Surat itu dibawa sendiri oleh ketua dewan, bukan dikirim lewat sekretaris.
Masa jabatan baru. Lima tahun. Angka yang tertulis di dalamnya lebih besar daripada yang pernah diterima siapa pun di Mikhail Group.
"Kami tidak sedang menawar, Gavin," kata lelaki tua itu. "Kami sedang memohon. Perusahaan ini belum pernah setenang sekarang."
Itu benar. Utang lama sudah bersih. Dua lini yang dahulu berdarah sudah ditutup. Harga sahamnya stabil tiga tahun berturut-turut.
Yang tidak tertulis di surat itu adalah harganya. Gavin sudah hafal: seratus empat puluh hari perjalanan setahun, rapat yang mulai pukul enam pagi karena zona waktu Eropa, ponsel yang tidak pernah benar-benar mati.
Ia membawa surat itu pulang dan meletakkannya di laci selama sebelas hari.
"Kenapa belum dijawab?" tanya Iris pada malam kesebelas.
"Karena kalau aku menolak, aku membuang yang dibangun ayahku, kakekku, dan semua orang sebelum mereka." Gavin memandangi langit-langit. "Ada tiga ribu orang di sana, Iris. Nama keluargaku menempel di gedungnya."
"Jadi kamu takut jadi pengkhianat."
"Kata itu kasar."
"Tapi itu yang kamu pikirkan."
Gavin tidak menjawab, yang artinya iya.
Yang mengubah segalanya justru datang dari orang yang paling tidak ia duga.
Jeffery memanggilnya ke ruang kerja di mansion, pada Minggu sore, dengan alasan mau menunjukkan tanaman baru. Mereka duduk di kursi rotan, dan lelaki tua itu langsung masuk ke pokok masalah.
"Dewan menawari kamu lima tahun lagi."
"Papa sudah dengar."
"Apa jawabanmu?"
"Belum ada."
Jeffery menuang teh dengan tangan yang sedikit gemetar karena usia.
"Kamu tahu apa yang paling saya sesali?" katanya. "Bukan kesalahan bisnis. Bukan perjanjian yang gagal. Yang saya sesali adalah lima belas tahun ketika anak-anak saya tumbuh dan saya cuma hadir di foto."
Gavin memandangi cangkirnya.
"Perusahaan seharusnya sesuatu yang kita bangun," lanjut Jeffery, "bukan penjara yang diwariskan."
Gavin mengangkat kepalanya cepat.
"Papa serius?"
"Saya sudah tua, Gavin. Terlalu tua untuk bohong demi terdengar gagah." Jeffery menyesap tehnya. "Kalau kamu tetap di kursi itu karena kamu mau, saya dukung. Kalau kamu tetap di sana karena takut mengecewakan orang mati, itu bukan warisan. Itu hantu."
Usulan Gavin masuk ke dewan tiga minggu kemudian.
Ia tidak mengundurkan diri begitu saja. Ia mengusulkan pengangkatan CEO profesional dari luar keluarga, sementara dirinya menjadi ketua non-eksekutif: menjaga arah, menjaga nilai, tidak menjalankan harian.
Ruang rapat pecah selama dua jam.
Yang paling keras menentang bukan dewan, melainkan Regina.
"Nama Mikhail harus memimpin langsung," katanya di makan malam keluarga, dengan suara yang membuat pelayan berhenti di ambang pintu. "Kalau orang luar yang duduk di sana, dalam sepuluh tahun ini bukan perusahaan kita lagi."
"Ma, kepemilikan tidak berubah sedikit pun."
"Kamu tidak mengerti. Orang melihat siapa yang duduk di kursi itu."
"Orang melihat laporan keuangan, Ma."
"Ayahmu pasti—"
"Papa yang menyarankan," potong Gavin.
Regina terdiam, dan untuk pertama kalinya malam itu tidak punya kalimat balasan.
Iris tidak ikut campur sama sekali selama proses itu.
Ia tidak sekali pun menyuruh Gavin mundur, meski setiap orang di rumah tahu betapa lelahnya lelaki itu. Ia tahu persis apa akibatnya kalau ia melakukan itu: sepuluh tahun lagi, dalam pertengkaran apa pun, kalimat aku mundur karena kamu akan keluar dan meracuni semuanya.
Jadi ia hanya bertanya satu hal, pada suatu malam di dapur.
"Sepuluh tahun dari sekarang, kamu mau hidupmu seperti apa?"
Gavin membuka mulut untuk menjawab cepat, lalu berhenti. Ia berpikir cukup lama sampai air di panci mendidih.
"Aku ingin mengantar Aurora sekolah," katanya akhirnya. "Bukan sekali-sekali. Setiap hari, sampai dia malu diantar. Aku ingin pulang sebelum dia tidur."
"Dan?"
"Dan aku ingin mengenal diriku tanpa jabatan itu." Suaranya turun. "Iris, aku tidak tahu aku suka apa. Aku tidak punya hobi. Kalau orang bertanya siapa aku, yang bisa kujawab cuma nama perusahaan. Itu menakutkan."
Iris mematikan kompor.
"Itu jawabannya," katanya.
Dewan menyetujui transisi enam bulan pada pemungutan suara kedua.
Pengumumannya keluar Senin pagi. Harga saham turun empat persen dalam dua hari, dan setiap koran ekonomi menulis kata yang sama: ketidakpastian.
Lalu calon CEO itu tampil di depan analis, memaparkan rencana tiga tahun dengan angka yang jelas dan janji yang sedikit, dan pada akhir pekan harga sahamnya sudah pulih. Dua bulan kemudian, lebih tinggi daripada sebelum pengumuman.
Hari terakhir Gavin di kantor jatuh pada Jumat yang mendung.
Tidak ada pesta besar. Ia menolaknya. Yang ada hanya kue di pantry dan foto bersama tim lantai delapan yang bertahun-tahun mengurus jadwalnya.
Sesudah semua orang pulang, ia sendirian di ruangan yang sudah kosong. Rak sudah dikemas. Dinding sudah polos, meninggalkan bekas persegi di cat tempat bingkai-bingkai itu dulu menggantung.
Ia mengambil papan nama dari meja. Logam kuningan, tulisan sederhana.
Ia sempat berpikir untuk meninggalkannya di sana. Lalu ia memasukkannya ke dalam kotak, di antara buku-buku.
Bukan karena ia ingin mengingat jabatannya. Melainkan karena lelaki di papan nama itu pernah nyata, pernah bekerja keras, dan pernah salah besar, dan Gavin tidak ingin berpura-pura ia tidak ada.
Di lobi, Iris menunggu dengan Aurora yang memegang balon.
"Papa!"
Gavin berlutut dan menangkap anak itu dengan satu tangan, kotaknya hampir jatuh.
Aurora melihat kardus di tangan ayahnya, lalu melihat gedung besar di belakang mereka, dan bertanya dengan suara keras yang membuat resepsionis menoleh.
"Papa sudah tidak jadi Boss?"
Beberapa karyawan yang lewat menahan senyum. Gavin membuka mulut dan tidak menemukan jawaban.
"Papa tetap bisa menjadi bos untuk dirinya sendiri," jawab Iris.
Aurora menerima itu dengan anggukan puas, lalu mengumumkan bahwa ia ingin es krim.
Hari pertama di rumah, Gavin bangun pukul lima.
Ia mandi, memakai kemeja, dan duduk di meja makan pukul enam dengan laptop terbuka.
Tidak ada satu pun surel darurat.
Ia menyegarkan halamannya. Masih tidak ada. Ia memeriksa apakah sambungan internetnya bermasalah. Tidak.
Pukul tujuh ia sudah berjalan mondar-mandir di ruang tengah sambil memegang ponsel, dan Iris mengamatinya dari pintu dapur sambil minum kopi, geli dan sedikit kasihan.
"Sepi sekali," kata Gavin.
"Selamat datang di hidup manusia biasa."
"Aku merasa ada yang lupa kukerjakan."
"Memang ada."
Aurora muncul dari ruang tengah sambil menyeret sapu yang tingginya dua kali tubuhnya. Anak itu menyerahkannya kepada ayahnya dengan wajah sangat serius.
"Papa, remahnya banyak. Aurora tadi makan kue di sofa."
Gavin menerima sapu itu dengan kedua tangan, seperti menerima berkas penting.
"Ini... aku yang kerjakan?"
"Ya kan Papa di rumah," jawab Aurora, sudah berbalik pergi.
Iris tertawa sampai kopinya hampir tumpah.
Jabatan baru Gavin di rumah segera dimulai.