Ibu Larissa meninggal di Melbourne pada akhir musim gugur, setelah dua tahun sakit yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun di Jakarta.
Larissa mengurus pemakaman sendirian. Ia menjual rumah kecil di pinggir kota itu, mengemas sisanya ke dalam empat kardus, dan tiba di Jakarta dengan dua koper serta keputusan yang sudah bulat sebelum pesawat mendarat.
Ia akan menetap.
Richard nyaris tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Dalam seminggu ia sudah menyiapkan dua hal: sebuah rumah di kompleks yang sama dengan rumah keluarga, dan kursi direktur keuangan di salah satu anak perusahaan Adinata.
Larissa menolak keduanya dalam satu kalimat.
"Terima kasih. Tapi tidak."
"Larissa, itu rumah yang layak. Kamu tidak perlu menyewa—"
"Saya sudah menyewa."
Iris yang duduk di seberang meja melihat wajah ayahnya berubah, dan untuk pertama kalinya merasa kasihan kepada laki-laki yang seumur hidup terbiasa menyelesaikan masalah dengan cara membelikan sesuatu.
Yang diinginkan Larissa adalah firma audit sendiri. Kecil, independen, tanpa nama besar di belakangnya.
"Kenapa audit?" tanya Iris beberapa hari kemudian, di sebuah rumah makan yang dipilih Larissa karena tidak ada satu pun orang Adinata yang mungkin makan di sana.
"Karena angka tidak bisa berpura-pura." Larissa mengaduk esnya. "Orang bisa. Angka tidak."
Iris menawarkan investasi malam itu juga. Modal awal, sewa kantor dua tahun, gaji tiga karyawan pertama.
Kalimatnya belum selesai ketika ia mendengar suaranya sendiri, dan tiba-tiba ia paham bagaimana tawaran itu terdengar dari kursi seberang. Persis seperti ayahnya. Uang yang dibungkus kasih sayang, atau kasih sayang yang dibungkus uang, entah mana yang di dalam.
"Maaf," kata Iris cepat. "Itu keluar salah."
Larissa meletakkan sendoknya. Ia tidak marah. Ia hanya butuh waktu untuk memilih kata yang tepat, kebiasaan yang ternyata dimiliki mereka berdua.
"Aku bisa menerima bantuan sebagai transaksi profesional," katanya. "Bukan sebagai pembayaran rasa bersalah keluarga."
"Beda tipis."
"Beda jauh. Yang satu ada kontraknya."
Maka mereka membuat kontrak sungguhan. After Storm menjadi klien berbayar dengan tarif pasar, bukan pemberi modal. Semua jam kerja dicatat. Semua tagihan lewat bagian keuangan dan sempat tertahan sekali karena nomor rekeningnya salah ketik.
Larissa justru senang ketika tagihannya tertahan.
"Artinya sistemnya jalan," katanya di telepon. "Kalau langsung cair karena aku adikmu, aku yang keluar."
"Kakakku," koreksi Iris. Kata itu masih terasa aneh di mulutnya.
Enam bulan kemudian firma itu mendapat klien pertama yang sama sekali tidak berhubungan dengan Adinata. Sebuah jaringan restoran yang sedang bersiap menjual saham. Larissa mengirim foto kop surat perusahaannya sendiri, tanpa pesan apa pun.
Iris menyimpan foto itu.
Tetapi hubungan mereka tetap canggung, dan kecanggungan itu punya bentuk yang lucu. Mereka bisa berdebat dua jam soal standar akuntansi tanpa lelah, lalu kehabisan bahan dalam lima belas menit ketika membahas hal pribadi.
Larissa iri. Ia mengakuinya terus terang suatu kali, setelah gelas kedua.
"Kamu tumbuh dengan dia. Kamu marah sama dia, kamu bisa membanting pintu kamar, dan besok paginya dia tetap ada di meja makan. Aku tidak pernah punya pintu untuk dibanting."
Dan Iris merasa bersalah atas sesuatu yang tidak pernah ia pilih. Ia tidak memilih lahir di rumah itu. Ia juga tidak bisa mengembalikan tiga puluh tahun kepada perempuan di hadapannya.
Mereka mencoba memperbaikinya dengan cara yang paling tidak romantis: makan siang tiap Kamis, satu jam, di tempat yang sama.
Kadang percakapannya bagus. Kadang mereka menghabiskan empat puluh menit membicarakan cuaca dan tarif parkir.
"Ini canggung sekali," kata Larissa pada minggu kelima.
"Sangat."
"Mau berhenti?"
Iris menggeleng. "Kamis depan jam dua belas?"
"Kamis depan jam dua belas."
Konflik akhirnya pecah karena sebuah foto.
Richard memasang potret Larissa di dinding ruang keluarga, di antara foto Iris kecil dan foto pernikahan. Bingkainya sama, ukurannya sama, dipesan khusus supaya serasi.
Iris melihatnya lebih dulu dan matanya langsung panas. Ia pikir itu hal paling manis yang pernah dilakukan ayahnya.
Larissa berdiri di ruangan itu selama sepuluh detik tanpa bersuara.
"Turunkan," katanya.
"Larissa—"
"Papa tidak pernah sekali pun menelepon ibuku. Tiga puluh tahun." Suaranya tidak meninggi, dan justru itu yang membuat seisi ruangan membeku. "Papa belum pernah bertanya bagaimana rasanya menunggu. Belum pernah minta maaf. Tapi bingkainya sudah dipesan."
"Papa cuma ingin kamu ada di rumah ini."
"Aku bukan foto yang bisa ditambahkan agar keluarga ini terlihat lengkap."
Larissa pulang malam itu tanpa makan malam. Iris mengantarnya sampai mobil dan tidak mencoba membela ayahnya, karena untuk pertama kalinya ia sadar tidak ada yang perlu dibela.
Richard meminta maaf dua minggu kemudian. Bukan lewat perantara, bukan lewat hadiah. Ia datang sendiri ke kantor firma yang sempit itu, duduk di kursi tamu yang terlalu kecil untuk badannya, dan bicara selama empat puluh menit.
Lalu ia mulai mengikuti konseling keluarga. Tiga kali menolak, dua kali membatalkan di menit terakhir, dan akhirnya duduk di ruangan itu dengan wajah orang yang sedang menjalani hukuman.
Di sesi kelima, Emiliana ikut. Dan di sesi kelima itu pula ia mengakui bahwa ia mengetahui keberadaan Larissa sejak awal.
"Aku tahu sejak kamu berumur dua tahun," katanya kepada Larissa, tangannya gemetar di pangkuan. "Aku diam karena takut pernikahanku bubar. Aku tidak akan minta kamu memakluminya."
Iris mendengarkan semuanya tanpa menjadi penengah bagi siapa pun.
Itu bagian tersulit. Seluruh hidupnya ia menjadi orang yang menambal jarak antara semua orang di rumah itu, menerjemahkan kemarahan ayahnya, menenangkan ibunya, memastikan makan malam berjalan lancar.
Kali ini ia hanya duduk. Ia membiarkan mereka berbicara dan salah bicara dan diam lama sekali.
Menyatukan keluarga bukan tanggung jawabnya seorang diri.
Pada ulang tahun Aurora, Larissa datang dengan kado berbungkus kertas polos.
Isinya buku akuntansi mainan, lengkap dengan kolom debit dan kredit dari plastik warna-warni.
"Supaya dia tidak membuat laporan keuangan seperti kakeknya," katanya.
Richard mengeluh panjang lebar dari kursinya, menyebut sesuatu tentang generasi yang tidak menghargai pengalaman.
Semua orang tertawa.
Larissa belum memanggil Richard sebagai ayah. Mungkin tidak akan pernah, dan itu boleh saja.
Iris juga baru sesekali memanggilnya kakak, biasanya ketika sedang lelah dan lupa menjaga jarak.
Kedekatan mereka tidak lahir dalam satu pengakuan dramatis. Ia tumbuh melalui makan siang, pertengkaran jujur, dan kesediaan kembali setelahnya.