Anak itu datang pada hari Rabu, diantar petugas dinas sosial, membawa satu tas ransel dan satu kantong plastik.
Namanya Nara. Sembilan tahun. Ibunya meninggal enam minggu sebelumnya, dan sejak hari pemakaman, anak itu tidak mengucapkan satu kata pun.
Bukan tidak bisa. Dokter sudah memeriksa. Ia bisa bicara. Ia hanya memilih tidak.
"Sudah tiga keluarga calon asuh yang datang," kata petugas itu kepada kepala pendamping Rumah Pilihan. "Semuanya mundur. Bukan karena tidak sayang, tapi mereka bilang tidak tahan. Duduk satu jam, ngomong sendiri satu jam, dijawab pun tidak."
Nara duduk di kursi lobi dengan kedua kaki menggantung, memandangi lantai.
Aurora bertemu dengannya pada Sabtu berikutnya, ketika ikut Gavin berkunjung karena sekolahnya libur.
Gavin sedang rapat. Aurora, yang saat itu enam tahun dan tidak bisa diam lebih dari sepuluh menit, berkeliaran sampai menemukan ruang bermain.
Di sana ada seorang anak perempuan yang lebih tua, duduk sendirian di sudut, tidak memegang apa pun.
Orang dewasa mana pun akan bertanya. Namanya siapa. Umurnya berapa. Kenapa sendirian.
Aurora tidak bertanya apa-apa.
Ia mengambil kertas dan kotak pensil warna dari rak, menyeretnya ke lantai, duduk sekitar satu meter dari Nara, dan mulai menggambar. Punggungnya setengah membelakangi, seperti orang yang tidak sedang mengajak siapa pun.
Ia menggambar rumah. Lalu pohon. Lalu seekor kucing yang bentuknya lebih mirip roti.
Nara tidak bergerak selama dua puluh menit.
Aurora terus menggambar sambil bersenandung sumbang, sesekali mengeluh sendiri karena warnanya kurang.
Pada menit kedua puluh sekian, tangan kecil terulur dari sudut ruangan.
Nara mengambil pensil biru dari kotak.
Ia bergeser mendekat, membungkuk di atas kertas Aurora, dan menarik garis-garis tipis dari atas ke bawah. Puluhan garis. Menutupi rumah, pohon, dan kucing yang mirip roti.
Hujan.
Aurora memandangi kertasnya, lalu memandangi Nara.
"Bagus," katanya. "Kucingnya jadi basah."
Nara tidak menjawab. Tetapi ia tidak kembali ke sudut ruangan.
Gavin melihat semuanya dari ambang pintu, dan tidak masuk.
Sejak hari itu, nama Nara muncul terlalu sering di rumah.
Gavin menceritakannya saat makan malam. Lalu saat sarapan. Lalu saat mereka sedang membahas hal lain sepenuhnya.
"Dia mulai mau menunjuk kalau ditanya pilihan," katanya suatu malam. "Kemarin dia menunjuk yang cokelat."
"Bagus."
"Kamarnya di lantai dua, dekat jendela. Dia selalu duduk di situ kalau hujan." Gavin memutar gelasnya. "Iris, aku... aku terus memikirkan kalau dia di sini. Kamar tamu itu kan tidak pernah dipakai. Aurora juga cocok sekali sama dia."
Iris meletakkan bukunya.
"Gavin."
"Aku tahu prosedurnya panjang. Tapi kita punya akses ke pengacara terbaik, kita punya—"
"Gavin, berhenti sebentar."
Lelaki itu berhenti.
"Kapan terakhir kali kamu tidur nyenyak?" tanya Iris.
Pertanyaan itu membuat Gavin mengerjap.
"Kenapa?"
"Karena sejak keguguran itu, kamu tidak pernah sekali pun membicarakannya." Suara Iris pelan, tanpa tuduhan. "Aku menangis di dapur, kamu memelukku. Aku berhenti kerja sebulan, kamu yang mengatur semuanya. Tapi dukamu sendiri, kamu taruh di mana?"
Gavin membuka mulut. Tidak ada yang keluar.
"Aku juga sayang anak itu," lanjut Iris. "Aku juga ingin dia aman. Tapi seorang anak bukan jawaban atas duka kita, Gavin. Kalau kita bawa dia pulang untuk menutup lubang di dada kita, dan ternyata lubang itu tidak juga tertutup, yang menanggung akibatnya bukan kita. Dia."
Gavin menunduk lama sekali. Ketika ia mengangkat wajah, matanya merah.
"Aku tidak sadar," katanya serak.
"Aku tahu."
Mereka akhirnya mendaftar lewat pintu depan, seperti orang lain.
Bukan sebagai calon orang tua asuh. Sebagai relawan pendamping: pelatihan enam pekan, jadwal kunjungan dua kali seminggu, batas jelas yang harus mereka tanda tangani di atas kertas.
Salah satu pasalnya berbunyi bahwa relawan tidak boleh menjanjikan apa pun tentang masa depan anak.
Gavin membaca pasal itu tiga kali sebelum menandatanganinya.
Kemudian, pada pekan kelima, berkas Nara terbuka lebih lengkap.
Anak itu ternyata masih punya keluarga.
Seorang bibi. Adik ibunya, dua puluh sembilan tahun, tinggal di kamar sewaan di kota lain. Ia sudah mengajukan permohonan hak asuh sejak hari kelima, dan ditolak dua kali.
Bukan karena ia tidak layak. Karena penghasilannya tidak cukup, tempat tinggalnya tidak memenuhi syarat, dan ia bekerja shift malam.
"Dia datang tiap dua minggu," kata pendamping Nara. "Naik bus enam jam. Duduk di lobi, pulang sore. Nara tidak mau bicara sama dia juga, tapi selalu duduk di dekatnya."
Iris membaca berkas itu dan merasa dadanya sesak.
"Jadi ada orang yang mau," katanya. "Dia cuma miskin."
"Begitulah, Bu. Sering sekali begitu."
Yayasan turun tangan dengan cara yang sudah dirancang sejak awal untuk kasus seperti ini.
Bibi Nara masuk program pelatihan kerja. Bagian hukum membantu menyusun ulang permohonannya. Ada bantuan sewa rumah selama satu tahun, rumah petak dua kamar dengan jendela yang benar dan kamar mandi di dalam, dengan syarat ia menyelesaikan pelatihannya.
Ia menyelesaikannya. Nilai tertinggi di kelasnya.
Empat bulan kemudian, permohonan hak asuh itu dikabulkan.
Hari kepindahan jatuh pada hari Kamis. Barang Nara ternyata cuma muat di dua kardus, dan sebagian besar isinya kertas gambar.
Gavin membantu mengangkatnya ke mobil. Ia tersenyum sepanjang pagi itu, menyalami bibi Nara, mengucapkan selamat, memastikan nomor kontak darurat sudah dicatat.
Baru ketika mobil itu keluar dari gerbang, ia berdiri diam terlalu lama di halaman.
Iris menghampiri dan menggenggam tangannya.
"Tujuan tempat ini bukan membuat semua anak menjadi keluarga kita," katanya pelan.
"Aku tahu." Suara Gavin serak. "Aku tahu, Iris. Aku sendiri yang menulis aturannya."
"Aku tahu kamu tahu."
"Tapi aku sudah menyayanginya."
Iris menoleh, dan menyandarkan kepalanya ke lengan suaminya.
"Menyayangi seseorang juga bisa berarti membantu dia pulang kepada orang lain," katanya.
Gavin tidak menjawab. Ia hanya mengeratkan genggamannya, dan mereka berdiri di halaman itu sampai matahari terasa terlalu panas.
Nara tetap datang ke Rumah Pilihan.
Dua kali sebulan, untuk sesi konseling lanjutan, lalu makin jarang karena makin tidak perlu. Bibinya yang mengantar, kadang sambil membawa gorengan untuk staf.
Pada kunjungan keempat, anak itu berbicara untuk pertama kalinya di depan orang banyak. Satu kalimat, ditujukan kepada Aurora, tentang pensil warna yang hilang.
Aurora menanggapinya seolah itu hal paling biasa di dunia, dan langsung berdebat soal siapa yang terakhir memegangnya.
Mereka tetap berteman. Bertahun-tahun kemudian pun masih, dengan pertengkaran kecil dan gambar-gambar yang ditukar lewat pesan.
Dari anak itu, Gavin belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan kepadanya di ruang rapat mana pun.
Menolong tidak selalu berakhir dengan memiliki tempat di dalam kisah seseorang.