Pada minggu ketiga puluh enam, Iris terbangun pukul dua pagi karena kepalanya berdenyut.
Bukan sakit kepala biasa. Rasanya seperti ada yang menekan dari belakang mata, dan ketika ia meraih gelas di meja samping, tangannya meleset.
Ia mengerjap. Lampu kamar yang temaram tampak berpendar, tepinya kabur, seperti melihat lewat kaca yang berembun.
"Gavin."
Pria itu langsung bangun. Ia tidak bertanya kenapa, tidak menyalakan lampu utama, hanya meraih ponsel dan menekan nomor dokter yang sudah ia simpan di baris pertama selama dua bulan terakhir.
Percakapannya berlangsung dua puluh detik.
"Kita berangkat sekarang," katanya, sudah berdiri. "Dokter bilang jangan tunggu pagi."
Jalanan Jakarta pukul setengah tiga pagi kosong dan basah. Gavin menyetir sendiri. Iris memejamkan mata sepanjang jalan, menghitung napasnya, dan menyadari bahwa ia bisa mendengar suara jantungnya sendiri di telinga.
Tekanan darahnya diukur begitu mereka sampai. Angkanya membuat perawat memanggil dokter jaga tanpa menunggu diminta.
"Preeklamsia," kata dokter kandungan mereka empat puluh menit kemudian, sudah memakai baju operasi. "Berat. Dan usia kehamilan sudah tiga puluh enam minggu. Saran saya persalinan dipercepat malam ini juga."
Iris merasakan seluruh tubuhnya menjadi dingin.
"Bayinya belum cukup bulan."
"Tiga puluh enam minggu sudah cukup dekat. Yang tidak aman justru menunggu."
Iris menoleh ke Gavin, dan menemukan bahwa pria itu juga ketakutan. Wajahnya pucat, dan tangan yang menggenggam tangannya terasa dingin.
Gavin tidak mengatakan semuanya pasti baik-baik saja.
Ia tidak mengatakan apa-apa yang manis sama sekali. Ia hanya menarik kursi lebih dekat dan bertanya kepada dokter, "Tolong jelaskan sekali lagi, dari awal. Risiko kalau operasi, risiko kalau menunggu. Kami berdua dengar bersama."
Dokter menjelaskannya dua kali. Iris bertanya empat pertanyaan, dan semuanya dijawab tanpa dibulatkan.
"Keputusannya harus dibuat cepat," kata dokter akhirnya.
Iris menatap langit-langit selama beberapa detik, lalu mengangguk.
"Saya setuju operasi."
Dokumen persetujuan diserahkan ke tangan Gavin. Pria itu membacanya, lalu menyodorkannya kembali kepada Iris.
"Kolom pasien," katanya. "Aku tanda tangan di kolom pendamping."
Perawat tampak hendak menawarkan jalan yang lebih cepat, mengingat kondisi pasien. Gavin menggeleng sekali.
Iris menandatangani namanya sendiri dengan tangan yang gemetar.
Ia didorong masuk pukul empat kurang sepuluh.
Gavin tidak boleh ikut. Ini bukan operasi terjadwal dengan ruang yang disiapkan untuk pendamping; ini keadaan darurat, dan pintu itu ditutup di depan wajahnya.
Ia berdiri di lorong yang terlalu terang, dengan lantai yang memantulkan lampu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia menyadari sesuatu yang sederhana dan menghancurkan.
Uangnya tidak bisa mempercepat apa pun. Namanya tidak bisa membuka pintu itu satu menit lebih awal. Tidak ada satu pun orang yang bisa ia telepon.
Ia duduk di kursi plastik di depan pintu dan menunggu seperti semua orang lain di dunia.
Bayi itu lahir pukul lima kurang seperempat.
Perempuan. Beratnya rendah, di bawah dua setengah kilogram, dan ia menangis dengan suara yang tipis sekali.
Tetapi ia bernapas sendiri.
Iris tidak langsung keluar. Tekanan darahnya belum stabil, dan ia harus diawasi ketat selama beberapa jam berikutnya, dengan obat yang menetes pelan-pelan dari kantong di atas kepalanya.
Gavin melihat putrinya pertama kali dari balik kaca ruang perawatan bayi. Tubuh sekecil itu di dalam boks bening, dengan plester di punggung tangan dan selang tipis di hidung.
Ia menunggu perasaan gembira yang selalu digambarkan orang-orang di film.
Perasaan itu tidak datang. Yang memenuhi tubuhnya justru takut, padat dan dingin, sampai ia harus menyandarkan dahi ke kaca.
Iris sadar penuh menjelang tengah hari. Matanya terbuka, mencari, dan pertanyaan pertamanya keluar sebelum ia sempat mengenali ruangan.
"Bayinya?"
"Dia aman," kata Gavin. "Dokter sedang menjaganya. Dia bernapas sendiri, Iris. Dia menangis waktu lahir."
Iris menutup matanya lagi, dan air mata mengalir ke pelipisnya.
Nama itu sudah mereka pilih dua bulan sebelumnya, ditulis di belakang salah satu buku cerita dari Tiffany.
Aurora.
Karena selalu ada cahaya setelah malam yang panjang, kata Iris waktu itu, dan Gavin tidak menawar satu huruf pun.
Keluarga menunggu di lorong sejak pagi. Rosalina membawa termos, Richard duduk di ujung dengan kacamata yang tidak sekali pun ia pakai untuk membaca, Emiliana memegangi tangannya.
Ketika perawat membuka pintu untuk keluar, Regina berdiri dan bergerak masuk begitu saja.
"Ma."
Tiffany menahan lengan ibunya, pelan tetapi tidak ragu.
"Iris baru sadar dua jam yang lalu. Dia butuh istirahat. Kita masuk kalau dia yang bilang boleh."
Regina menoleh, siap membantah, lalu melihat sesuatu di wajah putri angkatnya yang membuatnya berhenti. Ia duduk kembali.
Gavin melihat seluruhnya dari ambang pintu, dan tidak melupakannya.
Dua hari kemudian Iris diizinkan menggendong Aurora untuk pertama kalinya.
Perawat meletakkan bayi itu di dadanya dengan hati-hati. Ringan sekali. Terlalu ringan.
"Aku takut merusaknya," bisik Iris.
"Kita belajar bersama," kata Gavin, tangannya menyangga di bawah tangan Iris.
Aurora harus tinggal lebih lama di rumah sakit. Berat badannya belum cukup, dan ia masih perlu bantuan untuk menjaga suhu tubuhnya.
Iris pulang lebih dahulu, sembilan hari setelah operasi, dengan tubuh yang masih sakit di setiap gerakan.
Ia berjalan melewati lorong, berhenti di depan pintu kamar hijau itu, dan membukanya.
Buaian kosong. Kain bedong terlipat rapi. Awan dan bintang di dinding.
Iris duduk di lantai dan menangis, keras, dengan cara yang tidak pernah ia izinkan di depan siapa pun selama dua tahun terakhir.
Gavin tidak menyuruhnya berhenti. Tidak mengatakan sabar, tidak mengatakan sebentar lagi juga pulang, tidak mengatakan kita harus berpikir positif.
Ia duduk di lantai di sebelah istrinya, punggung bersandar ke dinding yang catnya masih baru, dan menunggu di sana sampai kesedihan itu mereda dengan sendirinya.
Seminggu kemudian mereka menjemput Aurora.
Minah menunggu di depan pintu dan menangis sebelum mobil berhenti sempurna. Ia tidak langsung menggendong; ia mencuci tangannya dulu sampai ke siku, karena aturan kunjungan sudah ditempel di pintu depan dengan tulisan tangan Iris.
Satu keluarga per hari. Maksimal satu jam. Tidak ada yang mencium wajahnya. Yang sedang batuk atau pilek menunggu sampai sembuh.
Regina membaca kertas itu lama sekali, lalu mencuci tangannya juga, tanpa berkomentar.
Malam terpanjang mereka berakhir bukan karena ketakutan menghilang. Ketakutan itu masih ada, dan akan tinggal lama.
Ia berakhir karena mereka berhasil melewatinya tanpa saling mengambil suara.