Jalan dari tambang ke kota panjang dan lurus, diapit kebun sawit yang warnanya sama sepanjang delapan puluh kilometer. Gavin selalu tertidur di jalur itu. Sore itu pun ia tertidur, dengan laptop masih terbuka di pangkuannya dan dasi yang sudah dilonggarkan sejak siang.
Sopirnya yang melihat truk itu lebih dulu.
Kendaraan besar bermuatan penuh, keluar dari lajur seberang, menyerong tanpa suara klakson. Sopir membanting setir ke kiri untuk menghindar. Mobil menghantam pembatas jalan, terangkat sedikit, lalu berhenti dengan kap depan remuk dan bunyi klakson yang menyala terus.
Di Jakarta, saat itu pukul empat lewat sepuluh.
Iris sedang berdiri di depan ruang rapat besar, memimpin presentasi terakhir sebelum peluncuran, ketika ponselnya bergetar untuk kali ketiga di meja. Ia hendak mengabaikannya. Lalu ia melihat nama yang muncul.
Kepala keamanan Mikhail Group tidak pernah menelepon untuk hal kecil.
"Permisi sebentar," katanya kepada ruangan.
Ia mendengarkan tiga kalimat di koridor, dan lututnya terasa seperti berpindah tempat.
Yang membuatnya sendiri heran belakangan adalah apa yang dilakukannya setelah itu. Ia tidak kembali ke ruang rapat untuk menyelesaikan presentasi supaya terlihat kuat. Ia tidak menelepon lima orang untuk mengatur segalanya sendiri.
Ia masuk, meletakkan alat penunjuk di meja, dan berkata, "Maya, ambil alih. Gavin kecelakaan."
"Pergi," jawab Maya, sudah berdiri. "Aku kirim ringkasannya nanti malam. Jangan dibaca kalau tidak sempat."
Perjalanan ke rumah sakit memakan lima puluh menit dan Iris menghabiskannya dengan menatap sandaran kursi depan. Ia tidak menangis. Ia hanya terus menghitung mundur dari seratus, cara lama yang diajarkan konselornya dulu, supaya kepalanya tidak lari ke tempat-tempat gelap.
Kabarnya jauh lebih ringan dari yang ia bayangkan selama lima puluh menit itu.
Patah tulang kaki kanan. Gegar otak ringan. Beberapa jahitan di pelipis. Sopirnya selamat dengan luka di bahu.
Gavin sadar penuh menjelang malam. Matanya mencari-cari sampai menemukan Iris di kursi samping ranjang.
"Akhirnya," suaranya serak, "kamu harus merawatku lagi."
"Gavin."
"Dulu kamu menolak. Sekarang ada surat dokternya."
Iris menunduk, menempelkan dahinya sebentar ke punggung tangan suaminya, lalu mengangkat wajah dengan mata yang sudah kering lagi.
"Kalau kau pura-pura sakit kali ini, aku akan mematahkan kaki satunya."
Gavin tertawa. Lalu ia meringis, memegangi rusuknya, dan tertawa lagi lebih pelan.
"Jangan bikin aku tertawa. Semuanya sakit."
Penyelidikan berjalan dua minggu. Rekaman kamera jalan, catatan pengiriman muatan, riwayat sopir truk, hasil pemeriksaan rem. Semuanya menunjuk ke satu kesimpulan yang membosankan dan melegakan: pengemudi truk mengantuk setelah tiga hari bekerja tanpa istirahat cukup.
Bukan sabotase. Tidak ada tangan siapa pun di balik itu.
Iris membaca laporannya sampai halaman terakhir, mengangguk, dan mengucapkan terima kasih kepada tim.
Malamnya ia bermimpi tentang Bellucci.
Bukan wajahnya, karena ia tidak pernah benar-benar melihat wajah orang itu. Hanya suaranya di telepon dulu, dan kalimat yang pernah dikirim ke ponselnya, dan perasaan bahwa ada yang tahu ke mana pun ia pergi.
Ia terbangun pukul tiga, meraba sisi ranjang yang kosong karena Gavin masih tidur di kamar bawah, dan tidak bisa tidur lagi.
Sejak itu kebiasaan kecil itu tumbuh.
Iris menelepon untuk memastikan Gavin sudah sampai. Lalu dua kali sehari. Lalu ia bertanya kepada sopir pengganti, kepada asisten, kepada satpam lobi. Ia mulai hafal jadwal suaminya lebih baik daripada jadwalnya sendiri, dan setiap kali ponselnya tidak dijawab dalam sepuluh menit, dadanya mengencang.
Gavin memperhatikannya. Tentu saja.
Yang tidak ia lakukan adalah menuduh. Tidak ada kalimat tentang dikekang, tidak ada sindiran tentang siapa yang dulu paling benci diawasi.
Suatu sore ia hanya menepuk tempat kosong di sampingnya di sofa.
"Duduk."
Iris duduk.
"Kamu takut kehilangan aku?"
Pertanyaan itu terlalu sederhana untuk dibantah. Iris mengangguk.
"Aku terus memikirkan satu detik," katanya. "Kalau truknya keluar satu detik lebih cepat. Kalau sopirnya membanting ke kanan."
Gavin tidak menjawab dengan janji bahwa ia akan baik-baik saja selamanya. Ia tahu Iris tidak akan percaya janji seperti itu, dan ia sudah berhenti menjual hal yang tidak bisa ia kirim.
Malam itu mereka memutuskan sesuatu bersama. Fitur berbagi lokasi dinyalakan di kedua ponsel, dua arah, bukan satu. Sementara saja, sampai Gavin bisa berjalan lagi tanpa bantuan. Keduanya menyetujuinya dengan sadar, bukan dipasang diam-diam oleh salah satu pihak.
Iris juga kembali menemui konselornya, dua minggu sekali.
"Aku pikir aku sudah selesai dengan semua ini," katanya di sesi pertama.
"Kecemasan tidak lulus sekolah, Bu Iris. Dia cuma libur."
Masa pemulihan ternyata lebih sulit bagi Gavin daripada kecelakaannya sendiri.
Ia tidak tahu cara menerima bantuan. Ia menolak dipapah ke kamar mandi. Ia memindahkan berkas ke tempat tidur dan menjalankan rapat daring dengan kaki digips, lengkap dengan kemeja di atas dan celana pendek di bawah supaya kamera tidak tahu.
Puncaknya terjadi pada hari kesepuluh, ketika Iris masuk ke kamar dan menemukan suaminya berdiri miring di dekat lemari, tanpa tongkat, dengan wajah pucat dan satu tangan mencengkeram gagang pintu.
"Aku cuma ambil dokumen."
"Kamu hampir jatuh."
"Hampir. Berarti tidak."
Iris menarik napas panjang. Bagian dari dirinya ingin menyambar laptop itu dan membawanya keluar kamar, mengunci pintu, memarahi laki-laki itu seperti memarahi anak kecil.
Ia tidak melakukannya. Laptop itu tetap di tempatnya.
"Aku tidak akan mengambil apa pun dari kamu," katanya. "Aku cuma mau tanya satu hal. Nanti kalau Aurora sakit dan dia ingat ayahnya tetap kerja sambil kesakitan, dia akan belajar apa?"
Gavin membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
"Kamu tidak main adil," ucapnya akhirnya.
"Aku istrimu, bukan lawan tandingmu."
Gavin mengambil cuti keesokan harinya. Cuti pertama yang benar-benar cuti sepanjang hidupnya, tanpa telepon rahasia, tanpa berkas yang diselundupkan Maya lewat kurir.
Enam minggu itu berisi hal-hal yang tidak pernah masuk agendanya. Membacakan buku bergambar kepada Aurora sampai hafal semua kalimatnya. Tidur siang. Menonton hujan dari teras. Belajar, pelan-pelan dan dengan susah payah, bahwa nilai dirinya tidak berkurang ketika ia tidak menghasilkan apa-apa.
"Ternyata perusahaannya masih berdiri," katanya suatu sore.
"Mengecewakan, ya."
"Sangat."
Ketika gips dibuka dan dokter mengizinkan Gavin berjalan normal, mereka duduk bersama di meja makan dan membuka pengaturan ponsel masing-masing.
Gavin mematikan miliknya lebih dulu.
Jari Iris berhenti di atas layar. Ada satu detik ketika ia hampir berkata, sebulan lagi saja.
Lalu ia menekan tombol itu sendiri dan menghapus aplikasinya sekalian.
Melepaskan pengawasan tidak berarti Iris berhenti peduli. Itu berarti ia menolak membiarkan rasa takut menyamar sebagai cinta.