Iris sedang berdiri di depan kelas ketika teleponnya bergetar untuk ketiga kalinya.
Ia hampir mengabaikannya. Di ruangan itu ada dua puluh perempuan yang sudah menunggu tiga bulan untuk mendapat giliran pelatihan, dan ia sedang menjelaskan cara membaca izin edar.
Getaran keempat membuatnya berhenti di tengah kalimat.
Nomor kampung.
"Maaf sebentar," katanya, lalu keluar ke koridor.
Suara di seberang adalah suara keponakan Minah, tergesa, bercampur suara kendaraan.
"Bu Iris, Bulik jatuh di warung tadi pagi. Sekarang di rumah sakit. Kata dokter stroke, tapi yang ringan katanya. Sebelah kirinya susah digerakkan."
Iris bersandar ke dinding.
"Sadar?"
"Sadar, Bu. Malah tadi masih nanya siapa yang menutup warung."
Ia tidak ingat bagaimana ia menutup kelas hari itu. Yang ia ingat, Gavin sudah berdiri di lobi empat puluh menit kemudian dengan dua tas kecil dan tiket yang sudah diurus.
Perjalanan ke kampung terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Jalan berkelok setelah kota terakhir, sawah yang sudah dipanen, bau tanah sesudah hujan sore.
Rumah sakit kecil itu hanya punya dua lantai. Cat hijau pucat, lantai yang selalu terasa lembap, dan bau obat yang menempel di baju.
Minah terbaring di ranjang kedua dari pintu.
Ia tampak lebih kecil dari yang Iris ingat. Rambutnya hampir seluruhnya putih sekarang, diikat rapi oleh seseorang. Tangan kanannya bergerak begitu melihat pintu terbuka. Tangan kirinya diam di atas selimut.
"Nona," katanya, dan suaranya miring di satu sisi.
Iris langsung berlutut di samping ranjang.
"Jangan bicara dulu."
"Kalau saya tidak bicara, Nona yang bicara terus."
Gavin tertawa pendek di belakang. Bahkan dalam keadaan begitu, perempuan itu masih sempat menang.
Dokter menjelaskan malam itu. Serangannya ringan, penanganannya cukup cepat, dan pemulihan sangat mungkin. Tetapi butuh terapi rutin, kontrol tekanan darah, dan pengawasan.
Iris sudah punya rencana bahkan sebelum dokter selesai bicara.
"Kami bawa ke Jakarta," katanya. "Ada rumah sakit yang bagus. Terapisnya datang ke rumah. Kamar di rumah kami kosong satu. Kami bisa berangkat minggu depan."
"Nona."
"Nanti soal warung saya urus. Bisa disewakan, atau dijaga—"
"Nona."
Iris berhenti.
Minah menatapnya lurus-lurus dengan mata yang masih sama seperti dulu, mata yang tidak pernah bisa ia bohongi sejak ia berumur tujuh tahun.
"Saya tidak mau pindah."
"Ini bukan soal mau, ini soal—"
"Saya tidak mau pindah," ulang Minah, lebih pelan, tetapi tidak ada celah di dalamnya. "Rumah saya di sini. Warung saya di sini. Kuburan suami saya di sini. Kalau saya dibawa ke sana, saya bukan sembuh. Saya cuma dipindahkan ke tempat yang bersih supaya Nona tenang."
Iris merasa matanya panas.
"Saya cuma mau menjaga Mbok."
"Saya tahu." Tangan kanan Minah bergerak, mencari tangan Iris, menggenggamnya dengan kekuatan yang mengejutkan. "Nona selalu ingin menjaga saya. Sekarang dengarkan keinginan saya."
Kalimat itu menutup semua argumen yang sudah Iris susun di kepalanya sepanjang perjalanan.
Ia menunduk dan menangis di tepi ranjang itu, dan Minah mengusap kepalanya dengan satu tangan, persis seperti dua puluh lima tahun yang lalu.
Keesokan paginya mereka bicara lagi dengan dokter, kali ini bertiga, dengan Minah ikut duduk.
Ternyata ada jalan yang tidak terpikir semalam. Terapi bisa dilakukan di kota kabupaten, empat puluh menit berkendara, dua kali seminggu. Kontrol besar cukup enam bulan sekali ke Jakarta, dan itu pun bisa disesuaikan.
"Berarti Mbok tetap di rumah?" tanya Iris.
"Tetap di rumah," jawab dokter.
Minah tersenyum miring ke arah Iris, jelas menikmati kemenangannya.
Iris tetap menyewa tenaga pendamping. Tetapi kali ini ia melakukannya dengan cara yang berbeda. Ia membawa tiga calon, membiarkan Minah bicara dengan ketiganya, lalu keluar dari ruangan supaya perempuan itu bisa memilih tanpa merasa diawasi.
Minah memilih yang paling cerewet.
"Yang dua itu terlalu sopan," katanya. "Saya bisa mati bosan."
Malam itu, di penginapan kecil dekat rumah sakit, Iris duduk di tepi ranjang sambil menatap dinding.
"Aku hampir memindahkan dia," katanya. "Aku sudah mengatur semuanya di kepalaku. Kamar, terapis, jadwal. Aku bahkan tidak bertanya."
Gavin duduk di sebelahnya. "Kau takut."
"Aku takut." Iris menekan matanya dengan telapak tangan. "Dan waktu aku takut, aku selalu berubah jadi orang yang mengatur hidup orang lain. Persis seperti ibumu."
Gavin tidak membantah, dan Iris bersyukur ia tidak membantah. Kadang yang dibutuhkan bukan penghiburan, melainkan seseorang yang membiarkan kalimat itu berdiri apa adanya.
Aurora pulang dari sekolah minggu berikutnya, membawa ransel dan kamera. Ia tinggal sepuluh hari.
Anak itu duduk di kursi plastik di teras setiap sore, mendengarkan Minah bercerita. Ia meminta izin lebih dulu sebelum menyalakan kamera, dan menjelaskan bahwa rekaman itu tidak akan diunggah ke mana pun.
"Buat siapa?" tanya Minah.
"Buat keluarga saja, Mbok. Supaya suara Mbok ada."
Maka Minah bercerita. Tentang Iris kecil yang menolak tidur sebelum lampu koridor dinyalakan. Tentang Iris umur sepuluh yang berkelahi dengan anak tetangga dan pulang dengan lutut berdarah tapi tidak mau mengaku. Tentang Iris remaja yang belajar sampai pagi di dapur karena kamarnya terlalu dingin.
Iris mendengarkan dari balik pintu dan menutup mulutnya dengan tangan.
Pemulihan berjalan pelan. Tangan kiri Minah mulai bisa mengangkat sendok pada minggu ketujuh.
Dan sejak itu, hampir setiap kunjungan Iris berakhir di dapur.
"Bawang merahnya dipotong tipis, jangan dicincang. Kalau dicincang nanti pahit."
"Mbok, tangan Mbok—"
"Tangan saya sudah bisa menunjuk. Yang memotong Nona."
Mereka melewati resep demi resep. Sambal yang tidak pernah berhasil Iris tiru. Kuah yang harus dimatikan tepat sebelum mendidih penuh. Gerakan Minah lambat sekarang, tetapi semangatnya tidak berkurang sedikit pun, dan ia masih bisa menghardik kalau apinya terlalu besar.
Suatu sore, dengan uap dari panci naik di antara mereka, Minah berkata,
"Saya pernah berdoa akan ada hari tenang setelah badai."
Iris menoleh.
"Ternyata hari tenang bukan hari tanpa masalah," lanjut perempuan itu. "Hari tenang adalah saat Nona tidak lagi menghadapinya sendirian."
Iris mematikan api. Lalu ia memeluk Minah, hati-hati, memperhatikan bahu kiri yang masih lemah.
Dulu ia akan berjanji macam-macam. Bahwa mereka tidak akan pernah berpisah. Bahwa ia akan menjaga perempuan ini sampai kapan pun.
Kali ini ia tidak berjanji Minah akan selalu bersamanya.
Ia hanya berjanji akan datang, akan menelepon, dan akan menghormati kehidupan yang dipilih perempuan itu.