Surat penerimaan itu datang lewat surat elektronik, pukul sebelas malam, dan Aurora berteriak begitu keras sampai tetangga menyalakan lampu teras.
Sekolah film di Italia. Kampusnya tidak jauh dari Milan.
Iris membaca layar itu tiga kali sebelum kata Milan benar-benar masuk ke kesadarannya.
Milan. Kota tempat begitu banyak luka keluarga mereka bermula. Kota yang selama bertahun-tahun hanya disebut dalam kalimat setengah, lalu diganti topik.
Aurora memeluknya sambil melompat-lompat dan tidak menyadari apa-apa.
Gavin menyadari. Iris tahu dari cara laki-laki itu berdiri terlalu lama di dapur malam itu.
Persiapan dimulai keesokan harinya, dan berubah bentuk dalam tiga hari.
"Aku sudah lihat empat apartemen," kata Gavin, membuka map di meja makan. "Yang ini paling bagus. Penjaga dua puluh empat jam. Kartu akses per lantai. Kamera di semua koridor. Dan ada jasa pengemudi yang—"
"Pa."
"Yang ini juga dekat rumah sakit. Aku sudah cek jaraknya. Empat menit."
"Pa."
"Apa?"
Aurora menatapnya. "Aku mau kuliah, bukan masuk program perlindungan saksi."
Iris menahan senyum dan menyentuh punggung tangan suaminya.
"Gavin. Dia hampir dua puluh tahun."
"Aku tahu umurnya."
"Kalau kamu memilihkan semuanya, dia akan tinggal di sana empat tahun tanpa pernah belajar mengurus dirinya sendiri. Lalu suatu hari kita tidak ada, dan dia baru mulai dari nol."
Gavin menutup mapnya. Ia tidak menjawab malam itu.
Dua hari kemudian ia menaruh tiga berkas di meja. Apartemen mahal itu, satu rumah susun mahasiswa, dan satu kamar sewa di rumah keluarga setempat.
"Ini pilihannya," katanya. "Ini harganya. Ini yang perlu kamu tahu soal keamanan di masing-masing lokasi, termasuk yang tidak enak didengar. Papa sudah tulis semuanya. Papa tidak menyembunyikan apa pun supaya kamu memilih yang Papa mau."
Aurora membaca ketiganya selama hampir satu jam.
Ia memilih rumah susun mahasiswa.
"Kenapa yang itu?" tanya Iris.
"Karena di dua tempat lain aku akan tinggal sendirian," jawab Aurora. "Dan aku tidak mau empat tahun cuma pulang ke kamar kosong."
Gavin mengangguk satu kali. Rahangnya mengeras, tetapi ia mengangguk. Alasan itu bukan alasan yang bisa ia bantah tanpa menjadi orang yang selama bertahun-tahun ia hindari.
Mereka berkumpul di vila Como dua minggu sebelum kuliah dimulai. Regina dan Jeffery datang. Tiffany datang bersama Daniel. Rumah itu penuh dengan suara dan piring kotor dan orang yang saling berebut kamar mandi.
Pada malam terakhir, setelah semua yang lain naik, Aurora turun ke ruang tengah sambil membawa album lama.
"Kok kamu bawa itu?" tanya Iris.
Anak itu tidak menjawab. Ia membuka sampai halaman terakhir, mengeluarkan sesuatu dari saku, dan menempelkannya di ruang kecil yang selama bertahun-tahun dibiarkan kosong.
Foto mereka bertiga di bandara. Diambil minggu lalu, sebelum berangkat, oleh petugas yang kelihatan bingung kenapa keluarga itu mau difoto di depan papan keberangkatan. Iris dengan rambut berantakan. Gavin sedang menengok ke arah lain. Aurora tertawa di tengah.
Gavin memandanginya lama.
"Kenapa foto keberangkatan?"
"Karena melepaskan juga bagian dari keluarga," jawab Aurora.
Tidak ada yang bicara selama beberapa saat.
Lalu Gavin bangkit, berjalan ke arah putrinya, dan memeluknya. Lama sekali. Lebih lama dari yang pernah Iris lihat.
Tetapi ia tidak mengatakan satu kata pun tentang membatalkan. Tidak menawarkan alternatif. Tidak menyebut kursi yang selalu tersedia di kantornya.
Ia hanya berkata, di atas kepala anaknya, "Kabari kalau sudah sampai."
Malam itu Iris tidak bisa tidur. Ia turun ke dapur dan menemukan Gavin sudah di sana, duduk di kegelapan dengan segelas air yang tidak diminum.
"Kau juga tidak bisa tidur," katanya.
"Aku menghitung," jawab Gavin. "Berapa jam penerbangan dari Jakarta kalau terjadi sesuatu. Berapa lama sampai kampusnya dari bandara."
"Berapa hasilnya?"
"Terlalu lama." Ia menggosok wajahnya. "Aku tahu itu bukan alasan untuk menahannya. Aku cuma perlu mengetahui angkanya supaya bisa tidur."
Iris duduk di sebelahnya dan tidak menyuruhnya berhenti menghitung. Ada ketakutan yang tidak perlu dilawan, cukup ditemani sampai capek sendiri.
Tiga hari kemudian asrama itu menelan Aurora bersama dua koper dan satu kotak kamera.
Vila terasa aneh setelah semua orang pulang. Bukan sunyi biasa. Sunyi yang punya bentuk, seperti ruangan yang perabotnya baru dipindahkan.
Iris dan Gavin berjalan ke gazebo sore itu.
Ukiran lama itu masih di sana. G, T, dan huruf I kecil di bawahnya yang catnya sudah memudar diterpa empat musim.
"Kita akhirnya berdua lagi," kata Gavin.
Iris duduk di sampingnya. "Apakah kau takut?"
Gavin tidak menjawab langsung. Angin dari danau membawa suara mesin perahu dari kejauhan.
"Sedikit," akunya. "Selama bertahun-tahun kita menjadi orang tua. Kita punya jadwal yang sama, kekhawatiran yang sama, alasan yang sama untuk pulang cepat." Ia menggosok tengkuknya. "Aku tidak ingin lupa cara menjadi suamimu."
Iris menoleh. "Kau belum lupa."
"Belum. Tapi aku juga sudah lama tidak berlatih."
Mereka duduk di situ sampai langit berubah warna, dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun mereka membicarakan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan siapa pun selain mereka berdua.
Kapan sebaiknya benar-benar berhenti bekerja. Negara mana yang ingin mereka datangi tanpa jadwal. Apakah Gavin serius soal belajar memasak atau itu cuma ancaman. Program mana di Rumah Pilihan yang masih ingin Iris selesaikan sebelum menyerahkannya.
Yang berbeda dari dua puluh tahun lalu bukan isi percakapannya. Yang berbeda adalah tidak ada satu pihak yang datang membawa seluruh masa depan yang sudah tersusun rapi, lalu menunggu yang lain menyetujui.
Kali ini mereka menyusunnya di tempat, bersama, dengan banyak bagian yang dibiarkan kosong.
Iris menutup album di pangkuannya.
Halaman terakhir sudah terisi sekarang. Tidak ada lagi ruang.
Dulu itu akan terasa seperti akhir. Sekarang ia menyadari betapa konyolnya ketakutan itu. Halaman habis bukan berarti hidup habis.
Mereka bisa membeli album baru.
Ponsel Gavin bergetar di saku.
Foto dari Aurora. Kamar asrama sempit dengan ranjang besi, meja belajar, dan jendela yang menghadap tembok bangunan sebelah.
Iris melihat suaminya menyipit ke layar, memperbesar gambar di bagian jendela, dan mulai mengetik.
Ia tahu persis kalimat apa yang sedang disusun. Kunci jendelanya model lama. Itu bisa dibuka dari luar.
Gavin berhenti mengetik. Menghapus semuanya. Menatap layar beberapa detik.
Lalu ia mengetik ulang, tiga kata saja.
Papa bangga, Nak.
Iris tertawa, keras, sampai terdengar sampai ke tepi danau, dan menggenggam tangan suaminya.
Mereka telah belajar bahwa cinta tidak diukur dari seberapa kuat seseorang menahan. Cinta terlihat dari keberanian membuka tangan ketika orang yang disayangi siap melangkah.