Bulan-bulan pertama bersama Aurora berlalu seperti satu malam panjang yang tidak pernah benar-benar berganti pagi.
Iris kehilangan hitungan hari. Ia tidur dua jam, bangun, menyusui, menepuk punggung Aurora sampai bersendawa, lalu tertidur lagi di kursi dengan lampu tidur menyala. Kadang ia terbangun oleh tangis. Kadang ia terbangun justru karena kamar terlalu sunyi, lalu buru-buru menempelkan telapak tangan ke dada bayinya untuk memastikan ada yang naik turun di sana.
Yang paling melelahkan bukan kurang tidurnya. Yang paling melelahkan adalah menyusui.
Air susunya tidak pernah terasa cukup. Aurora menangis setelah setengah jam menempel, dan Iris duduk di tepi ranjang dengan punggung pegal, dada nyeri, dan satu pikiran yang tidak berani ia ucapkan: tubuhnya sendiri gagal melakukan hal paling dasar yang seharusnya bisa dilakukan seorang ibu.
"Sudah tiga jam," kata Gavin dari ambang pintu. Suaranya serak. Ia juga belum tidur.
"Dia masih lapar."
"Iris."
"Sebentar lagi."
Gavin masuk, lalu duduk di lantai. Ia menyandarkan punggung ke sisi ranjang supaya matanya sejajar dengan mata istrinya. Ia tidak mengambil Aurora. Ia tidak berkata sudah cukup.
"Kalau kamu mau," ucapnya hati-hati, "kita bisa tambah susu formula. Bukan berhenti. Ditambah saja."
Iris mengangkat wajah. "Kamu mau aku berhenti?"
"Aku mau kamu tidak menangis tiap jam tiga pagi." Gavin berhenti, menimbang kalimat berikutnya seperti orang yang baru belajar bahasa asing. "Tapi ini tubuh kamu. Aku tidak sedang memutuskan apa pun."
Dulu kalimat semacam itu akan keluar dari mulut Gavin sebagai perintah yang dibungkus sopan. Iris masih ingat versi laki-laki itu: yang menelepon tiga orang dan menyelesaikan masalah sebelum ada yang sempat bersuara. Yang duduk di lantai malam ini justru menunggu.
"Aku takut dianggap gagal," bisik Iris.
"Oleh siapa?"
Iris tidak menjawab. Jawabannya adalah dirinya sendiri.
Dua hari kemudian seorang konsultan laktasi datang ke rumah. Perempuan itu tidak membawa ceramah. Ia menimbang Aurora sebelum dan sesudah menyusu, memeriksa pelekatan, lalu menjelaskan pilihan yang ada beserta risiko masing-masing.
"Ibu boleh menggabungkan," katanya. "Yang penting bayinya naik berat badan dan ibunya tidak tumbang."
Kalimat terakhir itu yang membuat mata Iris panas.
Mereka akhirnya memilih cara campuran. Menyusui langsung ketika Iris mampu, susu tambahan pada dini hari supaya ada satu sesi yang bisa diambil alih Gavin. Berat badan Aurora naik pelan-pelan. Iris tidur empat jam berturut-turut untuk pertama kalinya, lalu menangis lagi, kali ini karena lega.
Perlahan ia memahami sesuatu yang tidak tertulis di buku panduan mana pun. Menjadi ibu tidak diukur dari satu metode.
Gavin belajar dengan caranya sendiri.
Ia belajar mengganti popok, mula-mula sambil menahan napas, lama-lama sambil mengajak putrinya mengobrol soal harga nikel.
Ia belajar menidurkan Aurora dengan berjalan memutari ruang tengah, ratusan putaran, sampai hafal papan lantai mana saja yang berbunyi.
Ia membatalkan rapat. Memundurkan penerbangan. Menolak makan malam yang dulu tidak mungkin ditolaknya.
Dan tidak sekali pun ia menyebut hal itu pengorbanan untuk Iris. Ketika Maya tanpa sengaja berkomentar betapa baiknya Gavin mau direpotkan, laki-laki itu hanya mengangkat bahu.
"Itu anakku. Repot memang bagian dari punya anak."
Sampai suatu malam Aurora demam.
Iris yang pertama menyadarinya. Dahi bayi itu terasa terlalu hangat di bibirnya ketika ia menciumnya menjelang tengah malam. Termometer menunjukkan tiga puluh delapan koma empat.
Gavin melompat dari tempat tidur seperti ada kebakaran.
"Aku telepon dokter anaknya. Dokter yang di Singapura juga. Yang di Jakarta ada dua orang, kita panggil semuanya ke sini malam ini."
"Gavin."
"Biar mereka menunggu sampai pagi. Aku tidak peduli berapa biayanya."
"Gavin." Iris memegang lengannya. "Dokter anaknya sudah memberi petunjuk. Kompres, cairan, obat penurun panas kalau lewat tiga puluh delapan lima. Kalau dia kejang atau tidak mau minum, baru kita ke IGD."
"Itu terlalu sedikit."
"Itu yang benar."
Gavin berdiri di tengah kamar, rahangnya mengeras, ponsel masih di genggamannya. Iris tahu persis apa yang sedang berlangsung di kepala laki-laki itu. Seluruh kuasa yang dimilikinya tidak bisa dipakai untuk apa pun malam ini.
Akhirnya ia meletakkan ponsel.
Mereka bergantian mengompres sampai pukul tiga. Gavin yang menggendong, Iris yang mengganti waslap. Demam Aurora turun beberapa jam kemudian, dan bayi itu tertidur dengan mulut sedikit terbuka, seolah tidak terjadi apa-apa.
Gavin belum mau menaruhnya kembali di boks.
"Aku takut tidak bisa melepaskannya sedetik pun," katanya.
Iris tersenyum lelah. "Judul hidupmu memang begitu."
Gavin tertawa pelan supaya tidak membangunkan putrinya. Tetapi kalimat itu menempel, dan malam itu mereka akhirnya membicarakan seluruh hubungan mereka sambil duduk berdampingan di lantai kamar bayi.
Gavin dulu tidak bisa melepaskan kendali. Ia mengatur semua orang karena mengira itu satu-satunya cara menjaga mereka.
Iris dulu tidak bisa melepaskan dendam. Ia menyimpannya seperti senjata yang ternyata melukai telapak tangannya sendiri.
Tiffany tidak bisa melepaskan cinta yang tidak pernah menjadi miliknya.
Orang tua mereka tidak bisa melepaskan nama baik keluarga, sampai nama itu terasa lebih penting daripada anak-anak yang memakainya.
"Kita semua begitu," kata Iris. "Cuma bentuknya beda-beda."
Kini mereka belajar bahwa melepaskan bukan berarti berhenti mencintai. Itu berarti berhenti menggenggam sampai yang digenggam kesakitan.
Tiffany datang menjenguk Aurora pada minggu berikutnya. Ia mengirim pesan dua hari sebelumnya dan bertanya jam berapa yang paling tidak mengganggu.
Di ruang tengah, perempuan itu berdiri agak jauh dari boks. Ia tidak menggendong sebelum Iris menawarkannya.
"Mau?"
Tiffany mengangguk cepat, seperti anak kecil yang takut tawaran itu ditarik kembali.
Ketika Aurora berpindah ke pelukannya, Tiffany menunduk lama sekali. Bahunya bergetar.
"Aku hampir menghancurkan keluargamu," katanya.
"Kau memang melukai kami," jawab Iris. "Tapi apa yang kaulakukan sekarang tetap penting."
Itu bukan pengampunan penuh, dan Iris tidak berpura-pura sebaliknya. Namun cukup menjadi awal hubungan baru yang lebih jujur daripada seluruh persahabatan lama mereka.
Iris kembali bekerja secara bertahap. Dua hari seminggu, lalu tiga, lalu penuh dengan jam yang ia tentukan sendiri. Ia menyerahkan jabatan operasional Singapura kepada Maya dan mengambil posisi pemimpin strategi regional.
"Kamu yakin?" tanya Maya. "Itu kursi yang kamu bangun dari nol."
"Yakin. Aku cuma tidak mau berpura-pura bisa berada di semua tempat."
Keputusan itu membuatnya tetap berkembang tanpa memaksa dirinya terbelah.
Pada ulang tahun pertama pernikahan, Gavin tidak membawanya ke Italia. Ia membawa Iris ke taman kota, membentangkan kain di rumput, dan menyerahkan sebuah album.
Isinya foto-foto mereka setelah kebenaran terbuka. Bukan foto pesta. Foto rumah sakit, foto dapur, foto Gavin tertidur dengan popok bersih tersampir di bahunya.
Halaman terakhir kosong.
"Untuk apa?" tanya Iris.
"Untuk apa pun yang kita pilih selanjutnya."
Iris mengeluarkan satu foto Aurora dari dompetnya dan menempelkannya di halaman tersebut.
Lalu ia memandang Gavin. Pria yang dahulu dicurigainya sebagai musuh. Pria yang pernah ia rancang kehancurannya sampai ke detail terkecil.
Mereka tidak bertahan karena Iris melupakan pengkhianatan yang ia rasakan, juga bukan karena Gavin berhasil meyakinkannya dengan kekuasaan.
Mereka bertahan karena keduanya berani melepaskan versi cinta yang menuntut kepemilikan.
Iris menggenggam tangan Gavin. Kali ini tidak ada ketakutan bahwa genggaman itu adalah perangkap.
Ia tidak bisa melepaskan pria tersebut, bukan karena terpaksa, melainkan karena setiap hari ia masih memilih untuk tinggal.