Enam bulan setelah Aurora pulang dari rumah sakit, Iris duduk kembali di ruang rapat lantai sebelas, memakai blazer yang ternyata masih muat, dengan rambut disanggul asal-asalan karena ia hanya punya waktu empat menit di depan cermin.
Ia merindukan pekerjaannya. Itu yang mengejutkan dirinya sendiri.
Ia merindukan bau kopi kantor, papan tulis penuh angka, suara orang berdebat tentang margin. Selama enam bulan dunianya menyusut menjadi jadwal menyusu dan warna popok, dan ia baru sadar betapa ia kehilangan bagian dirinya yang bisa memutuskan sesuatu dalam hitungan detik.
Masalahnya, ponselnya menyala di pangkuan.
Aplikasi kamera kamar bayi terbuka. Layarnya menampilkan Aurora yang tidur miring dengan satu tangan terangkat ke atas kepala. Iris melihatnya. Menguncinya. Tiga menit kemudian membukanya lagi.
Tangan Maya muncul dari samping, mengambil ponsel itu, dan meletakkannya terbalik di meja.
"Kalau terjadi sesuatu, Minah pasti menelepon," kata Maya.
"Aku tahu."
"Kamu tidak kelihatan tahu."
Iris tersenyum tipis. Ia memang tahu. Minah sudah menjaga rumah itu sebelum Aurora lahir, hafal setiap jadwal, dan menelepon untuk hal sekecil bersin dua kali.
Yang tidak bisa dijelaskan Iris adalah rasa bersalah yang muncul setiap kali ia mulai menikmati pekerjaannya. Seolah kesenangan itu dicuri dari seseorang yang lebih kecil dan tidak bisa protes.
Rapat dimulai. Agendanya ekspansi After Storm ke tiga negara sekaligus.
Tim pemasaran membawa presentasi yang terlihat rapi sekali. Halaman kelima membuat Iris menegakkan punggung.
"Kami ingin Ibu Iris jadi wajah kampanye," kata kepala tim. "Sudut ceritanya kuat. Pemimpin perempuan, ibu muda, bangkit setelah badai. Sesuai nama mereknya."
"Lanjutkan."
"Kami usul ada sesi foto keluarga. Aurora bisa masuk satu atau dua frame saja. Tidak perlu wajah penuh."
Ruangan menunggu.
"Tidak," kata Iris.
"Datanya bagus, Bu. Keterlibatan bisa naik tiga kali lipat."
"Aku percaya datanya." Iris menutup berkas presentasinya. "Tapi anakku belum bisa bilang setuju atau tidak. Aku tidak akan menjual sesuatu yang tidak bisa dia tarik kembali nanti."
"Bagaimana kalau siluetnya saja?"
"Tetap tidak." Iris menatap satu per satu orang di meja itu. "Produk ini harus laku karena kualitas, bukan karena orang ingin melihat kehidupan pribadiku."
Tim akhirnya membangun kampanye di atas hasil uji dermatologis dan kisah pelanggan. Butuh dua kali kerja ulang, tetapi Maya kemudian mengakui versi itu lebih tahan lama.
Di rumah, Gavin menghadapi kesulitan serupa dari arah yang berlawanan.
Sebuah portal menulis artikel dengan judul yang membuat Iris menutup laptop sekali entak. Gavin Mikhail disebut suami teladan karena bersedia menjaga bayi sementara istrinya mengejar karier. Di paragraf bawah, nama Iris muncul lagi sebagai ibu yang terlalu ambisius, bertanya-tanya apakah bayinya akan mengenali wajahnya.
"Aku akan panggil pengacara," kata Gavin malam itu, suaranya datar dan itu justru pertanda buruk. "Kita minta penurunan artikel. Kalau perlu aku cabut seluruh iklan grup dari jaringan mereka."
"Lalu besok akan ada sepuluh artikel tentang konglomerat yang membungkam media."
"Aku tidak peduli."
"Aku peduli." Iris duduk di sampingnya. "Dan aku capek jadi berita. Aurora sudah punya cukup foto yang beredar tanpa izin kita."
Gavin menghela napas. "Jadi kita diam saja?"
"Bukan diam. Dipakai."
Iris mengambil kertas dan menulis sambil bicara. Kalau media menganggap ayah yang mengganti popok itu berita luar biasa, artinya standar di dunia kerja mereka sendiri memang timpang.
Dua minggu kemudian Mikhail Group mengumumkan kebijakan cuti ayah yang dibayar penuh, dan Adinata menyusul dengan jam kerja fleksibel untuk orang tua anak di bawah dua tahun.
Gavin menandatangani berkas itu di dapur, jam sebelas malam, dengan botol susu di sebelah pena.
"Dulu perusahaan kita menganggap mengasuh anak itu urusan perempuan," katanya. "Aku ikut menandatangani aturan yang bikin begitu. Waktu itu aku pikir aku sedang efisien."
"Sekarang?"
"Sekarang aku tahu efisien untuk siapa."
Malam itu Aurora menangis tanpa henti.
Bukan demam, bukan lapar, bukan popok. Ia menangis dengan cara yang tidak punya sebab, dan tangisnya terus naik seperti sirene yang tidak mau mati.
Pukul dua pagi, Iris masuk ke dapur untuk mengambil botol dan menemukan bak cuci penuh.
"Botolnya belum dicuci," katanya.
"Aku baru selesai rapat jam dua belas."
"Aku juga kerja, Gavin."
"Aku tidak bilang kamu tidak kerja."
"Tapi nadanya begitu."
"Nadaku begitu karena aku belum tidur." Gavin mengusap wajah. "Dan kamu marah soal botol padahal masalahnya bukan botol."
"Jangan menganalisis aku sekarang."
Mereka berdiri berhadapan di dapur dengan lampu terlalu terang, dan untuk beberapa detik keduanya sama-sama siap mengatakan sesuatu yang akan disesali besok pagi.
Lalu tangis Aurora naik satu tingkat lagi, melengking dari kamar sebelah.
Mereka berhenti.
Gavin yang lebih dulu bergerak. Ia menggendong putrinya, menyandarkan kepala bayi itu ke bahunya, dan berjalan pelan dari ujung ke ujung ruang tengah sambil bersenandung tanpa nada.
Iris berdiri di ambang pintu, memperhatikan, dengan dada yang terasa terlalu penuh.
Aurora akhirnya tidur pukul tiga kurang seperempat.
Ketika Iris keluar dari kamar bayi, keran dapur menyala. Gavin sedang mencuci botol satu per satu, punggungnya bungkuk, kaus oblongnya basah di bagian bahu.
Iris mengambil lap dan berdiri di sampingnya.
"Maaf," katanya. "Aku sudah kesal sejak sore soal artikel itu. Tapi yang kukeluarkan botol."
"Aku juga minta maaf." Gavin menyerahkan botol terakhir. "Lain kali bilang saja waktu kesalnya masih kecil. Jangan ditabung sampai jam dua pagi."
"Bunganya tinggi, ya."
"Mahal sekali."
Iris tertawa, dan tawa itu terdengar aneh di dapur pukul tiga pagi, tetapi tidak ada yang keberatan.
Mereka duduk di lantai dapur, bersandar ke lemari bawah, minum air putih seperti dua orang yang baru selesai lari maraton.
Pernikahan mereka sekarang lebih sering diuji oleh cucian, jadwal tidur, dan rapat yang bentrok daripada oleh rahasia besar atau ancaman dari orang yang ingin menghancurkan mereka. Tidak ada lagi amplop misterius, tidak ada pengacara yang menunggu di lobi.
Anehnya, kehidupan biasa itu justru terasa berharga.
Iris pernah membayangkan bahwa setelah semua badai berlalu, ia akan hidup tanpa keraguan. Ternyata tidak. Ia masih ragu hampir setiap hari.
Ia tetap bekerja. Ia tetap memimpin rapat, tetap menolak permintaan yang salah, tetap pulang dengan kepala penuh angka.
Ia juga tetap pulang ketika anaknya sakit, membatalkan penerbangan, menerima bahwa ada pekerjaan yang lewat begitu saja.
Ia tidak sempurna di kedua tempat, tetapi akhirnya memahami dirinya tidak harus sempurna untuk tetap menjadi ibu dan pemimpin yang baik.