Kartu nama itu tiba di meja Iris dalam amplop cokelat kecil, tanpa surat pengantar.
Tiffany Sofia. Koordinator Program.
Tidak ada Mikhail di sana.
Iris memutar kartu itu di antara jarinya cukup lama. Ia hafal betul bagaimana nama keluarga itu bekerja. Nama Mikhail membuka pintu, mengangkat telepon di detik pertama, mengubah orang asing menjadi ramah. Melepaskannya sama dengan memilih jalan yang lebih berat tanpa alasan yang terlihat.
Tiffany memakai nama lahir ibunya. Sofia. Perempuan yang meninggal ketika Tiffany masih terlalu kecil untuk mengingat wajahnya, dan yang namanya nyaris tidak pernah disebut di mansion.
Dengan nama itu ia membangun program bantuan bagi korban penguntitan. Pendampingan hukum, tempat aman sementara, pelatihan untuk mengenali pola yang biasanya baru disadari orang setelah terlambat.
Regina meledak ketika tahu.
"Jadi kami tidak cukup baik untukmu?" suara Regina terdengar sampai ke teras ketika Iris dan Gavin datang berkunjung sore itu. "Papamu membiayai sekolahmu. Nama itu yang membuat orang mau bicara denganmu."
"Mama, aku tidak membuang Mama."
"Lalu apa namanya?"
Tiffany diam sebentar. Iris melihat bahu perempuan itu naik, lalu turun pelan, seperti orang yang sedang menghitung sampai tiga di dalam kepala.
"Namanya aku ingin tahu siapa aku kalau namanya bukan nama adik Gavin," kata Tiffany akhirnya. "Seumur hidupku, semua yang kupunya diberikan karena aku bagian dari keluarga ini. Bahkan kesalahanku dimaafkan karena itu."
"Itu keluarga, Tiffany."
"Aku tahu. Aku tetap anak Mama." Suaranya melembut. "Tapi aku perlu satu hal yang berdiri sendiri."
Regina tidak menjawab. Ia hanya memanggil pelayan untuk mengangkat cangkir yang belum kosong, cara lamanya menutup percakapan yang tidak bisa dimenangkannya.
Selama empat bulan pertama, program itu berjalan lebih baik dari perkiraan siapa pun. Tiffany bekerja tanpa gaji besar, datang paling pagi, dan menolak semua undangan wawancara yang meminta ia bercerita sebagai putri keluarga kaya yang turun ke bawah.
Iris sempat datang sekali ke kantor program itu, mengantar donasi perusahaan yang sudah diperiksa bagian hukum dua kali. Tempatnya kecil. Dua meja, satu lemari arsip, dan papan tulis berisi nomor telepon yang boleh dihubungi dini hari.
"Kami dapat dua belas laporan bulan ini," kata Tiffany waktu itu, tanpa menoleh dari berkasnya. "Sebelas di antaranya bilang kalimat yang sama. Dia bukan orang jahat, dia cuma sayang."
Iris tidak menjawab. Ia tahu Tiffany sedang mendengar suaranya sendiri dari beberapa tahun lalu.
Lalu masalah datang dari arah yang tidak diperhitungkan.
Seorang donatur yayasan mengenali wajah Tiffany dari kasus lama. Ia mengirim surat panjang ke seluruh pengurus, lengkap dengan tangkapan layar: bahwa koordinator program untuk korban penguntitan justru pernah menguntit dan memanipulasi seorang perempuan bernama Iris Adinata sampai nyaris menghancurkan rumah tangganya.
Dewan memanggil Tiffany dalam rapat tertutup. Mereka meminta ia mengundurkan diri.
Tiffany tidak menyangkal satu kalimat pun.
Ia justru berdiri dan menceritakan semuanya kepada para pengurus. Pesan-pesan yang dikirimnya dulu. Foto-foto yang dikumpulkannya. Cara ia memakai posisinya sebagai sahabat untuk masuk ke kehidupan Iris, lalu memutar-balik kenyataan sampai Iris sendiri meragukan ingatannya.
"Kalau keberadaan saya membuat korban di sini merasa tidak aman," katanya menutup, "saya akan keluar hari ini juga. Tanpa syarat. Tanpa pesan perpisahan."
Yang tidak diminta Tiffany, dan tidak pernah ia duga, adalah surat dari pengurus kepada Iris. Mereka ingin mendengar langsung dari orang yang paling berhak marah.
Iris membaca surat itu tiga kali sebelum menulis jawabannya.
"Kamu tidak wajib," kata Gavin, yang berdiri di belakang kursinya malam itu.
"Aku tahu."
"Kamu juga boleh menulis yang membuat dia keluar dari sana."
Iris meletakkan pena. "Aku sudah memikirkannya. Rasanya enak sekali, tiga detik pertama."
Yang akhirnya ia kirim bukan surat pemaaf, dan bukan surat penghancur.
Ia menuliskan apa yang terjadi dahulu, apa adanya, tanpa mengurangi satu kalimat pun. Lalu ia menuliskan apa yang ia lihat sekarang: Tiffany menjalani terapi dua tahun terakhir, bekerja di bawah pengawasan, dan tidak pernah sekali pun menghubunginya di luar jalur yang disepakati.
Di rapat dewan, pernyataan itu dibacakan sampai ke kalimat terakhir.
"Kesempatan kedua tidak menghapus pertanggungjawaban," tulis Iris. "Namun pertanggungjawaban seharusnya membuka kemungkinan perubahan. Kalau tidak, kita cuma minta orang mengaku, lalu memastikan pengakuannya tidak berguna."
Dewan berdebat sampai lewat tengah malam.
Hasilnya bukan kemenangan bersih. Tiffany dipertahankan dalam masa evaluasi satu tahun, dengan batas tugas yang jelas. Ia tidak boleh menangani klien secara langsung tanpa pendamping. Setiap laporan diperiksa dua pihak. Riwayatnya diberitahukan kepada pengurus yang belum mengetahui.
Tiffany menerima semuanya tanpa menawar.
Ia datang ke kantor After Storm minggu itu, berdiri di depan meja Iris, dan sempat tidak tahu harus memulai dari mana.
"Terima kasih," katanya akhirnya. "Kamu bisa menghabisiku dengan satu paragraf."
"Bisa."
"Kenapa tidak?"
Iris menutup laptopnya. Ia ingin kalimatnya sampai utuh, tanpa salah tangkap yang bisa dipeluk Tiffany terlalu erat.
"Aku tidak melakukannya demi persahabatan lama kita," katanya. "Persahabatan itu sudah mati dan aku tidak berusaha menghidupkannya. Aku hanya mengatakan kebenaran yang kulihat sekarang."
Tiffany mengangguk pelan. Anehnya, wajahnya tidak kecewa. Justru lebih tenang, seperti orang yang akhirnya diberi ukuran yang jujur.
"Itu lebih baik," ucapnya. "Yang kemarin-kemarin, semua orang baik padaku karena kasihan."
Gavin bangga pada keduanya, walaupun ia menyimpannya dengan cara paling kaku yang bisa dibayangkan. Ia mengirim bunga ke yayasan tanpa kartu. Ia menanyakan perkembangan Tiffany kepada Iris, bukan kepada Tiffany.
Dan ia tetap menjaga jarak.
"Kalau aku datang sekarang dan bilang aku bangga," katanya kepada Iris, "besok dia akan mengukur semua langkahnya dari situ lagi."
"Kamu belajar juga akhirnya."
"Mahal biayanya."
Beberapa bulan kemudian Tiffany menyelesaikan pelatihan konselor sebaya. Sertifikatnya dikirim lewat pos dan sempat tertahan seminggu di kantor pengiriman karena nama penerimanya tidak dikenali satpam apartemen.
Malam itu Tiffany membereskan mejanya.
Ada satu bingkai yang sudah berdiri di sana sejak ia pindah, foto Gavin pada suatu musim panas di Italia, diambil diam-diam dari sisi kiri.
Tiffany memandanginya cukup lama. Lalu ia mengambil bingkai itu, mengganti isinya dengan foto Sofia yang ia minta dari kerabat ibunya, dan menaruh foto Gavin di dalam kotak bersama barang-barang lama.
Ia tidak membuangnya. Membuang terlalu dramatis, dan ia sudah lelah dengan hal-hal dramatis.
Nama baru tidak mengubah masa lalu. Namun untuk pertama kalinya, Tiffany memilih masa depan yang tidak dibangun dengan merebut milik Iris.