Richard mengundurkan diri pada hari Jumat, dan pada hari Senin ia sudah duduk di lobi kantor Iris pukul delapan pagi.
"Papa cuma lewat," katanya.
"Kantor Papa di seberang kota."
"Ya, Papa lewat jauh."
Pengunduran dirinya total. Bukan komisaris, bukan penasihat, bukan kursi kehormatan di rapat tahunan. Ia menandatangani semuanya sekaligus, dengan gaya seorang lelaki yang ingin membuktikan sesuatu kepada dirinya sendiri.
Masalahnya, tidak ada yang menyiapkannya untuk hari Senin.
Selama empat puluh tahun, hidupnya adalah kalender. Rapat pukul sembilan, laporan pukul sebelas, makan siang dengan seseorang yang ingin sesuatu, rapat lagi, penerbangan malam. Sekarang kalender itu kosong, dan kekosongan itu ternyata berbunyi sangat keras.
Jadi ia mengisinya dengan kantor Iris.
Ia datang tiga kali seminggu. Lalu lima. Ia berdiri di belakang kursi Iris saat rapat, memberikan komentar setelah rapat, mengoreksi cara Maya menyusun laporan, dan menanyakan kenapa nomor pesanan tidak diurutkan seperti dahulu.
Puncaknya ketika ia menelepon salah satu pemasok After Storm, atas namanya sendiri, untuk menawar harga.
Iris menutup pintu ruangannya pelan-pelan sore itu.
"Pa, duduk sebentar."
"Papa cuma membantu. Harganya turun empat persen."
"Pa, mereka menelepon aku setelahnya dan bertanya siapa yang sebenarnya memutuskan di sini."
Richard terdiam.
"Papa butuh kegiatan," kata Iris hati-hati. "Bukan di sini. Papa punya waktu, punya pengalaman puluhan tahun, dan sekarang semuanya ditumpahkan ke satu tempat yang sebenarnya sudah jalan."
Wajah Richard berubah. Iris kenal betul perubahan itu, ia sudah melihatnya sejak kecil.
"Jadi Papa mengganggu."
"Papa, bukan begitu—"
"Tidak apa-apa." Richard berdiri, merapikan jasnya dengan gerakan yang terlalu rapi. "Papa mengerti. Sudah tidak dibutuhkan."
"Pa."
"Papa pulang dulu."
Ia pergi tanpa menoleh, dan tidak datang selama dua minggu penuh. Ia juga tidak mengangkat telepon pada minggu pertama.
Larissa yang menemukan jalannya.
Perempuan itu datang ke rumah pada Sabtu pagi, membawa berkas, dan meletakkannya di meja makan seolah sedang menyerahkan laporan audit.
"Ada program pelatihan usaha kecil," katanya. "Pendampingan keuangan untuk pemilik toko. Warung, bengkel, konveksi rumahan. Mereka kekurangan pengajar yang benar-benar pernah menjalankan perusahaan."
Iris membaca berkasnya. "Larissa, Papa itu—"
"Aku tahu persis siapa dia." Larissa menyilangkan tangan. "Karena itu ada syaratnya. Tidak ada jabatan. Tidak ada kartu nama. Tidak ada gelar penasihat senior. Dia bukan siapa-siapa di sana, cuma orang yang mengajar hari Selasa dan Kamis."
"Papa tidak akan mau."
"Mungkin. Tapi dia harus mengajar pemilik toko menyusun keuangan, bukan memerintah direktur. Kalau dia tidak sanggup membedakan keduanya, dia memang belum pensiun."
Richard mengeluh selama enam minggu pertama.
Ia mengeluh soal kursinya. Soal proyektor yang rusak. Soal peserta yang datang terlambat karena harus menutup warung dulu. Soal seorang bapak penjual ban yang mencatat pemasukan di balik bungkus rokok.
"Mereka tidak punya pembukuan sama sekali," katanya kepada Iris di telepon. "Sama sekali, Iris. Uang dagang dan uang dapur dicampur di satu laci."
"Terus Papa ajarkan?"
"Ya Papa ajarkan. Papa bawakan buku bergaris, Papa suruh dibagi dua kolom. Dua kolom saja. Itu pun butuh tiga pertemuan."
Tetapi ia tidak berhenti datang.
Titik baliknya adalah sebuah toko kelontong keluarga di pinggir kota. Toko itu sudah tiga generasi, dan sedang menuju bangkrut karena mengambil pinjaman untuk menutup pinjaman.
Richard menghabiskan dua Sabtu penuh di sana. Duduk di kursi plastik, di antara karung beras, dengan kalkulator dan pensil.
Ia menyusun ulang utangnya, menegosiasikan tempo dengan dua pemasok, dan memaksa pemiliknya menutup satu lini dagang yang selama ini merugi tetapi dipertahankan karena gengsi.
Delapan bulan kemudian, toko itu masih berdiri.
Anak pemiliknya mengirim foto lewat pesan: spanduk baru, rak baru, dan seorang bapak tua tersenyum di depannya.
Richard mencetak foto itu dan meletakkannya di meja kerjanya di rumah. Di tempat yang dahulu ditempati foto penandatanganan kontrak dengan menteri.
Hubungannya dengan Larissa juga berubah, meski pelan sekali.
Mereka mulai bertemu setiap minggu. Selalu Rabu, selalu di tempat yang sama, selalu tanpa pengumuman kepada siapa pun. Tidak ada foto keluarga di media, tidak ada pernyataan resmi, tidak ada acara pengakuan.
Larissa masih memanggilnya Richard.
Richard tidak pernah sekali pun memaksanya mengganti panggilan itu. Ia juga tidak pernah mengeluh kepada Iris soal itu, meski Iris tahu lelaki itu menghitung setiap kali mendengarnya.
"Papa tidak ingin dipanggil Papa?" tanya Iris suatu kali.
"Ingin sekali," jawab Richard. "Tapi itu bukan sesuatu yang boleh Papa minta. Papa tidak ada waktu dia lahir, tidak ada waktu dia sekolah, tidak ada waktu ibunya sakit. Panggilan itu haknya, bukan hak Papa."
Ulang tahun Richard yang ke enam puluh dirayakan kecil di rumah Iris. Tidak ada wartawan, tidak ada rekanan bisnis, tidak ada kue setinggi lutut.
Larissa datang membawa kotak kecil.
Di dalamnya sebuah pulpen. Bukan yang termahal, bukan merek yang biasa dipakai Richard, hanya pulpen hitam sederhana dengan ukiran namanya di badannya.
Ada kartu kecil, ditulis tangan.
Untuk menulis sesuatu yang tidak perlu disembunyikan.
Richard membaca kartu itu, lalu membacanya lagi. Bahunya mulai berguncang.
Lelaki yang Iris kenal seumur hidupnya sebagai orang yang tidak pernah menangis, bahkan di pemakaman, bahkan ketika perusahaannya hampir runtuh, menangis di meja makan sambil memegang sebuah pulpen.
Iris berdiri, berjalan memutar, dan memeluk keduanya sekaligus.
Ia tidak berkata sekarang semuanya sudah selesai. Karena tidak.
Masih ada dua puluh tahun yang tidak bisa dikembalikan. Masih ada nama ibu Larissa yang tidak pernah disebut di rumah ini. Masih ada Larissa yang, sesudah pelukan itu, tetap pulang ke apartemennya sendiri dan tetap memanggilnya Richard minggu berikutnya.
Emiliana mulai menjalani konseling pada bulan yang sama.
Ia tidak menceritakannya kepada siapa pun sampai sesi kedelapan. Kemudian, pada suatu makan siang berdua, ia berkata kepada Iris dengan suara yang sangat pelan.
"Mama selalu merasa Mama korban di cerita ini."
"Mama memang dikhianati."
"Iya. Tapi Mama tahu, Iris. Mama tahu anak itu ada sejak dia kecil." Emiliana menekan serbetnya. "Mama memilih diam supaya rumah ini tidak berantakan. Dan diam Mama itu ikut membuat dia tumbuh tanpa satu pun orang yang mengakui dia ada. Mama bukan cuma korban. Mama juga ikut membangun temboknya."
Iris tidak tahu harus menjawab apa. Jadi ia hanya menggenggam tangan ibunya.
Pensiun membuat Richard kehilangan kursi.
Kehilangan ruangan di sudut lantai paling atas, kehilangan orang-orang yang berdiri ketika ia masuk, kehilangan tanda tangan yang bisa menggerakkan uang miliaran dalam satu detik.
Tetapi di tempat kosong itu, ia menemukan sesuatu yang tidak pernah sempat ia miliki: kesempatan menjadi ayah dengan cara yang belum pernah ia coba, di usia ketika kebanyakan orang sudah menyerah untuk berubah.
Malam itu, di perjalanan pulang, Iris memandangi Gavin yang menyetir dalam diam.
Lelaki-lelaki dalam hidupnya akhirnya belajar hal yang sama, dengan jalan berbeda dan dengan harga yang sama mahalnya.
Bahwa dihormati tidak berarti mengendalikan orang-orang di sekeliling mereka.