Tawaran itu datang pada Rabu siang, lewat tiga orang berjas yang terbang dari Singapura pagi harinya dan harus kembali malam itu juga.
Mereka tidak berbasa-basi lama. Mereka menaruh satu lembar kertas di tengah meja, menghadap Iris, dan diam.
Maya, yang duduk di sebelahnya, tidak sengaja mengeluarkan suara kecil dari tenggorokannya.
Akuisisi penuh. Bukan investasi, bukan penyertaan saham. Mereka ingin membeli After Storm seluruhnya.
Angka di kertas itu cukup untuk menjamin hidup Iris, hidup anak-anaknya, hidup cucunya, dan memberi setiap karyawan uang yang jumlahnya lebih besar daripada gaji mereka selama sepuluh tahun.
"Kami tidak menunggu jawaban hari ini," kata salah satu dari mereka. "Kami menunggu tiga minggu."
Sesudah mereka pergi, ruangan itu sunyi selama hampir satu menit penuh.
"Bu," kata Maya akhirnya, suaranya bergetar. "Itu... itu betul nolnya segitu?"
"Betul."
"Saya perlu duduk."
"Kamu sedang duduk, Maya."
Dewan terpecah pada rapat pertama, dan pecahnya tidak rapi.
"Kita jual," kata salah satu anggota. "Ini puncaknya. Perusahaan tidak akan pernah dinilai setinggi ini lagi. Semua orang di sini pulang dengan hidup yang berubah, termasuk staf gudang."
"Dan bulan keenam nanti, staf gudang itu dipanggil satu per satu," balas Maya.
"Mereka berjanji tidak ada pemutusan kerja."
"Janji lisan."
"Itu perusahaan besar, Maya, bukan penipu di pasar."
"Justru karena besar." Maya berdiri. "Kita punya kebijakan cuti melahirkan enam bulan. Kita punya harga khusus buat penjual kecil. Kita punya lini murah yang marginnya tipis sekali dan tidak masuk akal di atas kertas, tapi itu yang menyelamatkan kita waktu krisis. Semua itu tidak ada di laporan keuangan. Yang mereka beli itu angkanya, bukan kitanya."
Iris meminta waktu, dan memakai waktu itu bukan di ruang rapat.
Ia berbicara dengan setiap kelompok karyawan, sepuluh sampai lima belas orang sekali duduk, selama dua minggu. Tim gudang. Tim pengiriman. Bagian layanan pelanggan yang paling sering dimarahi orang. Pabrik mitra di dua kota.
Ia tidak membawa presentasi. Ia membawa angka itu, apa adanya, dan menuliskannya di papan.
"Ini yang akan kalian terima kalau saya setuju," katanya di salah satu pertemuan. "Saya tidak akan berpura-pura ini bukan uang besar. Ini uang yang bisa menutup KPR, bisa membiayai kuliah anak, bisa mengobati orang tua. Saya tidak berhak meremehkan itu."
Seorang bapak dari bagian gudang mengangkat tangan.
"Terus kalau Ibu tolak, kami dapat apa?"
Pertanyaan itu jujur, dan agak menyakitkan, dan Iris menghargainya.
"Kalian dapat pekerjaan ini," jawabnya. "Dengan aturan yang sekarang. Itu saja. Saya tidak bisa menjanjikan lebih."
Bapak itu mengangguk pelan, dan tidak bertanya lagi.
Yang membuat Iris akhirnya condong ke satu arah bukan perasaan, melainkan satu paragraf.
Ia meminta agar janji tidak ada pemutusan kerja dimasukkan ke dalam kontrak. Hitam di atas putih, dengan denda kalau dilanggar, berlaku lima tahun.
Jawaban mereka datang dalam tiga hari. Sopan, panjang, penuh penghargaan, dan isinya tidak.
Kami tidak dapat mengikat keputusan operasional di masa depan.
Iris membaca kalimat itu berkali-kali.
Malamnya ia meminta pendapat Gavin.
Lelaki itu mendengarkan sampai selesai, lalu menyeduh teh, lalu duduk, lalu tidak berkata apa-apa.
"Kenapa diam?"
Gavin menatap cangkirnya.
"Karena kalau aku mengatakan jangan jual, kamu mungkin bertanya apakah aku takut kamu lebih sukses," katanya. "Kalau aku menyuruh menjual, seolah aku menentukan harga impianmu."
"Gavin."
"Aku serius. Ada sejarah di antara kita soal siapa yang memutuskan apa."
"Aku hanya meminta pandangan suamiku." Iris menggeser kursinya mendekat. "Bukan pandangan mantan CEO. Bukan pandangan orang yang dulu mengatur hidupku. Suamiku. Aku sudah dewasa, aku bisa menolak pendapatmu, dan aku akan menolaknya kalau menurutku salah."
Gavin menghela napas panjang, dan akhirnya mengangkat wajahnya.
"Baik," katanya. "Uang sebesar itu memberi kebebasan. Itu nyata, jangan diromantisasi. Kamu tidak perlu lagi memikirkan arus kas, kamu bisa memulai apa saja, kamu bisa berhenti kapan saja. Orang yang bilang uang tidak penting biasanya belum pernah kekurangan."
"Tapi?"
"Tapi begitu kendali mayoritas pindah, semua yang kamu sebut prinsip berubah jadi usulan. Kamu masih boleh mengusulkan. Mereka yang memutuskan." Ia mengangkat bahu. "Dua-duanya sah, Iris. Pertanyaannya cuma satu: mana yang lebih penting buatmu, bebas dari beban, atau tetap memegang kemudi."
Iris memandangi jendela cukup lama.
"Aku sudah pernah hidup di rumah yang orang lain yang pegang kemudinya," katanya akhirnya.
Gavin mengangguk sekali. Ia tidak menambahkan apa-apa.
Iris menolak akuisisi itu pada hari kesembilan belas.
Tetapi ia tidak menutup pintunya.
Ia datang ke pertemuan terakhir membawa proposal tandingan: kerja sama distribusi. Perusahaan global itu memegang jaringan di sebelas negara, After Storm memegang produk dan kendali penuh atas cara produk itu dibuat. Bagi hasil, kontrak lima tahun, tanpa satu lembar saham pun berpindah.
Mereka menolak di pertemuan pertama. Menolak lagi di pertemuan kedua.
Negosiasinya berjalan tujuh bulan. Ada dua kali jalan buntu, satu kali Iris berdiri dan keluar ruangan, dan satu malam ketika Maya menangis di kamar hotel karena lelah.
Kontrak itu akhirnya ditandatangani pada bulan kedelapan.
Nilainya jauh lebih kecil daripada tawaran awal. Tidak ada yang pulang dengan hidup yang berubah dalam semalam. Iris tidak menjadi salah satu perempuan terkaya di negeri ini, dan beberapa media menulis artikel tentang kesempatan yang terlewat.
Yang ia jaga adalah pekerjaan seribu delapan ratus orang, dan hak untuk menjawab sendiri ketika ada yang bertanya kenapa lini murah itu masih diproduksi meski marginnya tipis.
Pengumumannya dibuat di kantin, bukan di hotel.
Ketika Iris selesai bicara, tidak ada tepuk tangan langsung. Ada jeda beberapa detik, ketika semua orang menghitung di kepala masing-masing apa yang baru saja tidak mereka terima.
Lalu bapak dari bagian gudang itu berdiri, dan bertepuk tangan sendirian, dan yang lain menyusul.
Di rumah malam itu, Aurora sudah tahu ceritanya. Ia mendengar dari sopir, yang mendengar dari staf, dan versi yang sampai kepadanya sudah agak berlebihan.
"Ma, kata Pak Darno, Mama ditawari uang sekapal terus Mama tolak."
"Sekapal itu terlalu banyak."
"Tapi ditolak?"
"Ditolak."
Aurora menaruh dagunya di meja, benar-benar bingung.
"Kenapa? Kan lebih banyak."
Iris duduk di sebelah anaknya, memikirkan cara menjelaskan tanpa membuatnya terdengar mulia, karena ia tahu betul keputusan itu tidak sepenuhnya mulia. Ada bagian dari dirinya yang ketakutan, ada bagian yang keras kepala, dan ada bagian yang sekadar tidak ingin kalah.
"Karena sesuatu yang mahal belum tentu sesuai dengan yang kita anggap berharga," jawabnya.
Aurora memikirkan itu, lalu mengangguk seolah mengerti, lalu bertanya apakah ia tetap boleh punya sepeda baru.
"Boleh."
"Yang warna ungu?"
"Yang warna ungu."