Mata Kay membuka. Atap tenda pengungsian masuk kedalam visi. Jantungnya berdebar kencang memberontak ingin melompat keluar dari rongga d**a. Nafasnya cepat dan pendek-pendek. Bayangan mimpi buruk yang baru ia alami perlahan memudar, beberapa detail terlupakan di sana sini, tapi Kay bisa mengingat dengan jelas warna oranye yang membakar sepasang kakek dan nenek itu. Mereka meronta dan berteriak, tapi Pasukan Dewan tidak menggubris. Mereka malah tertawa-tawa, menikmati pemandangan mengerikan dua tubuh renta menggeliat dalam kobaran.
Kay menarik nafas panjang sambil memejamkan mata. Perlahan-lahan iapun rileks. Mencoba tidur lagi tapi gagal, ia memutuskan untuk keluar menghirup udara segar. Jam menunjukkan pukul 3.20 pagi, ibunya masih tidur saat Kay beranjak berusaha bergerak tanpa suara. Dengan sibakan pintu tenda, udara sejuk subuh menerobos menabrak wajahnya dan Kay menghirupnya banyak-banyak. Segar.
Suasana masih gelap. Hanya beberapa gelintir orang yang sudah bangun dan beraktivitas, kebanyakan adalah mereka yang bertugas memasak hari itu. Kay sendiri tidak punya tugas piket apapun hari ini. Tidak memasak, membersihkan halaman, belanja, menyalurkan air, tidak ada, jadi ia bebas kemanapun ia ingin pergi dan melakukan apapun yang ia mau. Fakta bahwa ia bangun terlalu pagi malah membuatnya bersemangat karena itu berarti ia punya waktu lebih panjang untuk menjelajah.
Beberapa hari di pengungsian, Kay belum sempat mengeksplorasi sekitar. Terlalu banyak yang harus dilakukan, mencari tenda kosong, melapor kesana sini, ditambah lagi piket-piket yang harus dijalani. Kay memutuskan kesempatan ini akan ia gunakan untuk mengunjungi puing-puing Puskesmas dan Gedung Rakyat, dilanjutkan dengan kunjungan singkat ke taman makam pahlawan. Dari tempatnya mengungsi, harusnya ia bisa pulang sebelum tengah hari untuk makan siang.
Begitulah hari berjalan sesuai yang Kay rencanakan, bahkan semua berjalan dengan lebih baik karena ternyata masih pukul 10.30 saat ia meninggalkan taman makam pahlawan. Ia masih terheran-heran kenapa pemakaman itu seakan terlihat tidak tersentuh bencana. Tembok rendah pembatasnya pun tidak retak, padahal rumah gedong disampingnya hancur berantakan.
"Hello?" Terdengar suara entah darimana asalnya. Kay menoleh-noleh mencari arah suara dan menemukannya. Seorang pemuda duduk di batang pohon mangga di area pemakaman, menaikkan satu alisnya menunggu jawaban Kay.
"Iya?" Kay gugup. Cowok itu menarik. Kulitnya kecokelatan dan badannya tegap.
"Dari tadi aku nglihatin kamu berdiri disitu. Mungkin udah lima menitan. Kupikir kamu kesambet."
s**l. Pasti Kay melamun lagi. "Ohya? Sorry. Bawaan lahir."
Cowok itu melompat turun dan mendekati Kay sambil mengulurkan tangan. "Agni."
"Kay." Jawab Kay sambil menjabat tangannya. Tangan Agni hangat. Ia memang menarik walaupun Kay tidak bisa menyebutkan bagian mana darinya yang membuatnya mempesona. Kay menebak, pastilah banyak cewek yang mengejar-ngejar si Agni ini.
"Jadi, asli mana?"
"Aku asli Pandansari. Baru pindah ke pengungsian beberapa hari lalu."
"Woooow!! Pengungsian? Aku selalu pingin kesana."
"Oh.." apanya yang menarik dari pengungsian coba?, Kay membatin.
"Maksudnya, aku nggak pernah main-main kesana. Nggak pernah boleh sama mama papa."
"Bukannya kamu udah cukup gede buat nentuin sendiri apa yang kamu mau?"
"Tahun depan. Setaun lagi aku 19 tahun dan aku bisa nglakuin apapun yang aku mau" Agni mengatakannya dengan senyum berharap
"Kamu masih 18?"
"iya. Kenapa emang?"
"Enggak sih. Kupikir udah 20an." Betapa bodohnya Kay tadi. Tentu saja dia belum 19 tahun, jika tidak pasti dia sudah punya barcode di punggung tangannya. Tanpa sengaja Kay mengelus punggung tangan kirinya sendiri, dimana sebuah tato hitam berbentuk kotak kecil terpasang. Sesuatu yang ia dapatkan tahun lalu di ulang tahunnya yang ke Sembilan belas.
Barcode inilah yang membuat seseorang diakui sebagai warga negara Indonesia. Untuk mengurus dokumen apapun, meminta bantuan apapun, pendataan, dan sebagainya, penduduk hanya perlu memindai barcode di tempat yang telah disediakan. Setiap anak yang tidak memilikinya bisa menggunakan milik orangtuanya, tentu saja dengan syarat si anak harus datang bersamaan dengan si orangtua. Lalu, tepat pada umur Sembilan belas seorang anak berhak mendapat barcodenya sendiri yang seringkali diartikan sebagai kebebasan secara total.
"HEY!! Santay mbak bro. Aku nggakpapa kok pacaran sama orang yang lebih dewasa." kata Agni enteng
"What?" Kay kaget dan terkesiap, tidak menyangka bocah ini membicarakan hal semacam ini pada orang yang baru dikenalnya beberapa menit lalu.
"HAHAHAHAHA!! kamu harus liat deh wajahmu barusan itu. Lucu banget. Sorry Kay. Bercanda," Agni tertawa terbahak bahak sambil memegangi perutnya.
Anak ini lucu, tawanya yang lepas membuat Kay bisa membayangkan Agni benar-benar masih belum dewasa. Walaupun tubuhnya yang tegap tinggi dan wajah gantengnya memberi kesan ia menyebar feromon untuk menarik para betina, mengetahui Agni masih 18 tahun mengubah total pola pikir Kay tentang cowok ini.
Matahari sudah tinggi. Tanpa terasa Kay dan Agni telah mengobrol di pemakaman cukup lama. Kay harus segera pulang ke pengungsian, jika tidak ia akan ketinggalan makan siang. Perutnya keroncongan dan ia ingat kalau pagi tadi iapun belum makan. "Sori Agni, aku harus balik."
"Kenapa?"
"Ketinggalan makan di pengungsian itu sama dengan nggak makan."
"Makan dirumahku aja. Yuk. Deket kok dari sini."
"Kayaknya nggakbisa. Malu. Kan kita baru kenal. Kapan-kapan aja ya."
"Aku maksa. Lagian, kamu gak bosen tiap hari makan makanan pengungsian?"
Ungkapan Agni membuat Kay sadar betapa ia sebenarnya muak dengan makanan pengungsian yang porsinya kecil dan rasanya hambar. Tidak ada hutan di Tumpang, jadi Kay tidak bisa berburu atau mencari buah-buahan.
"Kayaknya tadi dirumah masak soto ayam.. ."
Kay otomatis mengangguk dan bilang okay tanpa berpikir, memotong lamunannya sendiri saat mendengar soto ayam. Agni hanya tertawa-tawa tanpa sungkan tanpa takut tawanya akan membuat Kay merasa malu. Tawanya justru membuat Kay merasa senang dan tenang.
***
Rumah ini besar dan terawat, tapi bukan itu yang membuat Kay terpana, melainkan fakta bahwa beberapa hari yang lalu Kay kesini. Saat itu ia perlu mengurus beberapa berkas untuk masuk pengungsian. Tidak salah lagi, ini rumah yang sama, rumah Kepala Desa. Jadi kenapa Agni tinggal disini?
"Silahkan masuk." Seorang wanita di kursi roda menyambut kedatangan Kay dan Agni di teras."Wah teman Agni ya? Senang ketemu kamu. Namanya siapa?"
"Kay bu. Iya teman Agni" jawab Kay sambil berjabat tangan dengan wanita ramah itu. Kay berusaha bersikap sopan dengan menjauhkan pandangannya dari kaki si ibu dan kursi rodanya.
"Siang Ma. Agni mau ajak Kay makan siang disini. Yuk masuk," Agni memberi tanda pada Kay dengan kepalanya untuk mengikutinya. Agni memimpin didepan dengan mendorong kursi roda ibunya memasuki pintu kupu tarung besar yang seakan tidak pernah menyaksikan bencana nasional.
'Mungkin memang rumah ini dibangun setelah itu' pikir Kay
Kay, Agni, dan mama Agni mengambil tempat di sekeliling meja makan. Dalam waktu singkat seorang pelayan menyiapkan makanan untuk mereka bersamaan dengan kedatangan Bapak Kepala Desa yang langsung mengecup pipi istrinya sebelum bergabung dalam lingkaran. Pipi mama Agni merona oleh cinta yang membuat Kay merasa malu sendiri bahkan untuk berada satu ruangan dengan mereka.
"Halo, kenalkan saya papa Agni. Nama saya Bagus Wellington" kata Kepala Desa. Lelaki berbadan tinggi dan berperut sedikit buncit iru mengambil nasi. Yang lainnya mengikuti, begitu pula Kay.
"Salam kenal Bapak, saya Kay dari Pandansari."
" Pandansari?"
"Iya awalnya Pak, sekarang tinggal di pengungsian."
"Oh, saya pikir.. Soalnya saya dengar sudah diisolasi ya disana."
"Iya. Saya kloter terakhir yang keluar Pak."
"Saya dulu pernah lho punya teman orang Pandansari.."
"Halah Papa.. dimana-mana pasti punya teman. Sok terkenal." Agni menyeletuk. Memang benar kata Agni, sebagai Kepala Desa, biasanya seseorang kan memang punya banyak kenalan.
"Lho betul ini. Teman dekat dari SMA lho. Rumahnya di daerah barat balai desa Kay. Mungkin kamu kenal."
"Ohya? Siapa Pak namanya?"
"Hassan. Hassan Sidarta. Asli orang sana. Kerja di pemerintahan."
Nama itu. Nama yang selalu Kay rindukan sekaligus benci. Ia rindukan karena dialah yang telah membesarkan Kay dengan penuh kasih sayang, dan benci karena dia sudah tiada, pergi jauh entah kemana meninggalkan keluraganya bersama seorang perempuan.
"Kenal?" Kepala Desa mendesak
"Oh iya Pak. Kenal."
"Kenal baik?"
Kay tidak menjawab. Cuma mengangguk sambil menyuap soto ayam ke mulutnya.
"Deket sama rumah kamu yang dulu?"
"Iya Pak."
"Rumah kamu apanya rumah Hassan?"
"Iya disitu itu."
"Kok saya nggak ngerti maksud kamu ya."
"Saya putrinya Hassan Sidarta Pak." Membicarakan ayahnya membuat Kay kehilangan nafsu makan walaupun perutnya protes dengan berkerucuk keras.
Mama dan Papa Agni saling pandang penuh arti, dan mereka saling mengangguk kepada satu sama lain. Saat Kay melihat Agni untuk mencari petunjuk, Agni sedang menikmati makanannya dan tidak memperhatikan apa yang terjadi, jadi Kay meletakkan sendoknya dan duduk menatap piring yang masih setengah penuh. Kay menggigit bibirnya kuat-kuat berusaha agar air mata tidak menetes di meja makan orang-orang yang baru dikenalnya ini.