Sudah dua bulan ayah Kay tidak pulang. Tidak ada kabar apapun dari siapapun, seakan ia hilang ditelan bumi. Bumi Lukita. Rasa marah yang Kay rasakan semakin hari semakin menipis, dan hilang sepenuhnya pada akhir bulan pertama. Rasa itu telah digantikan dengan perasaan rindu yang semakin hari semakin menguat, dan Kay malu pada dirinya sendiri karena ini. Ia seharusnya tetap marah, tetap mendendam pada ayahnya yang telah meninggalkan mereka saat situasi sedang sulit-sulitnya, demi orang lain. Sayang ia tidak bisa. Tidak semudah itu.
Terdengar suara berisik dari luar rumah, awalnya terdengar seperti kebisingan di kejauhan tetapi semakin lama semakin keras seakan si sumber suara mendekat ke arahnya. Kay melompat dari tempat tidur dan bergegas keluar, berharap kehebohan ini ada hubungannya dengan ayahnya, atau bahkan ayahnya sendiri datang pulang dan meminta maaf. Ia tau ia bisa memaafkannya.
Alangkah kecewanya ia saat ternyata satu pleton pasukan berseragam kuning dan coklat lah yang datang. Wajah mereka angkuh layaknya orang-orang yang telah menjalani latihan paling berat di dunia-akhirat untuk bisa berada di posisi mereka saat ini. Barisan mereka rapi tanpa cela. Saat berjalan, mereka seperti robot yang gerakan identik. Kaki kiri, kaki kanan, pandangan lurus ke depan.
Satu persatu anggota Pasukan Dewan keluar dari barisan, dimulai dari yang paling belakang, untuk menuju ke rumah warga diikuti petugas selanjutnya untuk masuk ke rumah lainnya. Saat ini kebanyakan warga sudah keluar untuk melihat sumber kegaduhan. Tibalah salah satu dari bagian pleton keluar dan menuju rumah Kay.
"Selamat siang mbak, boleh saya masuk?" Berbeda 180° dari wajah sangarnya, anggota pasukan ini mengucapkan setiap patah kata dengan sangat ramah. Terlalu ramah hingga membuat Kay ingin muntah.
"Ibuuuuk!! Kay berteriak tanpa mengalihkan matanya dari si aparat.
"Ada apa Kay?" Ibu Kay muncul dan langsung menyadari keberadaan orang asing dirumahnya. "Oh.. ada yang bisa saya bantu?"
"Saya Ardi dari Pasukan Dewan, hendak menyosialisasikan satu dua hal. Boleh saya masuk ibu? "
Kay dan Ibunya saling pandang sedetik, "Tentu saja boleh. Silahkan"
" Bagaimana keadaan di Pandansari akhir-akhir ini bu?"
"Yah begini ini. Air bersih yang paling sulit didapatkan. Harus jalan dua kilometer dulu baru bisa ke sungai. Kalau makanan, hutan sudah mulai tumbuh kembali jadi sedikit2 bisa menghidupi warga yang cuma segelintir ini. "
"Sehubungan dengan itu, Dewan Pusat memutuskan untuk menutup dan mengisolir Pandansari untuk sementara waktu.. "
"Maaf?" Kay menyela. Ditutup? Diisolir? Apa ia tidak salah dengar?
"Begini mbak, ibu, keadaan disini kan semakin sulit. Saya mengerti banyak kenangan dan tradisi yang dijunjung warga sini, tapi bantuan agak sulit untuk dikirim kesini. Belum lagi Semeru yang sewaktu-waktu bisa meletus lagi. Sebagai salah satu desa terdekat ke puncak, kami khawatir jika itu terjadi semuanya akan menjadi semakin buruk..."
"Lho dari dulu kemana aja Mas? Kenapa baru sekarang kita diperhatikan?" Kay membantah berapi-api. "Kita disini udah bisa beradaptasi kok dengan kehidupan yang semacam ini. Sesulit apapun, ini desa kami dan kami tinggal disini. Kami anak gunung lho, masak mau pindah ke tempat yang nggak ada gunungnya?" Ia tidak bisa membayangkan harus pindah dari sini, dari rumahnya, dimana terlalu banyak kenangan manis dan pahit telah terukir. Bahkan kenangan paling tidak tertahankan 2 bulan lalu saat ayahnya memutuskan untuk naik mobil itu, Kay tak ingin melupakannya juga. Yang paling penting, bagaimana jika nanti ayahnya memutuskan untuk kembali dan ternyata rumah mereka kosong? Bagaimana ia akan tahu dimana untuk menemukan mereka? Bayangan tidak akan bertemu ayahnya lagi membuat dadanya sesak. Seperti ibunya, ia berharap suatu saat ayahnya akan menemukan jalan kebenaran itu, yaitu bersama dengan keluarganya.
"Mbak," wajah petugas itu mengeras tapi suaranya tetap lembut memuakkan "Kami mendapat perintah dari pusat untuk mengosongkan desa ini dalam waktu seminggu. Kami diperbolehkan menggunakan k*******n jika diperlukan. Sekarang terserah Mbak dan Ibu mau pindah atau tidak. Yang jelas, Senin depan pasukan yang lebih banyak akan datang untuk memaksa siapapun yang masih tinggal untuk keluar dari desa. Hidup atau mati. Jika Mbak dan Ibu mau pindah, setiap hari PD akan menyiapkan transportasi untuk mengangkut penduduk ke kamp pengungsian di Tumpang. Jika tidak, Mbak dan Ibu tanggung sendiri resikonya. Pilihan ada di tangan samean berdua. Terimakasih. Sepertinya tidak ada lagi yang perlu saya jelaskan. Selamat siang. "
Petugas PD itu pergi. Kata-katanya manis, tapi Kay dan ibunya tau secara pasti ancaman didalamnya nyata. Kay masih ternganga dengan kemampuan petugas Ardi mengucapkan sesuatu dengan penuturan yang sangat manis dengan wajah keras, marah, dan tidak sabar.
Pasukan Dewan adalah angkatan bersenjata milik anggota dewan Republik Indonesia yang dibentuk untuk melakukan tugas-tugas khusus yang berhubungan dengan penegakan undang-undang. Berbeda dengan TNI yang otoriter dan keras, citra PD adalah ramah, merakyat, tapi efektif. Kay dulu sering melihat PD di TV, tapi baru sekali ini bertemu dengan mereka. Agaknya mereka benar-benar ramah, ramah tidak wajar. Setelan seragam mereka yang berwarna terang membuat mereka jauh dari kesan militer, dan dari ancaman yang dilontarkan petugas Ardi barusan, Kay mengerti kenapa mereka disebut efektif.
Selama beberapa hari selanjutnya tidak ada kejadian berarti di Pandansari. Semua hal berjalan biasa seperti Pasukan Dewan tidak pernah mampir kesana hari senin lalu. Tetapi, di hari sabtu, Ibu Kay mengatakan bahwa akan lebih bijak jika mereka pindah saja.
" Mau pindah kemana buk? Kita nggakpunya saudara lagi untuk ditumpangi. "
"Entahlah Kay, ibuk merasa sesuatu yang buruk akan terjadi kalau kita tetap tinggal disini. Ibuk bisa merasakan kalau yang petugas Ardi ucapkan itu bukan ancaman kosong. "
"Kalau ayah pulang dan ternyata kita tidak ada bagaimana buk?"
Mendengar ayah kay disebut, Ibu Kay terkesiap sepersekian detik sebelum memalsukan wajah kagetnya dengan batuk ringan. "Kalau memang iya, dia akan mencari kita sampai ketemu tidak peduli dimanapun kita berada. Sudah Kay, jangan membicarakan dia. Kemungkinannya terlalu kecil. "
Ibu Kay bangkit dan meninggalkan Kay. Sebelum keluar, ia meminta Kay mengemas barang-barang penting. Mereka akan berangkat hari senin pagi, sebelum Pasukan Dewan datang pukul 8.00, seperti yang diumumkan di pengeras suara Balai Desa kemarin.
***
Tidak banyak yang dibawa Kay. Dokumen penting, foto keluarga, buku jurnalnya, dan beberapa potong pakaian. Kay tidak mau merepotkan diri dengan makanan dan peralatan p3k karena di Tumpang, tempat pengungsian yang mereka tuju, pastilah banyak kebutuhan itu. Sebelum keluar rumah, ia memutuskan membawa jam tangan pintarnya, walaupun kali ini dalam keadaan mati dan tidak pernah ada sinyal operator seluler lagi di Pandansari dalam waktu yang sangat lama.
Sekali lagi mengamati rumahnya ruangan demi ruangan untuk terakhir kalinya, Kay menanamkan detil-detil kecil dalam memori otaknya, tidak ingin semuanya hilang. Dengan satu langkah kaki, ia dan ibunya pergi, meninggalkan pintu depan terbuka tak terkunci.
Didepan balai desa sudah menunggu mobil-mobil bak terbuka yang disediakan PD untuk mengangkut para pengungsi. Sambil mengantri untuk mendapat giliran diangkut, perhatian Kay teralih pada satu rumah papan di sebelah balai desa. Sepasang kakek-nenek tua renta sedang dipersuasi oleh seorang petugas PD untuk ikut mengungsi.
"Rak nana. Iki omah-omahku dewe kok." Nggakmau. Ini rumahku sendiri
"Mbah, ini darurat mbah. Nanti kalau celaka bagaima... "
"Aku lair nek kene le.. lek sira ate mateni aku saiki rak ngapa, aku mati nek kene rak ngapa. Senggak e aku mati nok omahku dewek." Aku lahir disini nak, kalau kamu mau menghabisiku sekarang tidak apa, aku mati disinipun tak apa. Setidaknya aku mati di rumahku sendiri.
"Ya baiklah kalau mbah memaksa."
Tepat saat itulah Kay dipaksa naik keatas mobil angkutan dan ia tak bisa lagi mendengar diskusi alot mereka yang sepertinya sudah mencapai kesepakatan.
Lima menit mobil berkendara, di sepanjang perjalanan ia bertemu dengan banyak PD berbaris rapi dalam banyak peleton. Kay tidak bisa berhenti memikirkan apa yang terjadi dengan sepasang kakek nenek tadi. Pikiran buruk ia tepis jauh-jauh walaupun ia tahu itulah kemungkinan yang lebih mungkin.
Ditengah lamunannya, suara bising melesat dilangit, diikuti dengan ledakan besar di arah Pandansari. Ini kedua kalinya dalam hidup Kay ia menyaksikan Pandansari membara oleh warna oranye. Ia bahkan masih bisa merasakan getarannya diatas mobil angkutan yang jauhnya sudah lima kilometer ini dari desa. Kay menunduk, membenamkan kepala diantara kedua lutut yang dipeluknya. Matanya panas, hidungnya pengar saat air mata merembes deras membasahi celananya..
Mereka efektif. Pasukan Dewan memang Efektif.