pulang dua atau tiga kali seminggu dan saat itupun ia tidak kalah ramah dari istrinya dalam memperlakukan Kay dan ibunya.
Untuk Agni, dalam waktu beberapa minggu ini ia sudah bagaikan adik sendiri bagi Kay. Sifatnya yang supel dan terbuka membuat Kay mudah dekat dengannya. Banyak hal yang ia ketahui tentang Agni dalam waktu sesingkat itu, seakan Kay telah mengenal Agni seumur hidupnya. Selain sifatnya yang menyenangkan dan fakta bahwa Agni dikejar-kejar banyak cewek (untuk alasan yang sangat jelas), ternyata Agni adalah anak yang terlalu dimanja dan diproteksi oleh orangtuanya. Ia tak pernah boleh keluar lebih jauh dari 500 meter dari rumahnya, tidak boleh makan sembarangan, dan harus berteman dengan persetujuan orangtuanya. Jam tidurnya diatur, tidak boleh keluar netelah hari gelap, harus mengikuti latihan ini itu di hari tertentu, dan banyak aturan lain. Saat pertama kali mendengar cerita ini di halaman belakang rumah kepala desa yang luas, Kay hanya bisa menggeleng tidak percaya dan mengumpat-ngumpat, menyumpahi Agni kenapa ia tidak memberontak saja. Respon Agni, seperti biasa, hanya tertawa.
Gara-gara itu, Kay meyakinkan hatinya bahwa misi hidupnya yang baru adalah membawa warna kedalam hidup sahabat barunya yang kelabu dan membosankan. Secara mengejutkan, Agni menyetujui rencana Kay. Ia bahkan tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya saat Kay menyebutkan rencana-rencana gila yang bisa mereka lakukan. Sejak saat itu, mereka memulai aksi melanggar aturan yang mereka sebut Misi Kebebasan.
Misi Kebebasan, atau biasa mereka singkat MK, dimulai dengan hal yang paling sederhana: melanggar batas zona aman. Kay dan Agni mencoba pergi lebih dari 500 meter dari rumah pada awalnya, dan setiap kali mereka akan pergi lebih jauh dari sebelumnya. Setelah sukses, mereka mulai merencanakan petualangan-petualangan di sekitar desa Tumpang. Hingga saat ini, Candi Jago, puing puskesmas (ya, Agni belum pernah kesana), dan pengungsian sudah mereka kunjungi. Agni terkagum-kagum melihat cara kerja orang di pengungsian dan menghabiskan 2 hari setelah kunjungan itu terkapar karena diare. Ia nekat mencoba masakan pengungsian yang pasti mamanya sebut dengan "Nggak higienis, banyak MSG, air tidak steril". Nyatanya, di hari ketiga, Agni kembali bugar dan menantang Kay melakukan perjalanan lain yang lebih seru.
Begitulah kehidupan Kay di rumah kepala desa. Dalam hati, Kay sebenarnya merasa bersalah karena sudah memanfaatkan kebaikan Mama Papa Agni dan membalasnya dengan mengajari Agni melawan orangtuanya. Tapi perasaan peduli yang ia miliki untuk Agni dan jiwa mudanya yang baru muncul kembali setelah kepergian ayahnya memaksanya untuk bertindak demikian. Sudah lama ia tidak punya teman dekat seperti Agni, dan bersamanya Kay bisa menjadi dirinya sendiri yang lepas apa adanya.
"Masuk." Jawab Kay ketika pintu kamarnya diketuk.
"Hey sleepyhead! Udah siang. Jadi nggak?" Agni mask duduk di kaki ranjang Kay.
"Baru juga jam tujuh. Santai aja. Pak Bos udah pergi?"
"Tadi malam. Ke Surabaya sampe Sabtu" Agni nyengir saat mengucapkan Sabtu. Kay mengerti kenapa ia begitu senang. Itu berarti 5 hari tanpa interupsi melakukan Misi Kebebasan.
"Okay. Gausah over excited gara-gara nemu jackpot. Silahkan pergi dulu tuan muda, aku mau ganti baju."
"Emang gak boleh liat?" Lampu meja melayang ke arah pintu, tepat melewati samping kepala Agni yang tercengang membelalak. Sambil tertawa dan mengangkat kedua tangan tanda menyerah, Agni pergi meninggalkan Kay sendirian.
"TUTUP PINTUNYA WOY!!"
Agni hanya terbahak, suaranya semakin menjauh.
Saat sarapan, hanya ada Kay dan Agni. Ibu Kay dan Mama Agni pasti sedang menikmati pagi dengan berjalan-jalan. Rutinitas sabtu pagi mereka.
Bisa dibilang Kay sendiri yang bersantap, karena Agni sudah selesai makan sejam sebelumnya, jadi sekarang ia cuma menunggui Kay makan sambil menyuruhnya cepat-cepat,menghilangkan selera makan Kay. Kay tau ia harus makan banyak karena tempat yang akan mereka kunjungi lumayan jauh dan terpencil.
"Buruan bisa? Udah jam lapan dan aku udah nunggu dua jam!" Agni menggerutu
"Relax.. I'm having my breakfast. Ntar kalau aku semaput kamu mau nyeret aku?" Jawab Kay enteng sambil menyuap telur dadar ke mulutnya.
"Dengan senang hati Tuan Putri.. akan aku tinggalin kamu di hutan."
Kay tidak menimpali, hanya diam melanjutkan menyantap makanannya. Setelah itu ia membungkus beberapa makanan untuk bekal perjalanan dan memakai jaket. Kay tidak mau ambil resiko lengannya tergores ranting-ranting pohon jika nanti harus membuka jalan baru di tengah belantara.
Hari ini mereka akan ke telaga Sumberingin di desa sebelah. Jaraknya sekitar 4 kilometer dari rumah Agni. Itu versi asli, sedangkan untuk versi palsu yang mereka berikan ke orang rumah, mereka akan nongkrong di Taman Makam Pahlawan sampai sore, karenanya mereka butuh membawa bekal dan beberapa alat kemah dan piknik.
Pukul 9 pagi Kay dan Agni berangkat. Mereka berjalan melewati pasar Tumpang terus ke utara sampai menemukan g**g SMA. Dari situ mereka berbelok ke arah barat dan mulai melihat catatan dan gambar di buku kecil yang Kay bawa. Berdasarkan informasi yang mereka peroleh dari beberapa orang, telaga Sumberingin sangat indah dan airnya jernih, tapi sudah lama tidak digunakan sehingga jalan menuju kesana perlahan tertutup semak-semak hingga sulit dicari. Kay dan Agni berjalan kaki selama dua jam, melewati beberapa perkampungan baik yang masih dihuni maupun yang sudah ditinggalkan. Setiap bertemu orang, mereka selalu memastikan bahwa mereka di jalur yang benar. Mereka beruntung karena ternyata mereka sama sekali tidak menyasar.
Pukul setengah duabelas mereka putuskan untuk beristirahat sebentar dan makan siang. Kelelahan membuat Agni lupa caranya menggoda dan mengganggu Kay. Mereka makan dalam diam, tanpa diketahui satu sama lain, masing-masing mulai ragu jika tempat itu benar-benar ada. Berdasarkan informan terakhirnya, harusnya mereka sudah sampai seperempat jam yang lalu, tapi nyatanya tegalan yang mereka lewati menggelap walaupun ini tengah hari. Pohon-pohon semakin rapat dan perasaan tidak enak muncul dibenak mereka.
"Lanjut nih?" Kay ingin mengajak Agni kembali, tapi gengsi. Ini idenya, dan Kay tidak ingin pulang dengan tangan hampa.
"Iya lah. Udah nanggung." Agni berdiri dan berjalan memimpin, mendahului Kay.
Kay mengikuti Agni dan karena tidak memperhatikan jalan, menabraknya. "Apa sih?" Kay bingung karena Agni tiba-tiba berhenti.
“Kay, kamu tahu gak kamu itu cantik? Tapi sumpah yang ini jauh lebih cantik.” Agni menjawab sambil menunjuk ke arah depan.
Saat Kay mengikuti arah jari Agni, ia bisa melihat sebuah telaga seluas lapangan kecil dengan air berwarna biru tosca. Telaga itu dikelilingi pohon besar, tapi cahaya matahari bisa menerobos masuk membuat kilauan cahaya surga ke air yang jernih. Seperti Agni, Kay terpesona sampai mulutnya menganga, tanpa sadar kakinya melangkah maju mendekati danau.
Empat langkah ia mendekat, Agni memanggilnya lirih dari belakang. "Kay,"
"Apa?"
"Terimakasih" Agni tersenyum yang dibalas oleh anggukan Kay.
***
"Jam satu Agni. Kalau mau sampe rumah sebelum jam lima mending pulang sekarang." Diatas tikar yang mereka gelar, Kay dan Agni berbaring memandangi langit yang tampak di sela pepohonan.
"Bentar. Aku merasa damai disini. Aku merasa kuat."
"Bukannya apa, aku cuma takut kita ketauan. Nggak enak kan buat aku kalau orangtuamu tau aku pengaruh buruk buatmu."
"Santai Kay. Seburuk apapun kamu nggak akan mempan pengaruhin aku kalau akunya nggak mau." Kay diam. Agni benar.
“Kay, menurutmu aku menarik gak?”
“Maksudnya?”
“Ya menurutmu aku ini cowok yang menarik gak?”
“Gak usah Tanya soal itu Tuan Muda, hadiah dari penggemar-penggemar kamu kayaknya udah cukup deh untuk jawab pertanyaan kamu.”
“Aku yang salah ngomong atau kamu yang blo’on sih? Aku kan bilangnya MENURUT KAMU.”
“Emang kenapa? Penting banget pendapat aku?”
Agni menarik nafas panjang. “Kalau ada cowok yang lebih muda dari kamu suka ke kamu, gimana?”
“Ya terserah dia. Hak-hak dia mau suka atau benci ke aku.” Kay tidak berani berandai-andai kenapa Agni menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu walaupun dia menduga pasti ini ada hubungannya dengan mereka berdua. Agni memang sangat menarik. Tawanya selalu membuat Kay merasa ringan, tapi entah kenapa kedekatan antara mereka selalu diasosiasikan Kay dengan hubungan kakak-adik biasa.
"Aku mau renang." Agni memotong lamunan Kay yang baru terbentuk
"Apa?"
Secepat kilat Agni melepas baju dan celananya dan dalam sekejap sudah berlari dan menceburkan diri ke air, tenggelam beberapa saat sebelum muncul kembali ke permukaan mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah. Otot tubuhnya yang mulai terbentuk dan kulit coklat mudanya membuat Kay menelan ludah.
"Nggak mau renang?"
"Sorry. Aku anak gunung. Gak bisa."
"Come on! Nggak dingin kok!"
Kay menggeleng dan memilih bangkit dan melihat-lihat sekitar. Pikirannya bisa melayang kemana-mana jika tetap duduk diam dan memandangi Agni berenang.
Sambil sesekali memperhatikan Agni , Kay mengitari danau dan menemukan sebuah papan kayu lapuk di tanah.
-ti-nati, nster dancu-
Tulisannya sudah sangat pudar, tapi Kay masih bisa bemahami arti tulisan didalamnya. Hati-hati monster danau.
"AGNI!! KELUAR SEKARANG!!"
Terlambat. Kay bisa merasakan kakinya terlilit sesuatu yang dingin dan basah. Dalam sekejap ia melayang terbalik, kaki diatas, dan sekilas ia bisa melihat ekspresi horor Agni saat menatap ke arahnya.